Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kenapa tak mengenali ku


__ADS_3

"Tujuh bulan telah berlalu. Bahkan, kini perut ku sudah membesar. Setiap hari aku selalu merindukan mu. Aku mati-matian bertahan untuk tetap hidup, bertahan dan mencoba menyemangati diri sendiri dari kerapuhan hati yang terus mengerogoti," Haya mengusap perut besar nya.


"Lalu kini kamu datang lagi, tapi dengan takdir yang berbeda. Apakah ini adil, katakan apakah ini adil untuk ku? Kenapa kau hadir jika untuk menambah luka di hatiku?" Haya mengusap air matanya kasar. Hehheh lalu Haya terkekeh membayangkan hidupnya yang tak seindah kisah dari negeri dogeng.


"Bukan kah dulu kamu hanya mencintaiku seorang. Lalu kenapa kini kamu bersamanya. apa kamu tau, bahwa aku merasa sakit hati dan hancur, bahkan berlipat kali lebih hancur dari berita kepergian mu."


"Ingin aku marah, ingin aku datang dan menghajar mu karena rasa sakit di hatiku. Agar aku bisa rela, agar aku puas. Tapi aku tetap tidak bisa ikhlas untuk ini semua, kenapa kamu jahat, kenapa begitu tega melakukan ini padaku, mas?"


Huhuhu


Haya menangis di sudut kamar, kamar dimana dulu ada Ahmad Faiz disana.


"Aku masih bertahan untuk mu, mas. Aku masih setia disini untuk menanti kedatangan mu kembali. Tapi, kamu hancurkan hatiku, " Haya meremas ujung jilbab, menyalurkan rasa sakit yang kian mengaga dengan *******-***** jilbab tak berdosa.


Huhuhu


"Tujuh bulan lebih kamu meninggalkan ku, dan aku masih saja mencintaimu. Betapa bodohnya aku? Aku masih saja setia dan berharap kamu mendatangi ku. Tapi, kenapa kamu datang di kehidupan ku lagi, tapi dengan jalan cerita yang berbeda. Apa ini seperti kisah novel reinkarnasi, kisah seorang lelaki yang harus hidup kembali hanya untuk membalas karma ku. Tapi, ini terlalu cepat dan tidak mungkin!"


Arkh..


Pyar..


Haya melempar bedak premium yang di belinya beberapa Minggu lalu, harga bedak di bawah seratus ribu, bahkan seratus ribu bisa mendapat beberapa pcs.


"Ya Allah... " Haya berteriak memilukan.


Haya bersujud dan menangis sesegukan, ada perih yang terus mengores hati, selama tujuh bulan Haya berjuang untuk tetap hidup dalam kesendirian.


Dengan gajih empat juta, dengan keperluan hidup yang begitu banyak. Haya harus memberi kehidupan yang layak pada Attar, bahkan perlengkapan baby pun Haya buat sendiri dengan kain sisa menjahit di tempat nya bekerja.


sudah berulang kali Niko menawarkan bantuan tapi tidak sekali pun Haya menerima. Haya tidak mau menerima bantuan secara cuma-cuma, Haya ingin belajar menjadi wanita kuat, wanita mandiri.


"Haya____!" Bik Pina yang mengendong Attar dalam keadaan tidur, membaringkan Attar di peraduan ranjang, lalu mendekati Haya yang bersujud dalam sesegukan.


"Astagfirullahaladzim... kamu kenapa?" Bik Pina memeluk Haya yang tergugu dalam kesedihan.


"Aku melihat mas Faiz, bik. Aku melihatnya," lirih Haya bangkit menyandarkan kepala pada pangkuan bik Pina.


"Ahmad Faiz, Ya Allah Haya istighfar, Haya. Ahmad Faiz sudah lama berpulang, mungkin kamu berhalusinasi. Itu hanya ilusi mu karena kamu dalam keadaan berbadan dua. Tenangkan pikir mu, Haya. kamu harus bisa mengontrol pikiran mu." bik Pina mengusap lembut pucuk kepala Haya.


"Tidak bik, aku tidak salah lihat. Itu benar-benat mas Faiz. Itu mas Faiz, bik. aku melihatnya," Haya menyakinkan bik Pina.


