
"Aku sangat lelah seharian di dalam rumah, Meca. Apa tidak ada tugas dan pekerjaan yang bisa aku kerjakan, sehingga aku ada kesibukan atau setidaknya aku menyibukkan diri," Ahmad Faiz menemui Meca yang sudah rapi dan siap akan pergi ke kantor.
"Hizam.. kondisi mu belum benar-benar pulih, tunggu sampai tangan dan kaki kamu benar-benar okay. aku janji akan memberi kan mu sebuah pekerjaan, sehingga kamu tidak bosan berdiam dirumah lagi."
"Tapi aku sudah sangat jenuh Meca, tidak ada yang bisa aku kerjakan. Aku hanya berdiam diri di dalam rumah, itu sangat membosankan."
Meca berpikir keras, bagaimana caranya membawa Ahmad Faiz keluar. Bagaimana jika ada yang mengenalinya dan mengembalikan Ahmad Faiz pada keluarganya.
Meca belum siap kehilangan Ahmad Faiz secepat ini. Meca mulai menyukai Ahmad Faiz.
Pikiran dan ide Meca pun muncul, jika Meca bisa menikah dengan lelaki di hadapan nya. sudah tentu tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua.
"Bagaimana Meca?" Suara Ahmad Faiz membuyarkan lamunan panjang Meca.
"Baiklah, hari ini kamu akan ikut aku ke kantor, Ada jabatan khusus untuk mu. Aku hanya masih mencemaskan kondisi luka pada tubuh mu, Hizam."
"Jangan lah kamu mencemaskan ku apalagi memberi jabatan khusus padaku, Meca. aku belum ada kemampuan yang mampu di banggakan, jadikan aku sebagai karyawan biasa, atau jadi office boy di kantor mu. Yang terpenting pekerjaan yang sesuai skill." pinta Ahmad Faiz.
Meca pun bengong.
Kok ada orang seperti itu, bukan nya senang mendapat jabatan khusus, malah meminta jabatan yang begitu Tidka mungkin Meca berikan pada Hizam. Mana mungkin jabatan Office boy Meca sematkan untuk Ahmad Faiz. itu tidak mungkin!
"Tidak, Hizam." Jawab Meca setelah berpikir beberapa saat.
"Kenapa, aku mohon Meca, jangan membeda-bedakan antara aku dan karyawan yang lain. Kita sama-sama bekerja dengan mu, walaupun kamu bilang kita telah bertunangan. Aku harap status tak membedakan kearifan kita."
"Hizam, please!" nada Meca melemah.
"Meca, apapun posisi ku di hatimu, jangan membenarkan sesuatu yang memang itu tidak pantas aku dapatkan. Aku tau aku belum mampu mendapat jabatan khusus, berikan lah pekerjaan yang memang sesuai kemampuan ku."
"Maaf Hizam, sepertinya pekerjaan di kantor ku full, dan tidak sedang membutuhkan karyawan. Apalagi ada salah satu proyek yang mengalami masalah, dan menyebabkan perusahaan ku harus Menganti semua kerugian yang di sebabkan. Perusahaan ku hampir mengalami kebangkrutan."
"Jika memang ada kesalahan dalam pekerjaan, tolong di selesaikan dengan cara yang paling baik, tidak berat sebelah, dan berlaku lah seadil-adil nya." Ahmad Faiz memberi nasehat untuk Meca.
Meca pun menampakan semburat merah di pipi.
"aku seorang wanita karir yang mempunyai banyak ide cemerlang, bahkan aku bisa menguasai semua materi proyek ku hanya dalam waktu sebentar, jangan khawatir! aku bisa."
Ahmad Faiz menatap Meca bangga, atas apa yang Meca katakan. Mungkin benar jika Meca adalah wanita karir yang sukses di usia muda.
"Aku mendapat beberapa best award, sebagai pengusaha sukses di usia muda, keren kan!" Meca menunjukkan beberapa sertifikat best award milik nya yang terpajang di beberapa lemari hias.
"Aku pasti bisa menyelesaikan masalah ku di perusahaan ku kali ini, apapun caranya." seru Meca.
Kali ini Ahmad Faiz melihat sisi ambisius Meca, jelas terlihat bahwa Meca orang yang sangat tidak mudah goyah, tidak mudah mundur, dan akan mendapatkan apa yang ia kehendaki.
"Aku pergi dulu," Meca meninggalkan Ahmad Faiz dengan segera.
Wust..
Mobil Meca melaju dengan sangat kencang, karena pagi ini ada meeting yang perlu di bahas.
******
Meca memijit pelipis, saat meeting di buka. perusahaan nya di ambang kehancuran, bagaimana tidak, perusahaan Meca di haruskan mengeluarkan uang kompensasi atas banyak nya nyawa yang terenggut, dan banyak nya kerugian lain nya.
"Segitu banyak nya uang yang harus saya keluarkan?" Meca mengusap wajahnya kasar.
