
"Loh, Kenapa masih monyong, belum bobok juga?" Ahmad Faiz menaruh bantal dan selimut di atas ranjang, lalu berjalan mengambil sajadah.
Haya masih memperhatikan Ahmad Faiz berlenggang kesana kemari tanpa bertanya dan tanpa berniat menjawab pertanyaan Ahmad Faiz. Rasanya males dan pengen ngambek. Apa, pengen ngambek? Iya benar, Haya sedang pengen di bujuk dan di rayu.
"Mau, ikut?" Tanya Ahmad Faiz sambil menaikan dagu sebagai isyarat sebuah pertanyaan.
Haya menggeleng pelan, dan tersenyum..
Lalu Ahmad Faiz memulai Sholat malam di tengah kesunyian malam disaat kebanyakan orang tengah terlelap oleh indah nya alam mimpi. Namun Ahmad Faiz malah gencar menambah rakaat dalam sholat malam yang di kerjakan.
Manambah sinyal-sinyal cinta kepada sang khalik. Sebab tiada keindahan yang hakiki tanpa di landasi kecintaan terhadap ilahi Robbi.
Entah doa apa yang di munajat kan oleh Ahmad Faiz? Haya tidak mau menganggu dan tidak mau telalu kepo tentang urusan pribadi Ahmad Faiz. Haya sadar siapa dirinya dan siapa Ahmad Faiz? Berkali-kali Haya merasa sakit hati, namun bukan karena perlakuan buruh Ahmad Faiz, melainkan kesakitan yang dibuatnya sendiri.
"Semakin kamu berlaku baik padaku, hatiku semakin sakit, mas." Batin Haya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku enggak boleh menangis? Aku enggak boleh terlihat lemah di depan mata mas Ahmad Faiz, ini kesalahan ku. Semua ini salahku," batin Haya dengan mengenggam jemari erat-erat.
Srek____
Ahmad Faiz sudah selesai sholat malam pun mendekati Haya.
"Kamu tau dik, apa doa di dalam sujud mas malam ini, dik?" Bisik Ahmad Faiz dari belakang tepat di telinga Haya, karena Haya berusaha berbaring dan menghadap ke kiri, untuk tidak terus menerus memperhatikan Ahmad Faiz. Namun hembusan nafas Ahmad Faiz membuat hati Haya bergetar hebat.
"Mas ingin kita bisa selalu bahagia, dan kita bisa selalu bersama di dunia sampai Akhirat." Lirih Ahmad Faiz, sambil menarik selimut mencoba menyelimuti Haya.
Haya memejamkan mata mencoba menahan sesak yang merasuk di dalam dada.
"Ya Allah apa aku salah, jika aku mulai menaruh harapan pada seorang lelaki yang akan ku jadikan Muhallil ku ini?" Hati Haya membatin dan meronta.
Sebagai seorang perempuan biasa, Haya bisa saja akan jatuh Hati, jika sikap dan perlakuan Ahmad Faiz begitu manis dan menarik Hati.
"Kenapa aku, ini?" Haya membatin penuh kebimbangan. Ingin sekali Haya teriak sekeras-kerasnya agar beban di hati hilang dan sirna.
"Dik____, kenapa bengong? Bagaimana kalau malam ini mas meminta hak mas sebagai seorang suami?" Ahmad Faiz menyamping menghadap Haya yang sedang tidur dengan miring menghadap dinding tembok.
Sssst
Bak burung Hantu, Haya langsung menoleh tanpa aba-aba. Sebelah alis Haya mengernyit, tapi apakah kalian tahu jauh di lubuk hati Haya merasakan tubuh nya bergetar, lemas, mulas, jantung yang berdetak hingga mengeluarkan keringat, badan terasa panas dingin.
Ingin, tidak, ingin, tidak, Haya juga perempuan normal, begitu juga dengan Ahmad Faiz, apalagi itu halal lagi toyiban.
Mata Haya memancarkan keraguan. Ada wajah yang berubah pias dan bimbang.
"Tidak___, mas Hanya bercanda. Mas akan meminta hak mas, jika dik Haya sudah siap dan Ikhlas dengan pernikahan kita ini. Mas juga masih pengen dik Haya mengenali sikap dan sifat mas yang sesungguh nya," Ahmad Faiz bersemu merah, sambil menutup wajah Haya menggunakan selimut.
"Apaan sih, mas! Gak lucu," Lirih Haya sambil menyibak selimut yang menutupi area wajah mulus nya.
Cup____ Emuah
Sebuah kecupan mendarat di kening Haya, sesaat Haya terdiam menerima kecupan pertama setelah pernikahan di sahkan, dari sang suami. Apalagi jarak mereka terlalu dekat dan ah__ sudahlah, rasanya Haya seperti tersengat aliran listrik. Diam dan membeku.
