Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kedatangan kedua orang tua Ahmad Faiz


__ADS_3

Malam menjelma, Haya dan Ahmad Faiz setuju untuk mengunjungi kontrakan Haya. Haya dan Ahmad Faiz ingin tau bagaimana kabar Nahla.


"Kamu kenapa, Nahla?" Haya memegang kening Nahla yang panas karena demam. Wajah Nahla memucat, badan nya mengigil. Haya begitu khawatir.


"Kemarin ada musibah di kontrakan ini mba. teman satu kamar Nahla, si Bella mati karena mencoba mengugurkan kandungan di dalam kamar mandi," terang ibu kost karena mengetahui jika Nahla sakit karena ketakutan.


Haya pun terkejut.


Kenapa Nahla tidak mengatakan akan hal ini. apakah Nahla ketakutan, atau bahkan Nahla trauma. Tidak seharusnya Nahla berdiam jika memang dirinya merasa takut dan cemas.


"Kalau begitu, aku ijin membawa Nahla pulang dulu ya, Bu?" Haya meminta ijin untuk membawa Nahla pulang ke kediaman nya. Karena tidak mungkin, Haya membiarkan Nahla terbaring sakit di kost seorang diri.


"Boleh.. mba. Mungkin saja Nahla ketakutan akan peristiwa yang terjadi kemarin. Makanya Nahla langsung jatuh sakit."


Haya mengangguk, mengiyakan ucapan ibu pemilik kost.


Nahla menangis dan memeluk Haya begitu erat. Haya mengusap punggung Nahla begitu penuh kelembutan.


"Tidak apa-apa, Nahla. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir," Haya menyemangati.


Kemudian Haya membawa Nahla berkunjung ke rumah sakit, karena Nahla demam begitu tinggi. Setidaknya Nahla harus mendapat obat untuk meringankan rasa sakit nya.


"Nanti setelah di minum obat nya, mudah-mudahan segera turun panas nya, semoga lekas sembuh ya!" ucap dokter yang memeriksa Nahla begitu sangat ramah.


"Iya dok, terimakasih." Haya mengandeng tangan Nahla, layaknya kasih seorang kakak kepada adik nya.


Jika bukan Haya, lantas siapa lagi?


Nahla minggat dari rumah, dan tempat tujuan adalah kediaman Ahmad Faiz serta Haya. Jadi, Haya akan berusaha menjaga Nahla sebaik mungkin. Haya pun takut, jika sesuatu hal buruk menimpa Nahla, pasti Haya dan Ahmad Faiz lah, yang akan disalahkan.


Selama beberapa menit mengendarai taksi, akhirnya Nahla dan Haya sampai di rumah sederhana milik Ahmad Faiz.


Haya membawa Nahla ke sebuah ranjang yang ada di sudut ruangan, dekat dengan ruang tamu. Karena rumah baru ada ranjang, belum terenovasi dengan sempurna.


"Aku tau Bella tidak melakukan itu, mba. karena aku tau Bella ingin sekali belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Aku yakin, ada yang tidak beres dengan kematian Bella." Nahla langsung berujar saat bokong nya sudah sampai pada ranjang.


"Maksud kamu, Nahla? Haya mendengar ucapan Nahla dengan seksama. Haya ingin menjadi pendengar yang baik.


"Bella ingin belajar agama dengan ku, mba. bahkan Bella ingin bertaubat dan berjanji akan menjadi insan yang lebih baik lagi. malam itu sebelum kejadian, aku dan Bella berpelukan dan berjanji akan menjadi sahabat, kita akan belajar bersama-sama menimba ilmu Agama." Nahla berkata dengan berlinang air mata mengingat persetujuan Bella.


"Apa mungkin ada orang yang berniat membunuh Bella, mba!" Nahla ragu berucap dengan penuh keraguan. Menatap mata Haya meminta jawaban.


"Nahla... Jangan bicara begitu. Polisi sedang menulusuri kasus ini, mudah-mudahan polisi segera menemukan jalan titik terang kebenaran dari masalah Bella. kamu yang sabar ya, jangan terlalu kamu pikirkan."


"Aku sangat berharap semoga kasus Bella, bisa terungkap dengan jelas. Kasihan Bella, selama hidup pasti Bella sangat sedih dan menderita. Bella ingin bahagia, bisa dicintai dan mencintai seutuhnya."


"Mudah-mudahan Allah mudahkan jalan Bella. Ya sudah, ayo kamu istirahat. Kita makan bubur dulu, lalu minum obat. aku malah sampai lupa!" Haya tersenyum lupa, karena serius mendengar perkataan Nahla.


