
Hari pertama Ahmad Faiz bekerja memang terasa sangat melelahkan. bekerja tepat di bawah terik matahari tanpa pelindung, keringat bercucuran membasahi tubuh berkaos hitam milik Ahmad Faiz.
"Istirahat dulu mas bro, minum dulu. Jangan ngoyo-ngoyo," ajak seorang karyawan seumuran Ahmad Faiz.
"Iya bro, bentar lagi selesai ini." Jawab Ahmad Faiz dengan tersenyum sumringah. Walau sesungguh nya sudah teramat lelah, jantung berdegub lebih cepat, keringat sudah membanjiri seluruh tubuh, namun semangat untuk bekerja masih menyala.
"Nanti saja lah, istirahat dulu jangan ngoyo-ngoyo! Kayak lagi kejar target saja!" ajak sang teman sambil melambaikan tangan mengajak Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz pun mendekati lelaki yang kini menjadi teman nya tersebut dan menerima air minum pemberian nya.
"Kamu baru pertama kali kerja di bangunan ya mas bro?" tanyanya sambil menatap Ahmad Faiz intens.
"Enggak sih bro, dulu pernah kerja tapi cuma bantu-bantu gitu. Kayak bantuin pakde ku bangun rumah, bantuin tetangga, bantuin merenovasi surau. Kalau yang real kerja dan dapat upah, yah memang baru kali ini."
"Emang kamu lulusan apa mas bro?" tanya Sabar si lelaki yang kini menjadi teman kerja Ahmad Faiz. nama yang Indah, mudah-mudahan sabar sungguhan sesuai nama yang di sandang nya.
"Lulusan S1 di salah satu universitas di kota X bro." Jawab Ahmad Faiz lirih.
"Weleh-weleh eman-eman sekolah mu mas bro. Lulusan sarjana malah jadi kuli bangunan," keluh Sabar perihatin akan nasib Ahmad Faiz.
"Enggak apa-apa mas bro. Kerja apa saja yang penting halal. Memiliki ijazah bukan berarti enak saat mencari pekerjaan, semua tergantung nasib, lagi pula gak ada yang salah dari setiap pekerjaan bro, yang penting kita bersyukur dan semangat kerjanya. Insyallah rejeki yang kita dapat berkah, halalan toyiban wa amalan Solihan."
"Iya betul, mas bro. Oh ya makan dulu yok? Hari sudah siang, perut pun sudah minta di isi," ajak Sabar membuka bekal yang di bawakan sang istri.
"Sayur apa itu bro?" Ahmad Faiz penasaran dengan sayur yang dibawa Sabar. Ahmad Faiz belum pernah melihatnya, apalagi memakan sebelum nya.
"Oh ini sayur kacang koro bengok. Kamu belum pernah makan ya?" jelas Sabar dan menaruh sayur kacang koro bengok, kedalam wadah bekal Ahmad Faiz. Ahmad Faiz hanya menatap sayur yang Sabar taruh diatas nasi bekal makan siang nya.
"Cicipi lah, ini enak dan tidak beracun. Jangan khawatir, ekpresi mu itu loh, berlebihan!" Sabar terkekeh.
"Terimakasih, bro." Ahmad Faiz menaruh dua potong ayam rica-rica, yang Haya masak tadi pagi kedalam wadah makan Sabar.
__ADS_1
"Tidak usah mas bro, jangan. Untuk mu saja," tolak Sabar halus.
"Kenapa, kamu alergi sama ayam boiler?" tanya Ahmad Faiz.
"tidak-tidak!" Jawab Sabar cepat.
"Lalu, kenapa. Sudah lah kita makan sama-sama."
Sabar tersenyum dan menepuk pundak Ahmad Faiz. Ahmad Faiz pun sekilas melirik wadah makanan sabar, Ahmad Faiz penasaran kenapa sabar tidak memakan ayam rica&rica pemberian nya.
Bahkan sampai nyaris nasi di dalam bekal makanan habis, tak tampak Sabar mengigit ayam rica-rica tersebut, dan hal itu membuat Ahmad Faiz bertanya-tanya.
"Bro____, kenapa kamu tidak memakan ayam rica-rica nya, sungguh ayam itu istriku yang masak, jadi insyallah higenis dan tidak beracun. Rasanya juga lezat, ayolah di coba?"
"Oh ini aku mau bawa pulang, untuk anak ku saja bro." terang Sabar dengan sumringah.
Ahmad Faiz melongo mendengar penuturan Sabar. Sabar pun sekali lagi menepuk pundak Ahmad Faiz dengan wajah yang masih riang.
