Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Istikharah cinta


__ADS_3

"mas Faiz, apakah mas marah padaku. Apakah mas akan pergi meninggalkan ku?" Haya sangat takut Ahmad Faiz marah dan pergi dari hidup Haya.


"Katakan jawaban apa yang kamu ingin dengar, dik!" Faiz masih enggan memandang wajah Haya. Mata Ahmad Faiz masih terpejam.


"Aku tau mas Faiz marah, tapi aku ingin mas Faiz tidak membenci ku. Mas Faiz boleh kecewa boleh sedih, tapi aku mohon jangan benci aku mas, aku minta maaf mas?" Sesal Haya.


"Kenapa kamu tega melakukan ini semua pada mas dik. Katakan____ dik! Sungguh ini ujian yang terasa berat. Dimana mas harus berjuang sendirian untuk berusaha mempertahankan rumah tangga ini. Padahal mas sendiri sudah meanggap akan sakinah bersama mu dik, nyatanya."


"Aku___ Aku___, hanya menuruti kemauan mas Niko. Mas Faiz harus tau dan mengerti posisi ku, disini aku lah orang yang paling terluka mas, hiks______"


"Jadi jika Niko menyuruh mu, untuk masuk kedalam jurang kobaran api. Apa dik Haya akan melompat jua?" Tegas Ahmad Faiz.


"Tidak begitu juga mas. Semua ini aku lakukan semata-mata demi Attar mas. Aku ingin bersama Attar kembali, aku rindu dan aku teramat menyayangi Attar, mas."


"Demi sebuah kebahagiaan yang dik Haya dambakan. Dik Haya tega menghancurkan sebuah hati yang menerima dik Haya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Demi sebuah kebahagiaan keluarga kecil, dik Haya tega mengorbankan perasaan ku sebagai lelaki. membuat kecewa keluarga mas, terutama bapak dan Ibu di kampung, bukan kah itu salah satu sifat egois?" tekan Ahmad Faiz.


"Mas maafkan lah aku. Aku tidak tau harus berbuat apa. Pada saat itu, aku hanya menuruti keinginan mas Niko. Saat itu yang ku pikir hanya aku bisa kembali hidup bahagia bersama mas Niko dan Attar, aku sama sekali tidak ingin menyakiti mas. Keadaan memaksa ku harus masuk kedalam rumah tangga yang kita jalani sekarang ini."


"Jadi dari awal sampai detik ini, semua hanya sandiwara yang dik Haya ciptakan bersama Niko, benar begitu?" Tatapan penuh luka dari sorot mata indah Ahmad Faiz.


"Tidak semua nya, mas. tidak!"


"Jadi sekarang apa yang dik Haya ingin kan?" Ahmad Faiz berkata tegas. Sebuah pertanyaan yang mampu membuat Haya merasa hancur, remuk berkeping-keping tidak bisa di kembalikan.


Hiks____hik_____


"Mas___, aku mohon mas Faiz jangan marah dan berkata seperti itu lagi. Itu teramat menyakiti ku, mas." pinta Haya memelas.


"Jika dik Haya ingin segera bisa kembali dengan Niko, jika benar demikian.


maka siapkan mental dik Haya, nanti malam kita akan melakukan nya. dan setelah itu keputusan ada di tangan dik Haya, walau sejujurnya mas sungguh tidak ingin kita berpisah.


mas ingin kita berjuang bersama, menggapai ridho hingga ke Jannah nya Allah, namun sepertinya dik Haya tidak sepahaman dengan mas.


kita memang beda dik, derajat kita berbeda, dik Haya perempuan berharta sedang mas beda. Mungkin ini layak mas dapatkan."


"Mas____, jangan bicara seperti itu. Maafkan lah aku mas, aku sungguh dilema dengan keadaan yang kita jalani ini. aku bingung harus berbuat apa, mas?" Haya terduduk dilantai. Menahan sebah di dada yang makin lama semakin menyiksa.


"Kenapa bingung. Bukan kah ada Allah di hati mu dik, dimana kita berada Allah selalu membersamai mu."


