
Selesai mengantar Nahla ke tempat kos-kosan.
Ahmad Faiz dan Haya langsung menemui Evan di sebuah restoran, untuk membahas rencana sidang dua hari kedepan.
Sebelum pergi, Haya menyelipkan sejumlah uang untuk Nahla pergunakan. Haya juga sudah membayar biaya sewa kos selama sebulan kedepan.
Bukan tanpa alasan Haya melakukan hal itu. Haya tau keuangan Nahla menipis, atau mungkin Nahla sedang tidak ada uang. awal nya Nahla bersikeras menolak pemberian Haya, namun berkat keyakinan yang Haya katakan, akhirnya Nahla menerima uang pemberian tersebut dengan hati yang lapang dan senang.
Setidaknya Haya menyakinkan jika suatu hari nanti, Nahla boleh mengganti uang milik nya, dan Nahla pun melemah dan menerima uang pemberian Haya dengan ragu dan suka.
"Jaga dirimu baik-baik. jangan mudah percaya dengan ucapan orang, apalagi orang yang baru kamu kenal. harus bisa jaga diri, dan kalau ada apa-apa segera hubungi kami," pesan Haya pada Nahla.
Tes..
Buliran bening dari sudut mata Nahla terjatuh saat Haya dan Ahmad Faiz benar-benar pergi dari jangkauan pandangan mata indah milik Nahla. Mereka benar-benar pergi dari penglihatan Nahla.
Perlahan kaki Ahmad Faiz menjauh dan benar-benar membiarkan Nahla tinggal di kos an seorang diri. sesungguhnya apa keinginan Nahla? Kemarin berkeinginan untuk hidup mandiri begitu kuat, sekarang hati Nahla merasa sedih saat melihat Ahmad Faiz dan Haya pergi dari pandangan matanya.
"Di tempat ini aku akan belajar mandiri. aku akan belajar melupakan cinta ku pada mas Faiz. Yah, aku tidak bisa menyakiti hati mba Haya, dengan cinta yang terus ku genggam dengan kuat. aku harus belajar melupakannya."
"Setidaknya aku harus tahu diri, dan bisa menempatkan dimana cinta bisa singgah. Aku tidak bisa egois dengan perasaan ku sendiri. Cinta memang anugerah dari yang kuasa, tapi aku harus tau, cinta ini layak aku perjuangkan atau malah harus aku lupakan." Nahla bermonolog dengan diri sendiri dengan air mata yang masih tertahan.
Kembali teringat pesan Ahmad Faiz.
"Nahla____, Mas mohon padamu, segera hubungi Abah dan Umi mu di kampung. katakan jika sekarang kamu baik-baik saja, sudah hampir sepuluh hari kamu meninggalkan orang tua mu tanpa pamit. mas yakin mereka sangat khawatir tentang keadaan mu. Segera beri tau mereka kabar mu saat ini, jangan sampai kamu menyesal Nahla. tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut seperti ini," begitulah pesan Ahmad Faiz yang masih terngiang di telinga Nahla .
"tapi aku takut, aku takut Abah dan Umi datang menjemput ku dan membawa ku pulang kerumah. Aku belum siap jika harus menikah dengan lelaki pilihan Abah. aku tidak mau," lirih Nahla dalam renungan.
Nahla mengusap air mata yang jatuh dan gegas masuk kedalam kamar baru. kamar dimana Nahla akan tinggali untuk beberapa waktu kedepan. Nahla harus bisa menyesuaikan diri ditempat baru, dengan suasana baru juga.
Kamar yang tidak begitu luas, hanya ada ranjang berukuran sedang, dan lemari dua pintu. Tapi, masih ada space di pojok, untuk Nahla melakukan ibadah lima waktu.
Nahla duduk di tepi ranjang tak berniat membereskan pakaian dari dalam tas bawaan nya. Nahla masih bingung apakah lemari tersebut boleh di pergunakan atau tidak. setidaknya Nahla harus meminta ijin terlebih dahulu.
__ADS_1
Klik...
Nahla spontan menoleh kearah pintu di buka, pun sama dengan sosok yang membuka pintu merasa terkejut dengan kehadiran Nahla yang sudah berada di dalam kamar.