"Sabar ya___, Tunggu sampai dik Haya benar-benar ikhlas bisa menerima mas dengan sepenuh hati," bisik Ahmad Faiz dan pergi keluar dari kamar.
Haya merenggut sambil memilin ujung selimut. Jujur saja Haya merasa gerogi dan malu bukan main.
__ADS_1
Benar ini bukan yang pertama bagi Haya maupun Ahmad Faiz. Tapi bukan kah Haya hanya melakukan hubungan sedalam ini hanya dengan Niko? Haya benar-benar merasa ingin pingsan dibuat Ahmad Faiz.
"Kenapa aku tidak senang, saat mas Ahmad Faiz mengatakan mas Faiz akan mendapatkan hak nya sebagai seorang suami setelah aku siap lahir dan batin. Bukan kah ini rencana ku dari awal? Bukan kah memang ini yang ku inginkan? Tapi kenapa aku tidak menyukai nya. Kenapa aku tidak mau ini sampai terjadi?" Haya mendesis lirih. Ada kekhawatiran disana.
di balik dinding tembok Ahmad Faiz sendiri masih bimbang, akan kah dirinya benar-benar akan melabuhkan hati pada seorang perempuan yang baru di kenal nya belum genap satu bulan itu? Hati Ahmad Faiz menerawang, namun mencoba menimang bahwa Haya adalah jodoh yang Allah kirim secara tiba-tiba.
"Aku yakin Allah akan selalu memberikan yang terbaik pada ku." lirih Ahmad Faiz pelan dan nyaris tak terdengar penuh dengan harapan.
Malam itu di habiskan oleh pikiran masing-masing. Mata terpejam namun kenyataan nya pikiran menerawang kemana-mana.
Allahu Akbar___ Allahu Akbar___
Alarm ponsel sebelum masuk waktu subuh bersahut-sahutan dengan kumandang adzan surau yang tak jauh dari rumah Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz masuk kedalam kamar.
"Mas mau sholat jamaah di Masjid, apakah dik Haya mau ikut?" Tanya Ahmad Faiz sebelum benar-benar keluar dari kamar. Saat akan pergi sholat berjamaah di Surau di dekat rumah. Ahmad Faiz menyukai perkumpulan dengan orang-orang yang Sholeh.
"Tidak mas, aku sholat di rumah saja."
"Ya sudah kalau begitu. Mas berangkat ke masjid dulu ya sayang, Assalamualaikum?" Pamit Ahmad Faiz dengan senyum manis.
"Walaikum salam____" jawab Haya malu-malu. Sayang____,Ah sayang. Haya begitu bahagia di panggil sayang. Haya tersenyum kecil menyadari kalimat sayang.
Haya merasa mereka ini sudah menikah tapi kayak orang pacaran untuk pertama kali. malu-malu meong dan ya ampun seorang Haya tersipu malu oleh rayuan lelaki macam Ahmad Faiz, ini sungguh luar biasa.
Semalaman tidur kayak tidur ayam, enggak nyenyak dan sering ke bangun. Haya merasa sedikit pusing.
Selesai Sholat subuh, Haya keluar dari dalam kamar, Bu Malik sudah tampak berkutat di dapur di temani sang suami pak Malik. Mereka tampak romantis padahal mereka bukan anak muda lagi, tapi lihat lah rona Cinta jelas tergambar di sana, Haya jadi baper di buat nya.
Pak Malik membantu menaruh setiap kue yang sudah di cetak oleh Bu Malik, terkadang pak Malik mencuci piring yang kotor di tempat pencucian piring, sungguh romantis.
"Ibu lagi ngapain?" Haya mendekat ke tempat Bu Malik dan pak Malik berkutat.
"Eh Haya sudah bangun nak, sini___, Bantuin Ibu? Ibu mau bikin Nastar buat oleh-oleh kalian jika kembali ke kota."
"Ya Allah Bu, enggak usah Bu. Kan jadi ngerepotin Ibu sama bapak kan?"
"Enggak apa-apa ibu senang. Pokok nya Ibu bakal buatin banyak makanan ringan dan cemilan, jadi kalian disana enggak perlu beli lagi, dan yang paling penting buatan Ibu jelas lebih terjamin kualitas sehat."
"Terimakasih banyak ya, Bu?" Haya memeluk bahu Bu Malik, penuh rasa syukur.
"Iya sama-sama," Bu Malik melihat Haya yang masih setia dengan jilbab instan pemberian nya.
"Sudah sholat subuh?" Selidik Bu Malik.
"Sudah dong, Bu."
"Faiz mana?"
"Sholat ke Masjid, Bu."