"Mba____!" lirih Nahla.


Haya menoleh, menghentikan langkah kakinya.


"Terimakasih" lirih Nahla dengan senyum yang begitu manis.


"Iya, Nahla. Jangan sungkan, anggap aku ini seperti kakak mu sendiri. Jangan takut dan jangan khawatir. Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik buat mu." ucap Haya penuh keyakinan.


Nahla menunduk dalam.


"Kemana mas Faiz mba, Kenapa tidak ikut kita pulang tadi?" Tanya Nahla.

__ADS_1


"Lanjut kerja, ada lemburan katanya. mungkin sebentar lagi akan pulang."


"Mba, tidak kerja?" Nahla tampak tidak enak hati.


"Kerja sih tadi. Tapi pas ibu kost telepon, aku langsung menutup toko. aku khawatir terjadi sesuatu hal sama kamu."


Nahla tersenyum bahagia. Ternyata Haya memiliki hati yang baik.


"Tidak sepantasnya, aku menyakiti dan diam-diam menyukai suaminya. Walau aku tau itu adalah bukan kehendak ku, tapi aku yakin itu sangat melukai hatinya," Nahla membatin dan menyendok bubur pemberian Haya.


"Ya Allah... Aku mohon, hapuslah rasa cintaku ini. Aku tidak ingin melukai banyak hati, mereka terlalu baik untuk disakiti." Batin Nahla lagi dengan terus menyuap bubur kedalam mulut.


Tok______tok______


"Bentar ya ,Nahla. Aku buka pintu dulu. Mungkin itu mas Faiz sudah pulang." Haya gegas berdiri.


Haya segera membuka pintu, Haya begitu terkejut melihat kedatangan kedua orang tua Ahmad Faiz.


"Ibu, Bapak. Ya Allah_____, mau berkunjung kesini, kok tidak bilang sih! Kalau bilang kan, kita bisa susul Bapak sama ibu di terminal."


Haya langsung mencium takzim tangan kedua mertuanya, dan mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah.


"Mari masuk pak, bu!" Haya mengambil tas berisi baju milik pak Malik dan Bu Malik, dan beberapa kardus kecil barang bawaan kedua mertuanya.


"Ibu mu selalu saja galau, ingin berkunjung ke kota. Padahal hewan ternak bapak di desa, tidak ada yang jaga," keluh pak Malik sambil tersenyum menggoda Bu Malik.


"Ah____, bapak ini!" jawab Bu Malik malu-malu.


Haya tersenyum, dengan cepat Haya mengambil air teh hangat.


"Kemana Faiz, apa belum pulang?" Tanya Bu Malik, sambil celingukan mencari keberadaan Ahamd Faiz.


"Bagaimana kabar mu, Haya?" Kali ini pak Malik yang bertanya.


"Alhamdulillah baik, pak. bapak sama ibu bagaimana kabarnya, aku lihat bapak sama ibu tambah gemuk ya?" Goda Haya.


"Bukan nya terbalik. Lihat lah pipi mu sekarang terlihat gembul." balas Bu Malik, Haya langsung memegang pipinya dengan lembut.


"Apa___! aku gendutan." batin Haya merasa khawatir, akan bentuk tubuh nya jika benar gendutan.


Jika dulu Haya rajin diet, rajin olahraga, rajin kesalon. Intinya benar-benar menjaga kualitas tubuh dan merawatnya dengan begitu apik. tapi kali ini, Haya hanya menjaga pola makan saja, pantas lebih gemuk dan berisi.


*****


Malam itu keluarga Ahmad Faiz begitu bahagia. Mereka tiduran di ruang tamu, tikar lebar di gelar dan mereka beristirahat disana dengan bercengkarama sesekali mereka tertawa.


"Nahla, apa kamu sudah mengabari Abah dan Umi mu?" Bu Malik mengusap pundak, Nahla.


"Sudah, Bu. dua hari yang lalu aku sudah mengatakan, aku sangat berharap, Abah dan Umi bisa mengerti akan pilihan yang aku pilih."


"Memang jalan yang kamu pilih, tidak sepenuhnya salah. Tapi, perginya jangan lama-lama, nanti pulang bareng sama bapak dan ibu saja. Kasihan Abah sama umi mu, pasti sangat merindukan mu."


Nahla menoleh memandang Bu Malik, dengan wajah sendu.


