
Hari ini Nahla sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Bahkan sarapan pagi pun sudah tersedia rapi di atas meja, memang Nahla sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Tak sulit bagi Nahla untuk mengerjakan itu semua.
"Mba aku berangkat kerja dulu ya?" Nahla pamit pada Haya yang sedang minum air putih di dapur. Haya menghentikan aktivitas minum nya, dan melongok ke arah jam pada dinding.
"Jam berapa ini Nahla, masih jam 06.30. Apa tidak terlalu pagi, nanti saja bareng sama, mba."
"Enggak apa-apa lah mba, aku berangkat sekarang saja. Aku sekalian mau lihat-lihat suasana kota di pagi hari, boleh ya mba?"
"Memangnya kamu tau dimana arah tempat toko bunga tersebut berada?" Tanya Haya.
"Enggak mba. Tapi, nanti kan bisa naik angkot. kata mas Evan toko bunga nya Deket sama jalan poros, jadi enak lah mba enggak harus jalan kaki terlalu lama. Ya sudah ya mba, aku pergi dulu takut enggak ketinhgalan angkot."
"Assalamualaikum____" Nahla melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
"Hati-hati Nahla, walaikumsalam," Nahla pun tersenyum manis dan kembali melanjutkan langkah menuju pangkalan angkot.
Haya duduk di meja makan, sudah ada bekal yang sudah Nahla siapkan dengan begitu rapi. ada dua kotak nasi, satu untuk Haya dan satunya lagi untuk Ahmad Faiz.
"Nahla gadis yang baik, pandai memasak pandai bebenah rumah, Nahla juga bukan gadis pemalas, terbukti Nahla begitu gigih mencari kerjaan. Nahla bukan gadis yang senang berdiam diri memangku tangan, sungguh perempuan yang jarang ku temui di era jaman seperti ini," Haya memegang gelas dengan perasaan campur aduk.
"Kenapa aku takut mas Faiz menyukai Nahla. Kenapa aku terlalu naif, berharap hati mas Faiz selalu untuk ku," Haya memutar bola mata dan memejamkan nya beberapa saat mencoba menetralisir perasaan cemburu yang tiba-tiba datang.
"Tidak haya. Itu tidak benar, Nahla bukan gadis yang curang, lagian jika mau pasti mas Faiz sudah dari dulu menikahi Nahla, berhentilah berprasangka buruk!" Haya menyakinkan hati agar cemburu tidak merajai hati nya yang sedang bermekaran.
Ah menyebalkan sekali!
"Dik, kenapa?" Ahmad Faiz yang sudah rapi menghampiri Haya, yang melamun duduk di kursi meja makan dengan mengetuk-ngetuk gelas berulang kali.
__ADS_1
"Mas, aku merasa enggak berguna bagi mu. Kok aku merasa jadi perempuan lemah banget. Tidak gesit dan benar-benar penuh kekurangan." lirih Haya menunduk, penuh kesedihan.
"Ngomong apa sih, dik."
"Lihat lah mas. Nahla sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah, sudah masak sarapan untuk kita juga. lalu apa gunanya aku? aku enggak mengerjakan apapun di rumah ini. Aku hanya berdiam diri meratapi nasib ku saja, padahal setiap insan juga pasti banyak ujian. Hanya saja mereka tidak mengumbar nya."
"Kenapa harus merasa sedih sih, dik. Bukan nya dulu waktu masih bersama Niko juga sama ya. Maksud nya, pekerjaan rumah sudah ada yang menghandle, jadi dik Haya tidak perlu capek-capek lagi mengerjakan tugas rumah."
"Lain lah, mas." Haya terlihat merajuk, jelas wajah ayu nya berubah sedikit masam.
"Mas menikahi mu, bukan karena mas ingin dik Haya membereskan rumah dan masak. mas ingin menggapai surga bersama mu dik, inti nya masalah pekerjaan rumah, bisa kita selesaikan bersama-sama saat pulang kerja. Kita saling bahu membahu."