"Kenapa kamu tidak bilang bro, tau begitu tadi aku juga akan memberikan lauk ayam tadi untuk anak mu saja. Aku malah memakan nya sampai habis."
"Sudah lah jangan di pikirkan. Aku malu bro dengan diriku sendiri, aku belum bisa menyenangkan hati anak-anak ku. Gaji kerja ku sebagai kuli hanya cukup untuk makan dengan lauk sederhana. Tak jarang aku di maki-maki karena tak kunjung membayar hutang di warung."
"Kamu bayangkan sendiri lah bro. Dengan upah seratus ribu rupiah, aku harus membeli beras dan sayuran untuk makan tujuh orang, belum bayar listrik dan kebutuhan yang lain. Bahkan, terkadang anak ku sering menangis karena tidak dapat membeli jajan." ah sudahlah, inilah jalan hidupku."
"Sabar ya bro?" Ahmad Faiz memberi kekuatan pada Sabar. Ahmad Faiz kagum pada sosok Sabar, lelaki berhati mulia.
"Sesuai namaku bro." mereka pun tertawa dan kembali melanjutkan pekerjaan.
***
"Nahla, ayo aku antar saja!" tawar Evan saat melihat Nahla membawa beberapa bucket bunga, mengantar pesanan bunga pada pelanggan.
__ADS_1
"tidak mas, makasih. Orang yang pesan ada di depan, lagian sudah ada jasa kurir." Tolak Nahla lemah lembut.
Even tersenyum dan duduk di bangku depan toko bunga tersebut. Evan sadar, Evan begitu mengagumi Nahla. Nahla begitu cantik, baik dan layak di idamkan menjadi pendamping hidup.
Kembali lagi Evan mendekati Nahla yang sedang bekerja.
"Nahla sudah makan siang belum, makan siang bareng mas yok?" Ajak Evan.
"Maaf, aku sedang berpuasa mas." jawab Nahla sopan. Evan semakin terkagum-kagum dengan kepribadian Nahla. benar-benar Nahla adalah seorang perempuan yang patut di perjuangkan.
Nahla merasa risih Evan berada duduk tak jauh dari tempatnya bekerja. setiap gerak gerik nya di lihat Evan, sungguh Nahla begitu risih dan merasa sungkan.
Seandainya lelaki itu bukan Evan, sudah pasti Nahla akan marah dan menegurnya, agar pergi dan tidak memandangi nya terus menerus seperti itu.
"Dia seorang polisi tapi dia jarang bekerja, apakah begini cara bekerja seorang polisi?" batin Nahla sebal karena di perhatikan Evan secara terus menerus.
"Nahla aku balik kerja dulu. Aku kesini di jam istirahat kerja untuk mengajak mu makan siang, tapi ternyata kamu sedang berpuasa. yang semangat ya kerjanya, Nahla!" ucap Evan mengagetkan Nahla yang sedang memilih bunga dan mengikat kedalam bucket, kenapa Evan tau batin aku.
Nahla pun hanya tersenyum tak menjawab ucapan Evan. Nahla tidak nyaman saat Evan ada di dekat nya. bagi Nahla Evan lelaki ganjen, kenapa bisa begitu, karena Evan terus menerus menganggu kenyamanan yang Nahla ciptakan.
Nahla belajar melupakan perasaan nya pada Ahmad Faiz, namun tiba-tiba Evan datang. saat kehadiran Evan datang kedalam hidup Nahla pun, saat itu juga Nahla bisa membandingkan antara sifat Ahmad Faiz dan Evan sangat berbeda jauh.
Namun Nahla mencoba berprasangka baik, mungkin Allah sedang menyiapkan rencana baik. tapi tunggu, apa Evan adalah lelaki kiriman dari Allah untuk Nahla di tengah kerisauan Nahla tentang perasaan nya?
Ah entahlah...
Nahla kembali menjernihkan pikiran, jangan sampai pekerjaan nya kalang kabut dan berantakan. Nahla harus bisa membedakan tempat, dimana saat bekerja dan dimana saat merenung.
Nahla begitu cekatan saat bekerja, tanpa di suruh Nahla sudah begitu inisiatif, dan hal itu membuat sang bos menyukai cara kerja Nahla.
Nahla baru bekerja beberapa hari namun bos sudah sangat mempercayai setiap ide Nahla. Nahla bekerja dengan rapi, tidak ceroboh dan benar-benar bisa di andalkan.
__ADS_1
"Mas Faiz, adalah lelaki baik dan sudah bisa di pastikan tidak genit. lah mas Evan_____?' Nahla menaruh bunga dengan perasaan bertanya-tanya sambil ngedumel tidak jelas.