Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kekecewaan yang teramat dalam


__ADS_3

Sebuah motor lawas mengantar Haya ke tempat nya mengais rejeki, di sebuah toko yang sederhana tersebut Haya berjuang untuk mendapatkan pundi-pundi Rupiah.


"Mas, berangkat dulu ya, dik. Maaf tidak bisa bantuin buka toko, mas takut telat masuk kerja," ucap Ahmad Faiz menatap Haya dengan hati yang iba.


"Iya mas, tidak apa-apa." Haya mencium tangan Ahmad Faiz dengan takdzim.


"Hati-hati ya kerjanya, di jalan juga hati-hati. Ingat aku selalu merindukan mu, mas." pesan Haya saat Ahmad Faiz mulai melajukan motor. Ahmad Faiz pun tersipu malu, menghormatkan tangan sebagai tanda siap.


Haya melihat Ahmad Faiz melajukan motor dan perlahan sampai tidak terlihat lagi. Haya tersenyum penuh harapan.


"ya Allah jagalah suami ku selalu, dia lelaki baik. Aku mencintainya karena mu ya Allah." batin Haya dengan senyum simpul yang menghias wajah dengan indah berseri.


"Haya____!" Suara seseorang menghentikan langkah kaki Haya untuk menuju pintu toko.


"Mas, Niko." Haya begitu terkejut saat melihat Niko datang. Bukan kah, dulu lelaki ini yang selalu Haya rindukan. Bukan kah dulu lelaki ini membawa ketenangan. Bukan kah dulu lelaki ini menenangkan. Tapi, sekarang kenapa berubah. Seolah kedatangan lelaki ini seperti suatu hal yang mengerikan bagi Haya, kedatangan nya tidaklah Haya rindukan lagi.


Kenapa perasaan kecewa begitu luas hingga mampu membungkus hati Haya menjadi gelap. Sikap egois dan kasar jelas tergambar di wajah lelaki yang bertag mantan suami Haya.


seandainya Niko tidak berlaku demikian, mungkin semua ini tidak mungkin terjadi. Tapi, beras sudah menjadi nasi, di manfaatkan saja, mau di goreng atau di jadikan bahan krupuk, atau langsumg di makan saja juga nikmat.


Niko terdiam menatap wajah ayu Haya yang terbungkus jilbab maroon lengkap dengan gamis berwarna senada. Tidak lah glamour, tidak lah menor, namun terlihat anggun dan mempesona, wajah Haya berseri-seri menarik hati Niko.


Niko menelan keinginan untuk melihat badan yang Haya bungkus dengan gamis. Niko ingin melihat wajah ayu Haya tanpa jilbab, Niko ingin sekali melihat senyum Haya yang dulu, sungguh Niko merindukan Haya yang dulu.


Haya yang manis, yang ceria, Haya yang selalu bawel, dan Haya yang akan menjawab setiap hal yang dirasa tidak benar.


Semenjak mengambil keputusan yang mereka buat, Niko tidak pernah melihat senyum riang di wajah ayu Haya. Haya selalu menatap dan menampilkan wajah kekecewaan pada Niko.


Bahkan Haya tidak berkata pelan, selalu saja memakai volume tinggi dan wajah yang berekspresi penuh kekecewaan.


"Sungguh yang terbungkus jauh lebih menggoda!" goda Niko, dan memalingkan wajah, setelah Haya menatap nyalang ke wajah Niko.


"Bagaimana kabar mu, Haya?" tanya Niko sambil berdiri dan mengulurkan tangan, berharap Haya menyentuh jemarinya.

__ADS_1


"Untuk apa mas Niko menanyakan kabar ku. sedang mas Niko tidak pernah perduli dengan kabar ku, itu kenyataan nya. Bukan kah, sudah jelas kabar ku menderita. Aku menderita karena mas Niko lah yang membuat nya, puas!"


Ucapan Haya, membuat Niko ingin tertawa dan marah secara bersamaan.