Bik Pina menarik napas dalam, mungkin karena usia kandungan Haya sudah memasuki trisemester akhir, membuat pikiran nya berubah sensitif dan berharap yang membuat hatinya bahagia.


"Aku benar-benar melihatnya bik, itu mas Faiz. aku tidak mungkin salah mengenali suami ku sendiri."


"Mas Faiz_____!" Huhuhu Haya kembali terisak.


Bik Pina mengusap pucuk kepala Haya, lalu mengusap perut Haya yang sudah buncit. Ada rasa sedih yang mendalam di hati bik Pina, saat tangan nya merasakan tendangan kecil dari dalam perut Haya.


Cobaan yang harus di hadapi Haya, sungguh sangat luar biasa, hanya wanita pilihan yang mampu menjalani cobaan seberat ini.


Walau terseok-seok, berjalan dengan kaki terseret bahkan berjalan dengan merangkak, Haya tetap berusaha berjuang untuk melanjutkan hidup. Haya tetap pada pendirian untuk menjadi insan yang berprogress dalam kebaikan.


Di talak tiga kali oleh Niko, suami pertama Haya. lalu menikah dengan Ahmad Faiz dengan misi yang salah. Lalu perlahan mulai jatuh hati dengan Ahmad Faiz dengan begitu banyak nya cobaan, saat cinta terbalaskan dan mengandung buah cinta, Ahmad Faiz lenyap dalam tragedi runtuh nya bangunan jembatan.

__ADS_1


Berat itu sungguh berat!


Kamu wanita hebat Haya!


"Nanti sore, pak Niko akan menjemput Attar dan bibik. Apa kamu mau ikut kami Haya, bibik tidak tega meninggalkan mu sendirian?"


Bik Pina sungguh khawatir melihat keadaan Haya yang down. Bagaimana jika Haya membutuhkan bantuan, sedang di rumah ini tidak ada siapapun juga. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal dengan Haya, bik Pina sangat khawatir. Ingin rasanya bik Pina meminta ijin untuk terus bersama Haya, tapi pasti Niko tak mengijinkan.


Bu Malik masih dalam pengobatan, bik Pina berharap mba nya tersebut bisa segera sembuh, dan bisa segera datang untuk menemani Haya.


Hem..


Bik Pina menatap wajah Haya, wajah ayu dan penuh keteduhan, namun wajah itu kini begitu sayu dan terlihat memucat.


"Aku tidak apa-apa bik, besok memang jatah mas Niko bersama Attar. Aku akan baik-baik saja di rumah. Bibik jangan khawatir!" Haya menyadari raut ke khawatiran di wajah bik Pina.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membantu, Haya?" Bik Pina terus mencari solusi dalam pikiran yang berkecamuk tak menentu.


Tok.. tok...


"Siapa ya bik yang mengunjungi rumah kita?" Haya bangkit dari pangkuan bik Pina, dan duduk dengan bersandar di tepi ranjang.


Tangan nya mengusap pipi Attar, tidak terasa kini Attar sudah berusia tiga tahun lebih. Bahkan wajah Attar kini sudah menunjukan ke tampanan nya. Haya berharap agar Attar tak memiliki sifat seperti Niko.


Attar sudah banyak bicara! Haya tersenyum menyadari Anak nya kini sudah banyak mengajaknya mengobrol.


"Assalamualaikum..." Suara orang di balik pintu utama.


"Apa pak Niko sudah datang. tapi tidak mungkin, ini terlalu dini untuk menjemput kami," bik Pina bangkit dari posisi duduk dan mendekati pintu utama yang di ketuk dari luar tersebut.


"Mba.. ya Allah mba, Alhamdulillah mba sudah sehat kembali." Bik Pina begitu ceria menyambut kedatangan Bu Malik yang sudah terlihat segar.


Bu Malik memeluk bik Pina dengan perasaan senang dan bahagia.


"Alhamdulillah Pina, mba sudah sehat dan di masih beri umur yang berkah sehingga bisa mengunjungi mu. Ini berkat doa kalian semua," jelas Bu Malik.


"Ya Allah aku senang banget, mba."


Sekali lagi bik Pina memeluk Bu Malik dengan rasa yang sangat bahagia.


"Bik___!" Nahla menjabat dan mencium tangan bik Pina.