"Hem belum pulang? Ya sudah nanti kalau Zein pulang bilang sama Ibu ya? Sekarang nak Haya bikin bulatan bahan luar dan di isi sama selai nanas ya, biar bapak yang panggang, ibu mau ke kamar mandi dulu?"
"Okay, Bu," Haya mengacungkan jempol, tanda paham dan akan mengerjakan persis dengan apa yang Bu Malik perintahkan.
__ADS_1
Seumur-umur Haya juga enggak sempat dan tidak mau belajar cara membuat kue, kenapa harus belajar membuat? Jika membeli di toko ternama saja dan dengan harga yang mahal rasanya sudah sangat enak.
"Assalamualaikum___" Suara Ahmad Faiz terdengar di balik pintu.
"Walaikum salam"
"Lagi bikin apa, pak?"
"Kue, kesukaan mu lah, is"
"Mana ibu, pak?" Ahmad Faiz tak mendapati sang Ibu, pak Malik mengedipkan mata, kesebelah kamar mandi, tampak Bu Malik baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Enak enggak, Bu?" Tanya Faiz sambil mencomot satu kedalam mulut.
"Yang pasti endulita, sayang."
"Kalau gitu Faiz mau cicipin ya, Bu?"
"Boleh banget, di habiskan juga boleh," Bu Malik mengangkat kue dari pangang an dan mematikan oven yang sudah sangat panas.
Klek...
Haya memperhatikan Ahmad Faiz yang begitu terlihat sudah terbiasa berada di dapur. Sebuah teko Ahmad Faiz beri beberapa sendok gula dan teh, air yang sudah mendidih pun Ahmad Faiz tambahkan, aroma segar teh menguar seperti enak dan segar.
"Bau teh saja seger nya kayak gini" Haya membatin.
Pak Malik duduk di kursi rotan, dan di susul Bu Malik dengan sepiring kue basah yang baru saja di angkat dari kukusan. Seperti bakpao dan kue lapis serta kue kering yang sudah siap di masukan di dalam toples.
Ahmad Faiz pun membawa teko berisi teh dan beberapa gelas di atas nampan, lalu menaruh di atas meja. Dengan cekatan Ahmad Faiz menuang teh kedalam empat gelas, Haya masih bengong melihat keadaan, kenapa terbalik, bukan kah harus nya dirinya yang menuang dan melayani keluarga tapi kenapa malah Ahmad Faiz?
"Ayo di minum teh nya nak Haya?" Titah Bu Malik.
"Iya, Bu," jawab Haya pelan.
"Di makan juga kue kukus nya, enak banget kue buatan ibu mah," pak Malik menawari sambil mengigit satu buah bakpao berisi sayuran yang terlihat enak dan lezat.
"Faiz, ibu mau bertanya? Tapi tolong di jawab jujur."
"Apa Bu___?" Ahmad Faiz mengambil sebuah kue lapis yang legit dengan warna yang cantik dan rapi.
"Kamu kalau pagi memang enggak pernah mandi besar? Kok ibu enggak pernah lihat ya?" Selidik Bu Malik penasaran.
Hem____hem___
Pak Malik meneguk teh hangat sedikit demi sedikit, sambil melirik sang istri yang menatap kedua anak nya yang sedang saling diam terpaku.
Hem, Haya merasa gigitan kue menyelinap kedalam tenggorokan, perlahan Haya menyeruput teh.
"Faiz Coba jawab ibu?" Bu Malik penasaran.
Baik Ahmad Faiz maupun Haya hanya diam dan menunduk, entah kalimat apa yang akan mereka ucapkan?
"Ibu lihat Haya sedang tidak kedatangan tamu bulanan, jadi ibu penasaran saja masa iya sih pengantin baru enggak______, Ah pokok nya ibu mau tau kenapa? Jika ada sesuaatu kan Ibu bisa bantu, kalian disini hampir dua minggu dan kalian_____? "
"Ibu___, kami masih belajar untuk tahap saling mengenal lebih dalam lagi Bu," lirih Haya, mencoba menyelamatkan Ahmad Faiz dari cercaan sang Ibu.
__ADS_1
"Baiklah____, Tapi Kamu normal kan Faiz? maksud ibu jika ada apa pun itu tolong katakan, kita satu keluarga jangan ada yang di tutup-tutupi ya sayangnya ibu," Sang ibu menatap tajam ke arah Ahmad Faiz yang masih mengenggam kue lapis tak berniat mengigit apalagi mengunyah.
Ahmad Faiz tergagap oleh pertanyaan sang Ibu. Haya sendiri terkejut dengan pertanyaan yang Bu Malik lontarkan, Haya menunduk menahan malu dan gelisah.