"Ini benar-benar full affair, bull **** dengan hidup ini." bentak Meca pada salah satu staff Meca yang terdiam.
"Bagaimana mungkin, perusahaan yang bekerja sama dengan kita bisa lepas tangan begitu saja, tanpa tersentuh oleh hukum?" Meca begitu marah.
"Aku tidak terima ini semua. Ini tidak benar!" Meca pergi meninggalkan meeting, dengan penuh amarah dan kecewa.
__ADS_1
Saat Meca akan memasuki area parkir, ada Angel yang sudah memarkirkan mobil.
"Hey Meca, ada apa?" Tanya Angel ramah dan menggebu-ngebu.
"Aku masih dalam masalah, ah rasanya perusahaan ku bakal collaps jika terus begini!" Meca mendengkus dan duduk di atas mobil depan Angel dengan wajah yang di tekuk.
"What's.. memang berapa dana yang membuat seorang wanita sukses berkarir di usia muda ini, menampakkan wajah frustasi nya?" goda Angel.
"Angel please ...!" Meca sedang tak ingin bercanda.
"Kenapa sih Meca, ayolah....! aku bisa menyuntikkan dana pada perusahaan mu kan. Apa yang kamu khawatirkan?"
Meca tersenyum sinis.
Lalu menatap Angel sambil menggelengkan kepala tidak yakin.
"Berapa katakan, satu Milyar, dua milyar. berapa Meca cepat katakan?" sarkas Angel merasa di lecehkan oleh tatapan Meca yang tersenyum miring.
"Ada sekitar dua puluh milyar. itu uang santunan untuk setiap nyawa yang hilang dan kerugian yang lain. lalu bulan ini aku harus mengaji seluruh karyawan ku bukan, tapi uang nya telah aku pergunakan untuk membeli bahan proyek dan proyek itu malah amblas dengan pihak yang tak bertanggung jawab." nada penuh kekesalan.
Hah_____!
Meca Meca benar-benar frustasi.
"Aku ada uang yang kamu butuhkan, aku akan memberi pinjaman padamu, bagaimana Meca apa kamu setuju?" Angel Menawari Meca dengan begitu santuy nya.
Meca pun menggeleng tidak yakin.
"Meca, kamu tau sekarang perusahaan Niko telah berkembang jauh lebih pesat dari sebelum nya. Bahkan perusahaan yang Niko kelola mampu menembus pasar internasional. Itu luar biasa, memang adik ku selalu the best."
Meca memandang Angel tidak maksud.
"Tapi perusahaan yang Vincent kelola, ah sial.. kenapa sih Vincent harus berselingkuh dengan gadis ingusan, sampai terkuak ke publik. Itu benar-benar membuat mental aku down, Meca." Kesal Angel.
"Jadi berita ini benar?" Meca mencari kebenaran dari setiap untaian kata, yang Angel lontarkan.
Meca mengendikkan bahu, tidak mengerti.
"Aku hampir tidak perduli, jika Vincent selingkuh. Toh, sekarang selingkuhan nya sudah mati, tetap padaku tempat Vincent untuk kembali," Angel merasa menang.
"Kamu yakin Vincent tidak mengulanginya lagi?" goda Meca pada Angel yang terlalu percaya diri.
"Maksud kamu apa Meca, Vincent akan kembali berselingkuh dengan perempuan-perempuan lain begitu?" Angel tak suka dengan pertanyaan Meca.
"Mungkin. jangan menjudge orang secara berlebihan, aku tak menuduh Vincent akan melakukan kesalahan yang sama. Hanya_____ ah sudahlah!"
"Apa sih kurang nya aku, Meca?" Angel merasa ingin mengetahui kebenaran nya.
"Kalau masalah itu, tanyakan sama Vincent langsung Angel, sebab aku tidak akan tau. apa kurang nya kamu di mata Vincent, karena banyak sebab kenapa seorang suami bisa selingkuh. Dan itu hanya Vincent yang tau."
Angel menatap Meca merasa murka, seolah-olah Meca pro dengan perselingkuhan.
"Bicarakan baik-baik masalah kalian, cari solusi agar ada jalan yang baik. Ingat kalian sudah punya anak, kasihan jika anak kalian melihat kalian bertengkar apalagi sampai berpisah."
"Jika Vincent ingin menambah istri lagi, ijinkan saja, banyak kok laki-laki yang menunggu janda mu." Ledek Meca pada Angel.
"Anj* kau Meca!" Angel merasa sebal pada ucapan Meca.
******
"Bagaimana pola nya Bu?" Haya mencoba menjahit di saat jam kosong, dan tidak ada pengunjung di butik.
"Bukan begini, bukan begitu, Haya." Bu Amin menarik kain, lalu meluruskan nya, di lipat sekali lagi lalu di jahit, di lipat dua kali di jahit lagi.
