Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Rinai hujan bersama mu


__ADS_3

"kamu pulang sama siapa?" Tanya Angel pada Haya.


"Sendiri kak. Kan aku bawa mobil sendiri," Haya memasukan ponsel ke dalam tas selempang milik nya.


"Ya udah aku pulang duluan, ya?" Angel mencium pipi kanan dan kiri Haya seraya berlalu.


"Hati-hati di jalan, kak," Angel menoleh dengan tersenyum sambil mengacungkan jempol tanpa menghentikan langkah kaki nya.


Haya menyusuri lorong perusahaan bersama beberapa rekan yang belum pulang. Sepanjang perjalanan keluar gedung Haya hanya diam.


"Gerimis___" lirih Haya melirik keluar saat melihat di luar gerimis.


"Ngapain bingung, kan naik mobil enggak akan kehujanan juga kan!" Haya menepuk jidat nya sendiri.


Masuk area parkir, Haya langsung masuk kedalam mobil.


"Lagu apa sih ini!" Haya mematikan sound track yang di putar nya sendiri. Haya benar-benar terusik oleh pikiran yang di ciptakan sendiri. Entah lah harus sampai kapan Haya hidup seperti ini, Haya sungguh rindu senyum Attar, tawa Attar dan kehangatan yang di berikan oleh Niko, si lelaki egois yang selalu Haya rindukan.


"Itu Kan si Ahmad Faiz. ngapain di pinggir jalan? oh motor nya mogok." Haya masih terus melajukan mobil nya tanpa mau perduli dan tak mau tau keadaan Ahmad Faiz.


Haya terbiasa dengan sikap yang tidak terlalu mau dekat dengan lelaki kecuali suami nya sendiri. Mungkin karena sering di curigai.


"Eitz tunggu dulu, kalau aku bersikap acuh pada nya, bagaimana mungkin akan mendapatkan hati nya?" Haya memundurkan mobil dan berhenti di samping Ahmad Faiz yang sedang mencoba menyalakan motor bebek.


"Hey, ada apa? apa motor mu rusak?" Haya membawa payung saat keluar dari mobil, dan menghampiri Ahmad Faiz.


"Iya nih. Sepertinya mati busi karena kena air hujan."


"Masa kena ujan aja mati busi, harus nya kecemplung di sungai juga enggak apa-apa. ingat deh namanya motor bebek merk ***a, kan bebek bisa hidup di darat, di kali juga bisa." goda Haya.


"Apaan sih, enggak lucu deh! Namanya juga motor sudah tua, sudah minta pensiun!" Ahmad Faiz masih mencoba menyalakan mesin motor nya.


"Ya sudah, kalau begitu ayo bareng aku saja?" Tawar Haya.


"Ah tidak, terima kasih. Kalau aku balik bareng kamu nanti motor ku gimana?"


"Sudah lah__, ayo ikut aku saja, jangan khawatir!" Haya menggeret tangan Ahmad Faiz dan memasukan nya ke dalam mobil.


"Haya, nanti kalau motor ku hilang gimana?" Tekan Ahmad Faiz takut.


"Kan bisa beli lagi Ahmad Faiz yang baik. Di dealer motor tuh banyak, kamu tinggal pilih mau yang merk apa? Lagian motor udah butut juga, kan?"


"Tidak semudah itu mba Haya yang cantik. Kita harus menjaga dan mensyukuri atas apa yang kita punya. Membeli motor tidak sama dengan membeli sebungkus kerupuk," balas Ahmad Faiz tidak menyukai usulan Haya.


"Nanti biar aku yang belikan!" Tawar Haya sok Rich.


Deg..


"Apa___! ngapain coba kamu mau belikan aku motor baru, jika motor ku hilang? Ah sudah lah. Aku jalan sambil mendorong motor ku saja. Jangan mengampangkan suatu hal, apa yang kita punya harus di syukuri dan di jaga bukan di sepelekan seperti itu."


"Iya___iya___ Maaf." lirih Haya sambil meresapi setiap kalimat yang Ahmad Faiz ucapkan. yang begitu menyentuh kalbu nya.


"Sudah lah, aku mau mendorong motor ku saja untuk mencari bengkel."


Haya mengenggam tangan Ahmad Faiz.


"Aku bilang tidak, ya tidak!" Ahmad Faiz menoleh ke arah Haya dan mengernyitkan dahi.


"Okay nanti aku telpon pihak bengkel terdekat, untuk membawa dan membenari apa yang rusak pada motor mu itu?" Seru Haya.


"Tidak perlu mba Haya. Aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku Tidak terbiasa bergantung pada orang lain, aku tidak mau punya hutang budi."


"Aku tidak merasa di repotkan."


"Aku tidak enak mba Haya. Kita baru kenal dan kamu sudah mau berbaik hati sampai-sampai mau beliin aku motor segala. Aku enggak mau, by the way mba Haya so Rich ya?" Ledek Ahmad Faiz.


"Hey___Tunggu!" Haya memanggil Ahmad Faiz yang turun dari mobil dan mendorong motor nya yang masih mogok.


