
"Mas, aku mau bicara sesuatu hal?" Lirih Haya. Duduk di samping Ahmad Faiz yang sedang menikmati secangkir teh di depan teras. Suasana begitu cerah, udara masih begitu segar di pagi hari.
"Katakan lah, dik Haya mau bicara apa?" Ahmad Faiz masih saja menyesap teh buatan Haya.
Haya gamang mau menceritakan hal yang sebenar nya. Atau Haya akan merahasiakan semua ambisi yang tersusun rapi, sampai rencana nya berhasil seperti yang di harapkan.
Haya merasa sudah tidak sanggup lagi terus membohongi Ahmad Faiz. Lelaki seperti Ahmad Faiz terlalu baik untuk di kecewakan. namun semua kesalahan sudah di pilih dan hanya menunggu waktu saja. Semuanya akan hancur beriring berjalan nya waktu.
Hah___ Ahmad Faiz menghela napas.
"Loh kok diem____, katanya mau bicara. Ada apa sih, dik? Kalau ada yang mengganjal di hati katakan saja. Mas akan menjadi pendengar yang baik dan Budiman."
Haya gelagapan.
Ahmad Faiz menatap wajah ayu Haya dengan senyum manis.
"Aku rindu Attar mas. Terakhir kita kesana sebelum kita ke desa, dan itu sudah dua minggu yang lalu, jalan tiga Minggu malah."
"Kalau begitu besok kita berkunjung ke rumah Attar. Bila perlu kita akan minta waktu ke mantan suami dik Haya untuk membawa Attar kerumah. Yah untuk menginap di rumah sederhana kita tentu nya."
"Mas, serius?" Haya tak percaya dengan ucapan Ahmad Faiz.
"Kenapa tidak! Attar itu masih kecil dan Attar juga berhak bahagia. Attar anak dik Haya, dan sudah sepatutnya mas juga menyayangi dan memcoba lebih dekat dengan Attat. Mas sebenarnya kasihan sama kamu dan Attar, di usia Attar yang baru dua tahun lebih, sudah harus merasakan kasih sayang sepotong dari seorang ibu."
Haya menunduk dalam. kepingan demi kepingan saat masih bersama Attar tergambar dalam memori ingatan.
"Aku pun tak kalah sedih dari apa yang mas pikirkan. Aku sendiri tidak menyangka semua akan jadi begini mas. Namun inilah hidup, suka atau tidak ya mesti di jalani, bukan begitu?"
"Kalau begitu kenapa kita tidak meminta hak asuh Attar pada mantan suami mu dik? Sepertinya pengadilan akan memberikan hak asuh itu padamu dik. Mas yakin, kan Attar masih balita sudah tentu tempat terbaik ya di sisi sang Ibu kandung nya."
"Itu tidak mungkin, mas!"
"Kenapa bisa tidak mungkin. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Tidak ada yang mustahil bagi Allah."
"Kita punya apa mas, untuk melawan hukum yang akan mereka ajukan? Tentu kita perlu dana yang tidak sedikit. Apalagi sekarang aku sudah tidak bekerja di kantor Bu Mecca, aku di pecat dengan alasan yang tidak masuk di akal."
"Di pecat____, memang dik Haya salah apa kok bisa sampai bisa di pecat?"
"Entah lah mas, aku juga enggak tau. Tiba-tiba Bu Mecca mengirimkan pesan dan memerintahkan, agar aku tidak masuk kerja di kantor nya lagi. Ini menyakitkan mas, aku berjuang sangat keras untuk bisa sampai di posisi itu, tapi semuanya berakhir sia-sia."
__ADS_1
"Sabar ya dik. Insyallah akan ada hikmah di balik kejadian ini," Ahmad Faiz berusaha memberi kekuatan pada Haya.
"Aku kurang sabar gimana sih, mas?" Sesal Haya memegang tangan dan memejamkan mata nya sendiri.
"Mungkin lebih kurang, lagi, lagi dan lagi."
"Nyatanya mungkin begitu mas. Mungkin semua ini ada sangkut paut nya dengan mas Niko, mungkin aku kurang sabar dalam menghadapinya," ada guratan sedih di mata Haya.
"Niko, mantan suami kamu, dik?"
"Iya mas. Aku enggak ngerti mas, kenapa mas Niko akhir-akhir ini sering____,Hem____ Ah sudahlah tidak perlu di bahas!" Haya berdecak bimbang. Wajah Haya begitu dilema.
"Sudah lah enggak apa-apa dik Haya jangan khawatir. Kan ada mas disini. Soal pekerjaan ya ikhlaskan saja, pasti di balik ini semua rencana Allah akan jauh lebih baik. Yang terpenting dik Haya senantiasa mensyukuri berapa pun gaji yang mas punya."
"Gaji mas____?" penuh emoji bertanya-tanya.
"Ya iya lah dik. Uang mas juga uang dik Haya, ada Hak dik Haya disana. Tapi uang pribadi dik Haya tidak ada hak mas disana, kalau dik Haya ikhlas itu berkah tapi jika tidak ya jadi ladang dosa buat mas."
"Hem gitu ya, mas?" Haya tersenyum tipis sambil menggoda.
