Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Satu imam dua makmum


__ADS_3

"Ini terasa lucu disaat kami sholat berjamaah, seorang imam dan dua Makmun. Beginikah rasanya orang berpoligami," batin Nahla selepas melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Hatinya bertanya-tanya.


"Tapi, aku tidak akan sanggup jika mendapat jodoh seorang suami yang sudah menikah dan menjadikan ku yang kedua. Aku akan terus menerus merasa kesakitan sepanjang hidup, sekuat apapun hatiku, rasanya aku tidak sanggup. Bahkan membayangkan nya saja aku tidak mampu." Batin Nahla.


"Hatiku belum lah luas, sehingga aku belum mampu ikhlas jika menjalani hidup berpoligami. Entah aku ataupun kakak madu ku pasti akan menyimpan rasa sakit itu," Nahla masih saja membatin.


"Mungkin ada beberapa atau bahkan banyak perempuan yang ikhlas dan rela di madu. Namun aku belum siap untuk itu, aku tidak menentang Sunnah poligami, tapi yang jelas aku belum siap untuk sekarang ini," batin Nahla, membayangkan seandainya Ahmad Faiz memintanya menjadi istri kedua.


"Aku malah masuk dalam rumah tangga mas Faiz yang bahagia ini. apa mas Faiz senang ya aku datang kemari, setiap pagi dan malam aku akan masak untuk nya, mencuci pakaian dan bersih-bersih rumah, sementara mas Faiz bekerja dan mba Haya juga sibuk dengan urusan nya," Nahla merasa tidak enak hati.


"Astagfirullahaladzim aku membayangkan apa sih! Ya Allah kenapa bisa jadi seperti ini, baru dua malam aku tinggal di rumah ini, tapi lihat lah pikiran ku benar-benar mulai tidak waras lagi."


Nahla menaruh mukena yang sedari tadi ia pegang karena sibuk dengan lamunan, lamunan yang begitu konyol. membuatnya terdiam membiarkan khayalan demi lamunan berlari dalam fikiran nya.


Tok.. tok...


Suara pintu di ketuk, Nahla pun masih sibuk dengan beberapa hapalan yang memang ingin Nahla hapalkan. ya begitulah Nahla, selalu mengisi waktu luang dengan sekedar membaca dan menghafal.


Tidak lama kemudian pintu kamar di ketuk kembali dari luar.


Tok____tok_____


Nahla gegas keluar dari dalam kamar untuk membuka pintu, dan menghampiri Haya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan seulas senyum.


"Nahla____, ada kiriman untuk mu," Haya memberikan sekotak makanan yang terbungkus sangat rapi.


"Makanan_____," Nahla terkejut karena Nahla sama sekali tidak memesan makanan.


"Iya. Dari mas Evan, itukan ada nama pengirim dan kartu ucapan nya."


"Tapi untuk apa mas Evan memberikan ku makanan? Aku sudah makan, lagian aku sedang tidak ingin makan makanan ini," lirih Nahla.


Haya hanya mengendikan pundak tanda tidak tahu menahu, Nahla menimang makanan yang ada di tangan Haya.


"Mba aku enggak bisa menerima makanan ini. mba bisa tolong sampaikan sama mas Evan, tolong sampaikan permohonan maaf, jika aku enggak bisa menerima apapun pemberian dari orang yang belum aku kenal dengan pasti. Lagian, aku______!" Nahla bingung akan menjelaskan pada Haya.


"Kenapa tidak memberi tahunya sendiri. Mba ada nomor mas Evan, kamu bisa langsung menghubungi nya," jawab Haya.


Nahla melirik sekilas ke arah Ahmad Faiz yang masih tampak biasa saja. Tidak ada raut wajah cemburu dan tidak suka atas kiriman makanan dari Evan. Ahmad Faiz terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Nahla menunduk menyadari siapa dia, berani-beraninya berharap Ahmad Faiz akan marah atas parcel kiriman makanan dari Evan.


"Apakah aku terlalu naif," batin Nahla bergetar hebat menyadari cinta nya yang bertepuk sebelah tangan. Nahla harus bisa menerima takdir hidup yang Allah gariskan.


"Hey Nahla, bagaimana ini?" Ucap Haya dan membuat Nahla kembali tersadar dari lamunan.


"Baik lah, mba." suara Nahla terdengar berat, dengan langkah malas Nahla menyalin nomor Evan kedalam ponsel milik nya.


Nahla segera mengirim pesan kenomor Evan, bisa jadi ini adalah cara Evan agar bisa mendapat nomor Nahla. Sebab saat akan memintanya langsung Evan tidak yakin Nahla mau memberikan nya.


Tidak panjang kata yang Nahla kirim, hanya ucapan salam, terimakasih lalu permohonan maaf agar tidak memberikan apapun lagi kepadanya. Nahla tidak menyukai bentuk apapun pemberian apalagi dari orang asing yang belum terlalu Nahla kenal.