"Betapa keras kepala si Ahmad Faiz tersebut, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan nya? ya Allah ini berat!" Haya mendengkus sebal.


Haya turun dari mobil membawa tas selempang dan payung, mengikuti Ahmad Faiz yang masih bersusah payah mendorong motor.


"Kenapa turun dan mengikuti ku? Lebih baik kamu naik mobil saja. Udaranya dingin dan cuacanya kurang baik, nanti kamu sakit." Ahmad Faiz menghentikan langkah dan menatap Haya yang mengekori nya.


"Terserah! kamu saja enggak mau naik mobil aku. Ya sudah, aku yang mengalah. Aku akan terus berjalan membuntuti mu."


"Nanti, kalau kamu sakit bagaimana?"


"Terserah! siapa perduli."

__ADS_1


"Oh Terserah juga!" Ahmad Faiz setengah berlari dengan masih mendorong. Haya ikut berlari di belakang Ahmad Faiz sampai nafas nya ngos-ngosan.


"Dasar lelaki kurang asem" lirih Haya sambil lari menggunakan High hells.


Haya melepas high heels milik nya dan membawanya dengan sebelah tangan kiri, masih dengan langkah yang sama, langkah lebar nan cepat.


Hujan semakin deras menguyur yang tadi nya hanya gerimis kini berubah menjadi butiran besar-besar dan lumayan sakit jika mengenai wajah.


"Itu bengkel___" seru Haya menunjuk bengkel yang hampir tutup.


Ahmad Faiz berlari menghentikan seseorang penjaga bengkel yang akan menutup bengkel nya.


"Pak___ Tunggu!" Ahmad Faiz menghentikan langkah nya.


"Kenapa mas? ada apa sama motor nya?"


"Rusak pak. Di starter enggak mau hidup, mungkin busi nya mati atau ada mesin nya yang kemasukan air" jawab Ahmad Faiz tidak yakin.


"Walah tapi bengkel sudah tutup mas, silahkan cari bengkel yang lain ya?"


"Pak tolong lah. Rumah saya masih jauh, mana kondisi hujan lagi," Haya mendekat. Walaupun menggunakan payung namun tetap saja baju Haya basah.


"Istri saya lagi sakit mas, dan saya harus merawat nya, maaf ya mas?"


"Ya sudah kalau begitu kami boleh titip motor kan pak? besok saya ambil. Berat jika harus mendorong, belum tentu juga di depan sana masih ada bengkel yang buka."


"Boleh mas, boleh. Ayo di bawa masuk, dorong kesini mas?"


Sang pemilik bengkel membatu Ahmad Faiz memakirkan motor masuk kedalam ruko.


"Terima kasih, banyak pak?"


"Iya sama-sama. Apa enggak sebaik nya kalian berteduh dulu mas. Kasihan istri nya sepertinya kedinginan," sang pemilik bengkel menunjuk Haya yang sudah menggigil.


"Iya pak, terima kasih," Ahmad Faiz tak Menolak bantuan tawaran bapak pemilik bengkel karena kebelet ke toilet juga.


"Tidak apa-apa loh mas, jika mau berteduh. Mari ikut saya, di belakang ruko itu rumah saya, kasihan istri nya mas nya nanti sakit!"


"Tapi, pak?"


"Ayo, sudah lah jangan sungkan," pak pemilik bengkel menarik lengan tangan Ahmad Faiz menuju belakang ruko yang ternyata terdapat sebuah rumah bambu kecil .


"Silahkan duduk, maaf rumah bapak begitu kumuh?" Ucap bapak pemilik bengkel.


"Jangan begitu pak. Kami sangat bersyukur di beri tumpangan untuk berteduh, apalagi saya kebelet ke toilet."


"Siapa pak?" Sesosok Ibu yang pucat keluar dari dalam kamar dan menyalami Ahmad Faiz dan Haya.


"Kalian darimana? dan mau kemana?" Tanya si Ibu dengan pelan.


"Kami dari pulang kerja Bu. Dan mau pulang kerumah, tapi motor nya malah mogok. Eeh hujan juga!" balas Ahmad Faiz begitu sopan tutur kata nya.


"Di minum teh nya, mumpung masih hangat?" bapak bengkel memberikan teko berisi teh lengkap dengan gelas nya.


"Terima kasih banyak pak. Maaf merepotkan?"


"Jangan berkata begitu, sama sekali tidak merepotkan."


"Loh, badan ibu masih panas begini," pak pemilik bengkel memegang tangan sang istri yang terlihat pucat karena demam tersebut.


"Ibu istirahat dulu ya? maaf enggak bisa menemani kalian ngobrol." pamit ibu pemilik bengkel.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Maaf kami menganggu istirahat ibu?"


"Jangan berkata begitu. Tamu itu harus di mulyakan, tapi ibu sangat pusing, maaf ya ibu tinggal masuk ke kamar untuk istirahat?"


"Iya Bu, semoga lekas sembuh."