"Kasihan Abah mu, kemarin jatuh sakit karena memikirkan mu, Hem____" Bujuk Bu Malik.


"Tapi, Bu. aku masih betah di kota, aku masih pengen mencari pengalaman. Aku belum pengen pulang kedesa."


Bu Malik tertegun sebentar, kemudian menghela napas.

__ADS_1


"baik lah, Nanti ibu akan bicarakan sama Abah dan Umi mu lewat sambungan telepon. Ibu akan menjelaskan bahwa kamu disini baik-baik saja."


Tok...


Tok...


"Biar aku saja yang membuka," Ahmad Faiz segera membuka pintu utama yang diketuk dari luar. dalam hati Ahmad Faiz bertanya-tanya siapa malam-malam bertamu.


"Evan____," Ahmad Faiz terkejut melihat kedatangan Evan, kenapa malam-malam datang kerumah nya.


"Aku mencari Nahla. Tadi nya aku ke kostan nya, tapi kata ibu kost, Nahla sakit dan di bawa mba nya. aku yakin pasti Nahla di bawa kesini, aku ingin melihat keadaan nya. Bolehkan?"


Ahmad Faiz terdiam sesaat mencerna kalimat Evan. Apakah benar Evan menyukai Nahla. hingga selarut ini, Evan datang untuk melihat keadaan Nahla.


"Aku mohon.." lirih Evan.


"Baik lah, ayo masuk!" Ajak Ahmad Faiz.


Evan pun ikut masuk, Evan berjalan di belakang Ahmad Faiz.


Evan pun terkejut dengan pemandangan yang luar biasa, ada beberapa orang sedang tiduran dan tertawa begitu renyah. Ada kerinduan dibilik hati Evan, kerinduan akan kebersamaan bersama keluarga tercinta. tapi, akhir-akhir ini Evan begitu sibuk dengan adanya banyak kasus yang perlu di tuntaskan.


"Mas Evan____," Haya kemudian duduk, di susul oleh Nahla dan kedua orang tua Ahmad Faiz.


"Maaf aku sangat menganggu. aku benar-benar tidak tau, jika di rumah ini masih mengadakan quality time. Sekali lagi maaf," ucap Evan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa nak, silahkan duduk?" Seru pak Malik begitu ramah.


"Terimakasih pak."


Evan memandang Nahla, Evan merasa lega Nahla terlihat baik-baik saja. wajahnya pun terlihat agak pucat, tapi tetap saja tidak mengurangi kecantikan dari seorang Nahla.


"Aku kemari karena khawatir, aku mendengar jika Nahla jatuh sakit." lirih Evan membuka suara.


"Ouh... gitu," Haya tersenyum sambil melirik kearah Nahla yang tidak berekspresi.


Nahla hanya diam, tak mau memandang atau pun menjawab ucapan Evan. Entah sampai kapan Nahla enggan membuka hati untuk Evan.


"Jadi, nama kamu siapa nak?" tanya Bu Malik kali ini dengan rasa penasaran.


"Perkenal kan Bu, aku Evan. aku teman dari Ahmad Faiz dan Haya, teman Nahla juga."


"Baik lah, aku pamit pulang dulu. Sebab ini terlalu larut untuk bertamu," Evan mengundurkan diri.


"Loh, cepat sekali. kan, baru datang," tanya pak Malik.


"Iya, pak. aku cuma khawatir dan ingin melihat keadaan Nahla. aku pikir Nahla sudah lebih baik, aku sudah tenang, aku ijin pamit pulang dulu?" Evan terlihat begitu kikuk. Seorang polisi, terlihat keren dan berkharisma dihadapan orang lain. tapi berlaku kikuk saat di hadapan Nahla.


"Baik lah, hati-hati di jalan." Evan senyum mengiyakan dan berlalu pergi.


Bu Malik tersenyum, Bu Malik paham jika lelaki bernama Evan menaruh hati pada Nahla. Tapi terlihat dengan sangat jelas, jika Nahla begitu cuek tidak menanggapinya.


"Tampan loh, kayaknya juga baik. Sopan lagi," goda Bu Malik pada Nahla.


"seorang polisi lagi," kini Ahmad Faiz yang menggoda.


."jadi dia polisi?" Tanya pak Malik penasaran.


"Iya." balas Ahmad Faiz cepat.

__ADS_1


Jika tidak ada orang, Nahla akan menangis sekencang-kencang nya. kenapa orang yang teramat dia cintai malah menggodanya dengan lelaki lain.


__ADS_2