
Haya membuka mata dan melihat ke sekeliling. Bukan kah tadi ada Ayah dan Ibu yang sedang membelai nya penuh kelembutan. Kenapa sekarang berubah? Dimana ayah dan ibu kini? Haya tidak mau kembali ke dunia nyata.
Dunia nyata, yang mampu membuat hati Haya sedih dan di aduk-aduk.
"Ayah___Ibu___, Haya kangen." Haya membatin tanpa bersuara. Haya dapat mendengar lantunan sholawat yang di putar begitu lirih, hati Haya semakin remuk mendengar lantunan sholawat yang begitu menyayat hati.
Allahuma Sholli sholatan kamilatawasalim salaman taman ala Sayidina muhamadiniladzi____Dst
Lantunan Sholawat penyejuk hati, alunan sholawat yang begitu menenangkan hati siapapun yang mendengar nya. Haya menoleh dan tidak mendapati bik Ijah maupun Ahmad Faiz disana.
Hanya ada ponsel yang tergeletak, sedang memutar lagu sholawat di atas meja, ponsel yang masih asing bagi Haya.
"Kemana mas Ahmad Faiz, kenapa sampai sekarang belum datang juga?" Lirih Haya dan mencoba duduk dari posisi baring nya.
Klek____
"Ibu sudah bangun?" Bik Ijah mendekat dan mengulas senyum. Haya mengangguk dan tersenyum.
"Bik, dimana mas Ahmad Faiz?"
"Oh__ mas Ahmad Faiz sedang di depan, tadi mas Ahmad Faiz ngobrol bersama saya Bu. Bagaimana Bu, apa perlu saya panggilkan?"
"Oh tidak bik. Tidak perlu!" Haya merasa malu, apa-apaan ini? Kenapa Haya mulai menyukai keberadaan Ahmad Faiz.
"Kata dokter tadi, Ibu sore ini sudah boleh pulang," terang bik Ijah.
"Aku sudah boleh pulang?" Haya merasa begitu senang.
"Iya Bu, dan kata pak Niko, saya harus menemani ibu untuk sementara waktu di rumah Ibu yang sekarang," sekali lagi bik Ijah menegaskan, bahwa Haya akan tetap berjuang seorang diri.
Haya memejamkan mata, sebuah sentakan kembali menghantam seluruh hati Haya yang hampir hancur. Sebuah rumah untuk kembali, itu rumah mewah tapi seperti penjara bagi Haya. Untuk apa rumah mewah dan indah, jika di dalam nya hanya ada kesepian dan kehampaan?
"Ibu mari___?" Bik Ijah mengandeng tangan Haya, untuk lekas membantu Haya berganti pakaian.
Haya menurut dan mengikuti bik Ijah masuk kedalam kamar mandi, untuk lekas Menganti pakaian.
"Aku bisa sendiri, bik," Haya masuk kedalam kamar mandi dan lekas mengganti pakaian nya seorang diri.
Haya mematut wajah nya di cermin, wajah pucat dan sayu.
"Apakah aku seburuk ini? bagaimana mungkin hidup ku seburuk wajah ku?" Haya bermonolog dengan cermin di depan nya, wajah yang tidak secantik dulu lagi.
Hening beberapa saat.
"Bu___!" Panggil bik Ijah dari balik pintu. Karena bik Ijah merasa Haya terlalu lama di dalam kamar mandi, bik Ijah takut Haya kenapa-napa.
Haya tersenyum getir dan segera membuka pintu. Setelah memastikan tidak ada air mata lagi.
"Maaf lama, bik?" Haya menampilkan wajah ceria, walau penuh dusta.
"Iya tidak apa-apa, Bu,".
Perlahan Haya berjalan. Haya melihat Ahmad Faiz mematikan lantunan sholawat di ponsel miliknya, dengan seutas senyum Ahmad Faiz sedang menunggu Haya di sofa khusus yang ada di ruangan Haya di rawa. Ruangan VVIP yang Niko pesan, memang sungguh kualitas yang tidak perlu di ragukan lagi.
"Mas____" panggil Haya.
"Eh sudah siap. Mari dik___?" Ahmad Faiz melangkah kan kaki. Membuka kan pintu dan tetap membiarkan bik Ijah yang mengandeng tangan Haya.
"Ayo masuk?" Ahmad Faiz membuka pintu mobil dan menyuruh Haya masuk kedalam.