Haya menatap mata Ahmad Faiz mencari pembenaran dari mata indah tersebut. "kenapa, apa dik Haya enggak percaya pada mas. Atau jangan-jangan dik Haya cemburu pada Nahla?" goda Ahmad Faiz menelisik mata indah milik Haya, karena wajah Haya begitu masam.
"Cemburu.. ih mas kepedean.. !" sarkas Haya. merasa tidak terima, walau itu fakta. Haya tidak mau kalau sampai Ahmad Faiz tau kebenaran nya ada hati yang cemburu.
"Baik lah. Mulai besok Nahla akan tinggal di kontrakan, biar istri mas tercinta tidak sedih lagi. Dan tidak insecure lagi."
"Loh kenapa, itu kan mau nya Nahla juga."
"Tapi aku tidak tega membiarkan Nahla tinggal sendirian, mas. Nahla kan seorang gadis dan baru datang ke kota, aku khawatir membiarkan nya hidup sendirian di kontrakan."
"Tenang saja, dik. mas punya kenalan teman yang punya kontrakan, maksud nya ibu mertua nya punya kontrakan khusus putri, jadi kontrakan itu terhubung ke rumah utama langsung. tidak campur dengan lelaki. pokoknya insyallah aman."
"Benarkah mas. jadi, setiap hari terawasi oleh ibu kos, dan yang paling penting lebih aman dan cocok lah untuk Nahla. "
"Iya begitulah. Nanti jika Nahla setuju, mas akan melihat lokasi nya langsung untuk memastikan."
__ADS_1
Haya pun tersenyum, Haya merasa beruntung mempunyai lelaki sebaik Ahmad Faiz. Ahmad Faiz bukan hanya baik tapi hati nya begitu perduli dan tidak egois, benar-benar menganggumkan.
Seandainya almarhumah khadija masih hidup, mungkin Haya tak akan merasakan di posisi nyaman saat ini, ah menyedihkan.
"Dan seandainya mas Niko tidak menalak ku sebanyak tiga kali pasti aku tidak akan berada di sisi mas Ahmad Faiz. pasti aku tidak akan pernah mengenal lelaki sebaik ini, ternyata Allah mengirimkan jodoh melalui jodoh yang sebelum nya," Haya tersenyum getir dan merasa benar-benar ajaib jalan cerita hidup yang harus di lalui, lucu dan menyedihkan.
"Mas antar dik Haya, ya?"
"Kan beda arah, mas."
"Sudah jangan menolak, mas mau lihat lokasi dimana tempat dik Haya jualan sekarang." tegas Ahmad Faiz.
"Baiklah____," seru Haya bahagia ternyata hal kecil sekalipun jika selalu di syukuri maka akan terasa nikmat nya.
Mulai hari ini Haya membuka toko pakaian yang di jual secara online dan offline. Ini tidak lah mudah bagi Haya, dulu pekerjaan Haya jelas berkelas, namun bekerja sebagai pedagang juga tak kalah menyenangkan dan menghasilkan omzet keuntungan yang tidak main-main.
Rejeki siapa yang tau, walaupun hanya berdagang kaki lima jika Allah menghendaki pasti bisa naik Haji, iya kan?
Seperti lagu qosidah yang pernah populer, lagunya Nasida Ria, tentang pedagang kaki lima yang bisa naik haji, berkat keuletan dalam berusaha dan berdoa.
Haya tau fashion, jadi baju yang akan di perjual belikan pun tak kalah modis dan mengikuti tren. Lalu bagaimana dengan modal usaha, uang darimana kah itu?
Haya meminjam uang pada Evan dengan jaminan sebuah cincin yang tersisa, cincin tersebut adalah pemberian Niko saat ulang tahun pernikahan yang kedua tahun.
Tak di sangka, cincin itu cincin terakhir yang Haya punya.
Haya akan berjuang lebih keras agar dapat menyewa pengacara dan bisa mengambil hak asuh Attar sesegera mungkin.
__ADS_1
Ahmad Faiz sebagai suami pun selalu mendukung apapun yang Haya pilih, selagi tidak melenceng dari jalur hukum Agama.
Apalagi Haya benar-benar perempuan yang baik, Haya pekerja keras, Haya perempuan idaman bagi Ahmad Faiz.