
Di sebuah restoran Haya sedang menikmati hidangan bersama Ahmad Faiz, Evan dan seorang pengacara yang Evan tunjuk sebagai wakil kuasa dari Haya.
Seorang pengacara kondang dan terkenal, siapa lagi kalau bukan pengacara Hot min cisalak. Haya tampak menandatangani beberapa berkas pernyataan surat persetujuan akan pengajuan hak asuh Attar.
"Saya yakin seyakin-yakin nya. ibu bakal mendapat hak asuh Attar anak ibu, dan saya pastikan ibu akan mendapat hak berupa materi yang selama ini di halangi oleh mantan suami ibu. Semuanya akan lebih baik," jelas sang pengacara begitu yakin.
"Aamiin____, Terimakasih pak. Semoga saja seperti itu. Karena itu memang hak saya, awal nya saya enggan membahas masalah harta Gono gini dengan mantan suami saya. Tapi, setelah mantan suami saya menghalangi hak saya sebagai seorang Ibu, maka dengan sangat terpaksa saya harus mengambil jalur ini." jawab Haya dengan senyum yang merekah, berharap ada keajaiban setelah keputusan ini diambilnya.
Haya sudah tidak sabar akan bertemu dengan Attar. Sudah lama sekali Haya di pisahkan dengan Attar, rasa rindu yang membuncah dan perih ingin lekas berjumpa dan mencium anak kesayangan nya.
"Sikap dan tindakan yang ibu ambil ini tidaklah salah, dan sudah selayaknya di perjuangkan. Keadilan memang harus di tegak kan. Sudah ada bukti berupa chat, dan ada saksi yang akan membantu ibu di persidangan nanti, semua akan menjadi pemberat bagi mantan suami ibu."
"Terimakasih banyak ya pak, sudah berkenan membantu saya?" lirih Haya sangat bersyukur.
"Itu sudah pekerjaan saya, Bu."
"Baiklah kalau begitu saya undur diri, masih ada pembahasan dengan seseorang yang membutuhkan saya di lain tempat, saya mohon ijin untuk segera pergi?"
"Baik pak, silahkan. sekali lagi terimakasih banyak ya pak?" sang pengacara Hot min Cisalak pun berjabat tangan dengan Ahmad Faiz, Evan dan Haya. Selepas itu gegas pergi menemui klien lain nya yang sudah menunggu.
"Haya bagaimana kabar, Nahla?" tanya Evan dengan pelan tapi penuh ke khawatiran, seperti ada harapan disana.
Haya pun menoleh menebak dari pertanyaan yang Evan ucapkan. "Nahla, baik mas."
"Nanti pulang nya bareng saja, kalian naik mobil bersamaku. aku mau sekalian bertamu kerumah kalian, aku ingin berjumpa dengan Nahla." Terang Evan tanpa sungkan.
__ADS_1
"Tapi Nahla kini sudah tidak tinggal di rumah kami mas Evan." Ahmad Faiz berujar.
"Lalu kemana Nahla sekarang, apakah Nahla pulang ke kampung halaman nya?" Evan tampak kecewa sekali mendengar jawaban dari Ahmad Faiz.
"Tidak, mas. Nahla ngekos di perumahan kos khusus putri. Karena jarak tempuh antara tempat tinggal kami ke tempat kerja nya cukup jauh, jadi Nahla berinisiatif mencari tempat tinggal yang jauh lebih dekat."
Evan pun mengangguk tanda paham dan setuju atas pilihan Nahla, agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. ya bukan ide yang buruk.
"Baiklah mas, kami pamit pergi dulu?" Pamit Haya dan melirik kearah Ahmad Faiz untuk lekas pergi.
"Iya mas kami pamit dulu?" pamit Ahmad Faiz mengerti jika Haya ingin segera pulang kerumah.
"Ayo aku antar saja?" tawar Evan sekedar basa basi tentunya.
"Tidak perlu mas, terimakasih. Rencana nya kami mau pergi belanja kepasar, bahan kebutuhan dirumah sudah pada habis. ya sudah kami permisi dulu, Assalamualaikum?" Haya dan Ahmad Faiz pun berlalu, tujuan mereka adalah pasar tradisional tak jauh dari restoran yang baru saja mereka kunjungi.
