Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kejutan paling menyakitkan


__ADS_3

Klik____


Haya yang lepas mandi, membuka lemari untuk berganti pakaian.


Haya menarik baju gamis berwarna hijau mint.


Bluk


Sebuah plastik berwarna pink jatuh, Haya memandang plastik, kemudian dengan cepat mengambilnya. Haya penasaran, bungkus apa kiranya.


"Mukenah___," Haya membuka dan mengambil mukenah berwarna pink muda tersebut, dan menjembreng nya hingga terlihat begitu cantik mukenah berwarna soft pink tersebut.


Bluk


Sebuah kertas jatuh kelantai.


"Punya siapa ini?" Haya perlahan membuka kertas yang di lipat tersebut.


Untuk istriku yang cantik


I love you


Semoga kita selalu bersama Fii Dunya wal akhiroh


Dari suami mu yang tampan, Ahmad Faiz.


Deg..


Seperti dipukul benda berat dada Haya. Kenapa terasa sangat menyedihkan!


Tes


Tes


Hahaha_____ Ada tawa yang beriring dengan air mata bahagia. Sungguh hal sekecil itu bisa membuat Haya menangis bahagia.


Air mata jatuh tanpa di pinta. Haya meremas mukenah berwarna pink tersebut dengan hati yang teramat terluka.


"Jadi, mas mau memberikan aku sebuah kejutan!" Haya menghapus air matanya sendiri dengan terburu-buru.


"Kejutan macam apa ini," Haya tersenyum dan menerka-nerka dengan rasa penasaran.


"Tapi tidak begini caranya, jangan buat aku khawatir mas!" Haya mencebik kesal bercampur sebal.


"Awas kalau mas Faiz pulang, aku akan marah untuk yang pertama kalinya. Mas Faiz harus bertanggung jawab atas kesedihan dan kecemasan ku selama ini!" Gumam Haya melipat kertas dengan rapi.


Haya mengembalikan mukenah kedalam lemari.


"Baiklah, aku akan pura-pura belum mengetahui, hadiah yang mas berikan untuk ku," Haya gegas menuju ruang tamu. Ada Bu Malik dan pak Malik yang sedang duduk menatap luar rumah dengan tatapan penuh harapan.


Baru saja Haya akan mendudukkan bokong di kursi, tepat di samping Bu Malik dan pak Malik, eh ponsel Haya berdering.


Nanana


Nanana


Evan


Sebuah nama yang Haya harapkan, yah ada harapan di nama itu, berharap ada kabar baik dari sang pemilik nomor telepon.


"Mas Evan____!" Haya begitu antusias menjawab telepon Evan. Haya berharap mendapat kabar baik, mengenai kabar Ahmad Faiz.


Bahkan Haya sudah tau, jika semuanya adalah hanya sebuah kejutan.


"Hallo, assalamualaikum mas Evan?" Sapa Haya begitu antusias.


"Walaikumsalam Haya"


"Gimana mas Evan, apa sudah ada berita tentang mas Ahmad Faiz?" Tanya Haya tak sabar.


"Haya, bisa tidak kamu datang ke daerah cempaka, dekat dengan hutan buatan, tepatnya di proyek pembangunan jembatan?" Evan mengungkapkan sebuah kalimat yang Haya tak paham.


"Hah.. untuk apa?" Tanya Haya.


"Haya, bisa tidak. Ku harap bisa," jelas Evan.


"Memang nya ada apa, mas?"

__ADS_1


"Segera datang, aku tunggu kamu disini. Ini tentang Ahmad Faiz."


Tut...


Panggilan terputus.


Haya pun berlari, begitu panik.


"Haya, mau kemana kamu, nak?" Teriak Bu Malik melihat Haya berlari tanpa mengucapkan salam.


"Sebentar, Bu. Haya akan menemui mas Faiz," Haya kembali berlari untuk mencari ojek.


Dug____dug___


"Mang, bisa antar aku ke daerah cempaka?" Haya menghampiri kang ojek di pengkolan. Tak mungkin menunggu taksi onlien itu akan membutuhkan waktu untuk menunggu.