Haya tersenyum dan segera masuk kedalam mobil. Dalam hati Haya berkata, bermonolog, bahkan mengutuk diri.
Mobil pun melaju sangat pelan, menuju rumah minimalis milik Haya. Seharusnya Haya senang, seharusnya Haya tersenyum, karena telah sembuh dan bisa beraktivitas lagi. Tapi semua bohong, nyatanya Haya sama sekali tidak bahagia.
Tidak butuh waktu lama, hanya butuh sepuluh menit mereka telah sampai. Haya masih di tuntun oleh bik Ijah untuk masuk ke dalam rumah. Ahmad Faiz sama sekali tidak menyentuh nya, sungguh lelaki hebat, bukan!
"Mas mampir dulu?" tawar bik Ijah. Bik Ijah begitu menyukai sifat Ahmad Faiz yang sopan dan asyik saat di ajak ngobrol.
__ADS_1
"Tapi, bik?" Ahmad Faiz ragu dan melihat ke atas langit. Hari mulai gelap, mentari sudah tenggelam ke peraduan.
"Ini sudah mau Maghrib mas. Enggak baik Maghrib di jalan. Ayo masuk kerumah, sholat Maghrib terlebih dahulu? lalu kita akan makan malam bersama. Nanti bibik yang masakin deh," bik Ijah menawarkan Kebaikan.
Ahmad Faiz pun mengikuti ucapan bik Ijah, untuk bertamu di rumah Haya. Setidaknya sikap bik Ijah membuatnya rindu sikap sang Ibu di kampung.
"Silah kan duduk, mas?" tawar Haya, lirih.
"Terimakasih."
"Mas, mau minum apa?" Bik Ijah menawari.
"Tidak usah, bik. Terimakasih"
"Buatkan teh saja, bik." pinta Haya.
Bik Ijah membuat kan teh hangat untuk mereka bertiga, lalu menaruh di atas meja yang ada di ruang tamu.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Adzan di ponsel Ahmad Zein kembali berkumandang, di susul suara Adzan di masjid sekitar rumah Haya.
"Sudah masuk Maghrib nih, mas boleh numpang sholat?" Tanya Ahmad Faiz.
"Boleh dong mas. Mari aku antar kan," ajak Haya mengantar Ahmad Faiz menjumpai ruang sholat, dan menunjuk dimana letak Ahmad Faiz bisa mengambil air wudhu.
"Apa dik Haya tidak sekalian sholat, biar kita bisa jamaah?" Ahmad Faiz bertanya.
"Aku___, ah Mas duluan saja. Aku nanti nyusul." jawab Haya sedikit gagap.
"Baik lah, mas sholat dulu ya?" Ahmad Faiz segera mengambil wudhu dan mendirikan tiga rakaat.
Haya kembali duduk di ruang tengah bersama bik Ijah.
Tring___
Ada kurir yang mengantar pakain mu." Niko.
Bik Ijah pun membalas pesan dengan sesegera mungkin. Telat sedikit saja bisa terpotong gajih bik Ijah.
"Baik, pak." kirim.
"Bu, bibik pamit ambil baju ya?"
Bik Ijah pamit pergi sebentar, Haya merasa heran.
"Ambil kemana?"
"Ketemuan sama kurir di Janmart, Bu."
"Kenapa si kurir enggak langsung datang kesini? Kenapa harus di janmart? Lokasi rumah sangat bisa di temukan, katakan pada kurir, bahwa bibik menunggu di rumah, berikan alamat rumah ini?" Tegas Haya.
"Enggak tau Bu. Harus nya sih begitu!"
"Tidak bisa begitu bik. Itu sudah tanggung jawab sebagai kurir loh," Haya merasa kurir tidak benar, melalaikan tanggung jawab, sebagai kang paket.
"Iya sih Bu. Tapi, ya sudah lah Bu, saya pamit ya? Kasian jika kurir nungguin bibik kelamaan."
Haya pun yang awal nya keberatan, akhirnya mengangguk setuju. Walau ada perasaan ganjal di hatinya. Haya melihat ponsel dan menatap foto wajah Attar di ponsel milik nya, tidak ada notif dari Niko.
"Sayang nya Ibu, ibu kangen?" Haya mengirim pesan suara, dengan senyum penuh kerinduan.
Mengetik...