Sekarang Haya harus bisa menyesuaikan budget. Kalau dulu membeli apapun tidak menilik banderol, lain dengan sekarang, apapun yang akan di beli perlu di pertimbangkan dengan kondisi uang di kantong.
"Ini kali keberapa aku kepasar ya, mas?" tanya Haya sambil bergandeng tangan dengan Ahmad Faiz menyusuri jalan setapak khusus di pergunakan untuk pejalan kaki.
"Ketiga mungkin." Jawab Ahmad Faiz asal.
"Kalau sama Nahla sih sudah dua kali, tapi kalau sama mas baru tiga kali ini."
"Lain kali biar mas saja yang belanja, mas takut dik Haya tidak tahan bau pasar dan Suasana yang bising." terang Ahmad Faiz masih mengenggam jemari Haya.
__ADS_1
"Jangan gitu mas. Mas kan tau beberapa hari ini aku selalu mengikuti kajian taklim bersama ibu-ibu di dekat rumah kita, darisana sedikit banyak aku mendengar cerita dan nasehat dari mereka."
"Nasehat apa kah gerangan?" Ahmad Faiz masih terus berjalan tanpa menoleh menatap Haya.
Haya pun berdehem, Ahmad Faiz menoleh dan tersenyum. hem_____
"Rumah tangga tuh gak melulu soal materi. yah, walaupun kebutuhan dan apapun itu selalu butuh dana sih, intinya hidup dengan kesederhanaan dan damai. Kaya yang sesungguhnya itu tidak ditakar dari seberapa banyak harta yang dimiliki, namun seberapa doi bermanfaat bagi pasangan dan sesama manusia." jelas Haya.
"Subhanallah... Alhamdulillah. sekarang pengetahuan dik Haya semakin luas. Bahkan, mas baru tau nasehat ini loh,"
Haya pun tersipu malu mendengar kalimat yang ahmad Faiz ucapkan. Sedikit cubitan Haya berikan di pinggang Ahmad Faiz.
"Meledek!" Ketus Haya sambil melirik merasa di goda.
"Sungguh dik, mas tidak meledek!" Ahmad Faiz tersenyum renyah, sampai menampilkan gigi yang rapi.
Haya manyun, namun hatinya senang bukan main. Ternyata kebahagiaan itu sederhana dan simple, hanya dengan sebuah sanjungan yang kebenaranya belum dapat dipastikan pun, dapat membuat hati orang lain senang dan berbunga-bunga.
"Dulu, aku jarang banget kumpul sama perempuan. Namun sekarang aku tau mas, tidak semua perkumpulan ibu-ibu itu buruk, dulu aku pikir pasti pada ghibah, namun sekarang aku paham. Jikalau pun ghibah, setidaknya mereka mau mengaji dan memperbaiki diri untuk tidak ngegibah lagi, itu lebih baik dari yang tidak mengaji tapi kuat ngegibah nya!"
"Kalau bisa sih, datang untuk mengaji dan jangan ngomongin keburukan orang lain, itu jauh lebih baik lagi, dik." ide Ahmad Faiz.
"Mau nya seperti itu mas, Siapa yang gak mau coba, semoga aku bisa menjaga hati, lisan dan perbuatan aku."Yakin Haya pada dirinya sendiri.
"Mudah-mudahan dik Haya bisa, insyaallah bisa!" semangat Ahmad Faiz membuat Haya begitu senang. Baik itu hanya sekedar ucapan atau tindakan kecil, jika di rasai menggunakan hati maka akan terasa sangat bermakna.
__ADS_1
Betapa beruntung nya seorang perempuan yang berhasil Ahmad Faiz cintai, entah pikiran apa Haya menjadi sedikit ragu tentang pernikahan yang di jalani nya? Haya takut jika perhatian dan sikap perduli yang Ahmad Faiz tunjukan selama ini hanya sebatas kewajiban belaka, bukan cinta.
Lagi-lagi Haya tersenyum manis dan mengenggam erat jemari Ahmad Faiz meski Haya sadar hatinya sedang meronta ingin selalu dicintai Ahmad Faiz.