"Bisa neng, mari saya antar," Haya langsung naik di jok belakang motor, dengan jantung yang berdegub kencang, Haya mencoba menetralisir perasaan yang dag Dig dug.


Perasaan lama, dan begah, perjalanan kurang lebih satu jam lebih, dari rumah Haya menuju kawasan cempaka.


Sepanjang perjalanan Haya merasa resah dan gelisah membungkus hati dan pikiran.


Hati Haya semakin tidak enak, saat melihat kerumunan orang yang begitu banyak. Ada yang menagis, ada yang melongo, ada yang biasa saja.


"Apa yang terjadi?" Haya bicara sendiri dengan hati yang bertanya-tanya.


"Neng uang nya mana?" Tukang ojek meminta bayaran nya. Haya mengambil uang dari saku baju, dan langsung memberikan pada tukang ojek.


"Neng ini kembalian nya," teriak mamang ojek, karena Haya berlari meninggalkan mamang ojek begitu saja tanpa pesan. Mamang ojek hanya menggelengkan kepala heran. Tapi, kang ojek juga penasaran dengan tempat yang begitu ramai.


Haya berlari menyusuri riuhnya orang yang sekedar menonton, atau orang yang sedang berduka.


Tujuan Haya adalah Evan, dimana Evan berada?


Mata Haya mencari-cari keberadaan Evan, Haya melihat kesekeliling area namun tak mendapati keberadaan Evan.


"Dimana kamu, mas Evan?" Haya masih berusaha mencari dimana Evan berada. Matanya bak seekor elang, terus menelisik dan mengawasi.


Hem..


Haya mendengkus, lalu beralih ke arah dekat jembatan, ramai. Itulah suasana, ramai sekali.


Perasaan Haya jadi tak tenang. Sendi di pergelangan kaki terasa lemas.


"Tempat apa ini!" Haya berusaha kuat dan mencari keberadaan Evan.


"Itu mas Evan."


Haya berlari mendekat ke arah Evan yang sedang duduk tak jauh dengan mandor, Haya diam terpaku.


"Mas Evan," sapa Haya lirih.


"Ini dompet, kami temukan berada di antara reruntuhan bahan cor." Evan memberikan dompet yang ada gambar dirinya dan Ahmad Faiz, gambar yang sudah rusak oleh air.


Sebuah alat berat mendapatkan dompet itu, ada banyak sepatu boot yang di temukan, dan entah itu milik siapa saja.


"Apa maksudnya!" Haya terkejut bukan main.


Pikiran nya menebak, otaknya menerawang jauh, hatinya berdebar-debar lemas, bahkan tulang nya terasa tak berada pada tempat nya.


"A___ pa Mak___sud mas Evan?" Haya benar-benar sudah kehilangan sebuah rasa sedih.


"Ahmad Faiz bekerja di proyek pembangunan ini, dan Ahmad Faiz ikut dalam pengerjaan. Ahmad Faiz ada saat jembatan ini runtuh. Dan kemungkinan Ahmad Faiz ada diantara beberapa jenazah yang telah di temukan." ucap Evan pelan dan tenang, beraharap Haya bisa menerima kabar ini.


"Tidak mungkin_____!" Mata Haya berkaca-kaca menatap Evan tak percaya.


"Bohong kamu, mas!" Teriak Haya tepat di depan Evan.


"Haya itu kenyataan nya. Ini mandor Ahmad Faiz. bahkan, itu uang Ahmad Faiz gajian kemarin masih ada di dompetnya kan, itu benar dompet Ahmad Faiz kan, dan itu motornya," sebuah motor terparkir tidak jauh dari mess tempat tukang bangunan berada.


Evan menunjuk sebuah motor yang masih terparkir cantik.


Motor model jaman dulu, motor yang menjadi saksi awal Haya mendekati Ahmad Faiz demi sebuah ambisi.


"Tidak____Mungkin____" pekik Haya bergetar.


"Ini tidak mungkin."

__ADS_1


"Sungguh tidak mungkin."


"Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau. Ini hanya mimpi, ini tidak mungkin terjadi. Kalian semua menipuku, katakan ini hanya guraun, bukan fakta. Cepat katakan!" Haya teriak bagai orang kesurupan.