Hiks____hiks___

__ADS_1


"Mas, maafkan aku?" rintih Haya.


"Apakah kata maaf dapat mengembalikan hati yang sudah hancur dik. Hati mas teramat kecewa. Ada rasa sakit yang menghiasi hati ini," irih Ahmad Faiz memegang dada.


"Mas, jika dengan mati adalah jalan terbaik. Aku akan mengambil jalan itu, namun sayangnya mati tidak menyelesaikan masalah. yang ada malah semakin memperumit masalah."


Ahmad Faiz menatap mata Haya yang kian sembab. Haya benar-benar tergugu pilu. Ahmad Faiz mendekat dan mencoba membantu Haya untuk berdiri. namun Haya menolak.


Haya berdiri sendiri, berlari menuju kamar dan menangis disana. Sekuat apapun Haya meredam gejolak hati yang kian sakit, semakin redaman itu menjadi gejolak yang berapi-api dan semakin menggila.


Haya menghapus air mata kesedihan yang hadir di antara kebimbangan hati yang terombang ambing.


"Kenapa aku merasa sedih, saat mas Faiz tau niat awal ku meminta mas Faiz menikahi ku. Bukan kah harus nya aku bersikap biasa saja. bahkan harusnya aku senang, toh semuanya tidak ada yang di rugikan, keinginan ku segera terwujud. Bukan kah perpisahan yang memang aku rencanakan, bukan kah itu yang aku inginkan."


"Aku dan mas Faiz kan hanya menikah secara Agama. Jadi, tidak merepotkan harus mengurusi surat perceraian lagi. Bahkan ini semua sudah ku ketahui dari awal, tapi kenapa hatiku kian sakit dan perih, kenapa aku merasa sakit____!" Haya menutup wajah nya menggunakan tangan.


"Kenapa aku terjebak dalam suasana serba menyakitkan seperti ini," Haya membuka kedua tangan dan membiarkan wajah nya terkena angin yang membuat hati Haya kian kalut dan pedih.


Klik..


Haya menatap seorang lelaki yang ia sebut sebagai suami Muhallil, nyatanya sampai detik ini lelaki yang sudah sah secara agama sebagai suaminya itu belum jua menyentuh nya. Padahal Haya yakin jika Ahmad Faiz adalah lelaki yang paham agama, tidak lah mungkin Ahmad Faiz menunda, sedang Haya tau semua itu keharusan.


"Apakah mas sudah tau hal ini sejak lama?" Lirih Haya, walau takut tetap Haya tanyakan.


Haya terkesiap. Jika sudah lama mengetahui, kenapa Ahmad Faiz bersikap tenang dan seolah-olah tidak tau semua itu. Kenapa Ahmad Faiz bisa setenang itu meredam amarah.


"Bik Pina yang memberi tahu mas. Awal nya mas pikir dengan cinta dan kasih, bisa merubah keinginan dan mengagalkan rencana dik Haya.


namun kenyataan nya, sampai saat ini dik Haya masih menutup hati dan tidak mau membuka nya untuk mas," suara Ahmad Faiz terdengar tenang dan penuh kelembutan.


"Jadi bik Pina yang memberi tahu mas Faiz? kenapa bik Pina melakukan itu, dan kenapa mas tidak memarahi ku saat itu jua. mas harusnya memarahi ku."


"Bik Pina menyayangi mu dik. Bik Pina tidak mau dik Haya merasa sedih lagi dan bik Pina mau melihat mas dan dik Haya bahagia dengan cinta. Jika mas tidak memarahi mu itu bukan pertanyaan, dik.


yang jelas mas enggak bisa marah dalam kasus ini, namun mas kecewa dan menyayangkan sikap dan tindakan yang dik Haya pilih, itu saja."


"Aku hanya ingin bisa kembali bersama Attar mas. Maafkan aku yang telah menyeret dan membawa masalah ini bersama mu, mas.


aku yang salah, tidak seharus nya aku membawa mas dalam kemelut rumah tangga ku dan mas Niko, yang memang sudah hancur dan porak poranda."


