
Tok...
Tok..
Nahla mengetuk pintu kamar mandi, karena kebelet buang air kecil. Rasanya Nahla sudah tak tahan lagi.
Dua kamar mandi terkunci dari dalam, setelah beberapa lama Nahla menunggu akhirnya salah satu pintu terbuka.
Seorang gadis dengan hijab keluar dari dalam kamar mandi. Dengan pandangan yang aneh, perempuan tersebut menatap Nahla menelisik.
"permisi_____,"Nahla langsung masuk kedalam karena sudah tidak tahan lagi.
Setelah selesai, Nahla segera keluar dari dalam kamar mandi.
Nahla lekas masuk kedalam kamar.
Gadis berhijab tadi, menghentikan langkah kaki Nahla.
"Anak baru, ya?" Tanya nya sedikit keras.
"Iya, mba." Jawab Nahla pelan.
"Satu kamar sama Bella?" selidik perempuan berhijab tadi.
Nahla mengangguk, mengiyakan.
"Hati-hati berteman dengan Bella. Aku pernah melihat nya sedang jalan sama om-om. jangan sampai kamu terjerumus dan terseret oleh arus pergaulan nya, dengan dalih persahabatan." Nasehatnya.
"Maksud mba, apa?" Nahla kebingungan mencerna dari ucapan gadis berjilbab tersebut.
"Aku lihat, kamu gadis yang baik. Ini hanya sebuah nasehat, jika kiranya menurut mu baik, tolong dengarkan. Jika tidak, terserah sama kamu." Gadis itu pergi mejauh.
Nahla masih mematung menatap gadis berhijab, yang meninggalkan Nahla sendiri di depan pintu kamar nya.
"Panggil aku, Nafisa." gadis berhijab berpaling dan menyebutkan nama, karena menyadari Nahla menatapnya kebingungan. Nafisa masuk kedalam kamar, tepat di sebelah kamar Nahla dan Bella.
Nahla menghembuskan napas kasar...
Klik
Nahla tak mendapati Bella ada di dalam kamar. Nahla melihat jam di ponsel, hampir masuk subuh.
"Kemana Bella?" Nahla pikir, mungkin Bella sedang buang air besar di kamar mandi. sebab tadi, satu pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar...
Suara adzan terdengar nyaring, Nahla gegas mengambil wudhu dan menunaikan dua rakaat.
Selesai menunaikan dua rakaat, Nahla melanjutkan dengan melantunkan ayat suci Al-Qur'an. dengan begitu merdu Nahla melantunkan ayat demi ayat suci.
Panggil polisi...
Cepat lah_____!
Jangan menyentuh nya, biarkan saja begitu.
Kenapa bisa sampai begitu?
Riuh di teras depan terdengar nyaring, Nahla pun menghentikan aktivitas mengaji. menutup musaf dan melepas mukenah yang dipakainya.
Nahla membuka pintu, dan melihat apa yang terjadi di luar.
__ADS_1
Ternyata sumber suara riuh, terdapat dari arah kamar mandi. Nahla berjalan mendekat ke arah kamar mandi, betapa tersentak hati Nahla saat melihat pemandangan di depan matanya.
Tampak Bella terbujur di dalam kamar mandi, dengan banyak darah yang melumuri tubuh nya, yang hanya berpakaian mini tersebut.
"Ya Allah, Bella!" Nahla berlari menarik selimut dari dalam kamar, menutupi tubuh Bella yang bersimbah darah.
"Jangan mendekat_____!" Teriak ibu kost memperingati Nahla. ibu kost tau, Nahla begitu kaget dengan penemuan Bella. Tapi, sebelum polisi datang jangan mengambil tindakan apapun.
Nahla mundur selangkah, setelah berhasil menyelimuti tubuh Bella. Nahla di tarik mundur oleh Nafisa.
"Jangan mendekat, kita tunggu ambulance, polisi akan menyelidiki kasus ini." lirih Nafisa menasehati.
"Bella... Bella.." Nahla bergumam tak jelas, sangking panik nya.
"Bella kehabisan banyak darah. Lihat lah, darah sampai banjir mengenang seperti itu." nafisa tampak ragu mengatakan pada Nahla. Karena pada kemyataan nya Bella benar-benar tergenang oleh darahnya sendiri.
View..
View..
View..
Suara ambulance terdengar nyaring, di susul oleh mobil polisi.
Semua bekerja sesuai porsi, masing-masing.
Nahla masih mematung di tempat, Nafisa mengandeng Nahla untuk sedikit menjauh, menuju ke halaman kost an.
"Ya Allah.. Bella!" Nahla tidak habis pikir, nasib Bella akan jadi seperti ini.
"Kenapa Bella seperti itu?" Lirih Nahla, sambil mengusap buliran bening di sudut netra nya.
"Ini kamar Bella." Ibu kost menunjuk kamar Bella dan Nahla. polisi pun segera menggeledah kamar tersebut, mungkin akan di temukan bukti, atau motif Bella melakukan hal demikian.
Bahkan setiap orang tak lepas dari pertanyaan polisi.
"Nahla____," Evan menatap Nahla yang menangis sesegukan.