Bapak pemilik bengkel membawa istrinya masuk kedalam kamar. Selepas itu Haya mengusap lengan nya yang semakin terasa dingin.


"Mba Haya, kedinginan?"


Haya mengangguk, mengiyakan.


"Minum teh nya dulu, nanti aku antar pulang naik taksi online ya?"


"Terima kasih" lirih Haya menerima gelas berisi teh yang Ahmad Faiz sodorkan.


"Mba, tinggal di daerah mana?"

__ADS_1


"Jangan panggil aku mba dong. Panggil nama saja, kayak seolah-olah aku tua banget!"


"Memang usia mba, eh maksud ku usia kamu berapa?"


"Menurut mu?"


"Kalau di lihat sekilas sih kayak masih tujuh belas tahun. Sekilas ya, bukan di lihat berlama-lama."


Haya bersungut sebal, terlalu jujur apa terlalu menjengkelkan .


"Memang nya, usia mu berapa?" Ahmad Faiz mengusap lengan nya sendiri, baju basah dan terasa semakin dingin.


"Dua puluh lima tahun" jawab Haya.


"Berati tua an saya dong!" Ahmad Faiz tertawa kecil.


"Iya kah, emang usia mu berapa?" Haya kepo.


"Tiga puluh tahun, nanti bulan Mei."


"Pantas, sudah kayak bapak-bapak," goda Haya.


"Bener kata mu. Seandai nya almarhumah istri ku masih hidup, pasti sekarang aku sudah menjadi seorang Ayah?"


"Jadi, kamu sudah pernah menikah?" Haya merasa penasaran.


"Sudah. oh ya biasakan panggil aku Mas ya, kan tua aku. Dan aku, akan memanggil mu dengan sebutan dik, karena kamu seperti adik ku," terlalu aneh bagi Haya.


"Terserah lah, aku ikut saja. Yah walau tidak terbiasa, sih!"


"Hobby sekali, memakai kalimat terserah?" Ahmad Faiz tersenyum.


"Mas Ahmad Faiz, aku boleh ngomong sesuatu hal sama, mas?" pinta Haya.


"Boleh dik. Tapi panggil nya mas Zein saja lah ya, jangan Ahmad Faiz, terlalu panjang kayak nya, iya kan?"


"CK... Iya iya mas Faiz."


"Mau tanya apa, dik?"


"Mas Faiz, Eh___ ada enggak keinginan di dalam hati mas Faiz, untuk segera menikah lagi?" Haya menunduk malu, rasanya seperti memoles wajah nya sendiri menggunakan kotoran hewan saat berkata demikian.


"Betapa rendah nya, harga diri ku sebagai wanita" Haya membatin nyeri dan malu.


"Kenapa berkata begitu?"


Haya gelagapan, ingin mengatakan tolong aku, namun tidak mungkin seorang Ahmad Faiz mau menolong nya.


"Sebenar nya aku masih mencintai almarhumah istri ku, Khadijah. Namun aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan dan kepiluan. Karena Allah pun tidak menyukai orang yang berlebihan dalam mencintai manusia."


Haya menatap mata Ahmad Faiz yang berkata begitu tulus.


"untuk mencari pengganti sepertinya tidak. Karena sampai kapan pun Khadija ku, tidak akan ada yang bisa mengganti nya!" jawab Ahmad Faiz.


Haya menelan Saliva nya kasar, seolah merasa malu sampai ubun-ubun. Lelaki yang akan di jerat nya bukan lah lelaki brengsek namun lelaki baik-baik, mungkin kah Haya sanggup melakukan nya.


"Namun, aku tidak mengelak jika suatu hari nanti, akan ada seorang wanita yang akan mengisi relung hati ku lagi. Lebih tepatnya bukan untuk mengantikan, tapi memang ada tempatnya masing-masing. Allah maha membolak balikkan hati setiap hamba nya, dik."


Haya masih terdiam, pikiran Haya fokus kepada satu hal. Suatu kemustahilan jika Haya akan meminta Ahmad Faiz menjadi suami Muhallil nya. pasti Ahmad Faiz akan menolaknya mentah-mentah.


Namun pada siapa lagi, Haya akan meminta bantuan, dan mengantungkan harapan?


"Dik Haya sendiri bagaimana, apa sudah menikah?"


"Aku__ aku___ Hem."


Haya tak kuasa mengatakan apapun, Air mata tiba-tiba jatuh begitu saja. Dengan cepat Haya mengusap air mata nya kasar.


"Kok malah bersedih. Maaf jika pertanyaan ku membuat dik Haya bersedih?"


"Tidak apa-apa, mas."


"Sepertinya di luar hujan nya sudah reda, mari kita pulang?" Ajak Ahmad Faiz pada Haya yang masih terdiam.


Haya mengangguk setuju.


Ahmad Zein dan Haya pun berpamitan, pada bapak pemilik bengkel, yang sudah memberikan tempat dan ruang untuk berteduh.


Ucapan terima kasih pun mereka haturkan, pada bapak pemilik bengkel tersebut.

__ADS_1


__ADS_2