"Haya____, tolong bisakah kamu bersikap calm down saat berbicara padaku. Kamu bisa berkata lembut saat berbicara dengan Ahmad Faiz, lantas dengan ku kenapa kamu ketus?"


"Don't touch me____!" Haya mendorong tangan Niko pergi jauh dari jemari tangan indah Haya, karena Niko berusaha mengenggam jemari Haya, namun Haya menolak dengan tegas dan keras.


"Aku hanya rindu, aku ingin tau bagaimana kabar mu Haya? Hidup ku kacau semenjak kamu benar-benar pergi dari hidup ku. Please Haya jangan bersikap seperti ini," keluh Niko memelas.


"Serindu-rindunya seorang lelaki terhadap seorang perempuan. Apalagi perempuan itu tidak halal bagi mu, jangan sekali-kali kamu berani menyentuh nya, mas."


Niko menatap mata Haya, perkataan Haya jelas berbeda, sangat berbeda.


Dimana Haya yang dulu selalu berkata manis, Haya yang selalu menyenangkan hati Niko, Haya yang tidak pernah menolak perintah Niko, bahkan sangking bodoh nya menerima perintah dari Niko untuk menikah dengan Muhallil yang mereka pilih Ahmad Faiz.


Niko tak habis pikir dengan perubahan Haya yang begitu cepat, dan Haya benar-benar berbeda dari Haya yang Niko kenal dulu. Sungguh berbeda!


"Haya aku mohon kembali lah padaku? Aku janji aku akan berubah. Aku tidak akan berlaku kasar. Aku akan menjaga lisan ku Haya, tolong lah pikirkan keputusan yang kamu ambil sepihak ini. Haya tolong pikirkan hatiku yang hancur ini," pinta Niko dengan mata menahan perih.


"Kenapa Haya, hal apa yang telah lelaki itu lakukan padamu. Sampai-sampai kamu bisa melupakan ku secepat ini, cobalah ingat betapa banyak kenangan yang kita lalui bersama, Haya? tidak kah, kamu mengingatnya Haya."


"Tidak ada hal yang mas Faiz lakukan. Mas Faiz berlaku apa yang memang seharusnya ia lakukan. Mas Faiz lelaki baik dan tulus, itulah alasan kenapa aku menghentikan misi jahat kita, aku tidak mau menyakiti hati mas Faiz terlalu jauh____, kita salah mas. Kita salah!" tekan Haya pada Niko.


"Hah lelaki baik dan tulus katamu. Mana ada lelaki yang tulus tanpa ada maksud terselubung, katakan padaku apakah kamu sudah melakukan hal itu dengan Ahmad Faiz?" Niko menatap mata Haya dengan bibir yang bergetar.


"Kenapa mas bertanya hal pribadi orang lain. apalagi itu urusan rumah tangga kami, mau mas Faiz melakukan nya atau tidak, itu sama sekali bukan urusan mas Niko. Sama sekali bukan urusan mas Niko!" sekali lagi Haya menegaskan.


"Aku hanya memastikan jika Ahmad Faiz lelaki normal. Kan, kasian kamu jika kamu tersiksa karena tidak mendapat nafkah batin dari suami mu Haya. Ingat lah saat kita melakukan malam pertama kita dulu Haya? Apa kamu lupa itu semua?"


Haya mendelik, sekilas amarah jelas tampak di pipi yang memerah menahan amarah ingin meledak. Niko selalu saja egois dan ingin benar sendiri.


"Haya.. kenapa kamu diam. Aku tau pasti Ahmad Faiz belum menyentuh mu. Aku tau Ahmad Faiz takut kehilangan mu. Ahmad Faiz berpikir kamu akan pergi setelah kalian melakukan hubungan itu. lihat lah suami Muhallil mu itu yang kamu bilang tulus, tulus itu rela mengorbankan cinta agar orang yang di cintai bahagia bukan malah mengekang nya erat-erat. Dan mengenggam selama ini."