__ADS_1
"Ayo coba, sekarang kamu!" seru Bu Amin.
Haya segera mengambil kesempatan itu, tapi hasilnya meleot dan tidak rapi, besar tidak serasi dan banyak ketidak miripan dengan contoh.
"Jika masih pemula, usahakan memakai meteran, itu akan memudahkan, berapa centimeter yang kamu inginkan, karena kan kalau pemula belum bisa menimang dan menakar kira-kira berapa cm. Harua benar-benar jeli."
Haya mengagguk paham.
"Mau bikin apa sih kamu?" tanya Bu Amin.
"Aku ingin membuat kain ini menjadi sebuah baju Koko, dengan saku di samping dan kiri, ada lipatan di bagian atas jadi akan membuat si pemakai terlihat lebih berkharisma."
"Koko.. ?" Bu Amin tertawa menanggapi ucapan Haya.
"Kenapa, Bu?" Haya merasa aneh dengan senyuman Bu Amin.
"Anak ku ada tiga dan kesemuanya mondok, yah dulu pas awal-awal pulang dari pondok setiap hari pakai Koko dan sarung, tapi setelah mereka bekerja dan menikah, aduh... Pakai Koko kalau lagi sholat Jumat saja."
"Kok bisa begitu?" Haya merasa heran dengan jawaban Bu Amin.
"Sebab tidak semua santri bisa mengamalkan ilmu, dan tidak semua yang tidak mondok tidak paham ilmu." kalimat Bu Amin sudah di cerna bagi Haya.
"Sudah lah, jangan di pikirkan, ini ibu ada pola dasar Koko, kamu bisa menirunya." Bu Amin memberi pola baju Koko pada Haya.
"Rumit sekali, bisa panjang sebelah jika tidak teliti." gumam Haya melihat pola tersebut.
"Penjahit itu harus ada tingkat ketelatenan yang tinggi, tidak asal jahit saja, hasil nya tidak maksimal jika di kerjakan secara sembarangan, benar bukan?"
"Kain yang mana yang akan kamu buat menjadi Koko?" tanya bu Amin, dengan melihat kain sisa di lantai yang begitu banyak.
"Ah tidak, aku akan membeli kain yang baru, dengan warna kesukaan ku, Bu. jika menggunakan kain sisa ini, pasti hasilnya akan menjadi sebuah Koko dengan banyak warna." Haya terkekeh membayangkan baju Koko dengan banyak warna.
Jika baju seperti itu di pakai oleh Ahmad Faiz, pasti Ahmad Faiz akan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Apalagi di pakai pas sholat Jumat, Haya membayangkan dengan tersenyum bahagia.
"Idih ini anak, kenapa tersenyum sendiri!" senggol Bu Amin memudarkan lamunan indah Haya.
"Ah ibu, menganggu ilusi ku saja!" Bu Amin pun tertawa.
"Bagaimana kondisi anak mu?" Tanya Bu Amin.
"Baik dong, Bu. insyallah akan selalu baik." Haya ingat tadi Attar ada di rumah bersama bik Pina.
Apa-apaan hidup ini, setelah Haya berjuang mati-matian mendapat hak asuh Attar kembali, tapi tidak sepenuhnya Haya bisa menjaga Attar, tuntunan hidup memaksa Haya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup.
Haya sengaja merahasiakan kehamilan nya, baik pada Bu Amin maupun Lin. Haya takut di berhentikan jika saja mereka tau jika Haya sedang mengandung.
Bukan tanpa alasan mereka memberhentikan orang yang sedang hamil, karena terlalu beresiko mengerjakan orang yang sedang hamil.
Ada niatan di hati Haya, setelah Haya bisa bangkit dan ada sedikit modal, Haya ingin membuka usaha rumahan.
Tapi Haya tidak mempunyai skill memasak, Haya akan menunggu sampai Nahla datang, dan akan mengajak Nahla untuk bekerja sama membuka kedai makanan.
Nahla bagian memasak, Haya akan membantu walau hanya memotong lauk dan sayuran, Haya juga akan aktif memasarkan masakan Nahla ke berbagai marketplace.
Dengan begitu Haya bisa ada waktu bersama Attar, mereka akan bersatu dalam satu rumah, walau sibuk, Haya masih dapat melihat Attar di ruangan yang sama.
Hah..
Haya mendengkus penuh dilema, entah sampai kapan Haya bisa mengumpulkan Cuan. Haya ingin setelah perutnya membesar nanti, Haya fokus pada jualan rumahan saja.
Uang...
__ADS_1
Itulah pikiran Haya saat ini, apalagi Haya harus membeli susu dan perlengkapan yang Attar butuhkan. namun Haya juga tetap menjaga pola makan yang ia konsumsi sekarang ini.
Haya tidak egois, sebab ada nyawa yang harus di jaga di dalam rahim nya. Semua harus benar-benar di jaga asupan makanan nya.