Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Munajat Cinta


__ADS_3

Dalam keheningan malam Nahla mengelar sajadah memohon ampunan dan Rahmat dari sang khalik. Sesakit apapun Nahla menahan, berkat kuasa sang Ilahi maka sakit itu akan memudar seiring berjalan nya waktu.


"Ya Allah maafkan lah segala salah dan dosa yang telah ku lakukan. Maafkan aku, telah berlaku jahat kepada kedua orang tua ku. Aku benar-benar anak yang jahat, aku manusia yang berlumpur salah dan dosa, Ampuni aku ya Allah____!" Nahla mencoba menahan isakan agar tak terdengar dari luar.


Nahla tau jika sepasang suami istri di luar ruangan pasti sudah tertidur lelap. Hati Nahla kian perih saat mengingat akan hal itu, Nahla tidak seberuntung dalam hal percintaan.


"Aku tidak berniat untuk membuat kedua orang tua ku sedih, namun aku jua tidak mau di jodohkan dengan orang yang tidak ku cintai. Jodoh yang mereka pilihkan adalah lelaki yang kurang baik, maafkan lah aku ya Allah____ Apa ini hukuman atas dosa ku pada kedua orang tua ku, dosa karena melawan perintah mereka. Apa mungkin ada kebaikan dari keburukan yang aku lihat, ya Allah aku berserah padamu."


"Tidak, tapi aku tidak lah salah sepenuh nya. mereka juga salah ya Allah, mereka tidak menanyai ku terlebih dahulu apakah aku mau atau tidak. Mereka asal menjodohkan ku dan akan segera menikahkan ku dengan lelaki tersebut, sedang aku tau bagaimana perangai lelaki calon imam ku itu, aku enggak mau ya Allah. Jika cinta bisa tumbuh dengan berjalan nya waktu, lantas bagaimana dengan karakternya, apakah bisa di ubah?"


"Namun di balik kesalahan yang telah ku ambil. Kali ini kesalahan yang ku pilih jauh lebih buruk dari sebelum nya, aku mencintai suami orang ya Allah, aku mencintai mas Faiz. aku tidak bisa seperti ini terus menerus," Isak Nahla di sela-sela doanya.


"Tolong hentikan perasaan cinta yang jelas-jelas salah ini ya Allah. Aku tidak mau menyakiti hati siapapun, walaupun sesungguhnya tidak lah haram bagi seorang lelaki menikah dengan dua wanita sekaligus, namun aku tidak mau menyakiti hati wanita lain. Aku tidak mau melakukan kejahatan lagi."


"Aku tidak mungkin menggores luka di hati wanita lain demi kebahagiaan ku sendiri, aku tidak mungkin berlaku jahat dengan mencuri milik orang lain ya Allah. Maka dari itu tunjukan lah aku jalan yang baik ya Allah, agar aku dapat segera melupakan mas Faiz."


Nahla menghapus air mata yang menganak di kedua pipi bersih cantik, Nahla merenung sebentar, menyelesaikan munajat cinta. kemudian Nahla menatap plafon rumah dengan perasaan campur aduk.


Sambil menyender di badan ranjang Nahla berpikir esok akan segera mencari tempat kontrak, lebih cepat lebih baik. itu batin Nahla.


"Tapi bagaimana caranya agar aku dapat menemukan kontrakan yang murah namun layak tinggal, sementara aku belum terlalu paham daerah sekitar sini."


Nahla mengusap wajah dan berpikir kembali, Nahla yakin akan ada kemudahan esok, jadi Nahla menutup rasa khawatir dengan perasaan yakin dan merasa Allah akan selalu membantunya.


Jelas teringat dalam ingatan Nahla, dulu jauh sebelum Ahmad Faiz menikah dengan almarhum Khadijah. Ahmad Faiz pernah memberi Nahla sebuah sajadah, saat itu hujan rintik-rintik dan Ahmad Faiz memberi Nahla sajadah untuk berlindung dari rintikan air hujan.


Nahla tersenyum kecil lalu memejamkan mata, berawal dari sana perasaan itu mulai tumbuh dan bersemi. Nahla tidak menyadari jika kebaikan Ahmad Faiz itu berlaku untuk siapapun, Nahla terlalu terbawa perasaan. Terlalu merasa jika Ahmad Faiz menaruh hati padanya.


Nyatanya tak lama dari kejadian itu terdengar kabar bahwa Ahmad Faiz dan Khadijah akan segera menikah. Sudah jelas Khadijah adalah saudara Nahla, Abah Nahla dan Abah nya Khadijah masih satu Ibu. berarti kebaikan Ahmad Faiz itu merata, siapapun yang membutuhkan bantuan, jika bisa dibantu, pasti Ahmad Faiz akan membantu meringankan nya.


Nahla menghembuskan napas kasar sambil tersenyum dan menggeleng.


"Jika bukan jodoh akan ada saja jalan nya, dulu sama mba Khadijah. Bahkan, setelah mba Khadijah wafat pun aku masih saja keduluan mba Haya."


"Tidak apa-apa, mungkin Allah menyiapkan rencana yang jauh lebih baik dari hal ini, aku percaya itu," Nahla melepas mukena dan menaruh nya di samping.

