
"Ini teh nya, silahkan di minum?" Haya memberikan segelas teh hangat. Setidaknya dengan minuman hangat dapat menghangatkan Nahla, yang mungkin kedinginan. Karena udara diluar pasti sangat dingin. Haya lalu duduk dan memandang wajah Nahla intens.
"Kenapa kamu bisa sampai disini. Di tengah malam. Lagian kamu kan bisa telepon dulu, jika kamu mau datang kesini. Aku dan mas Faiz pasti akan berusaha menjemput mu."
"Maaf mba. Semua ini dadakan, tidak ada rencana sama sekali. Semua terjadi begitu saja."
"Maksud mu gimana, aku tidak mengerti," Haya kembali menoleh dan menatap Nahla yang menunduk.
"Aku pergi dari rumah, mba. Aku tidak ijin keluar rumah."
"Apa___, kenapa kamu lari dari rumah Nahla? Kamu pasti membuat semua orang cemas dan khawatir. Kamu tidak bisa berbuat hal ini. Memangnya kenapa sampai kamu nekat pergi dari rumah?"
"Aku tidak mau di jodohkan, mba."
Mata Nahla terlihat berkaca-kaca. Nahla merasa takut jika Haya menghubungi kedua orang tua Nahla. Dan bisa jadi kedua orang tua Nahla langsung menjemputnya.
Membawa Nahla pulang dan langsung menikahkan nya. sungguh Nahla tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Di jodoh kan, memang masih jamannya apa di jodoh-jodohkan. Bukan kah sekarang semua serba modern, lagian jarang jaman sekarang anak menurut pilihan orang tua, yang ada orang tua nurut pilihan anak, itu kebanyakan yang terjadi."
"Sebenarnya di tempat kami tinggal, masih banyak yang masih di jodohkan. Bukan tradisi tapi mungkin sudah jadi kebiasaan, lagi pula memang selalu begitu. Terkadang kita harus mengiyakan, walau hati menolak. Tapi, banyak juga yang setuju akan pilihan orang tua," jelas Nahla.
"Lalu kenapa kamu menolak, dan tidak mengiyakan?" Haya penasaran akan jawaban Nahla. Kenapa Nahla menolak di jodohkan? Bukan kah setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak nya.
"Jika aku tidak mencintai lelaki itu, mungkin itu bukan sebuah alasan kan, mba. Karena cinta bisa saja tumbuh seiring nya waktu berjalan. Namun aku dan lelaki yang di pilih kan oleh Abah itu enggak sejalan mba. Kami berbeda prinsip." Terang Nahla.
"Kamu kan belum menjalani nya Nahla, bagaimana mungkin kamu bisa tau jika kalian tidak sepemikiran?" Selidik Haya.
"Aku dan lelaki itu sering bersama dalam acara-acara yang sering di adakan di pesantren. Aku sering mengajukan usul dan lelaki itu pun sama.
dan aku enggak suka sikap dan sifat lelaki itu mba. Lelaki yang di pilihkan Abah lebih bersifat possesif dan suka mengatur. Apalagi sikap mau menang sendiri dan sombong." Nahla menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Yang sabar ya Nahla, tapi menurut ku cara yang kamu pilih ini pun salah. Jika orang tua mu tau kamu kabur kesini secara otomatis mas Faiz dan aku akan kebawa-bawa. Bukan kah kamu wanita cerdas dan tau hukum Agama, kenapa kamu melakukan ini Nahla?"
"Aku bingung mba. Aku enggak tau mau kemana lagi? Tujuan ku hanya satu bersembunyi disini, sampai suasana terasa dingin dan tidak panas seperti saat ini? Aku mohon mba, ijinkan aku untuk sementara tinggal disini?"
"Apa tidak bisa di bicarakan secara baik-baik dengan orang tua mu, Nahla. Aku yakin lama-lama mereka akan luluh saat mendengar ungkapan hati mu, Nahla. Aku yakin semua orang tua hanya menginginkan anak nya bahagia, jika anak nya tidak bahagia, masa iya mau di paksa."