"Haya, tenang Haya." Evan berusaha menenangkan Haya yang terus memberontak.


"Lepaskan aku, lepaskan aku, Evan!" Haya mendorong Evan yang berusaha menenangkan Haya.


"Haya... Kamu tidak sendirian. Banyak dari mereka yang juga kehilangan orang yang mereka sayangi, kamu tidak benar-benar sendirian, ada mereka juga. Kamu harus sabar Haya."


"Diam____, aku benci ini semua. Aku tidak suka ini. Aku tidak mau seperti ini," Haya terduduk di tanah yang belum sepenuhnya kering, masih terlihat lembab dan basah.


Arkh___


"Ini tidak adil, ini sungguh tidak adil bagiku."


"Aku ingin mati saja, tidak ada gunanya aku hidup, orang yang ku cintai telah mati. Dialah sumber kekuatan ku, kenapa dia harus pergi, jangan ambil suamiku dariku, aku mohon!"


"Haya tenang____, Calm down please."


"Mas Faiz____!" Teriak Haya sekencang-kencang nya. berharap Ahmad Faiz mendengar teriakan nya.


"Mas Faiz, dengar kan aku, aku ada disini, mas. Aku datang menjemputmu. Ayo kita pulang, jangan lakukan ini padaku, mas. Aku tidak sanggup."


"Haya____" Evan berusaha menenangkan Haya yang begitu terpukul akan kabar ini. Evan tidak menyangka jika bakal seekpresif ini yang Haya tunjukkan.


Ya Allah ini berat sekali..


Aku tidak sanggup, ya Allah.


Dunia ku gelap, mas Faiz. ...


Mas Faiz ...


Mas Faiz......


Dengarkan aku, tolong dengarkan aku!


Tidak.. tidak, ini hanya mimpi, yah ini hanya mimpi, benar kan ini hanya mimpi.


Haya menepuk pipinya sendiri.


Tidak mungkin____, air mata Haya jatuh berurai lagi dan lagi.


Tidak mas Faiz. Aku mohon, aku akan menjemput mu, aku akan datang padamu. Jangan biarkan aku seperti ini?


"Haya____! Teriak Evan saat Haya melompat dari atas menuju sungai, untuk mencari Ahmad Faiz.


"Hey lihat itu... Itu!" teriak warga yang melihat Haya melompat kedalam sungai.


"Hey ada wanita yang melompat kesungai?" Warga ada yang melihat kekonyolan Haya, dan sangat menyayangkan sikap Haya.


"Mas Faiz kamu dimana?" Haya menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari keberadaan Ahmad Faiz.


"Mas, aku ada disini untuk menjemput mu. Kita pulang, jangan disini lagi, disini dingin... "


Ada beberapa orang yang membawa Haya menuju ke atas permukaan, karena arus yang deras itu sangat berbahaya bagi seorang wanita tanpa keahlian seperti Haya.


"Lepaskan aku!" Teriak Haya tak mau di ajak naik keatas permukaan sungai.


"Lepaskan aku, aku mau mencari suami ku. Kalian tidak bisa melakukan ini padaku," teriak Haya meronta dan memberontak minta di lepaskan.


"Tidak, mba. Biar kami saja yang mencari, mba menungguh hasil dari kami saja."


"Tidak, lepaskan aku! Aku tidak mau mas Faiz di gigit ikan atau hewan pemangsa lain nya. Disana pasti sangat dingin, mas Faiz pasti sangat ketakutan di dalam sana, segera bantu dia."


"Lepaskan aku!"


Arkh...


"Sabar mba!"


"Aku mau mencari suami ku, lepaskan aku. Aku mohon lepaskan aku, dengarkan aku mau mencari keberadaan suamiku!"


Arkh..


Jerit Haya sekali lagi.

__ADS_1


Gelap gulita, Haya memejamkan mata karena tak sadarkan diri. Kepedihan begitu menghimpit hati, sehingga Haya tak kuasa untuk membuka mata. Semua terasa gelap tanpa warna.


__ADS_2