"Oh iya Nahla. Kamu yakin besok akan mulai bekerja di toko bunga?" tanya Haya.


"Insyallah aku yakin, mba." jawab Nahla tegas.


"Okay____, sekarang istirahat lah besok kan hari pertama mu kerja, jadi jangan sampai terlambat datang," titah Haya dengan senyuman.


"Iya mba. kalau gitu aku masuk ke kamar dulu?" Nahla pun gegas berlalu masuk kedalam kamar tanpa menyentuh parcel kiriman dari Evan.


"Nahla tunggu ini makanan nya gimana?" Seru Haya menyodorkan parcel makanan.


Haya duduk di samping Ahmad Faiz.


"Terus Ini makanan nya mau di apain? tanya Ahmad Faiz bingung dan menatap Haya, yang lesu karena ada makanan di genggaman tangan nya.


"Entah lah mas, aku di kasih saja enggak mau." jawab Haya.


"Kalau di buang kok sayang ya, mubadzir. di kasih ke orang saja kalau, dik." usul Ahmad Faiz.


"Ide bagus, mas." saat Haya meraih parcel tersebut Ahmad Faiz juga tengah meraih nya. jadilah tangan mereka bersentuhan, untuk sesaat mereka saling diam dan menatap, ada irama cinta disana.


Hening, hingga keduanya saling tertawa saat menyadari hehehe..


"Ya sudah mas saja!" Haya melepas pegangan tangan tersebut, Haya mengalah.


"Tidak, mas tidak mau. kita lakukan bersama, ayo!" Ahmad Faiz menggamit tangan Haya dan membawanya keluar rumah, untuk memberikan makanan tersebut kepada orang yang memang benar-benar sedang membutuhkan makanan.


"Jika mas memberikan makanan padamu dik, apakah dik Haya juga akan menolak dan membuang nya?" Tanya Ahmad Faiz.

__ADS_1


"Tergantung sih, mas"" Ahmad Zein menoleh kearah Haya yang sedang tersenyum kecil.


"Kok gitu jawab nya!"


"Ya.. gimana ya mas, kan lain ceritanya. Jika kita menyukai si pemberi apapun yang di beri pasti terlihat makna bukan harga. Tapi, jika aku alergi pada makanan tersebut tentu aku akan menolak nya. Daripada mas sendiri yang repot nantinya dengan membawa ku menemui dokter, kan sayang uang nya."


"Hehehe_____" Ahmad Faiz terkekeh, merasa benar atas jawaban Haya.


"Kok malah ketawa sih!" Haya heran dengan Ahmad Faiz yang terkekeh. sungguh pemandangan yang tak ingin Haya akhiri, senyum itu yang selalu Haya ingin lihat, jangan sampai tawa itu pergi dan hilang jauh.


"Ya sampai sekarang kita belum tau, apa saja sih makanan kesukaan kita masing-masing, dan apa yang kita tidak suka, iya kan?" Jelas Ahmad Faiz.


"Aku tau makanan apa saja yang mas suka," tebak Haya sumringah dan penuh percaya diri.


"Udang sambal saos merah kan," tebak Haya tersenyum penuh kemenangan dan kebenaran.


"Iya benar, dik." jawab Ahmad Faiz dan mengusap pucuk kepala Haya sebagai rasa kekalahan.


"Kalau makanan yang mas tidak sukai makanan apa, mas?"


"Hem.. mas bukan orang yang tipe yang pemilih, enggak ada makanan yang enggak mas suka dik, intinya mas apa saja suka."


"Ya____, tapi masa semua suka sih. Coba sebutkan satu saja yang mas enggak suka?"


"Apa ya___, Kayak nya emang enggak ada deh, dik."


"His mas nih, enggak seru deh."


"Memang dik Haya yang paling enggak suka makanan apa?" tanya Ahmad Faiz balik.


"Durian" ucap Haya cepat.


"Berarti selain durian dik Haya mau makanan apa saja, hanya durian saja lah intinya,"


"Ya enggak durian saja lah mas, banyak yang aku enggak suka. Tapi, aku akan belajar menyukai nya semenjak belajar hidup bahagia bersama, mas. Aku akan belajar meraih hidup bahagia dalam kesederhanaan."


Sorot bahagia jelas tergambar di wajah keduanya.


Ahmad Faiz bersyukur bahwa Haya kini jauh lebih baik, jauh lebih bersyukur dan ada perubahan yang begitu baik.

__ADS_1


Walau di awal Haya adalah perempuan yang glamour, tapi Haya bisa membuktikan, bahwa kini Haya bisa hidup sangat sederhana. dan yang paling Ahmad sukai adalah cara yang Haya lakukan, Haya mau berproses menjadi perempuan yang lebih baik dan mau membenahi diri. Belajar mengerti dan mengaji, sungguh luar biasa


__ADS_2