"Bagaimana kabar mu, Nahla?" Tanya Bik Pina menyapa Nahla yang terlihat jauh lebih cantik.


"Alhamdulillah baik, bik."


"Ayo masuk, mari?" bik Pina mengandeng tangan Bu Malik menuju kursi kayu yang ada di ruang tamu, ruang yang masih sama, tak ada yang berubah sedikit pun.


"Siapa, bik?" Haya keluar dengan gamis yang menonjolkan perut buncit nya.


Bu Malik langsung mendekap Haya dengan tergugu.


Huhuhu


Huhuhi

__ADS_1


Huhuhu


"Haya... Ya Allah nak, ibu senang masih di beri kesempatan untuk bisa melihat mu lagi. Alhamdulillah ya Allah," Bu Malik menciumi Haya dengan penuh rasa haru.


Haya pun terbawa suasana, ikut menangis dengan terisak.


"Aku pun senang Bu, Alhamdulillah ibu di berikan kesehatan dan kesembuhan. Terimakasih ya Allah."


"Mba, Haya." Nahla memeluk Haya dan mengusap perut Haya.


"Bu, lihat perut mba Haya sudah besar dan sebentar lagi pasti dedek bayi akan hadir di tengah-tengah kita," Nahla begitu senang mengusap perut Haya. sepertinya bayi di dalam perut Haya menyambut kedatangan mereka.


Ada tangis bahagia.


"Ibu selalu mendoakan kesehatan mu dan bayi yang kamu kandung Haya. Ibu selalu berdoa di beri panjang umur agar dapat merawat dan mengendong cucu ibu."


Haya kembali memeluk Bu Malik yang begitu sedih bercampur bahagia.


"Dimana Attar, mba?" seru Nahla mencari keberadaan Attar yang tak terlihat.


"Ada di kamar, Attar sedang tidur." jawab bik Pina, Nahla pun segera menghampiri Attar di kamar.


"Ini ada oleh-oleh buat kalian," Bu Malik mengangkat kardus dan membukanya, banyak sekali makanan ringan dan beberapa pakaian baru untuk Haya, Baju bayi serta baju Attar."


"Bapak tidak ikut, Bu?" Haya menyadari ketidak ikutan pak Malik.


"Bapak tidak bisa ikut, kalau bapak ikut, bagaimana dengan sapi yang ada di kandang."


"Tapi dulu bapak bisa ikut?" sahut Haya merasa kecewa karena pak Malik tak bisa ikut menjumpai nya.


"Jangan sedih dong, nanti kalau sapi nya sudah ada yang jaga, pasti bapak menyusul kesini. Lagian bapak mau jual beberapa ekor sapi, jadi nunggu pembayaran dulu."


"Kenapa di jual?" Haya bertanya.


"Bapak sama ibu memang berinisiatif membeli sapi dari hasil panen kopi. rencanaya sapi-sapi itu akan di ternak untuk biaya persalinan kamu dan biaya pendidikan cucu-cucu ibu kelak. Ibu sudah tua, begitu pula bapak. Suatu hari nanti, kami juga pengen pergi Haji, kami sudah mendaftar."


Haya menunduk dalam.


"Jangan khawatir, tidak semuanya di jual. hanya dua ekor saja yang dijual, dulu kan ada yang mau merawat, sekarang orang yang merawatnya itu sedang repot, mungkin seminggu atau dua Minggu lagi pak gembala mau merawat sapi-sapi itu lagi, dan bapak bisa segera datang kesini."


"Kami ingin menemani mu, saat proses persalinan nanti" Imbuh Bu Malik.


"Harusnya Faiz ada di samping mu saat-saat seperti itu. Ibu huhuhh" lagi-lagi Bu Malik terisak pilu.


Huhu


Huhu


Bik Pina mengusap punggung Bu Malik, jelas ada kepedihan di hati Bu Malik.


"Sudah lah mba, kalau mba saja begini, lalu bagaimana dengan Haya?" Nasehat bik Pina mencoba menguatkan Bu Malik.


Lalu perlahan Bu Malik mengusap air matanya, dan tersenyum lebar.


Ada rasa sedih yang luar biasa, Bu Malik harus kuat, bagaimana menguatkan Haya jika dirinya sendiri lemah.

__ADS_1


__ADS_2