
"Ayah boleh kah aku bicara berdua dengan Haya. Aku janji tidak akan melakukan kekerasan pada Haya, aku hanya ingin berbicara antara hati ke hati dengan Haya, yah," Niko meminta dengan memelas.
"Baik lah! komunikasi itu juga penting," pak Firman mengamit tangan Bu Astri, dan berlalu meninggalkan Niko dan Haya di balkon rumah.
Pak Firman memberikan kesempatan untuk Niko dan Haya berbicara secara hati ke hati. Sungguh pak Firman masih teramat kecewa pada putra yang di banggakan nya selama ini.
Hening___
Selepas Bu Astri dan pak Firman pergi, Haya dan Niko saling diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Haya__ Bagaimana pendapat mu, tentang pernikahan Muhallil yang pak ustad tawarkan?" Tanya Niko berharap mendapat respon dari Haya.
"Aku tidak tahu!" Haya menjawab dengan intonasi cepat dan malas. Kenapa harus melibatkan perasaan nya lagi.
"Apa kamu mau, jika harus menikah dengan lelaki Muhallil tersebut?" Niko menatap lekat wanita cantik di hadapan nya ragu. Manik indah dengan sorot tajam.
"Aku, tidak tahu!" Lagi-lagi Haya mengatakan itu dengan wajah murung.
"Kenapa selalu tidak tahu. Haya aku mohon katakan lah sesuatu! Saat ini hubungan Asamara kita, rumah tangga kita, sedang di pertaruhkan Haya, rumah tangga kita di ujung kehancuran."
"Ini semua salah mu mas! Karena ke egoisan dan emosi serta amarah yang tidak bisa kamu kontrol. Lihat lah begitu buruk dampak nya, dan lihat lah sekarang aku pun harus merasakan pahit dan getir akibat ucapan mu!"
"Haya. berapa kali lagi, aku harus mengatakan kata maaf? Apa aku harus mati dulu, biar kamu tau betapa aku menyesali semua ini," Niko terlihat frustasi.
"Kamu ini ngomong apa sih mas. Seandainya pun kamu mati mas, apa mungkin semuanya akan kembali utuh seperti sedia kala?" Haya geram dengan jawaban Niko.
"Haya aku tidak akan sanggup, jika harus hidup tanpa kamu. Aku bisa gila, aku kacau Haya. Aku mohon mengertilah! Coba kamu renungkan tentang pernikahan Muhallil yang pak ustad katakan tadi," Niko berharap agar Haya dapat mempertimbangkan usulan pak Ustad.
"Lalu bagaimana dengan ku mas? Aku juga sama kacau nya. Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan ku? Saat kamu dengan mudah mengatakan agar aku mau menuruti kemauan mu, tentang pernikahan Muhallil yang kamu ajukan!" Haya teriak dengan mata yang sembab. karena Haya terlalu sering menangis, meratapi betapa buruk takdir rumah tangga nya dengan Niko.
Haya terisak, air mata nya kembali luruh, sakit dan sesak di dada nya begitu mendera, panas sampai ke ulu hati.
__ADS_1
Bagaimana Haya akan mengambil sebuah keputusan? Jika hati nya saja sesakit ini, kepada siapa Haya akan mengadu tentang hati nya yang sakit, Haya tidak punya siapa-siapa lagi, selain keluarga suami nya tersebut.
"Haya___ Aku tidak akan pernah rela, jika harus menyaksikan pernikahan mu dengan lelaki lain, lebih baik aku mati dari pada harus menyaksikan hal itu. Namun hanya itu salah satu jalan agar kita bisa kembali bersama. seandainya aku bisa membawa mu kabur pergi, pasti ayah tidak akan membiarkan ku hidup," sesal Niko tidak guna.
"Mas___" Haya menatap lembut mata Niko yang memerah, dan terlihat frustasi.
"Aku sangat mencintai mu, Haya." lirih Niko.
