Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kebahagiaan tidak melulu soal uang


__ADS_3

"minum lah______" Ahmad Faiz menyodorkan segelas air putih pada Haya.


Dengan lembut Ahmad Faiz mengusap lengan Haya, Haya sendiri masih terlihat cemas dan terbawa mimpi yang baru saja di alaminya.


"Mas___!" Lirih Haya. Namun Ahmad Faiz mendaratkan jari telunjuk di ujung bibir Haya, sebagai isyarat agar Haya tidak berbicara apapun lagi.


"Tenangkan hati, itu hanya sebuah mimpi," Ahmad Faiz mengusap kening Haya, yang kini kepala Haya bersandar di bahu Ahmad Faiz. Haya benar-benar merasa syok, betapa mengerikan mimpinya malam ini.


Ini pertama kalinya Haya mendekatkan dan bersentuhan dengan Ahmad Faiz secara langsung. Selama ini kedua nya enggan bersentuhan walaupun itu hanya sekedar mencium kening


"Istirahat lah dik, tidurlah kembali, itu hanya mimpi dan mimpi hanya bunga nya tidur. jadikan mimpi sebagai pengingat, kalau Allah selalu bersama kita. Bahkan disaat kita tidur sekalipun.


selalu membiasakan diri sebelum tidur dengan berdoa," dengan pelan dan lembut, Ahmad Faiz terus mengusap kening Haya.


Tampak Haya perlahan tertidur oleh perhatian Ahmad Faiz, dengan pelan dan hati-hati Ahmad Faiz membaringkan kepala Haya di atas bantal dan menyelimuti tubuh ringkih tersebut.


Ahmad Faiz membaringkan diri di samping Haya, dengan masih mengusap kening Haya. hingga Ahmad Faiz ikut terlelap ke alam mimpi.


"Aku sendiri masih bingung, langkah mana yang akan ku ambil, dik? Terus bertahan atau mengikhlaskan kamu bersatu kembali dengan Niko," Ahmad Faiz berujar lirih.


Perlahan Ahmad Faiz benar-benar ikut terlelap di samping Haya dengan memeluk Haya.


Allahu Akbar... Allahu Akbar....


Haya membuka mata dan mendapati ponsel Ahmad Faiz berbunyi Alarm adzan sebagai pertanda masuk waktu subuh. Haya menoleh kesamping dan terlihat Ahmad Faiz tertidur pulas sambil melingkarkan tangan di perut nya.


Seulas senyum terbit di wajah Haya, Haya teringat peristiwa semalam yang dimana Haya bermimpi buruk sangat buruk. Haya menduga dan mengartikan mimpi tersebut sebagai jawaban atas apa yang baru Haya mintakan.


"Sungguh Allah maha besar, aku meminta petunjuk dan Allah segera menjawab nya lewat mimpi," batin Haya merasa takjub.


Haya melihat wajah Ahmad Faiz yang masih saja pulas, perlahan Haya mengusap wajah bersih Ahmad Faiz.


"Maafkan aku ya mas? Tidak seharusnya aku membawa mas masuk dalam rumah tangga ku dan mas Niko yang tengah rusak."


"Pulas sekali, pasti lelah menjaga ku semalaman," bisik Haya lembut.


Ahmad Faiz membuka mata karena geli ada yang mengusap wajah nya.


Pyar Ting...


Dua bola mata membuka sempurna dan itu membuat Haya terkejut bukan main, antara malu dan kaget berbaur jadi satu.

__ADS_1


"maaf aku membangunkan mas, soalnya sudah masuk waktu subuh dan mas masih terlelap," lirih Haya asal.


"Iya enggak apa dik. Makasih ya sudah di bangunin, untung ada dik Haya, jadi mas tidak kesiangan subuh nya," Ahmad Faiz menyingkap selimut yang menutupi tubuh nya dan berlalu ke kamar mandi.


Byur____byur_______


"Sepagi ini mas Faiz sudah mandi," Haya masih setia duduk di pinggir ranjang.


"Ayo dik kita sholat berjamaah?" ajak Ahmad Faiz sambil menyisir rambut basah nya.


"Kok mas pagi-pagi mandi sih, apa enggak dingin?" tanya nya heran.


"Ya enggak lah dik. Cuacanya panas, dan mas merasa gerah. Lagian mas sudah terbiasa mandi pagi, hanya saja waktu di rumah Ibu mas jarang mandi waktu subuh karena disana kan udaranya dingin, lagian mas malu____"


"Malu kenapa, mas?"


"Ya kan kita pengantin baru dik, dan dik Haya pasti tau lah."


"Apa sih mas aku enggak ngerti?" Haya tersenyum.


"Hem... Yang waktu itu Ibu bahas dik, di depan dik Haya dan di depan mas langsung. Mas jadi malu dik kalau ingat hal itu. Masa dik Haya sudah lupa!"


"Memang nya orang kalau pengantin baru, pagi-pagi harus mandi ya mas? Harus banget, gitu?"


"Ya aku tau jika mas bilang nya apa gitu. sebab aku kan ngaji nya cuma sampai iqro enam dan enggak di lanjut lagi. Aku kan ngelanjutin nya ke sekolah Negeri mas, jadi yah minim banget pelajaran Agama nya, aku mengaji juga cuma setengah-setengah."