"Attal uga angen ibu," suara Attar membuat Haya sedikit lega. Rindu yang menggebu perlahan terobati, walau hanya sebatas suara.
"Ih cepet banget balas nya," lirih Haya sambil tersenyum, dan senang.
__ADS_1
Tok____tok___
Suara pintu di ketuk sangat kasar.
"Bik Ijah ngapain mengetuk pintu begitu kasar, sih?" Haya berdiri dan menuju pintu utama untuk membuka nya.
Ceklek..
Haya melotot melihat banyak orang berkerumun di depan rumah nya. Haya tergagap mendapati orang sebanyak itu.
"Ada apa, pak?" Tanya Haya pada seorang RT, dengan wajah khawatir.
"Kami mendapat laporan, jika ibu sedang berduaan dengan seorang lelaki yang bukan suami ibu di rumah ini? Atau istilah nya kumpul keb*." Tegas seorang lelaki, yang berkemungkinan ketua RT.
"Maksud bapak RT apa? Saya tidak berduaan tapi bertiga dengan bik Ijah. Lagi pula itu fitnah, itu tidak benar." Haya mengantung kalimat nya, Haya ingat saat ini dirinya memang sedang berdua di dalam rumah bersama ahmad Faiz. Bukankah bik Ijah sedang pergi, ah kenapa jadi begini?
"Alah geledah saja pak. Orang macam dia ini mana mau ngaku? Pasti ngaku nya manusia baik, kelakuan kayak hewa*, kumpul sana kumpul sini." Teriak seorang warga.
"Anda bicara apa? Tolong di jaga ya?" Ketus Haya tidak suka, harga dirinya terasa di injak-injak.
"Iya benar geledah saja, pak!" seru warga yang lain nya.
"Keluar woy keluar, ngapain di dalam ngumpet. Takut ya?"
Hahaha
Hihihi
"Pengecut!" Teriak pemuda yang lain nya.
Tiga orang lelaki tinggi, besar, dengan cepat masuk untuk mencari Ahmad Faiz. Ahmad Faiz yang baru selesai sholat pun tekejut, saat bertemu dengan tiga orang lelaki yang tiba-tiba menyeret nya keluar rumah.
"Maaf pak, ada apa ini?" tanya Ahmad Faiz bingung, yang tadinya penuh keheningan berubah jadi riuh tak terduga.
"Nanti juga tau." lelaki besar itu berkata dengan sumringah.
Ahmad Faiz di seret di tengah kerumunan warga.
Bugh____
"Hentikan, hentikan. Jangan pada main hakim sendiri." Tegas pak RT.
"hu____" Sorak beberapa warga yang lain nya.
"Nah kayak gini nih pak, generasi muda yang meresahkan, suka kumpul kebo." Sinis seorang ibu-ibu julid.
"Astagfirullahal adzim___, ibu ini bicara apa? Saya dan dik Haya tidak melakukan apapun. Saya hanya menumpang sholat dan makan malam bersama. Lagian kami tidak hanya berdua tapi bertiga," terang Ahmad Faiz meninggi.
"Terus satu nya lagi mana? enggak ada kan."
"Satunya lagi syetan hahaha." teriak seorang bapak-bapak.
"Hu____" teriak ibu-ibu yang sedang berkumpul dan memandang sinis.
Haya dan Ahmad Faiz terdiam membisu. Rasanya percuma bicara sama warga yang terlalu banyak begitu, apalagi sedang tersulut emosi. Satu kalimat akan menjadi seribu kata jawaban.
"Nikah kan saja, pak!" Seru seseorang warga.
"Iya betul, pak." jawab lagi bapak yang lain nya.
"Maaf pak, kami enggak bisa. Ini salah paham. Kami memang akan menikah, tapi tidak sekarang dan tidak begini juga caranya," seru Ahmad Faiz menolak.
"Apapun alasan nya lebih baik hubungan kalian di halal kan saja. Dari pada kelamaan dan malah berbuat maksiat. Bukan hanya kalian saja yang berdosa, tapi kita semua kena imbas nya, saya mohon untuk koperatif." ujar Pak RT.
Haya menangis___, Baru saja Haya keluar dari rumah sakit. Masalah sudah datang lagi, masalah apalagi ini? kenapa cobaan senang sekali datang kepadanya.
Kenapa bik Ijah pergi disaat seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Haya rela jika harus menikah dengan Ahmad Faiz, tapi tidak begini juga caranya.
__ADS_1