Nahla mendogakkan wajah, dan mendapati Evan tengah memandang nya heran.
"Mas Evan... ," Lirih Nahla sedikit tenang.
"Jadi, kamu ngontrak disini?" Tanya Evan tampak kasihan melihat Nahla terisak.
Nahla mengangguk.
"Jaga dirimu, aku akan kembali bertugas."
Tidak banyak kata lagi, Evan pun pergi bersama tim kepolisian, untuk menguak kasus Bella.
"Nahla, masuk ke kamar ku saja, jika kamu takut sendirian di kamar itu?" Nafisa menawari Nahla ruang dan tempat.
"Tidak Nafisa, terimakasih sudah mau berbagi tempat denganku," jawab Nahla sedikit bergetar.
Nafisa pun pergi meninggalkan Nahla, karena Nahla menolak untuk di ajak masuk oleh nafisa.
Nahla duduk di teras rumah sambil membayangkan, apa hal yang membuat Bella melakukan itu. Bukan kah semalam Bella janji akan belajar berubah menjadi insan yang lebih baik.
Hari itu, Nahla tidak berangkat kerja. Nahla berdiam diri di dalam kamar, bayangan senyum Bella, rasa bahagia Bella, kesedihan Bella, dan yang terakhir, Nahla melihat Bella terbujur bersimbah darah.
Bahkan, Nahla tidak mengonsumsi nasi, perutnya terasa penuh dan kenyang. bayangan demi bayangan menghantui pikiran Nahla.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa ini harus terjadi?" Nahla memandang lemari pakaian milik Bella.
Nahla menghubungi Evan..
Dengan berani, Nahla menelpon Evan, dan ini untuk pertama kalinya, Nahla menelpon Evan.
Tut...
Panggilan terhubung
"Hallo.. Nahla." sapa Evan ramah dari sambungan telepon, Evan sangat antusias menjawab panggilan dari Nahla.
"Assalamualaikum, mas?"
Dengan kikuk, Evan menjawab salam Nahla. selalu saja lupa mengucap salam, batin Evan kesal menyadari ke keliruannya.
"Mas, bagaimana keadaan Bella?" Nahla langsung ketopik.
"Bella.., oh perempuan yang tadi pagi, berlumur darah tersebut." jelas Evan.
"Iya.. " Nahla berujar pelan.
"Keadaan nya kritis, Bella banyak kehilangan darah. Entah apa yang di pikir perempuan yang bernama Bella itu, kenapa harus melakukan tindak abor** Mandiri." terang Evan merasa miris melihat nasib Bella.
Nahla begitu terkejut, mendengar penuturan Evan. Kenapa Bella melakukan hal itu lagi, kenapa Bella berlaku seperti itu, apa yang di pikirkan Bella pada saat itu?
Nahla begitu menyesal, karena Nahla tidak memahami keadaan Bella yang down. seharusnya Nahla tau, jika Bella sedang butuh sandaran, pasti peristiwa ini tidak akan pernah terjadi.
"Nahla... Hallo" Evan tidak mendengar suara apapun, Evan pikir panggilan terputus.
"Iya, mas."
"Bagaimana, Nahla?" tanya Evan.
"Boleh kasih alamat dimana Bella di rawat, mas. Aku ingin menjenguk nya." pinta Nahla.
"Boleh dong, Nahla."
"Aku kirim lewat, pesan saja ya?"
"Iya, mas. Terimakasih ya mas?"
"Iya sama-sama, Nahla."
Panggilan pun terputus, dengan cepat Nahla meluncur ke rumah sakit, dimana Bella di rawat.
Sekitar lima belas menit, Nahla sampai di rumah sakit. Persis sama dengan apa yang Evan katakan.
Rumah sakit yang besar, dan membuat Nahla berat melangkahkan kaki, karena rasa khawatir akan keadaan Bella.
Nahla melihat, seorang nenek yang menangis sedang duduk di kursi tunggu, dan pasti itu adalah nenek Bella, pasti nenek Bella sangat terluka dengan berita ini.
Bapak Bella juga ada disana, bapak Bella terlihat jauh lebih tenang, di banding dengan nenek Bella yang terus terisak.
"Assalamualaikum... " Nahla memberanikan diri, mendekat.
Bapak dan nenek Bella menjawab salam dengan serempak, mata nenek Bella menatap Nahla heran.
"Aku Nahla, nek. sahabat Bella." Nahla memperkenalkan diri dan menjabat tangan nenek dengan takdzim.
"Sahabat.., apa kamu tau nak, kenapa Bella bisa sampai jadi begini?" Tanya nenek Bella penuh harap.
__ADS_1
"Tidak, nek. Aku sendiri syok mendapati Bella melakukan ini, awalnya Bella baik-baik saja, tapi pagi itu_____," Nahla tidak bisa meneruskan kalimat nya. Air mata Nahla jatuh terurai.
"Bella selalu berbuat nekat, makanya aku selalu memarahinya. Anak ini selalu membangkang apapun perkataan orang tua, Bella selalu menolak nasehat yang aku berikan. Jadi, seperti inilah akhirnya," bapak Bella terlihat sedih bercampur kecewa akan sikap Bella.