"Biasanya jika orang sudah menikah mereka akan melakukan hubungan suami istri pada Malam hari kan. Nah jika malam hari malas Mandi mereka boleh hanya bersih-bersih dan berwudhu saja, nah pagi hari nya sebelum sholat subuh harus benar-benar bersih, ya dengan mandi besar atau mandi Junub."


Haya pun mengangguk sambil tersenyum menahan malu, dan berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"Jadi begini rasanya punya suami yang rajin beribadah. Setiap pagi sudah harus bangun, asyik sih tapi masih agak ngantuk", gumam Haya geli dan rada ngantuk.


"Terus kalau tinggal sama mertua dan mereka paham akan Agama, setelah malam melakukan hubungan suami istri dan pagi nya mandi besar, mereka akan tahu dong. Apalagi jika tiap Malam melakukan nya, seperti saat aku bersama mas Niko dulu. IdiH malu banget," gumam Haya sambil tersenyum geli lagi.


"Kok cepat, Enggak mandi dik, apa enggak gerah?" Tanya Ahmad Faiz.


"Enggak mas, nanti saja selesai masak mandinya."


"Baik lah," Ahmad Faiz menangkap senyum penuh keceriaan yang Haya gambarkan lewat tutur kata yang riang dan wajah yang bersinar kembali.


****

__ADS_1


Pagi yang cerah dan indah, dimana dua insan sedang belajar mengenal dan membuka hati, untuk saling mencintai.


Pagi ini Ahmad Faiz akan berangkat kerja ke kantor milik suami Angel kakak dari Niko. namun sebelum berangkat kerja, Haya sudah memasak sarapan untuk Ahmad Faiz.


Haya ingin belajar menjadi istri yang baik sebelum Haya kembali bekerja. Memang benar Haya di berhentikan bekerja di perusahaan Bu Meca dan itupun tanpa alasan yang jelas.


tapi Haya yakin jika itu ulah Niko, Haya akan mencari pekerjaan di tempat lain.


Dua piring Mi instan, lengkap dengan telor sudah terhidang di meja makan. Ahmad Faiz begitu berterimakasih karena Haya mau masak untuk sarapan mereka berdua.


"Makasih ya, dik?"


"Iya mas. Walaupun aku cuma bisa masak mi instan tapi aku akan belajar masak kok mas, aku akan membeli buku resep, atau aku akan melihat video tutorial memasak di YouTube."


"Semoga niat dik Haya menyenangkan hati mas, akan menjadi pahala."


"Pahala..."


"Iya dong dik. dik Haya ini akan mendapat banyak pahala jika benar-benar menghormati, dan selalu menyenangkan hati suami"


"Ini uang pengang an untuk dik Haya belanja keperluan rumah, dan untuk beli bahan masakan juga. Memang enggak banyak, tapi insyallah cukup ya dik. Mas akan bekerja lebih semangat lagi," uang merah beberapa lembar saja untuk satu bulan, buat bayar cicilan rumah yang mereka tempati juga.


"Terimakasih, mas? Haya menerima uang tersebut dengan hati yang di remas-remas.


Bahkan semenjak kepergian Ahmad Faiz ke kantor, Haya masih terduduk di kursi sambil mengenggam uang pemberian Ahmad Faiz dengan tidak berdaya.


"Baru kali ini aku di beri uang oleh suami, bukan nya senang malah sedih banget. bagaimana tidak, aku sedih biasanya uang segini hanya akan habis untuk biaya shoping. ternyata selama ini aku termasuk orang yang boros dan foya-foya, dengan kebiasaan menghamburkan uang demi kesenangan ku sendiri."


"Coba saja jika uang yang ku dapatkan, tidak semuanya ku hamburkan pasti aku akan menyenangkan banyak hati orang. Kenapa dulu aku jarang bersedekah, kalaupun ingin bersedekah harus ada foto bukti selfie, jahat sekali aku," Haya meremas uang tersebut dengan hati yang kalut.


Tidak pernah di bayangkan sebelum nya, jika hidup haya akan berputar seratus delapan puluh derajat. Haya pikir semuanya akan berakhir setelah dirinya pisah dengan Ahmad Faiz. nyatanya Haya malah jatuh hati pada Ahmad Faiz.


Ahmad Faiz banyak mengubah gaya hidup seorang Haya. dulu memang Ayah haya berkeinginan agar Haya mondok di salah satu pesantren ternama. karena Haya anak yang cerdas, sang ayah berkeinginan jika Haya mendapat prestasi dan bisa meneruskan kuliah di Mesir atau Kairo secara gratis.


namun sayang, Haya menolak keinginan sang Ayah.


Haya bersandar di kursi sambil membayangkan sang Ayah, seandainya ayah masih ada pasti ayah akan sangat mendukung pernikahan ku dan mas Faiz, itulah separuh hati Haya yang bersuara.


Soal masalah finansial, memang Ahmad Faiz tertinggal jauh dari Niko. tapi Ahmad Faiz mampu membuat hati Haya tenang dan nyaman. ternyata bahagia itu tidak hanya melulu tercipta dari harta yang melimpah.


Segalanya butuh uang, namun tidak semuanya bisa di beli dengan uang!

__ADS_1


Kebahagiaan, ketenangan dan perasaan bersyukur akan tercipta dengan mencintai Rabb nya.


__ADS_2