Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Jangan samakan antara akhlak dan pakaian


__ADS_3

"Nahla ini sudah selesai. Sana antar ke Masjid dengan Ahmad Faiz?" Titah bude Dina, sambil menyerahkan beberapa kantong plastik berisi makanan. Bude Dina merasa lelah, setelah hampir seharian memasak di dapur.


"Iya, bude," Nahla mendekat ke arah Haya. tidak mungkin kan Nahla pergi bersama Ahmad Faiz. Nahla tau dan Nahla harus bisa menjaga sikap. Masa iya, Nahla akan pergi ke masjid dengan suami orang? Nahla cukup bisa jaga sikap, agar tidak menyakiti perasaan perempuan lain.


"Yuk mba, ikut aku antar makanan ke masjid?" ajak Nahla dengan senyum, penuh harap.


"Tapi___?" Haya merasa bimbang. Terbesit rasa ragu dan malu di hati haya. Sekilas Haya melihat raut tidak suka di wajah bude Dina, namun karena Nahla terus mengajak nya akhir nya Haya mengiyakan.


Nahla tau Ahmad Faiz sudah menikah, jadi Nahla tidak mungkin berjalan berdua dengan Ahmad Faiz. Ada hati yang harus Nahla jaga, ada diri yang harus Nahla batasi. Nahla tidak memungkiri bahwa hati dan perasaan masih sama untuk Ahmad Faiz, tapi Nahla harus bisa mengontrol emosi cinta.


"Ke masjid itu untuk menemui anak-anak yang sedang mengaji, dan pasti disana banyak kaum ibu-ibu yang sedang menunggu anak nya, jadi perhatikan baju kamu!" Ketus bude Dina tampak tidak suka.


Haya memandang Nahla, tampak bimbang dan gamang. Jika seandainya bude Dina ini bukan kakak dari Ibu Ahmad Faiz, sudah di pastikan akan di lakban mulut nya oleh Haya. Kenapa begitu sensitif dengan Haya, sedari tadi selalu terkesan menekan Haya.


Mulut yang begitu sensi dan julid. Ya ampun, mana boleh tahan!


Baju kemeja panjang, celana panjang sedikit ketat, dan hijab pashmina yang di tali ke belakang, lengkap dengan Bros di atas dada. kemeja panjang Haya sudah Haya kenakan, pakaian Serapi itu masih saja di komen.


Apa sih, maunya bude Dina ini?


"Baju kami sudah rapi bude, sudah menutupi tubuh, jangan khawatir." Nahla membela Haya.


"Ya inilah akhir zaman. Berpakaian tapi seperti telanjang. Bagus sih gaya nya pakai baju panjang, tapi lihat masih melihatkan bentuk tubuh yang meliuk-liuk, gunakan pakaian sesuai ketentuan, bukan sebagai gaya saja."

__ADS_1


Nahla memandang Haya, Nahla tau jika Haya merasa sedih atas ucapan bude Dina yang pedas dan ceplas ceplos. Maksud dan pendapat bude Dina, mungkin benar. Tapi cara penyampainya tidak sepenuhnya benar. Dengan memaksakan Haya untuk langsung mengikuti kebiasaan hidup bude Dina, begitu maksud Bude.


"Ganti baju jangan malu-maluin! Aku enggak sanggup jika Keponakan ku di jadikan bahan ghibah an karena mendapat perempuan seperti mu, terutama celana ketat mu itu." ketus bude Dina di samping Haya.


"Apa salah antara baju dan sikap? Allah maha tau kok bude, memang baju yang aku pakai belum sempurna. Tapi apa bude yakin jika sikap bude jauh lebih sempurna?" Haya menjawab karena geram, itulah Haya.


Siapa yang menyenggol, akan Haya libas. Enak saja!


Bude Dina melotot dan memandang Haya jengkel. Sungguh sebagai orang tua, bude Dina merasa di remehkan.