"Apa mba Haya enggak suka aku bertandang silaturahmi kerumah, mba Haya?" Nahla merasa cemas dan khawatir dengan ucapan yang Haya lontarkan, seolah-olah Haya menyalahkan sikap yang Nahla ambil.
"Bukan begitu Nahla. Kamu jangan salah paham, mana mungkin aku menolak permintaan mu, lagipula selama aku bisa membantu, kenapa aku menolak," Haya menghela napas kasar. Haya merasa ganjal dengan ucapan Nahla. Entah lah Haya merasa aneh saja, tidak seharus nya Haya berkata dan bersikap demikian, namun itu lah pendapat Haya.
Selain dari itu juga, kamar di rumah mungil ini hanya ada satu. Bagaimana mungkin bisa menampung orang lain. Apalagi antara Nahla dan Ahmad Faiz itu tidak lah ada hubungan darah, hanya sebatas kerabat dekat saja.
Haya mencoba berpikir mencari solusi di balik kesulitan nya malam ini. Tidak mungkin Haya mencari penginapan atau kontrakan malam-malam begini, itu akan menambah kesan jika Haya merasa terusik oleh kehadiran Nahla dan itu tidak lah benar.
"Nahla tunggu sebentar ya? Aku mau masuk kedalam kamar, kamu tunggu disini?" Ucap Haya. Dengan tega dan kasihan Haya akan membangunkan Ahmad Faiz dan meminta solusi darinya, Haya kesulitan jika harus memikirkan masalah ini seorang diri.
Klik..
"Mas bangun___!" Haya berkata lirih sambil mengusap anak rambut di wajah Ahmad Faiz.
Dua bola mata indah membuka lebar,ukiran senyum terbit di balik bibir menawan milik Ahmad Faiz. Hati Haya seketika bergetar memandang senyuman Ahmad Faiz yang mempesona.
Astagfirullahaladzim____
Sebuah mata batin Haya terus berucap. Haya khawatir menyukai senyum itu dan Haya cemas jika selalu merindukan senyum itu.
Haya takut kehilangan senyum manis itu. Senyum yang selalu menghiasai wajah Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz mendogakkan wajah masih dengan senyum yang sama.
"Ada apa, dek?"
__ADS_1
"Itu mas__"
He__he__
Senyuman Ahmad Faiz membuat Haya bingung. Ada apa dengan Ahmad Faiz, Apa Ahmad Faiz mengigau, atau malah sedang bermimpi, belum benar-benar bangun dari tidur.
"Katakan saja dek. Jangan malu-malu," lirih Ahmad Faiz dengan mata sedikit terbuka.
Haya membuka mata lebar. Jangan-jangan Ahmad Faiz salah sambung. Jangan sampai Ahmad Faiz berpikir yang macam-macam. Dasar!
"Mas buka mata nya?" Pinta Haya lirih.
Huam___
"kenapa sayang?" Jawab Ahmad Faiz.
Haya tersipu malu-malu. lalu sedetik kemudian Haya sadar, di depan ruang tamu, Nahla sedang menunggunya.
"mas, bangun____!" Haya mengusap lengan Ahmad Faiz.
he_____he_____
Ahmad Faiz membuka mata. dan tersenyum kearah Haya.
"Apa dik Haya sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Ahmad Faiz mulai menggoda. Dan pasti ini Ahmad Faiz salah sangka. pasti Ahmad Faiz mengira Haya pengen di peluk. Haduh____
"Ada tamu di depan?" jawab Haya.
Ahmad Faiz mengerutkan dahi. Tamu dimalam hari, ngigau kah Haya.
"Ada Nahla di depan." jelas Haya melihat ekpresi Ahkad Faiz. Haya membalas tatapan mata Ahmad Faiz yang memancarkan cahaya.
__ADS_1
"Nahla____!" Ahmad Faiz tidak begitu percaya dengan ucapan Haya. Untuk apa Nahla datang ke kota? apa ada hal yang begitu penting, sehingga nahla mendatanginya ke kota secara langsung.