__ADS_1


Begitu pulas Nahla terlelap sampai lupa waktu subuh berakhir berubah menjadi pagi yang cerah. di balik dinding ada Haya yang sudah berkutat dengan aktivitas pagi.


Haya yang mencoba menjadi istri yang everything can do pun sudah siap dengan pekerjaan rumah sampai urusan masakan.


Eits itu juga tak lepas dari Ahmad Faiz yang mengawal istrinya Mengerjakan pekerjaan rumah.


Saat Haya mencuci baju, Ahmad Faiz yang membilas. saat Haya menyapu lantai, Ahmad Faiz lah yang mengepel.


Saat Haya mencoba membuat sarapan, Ahmad Faiz lah orang pertama yang mencicipi bahkan membantu Haya meracik bumbu.


"Rasanya enak, dik." puji Ahmad Faiz mencicipi masakan Haya.


"Jangan lah berkata dusta, mas," Haya berkata merasa di remehkan, padahal sebuah pujian, tapi bagi Haya itu seperti sebuah ejekan.


"Astagfirullahaladzim dik, mas berkata benar adanya, jangan berprasangka buruk tentang mas dong, dik!" nyegir Ahmad Faiz menyakinkan Haya.


"Ya habis bohong nya keterlaluan, bagaimana masakan ini enak sementara aku lupa belum memasukan garam kedalam nya, dan ini aku baru mau memasukan nya." sungut Haya kesal merasa di bohongi oleh Ahmad Faiz.


"Benarkah begitu tapi menurut mas sudah sangat enak," sudah tertangkap basah berkata tidak jujur pun, Ahmad Faiz masih membenarkan diri mencari pembenaran.


Ahmad Faiz terdiam untuk sesaat, lalu memeluk sang istri dari belakang sambil berbisik. "ya sudah masukan garam nya, dik. Jangan tidak di kasih garam, nanti vitamin nya kurang."


"Lain kali tolong bicara yang jujur mas. Jangan berbohong hanya untuk menyenangkan hati istri. Boleh saja sih, menyenangkan hati istri. Malah kayak suatu keharusan menyenangkan hati istri tuh. tapi, untuk kasus ini memang untuk sesaat aku senang tapi selanjutnya aku sedih mas, kenapa mas begitu niat membuat ku senang dan menutupi kenyataan yang sebenarnya."


Ahmad Faiz teringat akan pekerjaan nya saat ini. Bahkan, Ahmad Faiz tidak menceritakan tentang pemecatan yang di lakukan Angel padanya.


Ahmad Faiz tidak ingin melihat Haya bersedih, sudah tentu Haya akan bersedih jika tau Ahmad Faiz di pecat karenanya.


dengan tenang Ahmad Faiz berusaha mencairkan suasana.


"Apa harus aku mengatakan kejadian di kantor? Ah aku tidak akan mengatakan apapun, jika itu hanya menyakiti hati dik Haya. lebih baik aku diam saja tidak mengatakan apapun padanya," Ahmad Faiz membatin.


"Dik____, Pergilah mandi dulu. Biar mas yang nungguin Ayam rica-rica nya," titah Ahmad Faiz sambil melepas pelukan dari belakang yang ia berikan untuk Haya.


"Baiklah___, terimakasih ya, mas?" Haya pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang memang sudah berkeringat sejak pagi tadi.

__ADS_1


Pintu kamar Nahla masih tertutup rapat, Haya mengernyitkan dahi. Mungkinkah Nahla sudah berangkat kerja tapi tidak mungkin, tidak biasanya Nahla bangun kesiangan seperti ini.


namun bagaimana juga Haya perlu masuk kedalam untuk mengambil baju ganti, jadi dengan pelan Haya mengetuk pintu, agar Nahla tidak terkejut.


Tok..


Tok..


Lama tidak di buka..


Tok...


Nahla..


Panggil Haya dengan volume naik satu tingkat.


Klik_____


Nahla membuka pintu dengan cepat dan jelas terlihat Nahla baru bangun tidur.


"Maaf mba aku kesiangan," lirih Nahla kikuk.


"Tidak apa-apa, Nahla. aku cuma mau ambil baju ganti, aku merasa gerah pengen segera mandi."


"Silahkan____ masuk mba." Nahla membuka pintu lebar, dan dapat terlihat dengan jelas bahwa Nahla memang benar-benar baru bangun dari tidur. Terlihat selimut yang belum di rapikan, dengan cepat Haya menangkap Nahla beberes di kamar dan menunggu antrian untuk mandi pagi.


"Apa kamu sakit, Nahla?" Haya memegang kening Nahla.


"Tidak, mba. Aku baik-baik saja. Mungkin aku terlalu lelah karena baru masuk kerja kemarin ya kan?" terang Nahla.


"Benar, kamu baik-baik saja."


Nahla tersenyum dan mengangguk.


"Baik lah, aku mau mandi dulu?"

__ADS_1


Haya pergi meninggalkan Nahla yang mematung di atas ranjang tempatnya tertidur, membereskan selimut dan seperai.


__ADS_2