"Sorry aku pikir tidak ada orang didalam. Makanya aku tidak mengetuk terlebih dahulu," seru perempuan berambut pirang tersebut.
"Iya, tidak apa-apa kok." Jawab Nahla ragu-ragu.
"Anak baru ya, kapan datang nya, siapa namamu?" cerca perempuan berambut pirang dan berwajah cantik tersebut.
"Namaku Nahla, mba. Aku baru saja datang. nama mba sendiri siapa?" tanya Nahla ramah belajar untuk ramah lingkungan.
"Panggil saja aku Bella. oh iya pakaian mu bisa di taruh didalam lemari." Bella membuka lemari dan menunjuk tempat dimana Nahla dapat menyimpan pakaian. karena memang ada dua laci, satu tumpuk sudah Bella gunakan. Jadi, Nahla bisa memakai yang disebelahnya.
"Kamu darimana, dan disini kamu kerja apa masih sekolah?" Bella menatap Nahla dengan masih berdiri penuh keheranan.
"Aku dari desa xx mba Bella. dan aku kerja di toko bunga dekat sini," Nahla sedikit menunduk.
"Ah, jangan terlalu formal. Panggil nama saja, mungkin kita seumuran jugakan." Nahla pun mengangguk setuju dengan saran Bella.
"Semingguan lebih lah." Nahla memainkan ujung jilbab.
"Kamu sendiri, Bel? apa kamu masih sekolah, atau malah sudah bekerja. Apa kamu sendirian di kota ini?" Kini Nahla memandang mata Bella.
"Tidak, kan ada kamu disini. Jadi, aku tak sendirian." Jawab Bela dengan tertawa renyah.
"Bukan____, maksut aku, kamu kerja apa masih sekolah?" jelas Nahla.
"Kalau aku dua-dua nya dari pertanyaan kamu, masih sekolah sambil kerja."
"Hebat, kamu bel!" Puji Nahla.
"Terimakasih." balas Bella dengan merebahkan tubuh di ranjang, tidur membelakangi Nahla sambil mendengarkan musik melalui handseat di kedua telinga Bella.
__ADS_1
Nahla melihat di telinga Bella ada beberapa tindik, Nahla juga melihat ada bekas merah di tengkuk Bella.
"Astagfirullahaladzim____!" Nahla mencoba beristigfar dari prasangka buruk, yang tiba-tiba hadir di dalam pikiran Nahla. Pikiran macam apa ini.
Dengan hati-hati Nahla melakukan pekerjaan di dalam kamar dengan hati-hati. melipati baju kedalam lemari. Nahla takut Bella terganggu dengan aktivitas yang ia kerjakan.
Tring... Tring...
Nahla terkejut mendengar suara ponsel Bella berdering. Astagfirullahaladzim.. batin Nahla.
Bukan nya tadi pakai handseat ya, kok masih bunyi pikir Nahla sambil menoleh dan melihat layar handphone Bella yang menyala.
"Iya____, Sebentar lagi aku on the way." suara Bella memjawab suara di balik telepon, dengan nada mengantuk.
Nahla melihat Bella buru-buru memasukan baju dress, dan beberapa make up kedalam tas ransel kecil milik Bella.
"Mau kemana, Bell?" tanya Nahla penasaran karena Bella begitu terburu-buru.
"Berangkat kerja. Aku berangkat kerja dulu ya Nahla, bye______!" Bella berjalan begitu cepat, hingga Nahla tidak sempat mengucapkan salam.
"Jam dua sore," Nahla melirik kelayar handphone malas.
"Mau Ngapain ya, boring banget?" Nahla melihat kekanan dan kekiri merasa jenuh dan bingung mau ngapain?
Perlahan Nahla keluar dari kamar menuju halaman rumah tersebut. Nahla dapat melihat di depan jalan perempatan tampak ramai ada banyak pedagang kaki lima sedang menunggu pembeli datang.
Nahla mendudukkan bokong di atas lantai yang lumayan tinggi tersebut sambil melihat pemandangan luar dari balik pagar besi.
"Aku harus mengabari Abah dan Umi" lirih Nahla dan menekan nomor telepon Abah nya.
Tut....
Tut...
__ADS_1
Panggilan terhubung.