Ahmad Faiz membalas senyum Haya. Perlahan Ahmad Faiz mengusap lengan Haya, jujur ada segelintir rasa yang mulai tercipta di antara kedua nya.
Perasaan cinta itu tidak lah benar. Segala sesuatu yang di dasari kebohongan itu tidak akan baik.
Haya menatap wajah Ahmad Faiz yang tengah melihat ke depan. Jelas wajah yang manis dan berseri-seri. Senyum kecil menghiasai bibir Haya.
"Mikir apa aku tuh?" gumam Haya dan memalingkan wajah menatap lurus ke depan, menyadari jika hatinya mulai terpesona oleh kelembutan yang Ahmad Faiz tawarkan.
"Apa dik?" Ahmad Faiz yang merasa ada orang yang tersenyum di belakang nya.
"Apa____!" Haya balik menoleh.
"Tadi mas denger dik Haya kayak ngomong sesuatu, tapi mas enggak denger dengan jelas."
"Enggak ada, ah! Salah dengar kali," jelas Haya dengan yakin.
"Dik, mas boleh bicara sesuatu hal?"
"Boleh, jika dirasa penting ya bicarakan lah mas? Selagi masa bicara masih di gratis kan dan belum berbayar."
__ADS_1
"Boleh kah mas minta satu permintaan. Bolehkah Dik Haya berjanji tidak akan meninggalkan mas, apapun yang terjadi? Mau kah, dik Haya berjanji akan selalu setia dan mau belajar mengarungi bahtera rumah tangga bersama mas, dengan kesederhanaan?"
Haya begitu terkesiap mendengar penuturan yang Ahmad Faiz katakan.
Janji____ yah sebuah janji.
Apakah Haya akan mengatakan iya jika pada hakikat nya, semua berawal dari kedustaan. dan akan kah Haya menjawab tidak, padahal Haya mulai merasa nyaman saat bersama Ahmad Faiz.
"Mas tau tentang sesuatu hal, yang dik Haya sembunyikan dari mas!" Ahmad Faiz tersenyum getir.
Haya menoleh dengan mata yang penuh pertanyaan. Apakah hal yang di ketahui oleh Ahmad Faiz? Hati Haya kian merasa khawatir, jantung nya berdetak lebih cepat dari sebelum nya.
Haya masih menatap wajah Ahmad Faiz dengan penuh rasa ingin tahu. Informasi apa yang telah di ketahui oleh suami Muhallil nya tersebut. Apa yang sedang di sembunyikan Ahmad Faiz?
"Dik Haya harus bisa menentukan sikap. Seberat apapun beban yang dik Haya tanggung, sejatinya Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kesanggupan nya."
"Maksud mas Faiz apa?" Haya berkata gamang dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mencoba menetralisir rasa yang mulai lahir.
"Coba katakan satu hal yang sampai detik ini dik Haya pendam? Dan hal itu mampu membuat dik Haya tersiksa lahir dan batin, dan mas sudah mengetahui nya sejak lama. Mas enggak marah, hanya saja mas ingin dik Haya kembali memikirkan akibat dan manfaat dari sebuah langkah dan keputusan yang dik Haya ambil nantinya. Jangan sampai dik Haya kelak menyesal untuk yang kedua kalinya."
"Mas Faiz___, apakah mas Faiz tau maksud tujuan ku mendekati bahkan aku meminta mas Faiz menikahi ku? Apa mas Faiz tau maksut terselubung ku. Apa mas Faiz sudah mengetahui akan hal itu semua?"
"Iya." Faiz mengangguk dengan mata terpejam. Menahan gejolak dengan mengatur ritme nafas yang mulai tersengal, hati yang sakit dan otak yang memanas.
Rasanya Ahmad Faiz ingin sekali menangis. Namun Ahmad Faiz tahan.
Hiks____
Tes____tes___
Haya menumpahkan air mata yang sedari tadi di tahan nya. Dengan pasrah dan tanpa daya, hancur lah sudah harapan dan tujuan awal yang Haya bangun. Sebuah ambisi berupa rencana yang Ahmad Faiz ketahui. Saat ini sebuah kehancuran yang sudah jelas terpampang di depan mata. Hancur sudah impian dan ambisi Haya.
Tubuh Haya serasa membeku, dan tidak bisa bergerak lagi. Panas dingin menyergap tubuh ramping tersebut.
"Maafkan aku mas. Maafkan aku. Aku jahat, aku dholim, aku egois, tapi mas harus tau sebab di balik keputusan yang aku ambil. Aku khilaf mas, aku dilema. maafkan lah aku, mas?"
Ahmad Faiz masih diam tak berkata apapun. Hanya setetes air mata jatuh membasahi pipi berseri Ahmad Faiz. Dengan masih setia memejamkan mata menahan sebah di dada, Ahmad Faiz masih berusaha menetralkan amarah yang sudah meronta di ujung lisan.
Ingin sekali rasanya Ahmad Faiz marah namun kembali lagi, masalah apapun jika di selesaikan dengan amarah tidak akan baik hasil nya.
__ADS_1
Lebih baik menahan lisan, agar tidak berkata apapun saat marah. Itu jauh lebih baik, dan meminimalkan akibat dari amarah yang tercipta tersebut.