__ADS_1


"Tau apa kamu tentang cinta mas. maaf jangan samakan mas Niko dengan mas Faiz. jelas kalian berbeda! memang ku akui mas Niko adalah elaki hebat dengan karir dan kehidupan yang luar biasa. Sedang mas Faiz lelaki penuh kebijaksanaan, keikhlasan, kebaikan nya tanpa batas."


"Haya____!" Niko berusaha memeluk Haya. Niko tidak ingin mendengar Haya terus menerus membela dan mengagungkan nama Ahmad Faiz. sungguh Niko tidak terima.


Haya pun meronta, melepas pelukan bahkan sebuah tamparan keras Haya layangkan di pipi Niko.


Plak...


Ini kali pertama Haya berani menampar Niko, sebelum nya Haya tidak berani melakukan hal itu, tapi kali ini Haya benar-benar melakukan nya.


Mata Niko memerah, sorot mata tajam mampu menembus dinding rasa khawatir Haya. wajah Niko menampakkan amarah yang begitu dalam, hingga bibir Niko tampak bergetar.


"Maaf mas, mas Niko sangatlah tidak sopan. aku ini istri orang, satu lagi bahkan mas Faiz sebagai suami ku yang sah secara Agama saja, tidak berlaku kasar dengan memaksa ku seperti ini." pekik Haya dan berlari menjauh menuju toko baju. Ada sesak menghimpit di hati Haya.


"Satu lagi, kamu jahat mas! kamu berusaha memisahkan hubungan antara aku dan Attar. Kamu dholim dengan ku, kamu membawa Attar ke Singapura dan kali ini kamu membawa Attar ke Australia. Kamu benar-benar jahat, tapi aku tidak akan menyerah mas, aku akan ambil Attar darimu!"


"Kamu akan kehilangan semuanya, semuanya mas!" Teriak Haya dan berlalu tanpa menoleh lagi.


Akan banyak kalimat lagi jika Haya memilih tetap diam di tempat meladeni permintaan Niko, Haya memilih lari dan pergi menjauh.


Haya masuk kedalam toko dan menangis disana. Haya tidak dapat menyembunyikan perasaan sakit masih tersisa disana, bahkan sebuah nama yang banyak di katakan orang yaitu Cinta, mungkin masih ada yang bersisa untuk sekedar berteduh.


sisa Cinta untuk Niko masih ada, walau hanya tinggal seperti kapas yang berterbangan. Haya yakin kapas cinta pasti akan hilang seiring berjalan nya waktu. Semua akan memudar dan sirna.


Haya sadar semakin Niko bersikap demikian, semakin Haya yakin dengan keputusan nya untuk menikah secara resmi dengan Ahmad Faiz.


Setelah semua nya beres nanti, Haya berjanji akan mengesahkan hubungan nya secara hukum, dan Haya berjanji akan menjadi seorang istri seutuh nya bagi Ahmad Faiz.


Haya ingin Niko merasakan kesakitan dengan pilihan hidup yang Haya ambil. Haya ingin Niko sadar bahwa sikap nya selama ini egois dan menyakiti Haya serta Attar.


Namun hidayah tak kunjung datang dalam hidup Niko. Kenapa hati dan perasaan Niko sekeras batu. kenapa Niko tidak dapat menimbang dan merenungi sikap dan perilakunya selama ini?


Kenapa Niko tidak sadar karena sikap egois nya lah Haya sering menangis dan bersedih. Haya hanya ingin Niko menyesal telah membuat Haya menangis tanpa di sadari oleh nurani Niko sendiri, namun harapan itu hanyalah sebuah mimpi tiada arti.

__ADS_1


Niko adalah Niko, Niko akan selalu bersikap keras seperti itu. Entah sampai kapan, Haya berharap Niko bisa merenungi kesalahan nya.


__ADS_2