Haya menghambur memeluk Niko, dengan begitu erat dengan penuh luka, yang semakin waktu semakin mengangga, akibat sebuah konsekuensi yang mereka buat sendiri.
"Aku pun mencintai mu mas, sangat mencintai mu." lirih Haya dengan bibir bergetar.
"Haya, apakah kita harus mengambil solusi ini?" Niko melepas pelukan Haya, dan menatap mata sembab Haya.
"Aku tidak bisa, mas." Haya menggeleng pelan dan memegang kedua pipi niko, dengan lembut.
"Aku pun sama. Tapi apa langkah yang harus kita tempuh? Aku yakin ayah dan Ibu akan menentang hubungan kita, yang sudah tidak sah lagi ini. Aku tidak mau pisah dengan mu Haya, sampai kapan pun, aku akan tetap mempertahan kan hubungan kita."
"Aku sungguh tidak bisa mas. Aku mencintai mu dan aku tidak mau menikah dengan orang lain, itu tidak mungkin aku lakukan, hiks___ Hiks___"
"Ayah___" Teriak Attar, sambil berlari.
"Attar, sayang!" Niko langsung memeluk, dan menciumi anak lelaki kesayangan nya.
"Attar, Ayah sayang Attar" Niko memegang bahu Attar, sambil mengusap pucuk kepala Attar.
"Atal uga ayang, ayah," Attar masih mengusap pipi Niko yang basah oleh air mata.
"Maaf kan Ayah, nak?"
"Ayah Tan dak alah kok ta aaf?" Bisik Attar, tidak maksud.
__ADS_1
Niko kembali menciumi anak kesayangan nya penuh cinta dan kasih yang teramat mendalam.
"Ini semua salah ku, salah ku, salah ku!" Niko membatin dan terus menyalahkan diri nya sendiri akan keputusan yang di ambil tanpa berpikir panjang.
Niko tidak mau, Attar menjadi korban atas keegoisan nya. Sungguh tidak mau! apapun yang terjadi, Niko harus mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan keutuhan keluarga nya, harus!
"Ayah, apan Ayah ajak Atal ain ke Bun Atang" seru Attar sambil tersenyum ceria.
"Nanti kalau Ayah ada waktu, Ayah akan mengajak Attar mengunjungi kebun binatang, ya? Sekarang Attar sabar dulu, tunggu ayah bisa menyelesaikan pekerjaan ayah ya, sayang."
"Aik Ayah, Attar ayang ayah."
Niko memeluk Attar, dan mengajak Attar melihat sebuah tayangan di smartphone milik Niko. Niko memutar beberapa film kartun kesayangan Attar.
"Mas___" Haya mendekat dan mencium pipi Niko. Niko yang begitu fokus menatap film di layar handphone.
"Boleh kan hari ini kita menghabiskan waktu bersama. Walau hanya di balkon rumah. Maaf kan aku Haya, aku sadar bahwa aku jarang meluangkan waktu untuk keluarga kita? Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan."
"Aku pun merasakan hal yang sama mas. Maaf ya, aku belum bisa menjadi istri yang baik, buat mas."
Niko mencium kening Haya begitu lama, begitulah rasa penyesalan selalu hadir belakangan.
"Attar___" Niko merasa malu, karena Attar melihat nya mencium kening Haya begitu lama.
Attar hanya tersenyum nyegir, dan kembali menatap film di layar handphone nya, seolah-olah mengerti atau malah tidak paham sama sekali.
"Aneh kan ya, dulu kita bisa melakukan apa saja yang kita mau, dan sekarang kita harus berjauhan dan ah.... Sudah lah, ini memang salah ku?"
"Ini cobaan yang harus kita cobain mas, tapi jangan di ulangin lagi ya!" Haya melotot menatap Niko dengan bercanda.
"Aku janji ya, aku janji!" Niko menatap lekat mata Haya yang sudah kayak mata panda.
__ADS_1
"Sungguh___" Haya mengacungkan jari kelingking milik nya, dan Niko pun menyambut nya dengan hati yang yakin.
"Iya, Janji." tegas Niko.