"Ternyata kamu juga suka melawan ucapan orang tua ya? enggak menyangka jika Ahmad Faiz keponakan ku, menjadikan mu seorang istri. Padahal almarhumah Khadijah adalah wanita terbaik, Nahla juga ada untuk Ahmad Faiz sebagai pengganti Khadijah. Namun kok bisa keponakan ku itu malah memilih perempuan seperti mu."


Bude Dina mengoceh tidak jelas.


"Apa penglihatan Ahmad Faiz, tidak bisa melihat. Tidak bisa membedakan mana perempuan baik dan mana perempuan kayak gini adab nya." Kesal bude Dina.


"Bude sudah lah enggak apa-apa. Pelan-pelan mba Haya akan tau, jangan kasar dan terkesan memaksa! Hidayah itu datang nya dengan kelembutan bude, bukan dengan perkataan yang bude ucapkan." Nahla menengahi. Sebab Haya sudah berair mata.


"Nahla!" desis bude Dina dengan sorot mata yang tajam.


"Bude kecewa dengan sikap dan perkataan mu, kamu membela perempuan ini?"


"Mba___, sudah cukup. Mba ini ngomong apa sih?" Ibu Ahmad Faiz keluar dari kamar, dan menemui kericuhan di halaman rumah.

__ADS_1


"Kamu juga dik, mba kan sudah bilang jangan asal saat memilih perempuan untuk Faiz. Mba sayang Faiz, mba hanya nggak pengen Faiz dapat perempuan yang enggak sopan kayak dia! Lagipula entah kenapa, aku melihat dia ini perempuan enggak benar." Bude Dina melirik ke arah Haya tak suka.


"Sudah lah mba. Kita doakan saja semoga pilihan Faiz itu yang terbaik, dan semoga Haya dan Faiz mendapat kebaikan dan kebahagiaan."


"Selalu saja begitu kamu ini dik. Mba begini karena mba enggak punya anak laki-laki, dan mba ini teramat sayang dengan Ahmad Faiz. Jujur mba kecewa sama Faiz, sudah nikah di gerebek, eh dapat istri kalau di bilangin malah sewot."


Bude Dina pergi dari rumah Ibu Ahmad Faiz dengan wajah sebal. Karena jarak rumah ibu antara Ahmad Faiz dan bude Dina tidak begitu jauh, hanya terbatas beberapa rumah dan gedung walet saja.


Faiz yang baru pulang pun merasa heran melihat sang bude yang pulang dengan wajah cemberut dan tidak menyapa nya.


"Assamualaikum...." Ayah Faiz langsung memegang tangan Ibu Faiz. Senyum mengembang di wajah ayah Faiz.


"Walaikum salam" Ibu Faiz sangat senang menyambut kedatangan mereka berdua pulang, pasti menyenangkan melihat kebun.


"Bu, kebun coklat kita di ladang begitu berbuah lebat. MasyaAllah Bu, aku senang banget bu. Mudah-mudahan panen coklat dan sayur nanti membawa berkah buat keluarga kita, Bu?"


"Aamiin____, Ibu senang banget Faiz, ibu bersyukur bisa melihat mu kembali ceria." sang Ibu membelai pipi Faiz.


"Ini semua berkat doa, Ibu."


"Oh iya itu ada makanan, tadi rencana nya Ibu mau membagikan untuk anak-anak yang sedang mengaji di Masjid, namun tidak ada yang mengantar, ibu boleh minta tolong pada Faiz?"


"Ya Allah Bu, tentu boleh lah. Tidak di pinta tolong pun pasti Faiz akan mengantarkan nya ke Masjid. Ayo pak kita ke Masjid sekalian sholat jama'ah disana?"

__ADS_1


"Mandi dulu kali Faiz, bau keringat gini baju nya," Sang ayah berujar sambil berjalan masuk kedalam.


Ibu Ahmad Faiz tersenyum senang. Kehidupan yang bahagia, seperti inilah yang ibu Ahmad Faiz harapkan. Semenjak kepergian Khadijah, Ahmad Faiz selalu tampak murung dan enggan berkenalan dengan perempuan, tapi sekarang cahaya cinta mulai terlihat dari tatapan Ahmad Faiz.


__ADS_2