"Bukan kah kita bisa mengajukan gugatan, atas hak asuh Attar pada pemerintah. Itupun jika dik Haya ada niatan untuk bersama, mas? Semua pilihan ada di tangan dik Haya."

__ADS_1


"Masalah nya kita lemah untuk memenangkan itu mas. Jika uang sudah bicara apa yang bisa kita lakukan?" Haya kian kecewa menyadari kekalahan nya.


"Ada Allah dik, Kebenaran akan selalu menang. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, yang terpenting kita sudah berusaha dan berdoa."


"Apa dik Haya masih berat untuk berpisah dari Niko?" Cerca Ahmad Faiz sambil tersenyum. Tidak ada tekanan dan paksaan di dalam nya.


"Aku ragu, mas!" lirih Haya.


Ahmad Faiz mengernyitkan dahi, lalu memandang wajah Haya yang menunduk ragu, Sembari mengenggam tangan nya sendiri dengan begitu erat.


"Pasrahkan semua pada Allah dik. Percayalah Allah akan pilihkan jalan yang terbaik untuk mu. Sholat istikharah menjadi salah satu jembatan atas sikap dan pilihan yang sulit," Nasehat Ahmad Faiz.


"Sholat istikharah?" Haya menoleh dan menatap Ahmad Faiz bertanya-tanya.


"Iya benar, dik Haya tau kan?"


"Aku pernah dengar mas, hanya aku lupa." Haya tersenyum ke arah Ahmad Faiz dan itu membuat Ahmad Fauz kikuk. bukan kah harus nya mereka bertengkar hebat namun Ahmad Faiz tak punya daya untuk meledak kan amarah.


Ahmad Faiz tau Haya seperti itu dan mengapa Haya melakukan semua itu. Yah, karena kebimbangan dan ketidak Tahuan hati yang masih dilema, serta minim nya rasa mencinta Rabb nya.


Setelah pikiran tenang, Ahmad Faiz yakin, Haya akan bisa memilih dan memilah mana yang terbaik untuk hidup dan harus di perjuangkan.


"Mau kah mas Faiz membantu ku?" Pinta Haya ragu-ragu.


Bukan menjawab Ahmad Faiz pergi berlalu. Ahmad Faiz bergerak menuju meja dan mengambil sebuah buku yang tersusun rapi di meja kecil, semua buku tentang agama dan Haya tak berniat membaca dan ingin tahu. Haya terkadang menjadi pemalas, untuk membaca buku.


"Ini__, ambil lah!" Ahmad Faiz menyodorkan sebuah buku tuntunan sholat pada Haya. dengan ragu Haya mengambil buku tersebut dengan perlahan dan ragu-ragu Haya menerima dengan bimbang.


"Bacalah.. di dalam buku ini, ada tuntunan tata cara sholat wajib dan Sunnah, dik Haya bisa membaca dan mengamalkan nya, dan jika ada kalimat yang tidak paham, dik Haya boleh tanya pada, mas."


"Terimakasih banyak, mas?" Jawab Haya mengerti.


"Iya sama-sama," Ahmad Faiz malam ini tidur di kasur dan tidak di luar lagi. Haya hanya menatap Ahmad Faiz yang berbaring di samping nya.


Apa yang bisa Haya katakan saat ini, Haya bimbang dan sungkan, namun dengan mencoba menata hati dan rasa gugup Haya mengalihkan perhatian dengan membaca buku dengan seksama.


Ger....


Haya menoleh dan mendapati Ahmad Faiz sudah tertidur begitu pulas, dengan seulas senyum. Haya memperhatikan wajah yang teduh itu dengan setulus hati.


"Mas Faiz orang baik, dan mas Faiz tidak pantas mendapat kedholiman dari ku. aku akan sholat dan meminta petunjuk dari Allah mas, aku yakin Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik untuk ku," lirih Haya dan gegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

__ADS_1


Jika bukah Ahmad Faiz sudah pasti saat ini, Haya sudah di gantung hidup-hidup. Karena Haya berani mempermainkan hati dan perasaan keluarganya dengan dalih pernikahan.


__ADS_2