Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Ada bahagia terbungkus duka


__ADS_3

"Dear, ini apa maksudnya?" Angel melempar kertas tepat pada muka Vincent. wajah Angel begitu murka, hingga tampak memerah bergurat.


"Apa sih, baby!" jawab Vincent merasa tidak bersalah, tidak tau menahu. dan yang paling penting tak mengerti arah pembicaraan Angel.


"Lihat brosur itu! Baca." Sentak Angel. Vincent mengambil brosur yang terjatuh di lantai, lalu membacanya sampai bawah. Vincent tersenyum smirk.


"Itu hanya pemberitaan konyol. Mungkin pemberitaan ini di lakukan oleh orang yang tidak senang dengan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Ini hanya kabar hoaks, jangan terlalu diambil pusing. Sudahlah jangan mengurusi hal bodoh seperti itu!"


"Kamu yakin itu hanya issue. kamu benar-benar yakin!" Angel menatap tajam Vincent, bak seekor singa yang sedang kelaparan, mengeluarkan taringnya hendak menerkam Vincent hidup-hidup.


"Kenapa aku harus berbohong. Kamu wanita yang sungguh sempurna, tidak ada cacat nya. kenapa aku harus mencari perempuan penghibur, hanya untuk sekedar menyenangkan syahwatku. itu tidak mungkin sayang!" Vincent mencoba menenangkan Angel.


"Dan jika berita ini benar, apa yang akan kamu lakukan?" Angel masih merasa tidak percaya.


"Itu tidak mungkin baby. Sungguh itu berita hoak, itu tidak benar, jangan mudah percaya dengan berita tidak benar seperti itu. Berita seperti itu hanya akan membuat hubungan kita renggang sayang. Sudahlah, jangan membahas masalah gak penting itu lagi!"


Hah____


Angel mengambil kertas dari atas meja, lalu melempar kertas yang sudah di gulung tersebut ke sembarang arah. Hati Angel benar-benar terbakar api emosi.


Dengan langkah penuh amarah, Angel pergi meninggalkan Vincent dengan menatap Angel tak percaya.


"Angel, mau kemana kamu?" Teriak Vincent.


Angel tidak menggubris panggilan vincent, meskipun Vincent bilang tidak melakukannya, tapi hati Angel sungguh ragu akan kejujuran Vincent.


Angel merasa Vincent kali ini berkata dusta. Angel menatap nama dan alamat lokasi kejadian, yang telah Angel screenshoot dari ponsel miliknya.


Angel hampir meledakkan amarah, Angel berusaha menenangkan diri dengan terus bermonolog dengan diri sendiri. Tak ada guna marah pada Vincent tanpa ada bukti.


"Okay.. tenang Angel, tenang. Bisa saja ini berita yang tidak benar. Bisa saja ini hanya sebuah trik untuk membuat rumah tangga mu hancur!" Angel menarik napas lalu kemudian menghembuskan nya.


"aku harus mencari cara! yah, aku harus menyelidiki ini semua. aku tak boleh lengah, bisa saja Vincent memang benar-benar melakukan nya, Arkh______!" Angel berteriak didalam mobil miliknya sambil terisak pilu.


****


"Mba____!" Nahla mengoyangkan tubuh Haya, namun tidak ada respon. Haya sama sekali tak bergerak.


"Mba Haya____, bangun mba!" Nahla kembali memanggil dan mencoba membangunkan Haya.


Mba..


Mba...


"Ada apa, Nahla?" Pak Malik yang baru selesai sholat langsung melihat Nahla, yang memanggil nama Haya berulang-ulang dan semakin keras.


"Mba Haya, pak!" Nahla begitu cemas melihat Haya berdiam saja.


Pak Malik mendekat dan mencoba memanggil Haya.


"Haya, bangun nak?" pak Malik berusaha membangunkan Haya, namun Haya enggan membuka mata. Haya masih dengan kondisi mata terpejam.


"Kita bawa ke klinik saja, pak!" usul Nahla cemas dan takut terjadi sesuatu hal pada Haya.


"Baiklah, ayo kita bawa Haya sekarang!" pak Malik dan Nahla serta bu Malik membawa Haya ke klinik dekat rumah mereka.

__ADS_1


*****


Sesampainya di klinik.


"Bukan kah dia, perempuan yang tempo hari pingsan di halaman rumah." dokter Erin penasaran dengan keadaan Haya. Karena tempo hari dokter Erin lah yang pernah membantu Haya.


"Keluarga pasien yang tadi?" tanya dokter Erin, mendekati keluarga pak Malik dengan raut wajah sumringah.


"Iya, dok." jawab pak Malik lirih.


"Perkenalkan Saya Erin, dokter Umum di klinik ini," jelas Erin, karena pak Malik melihat bimbang ke arah dokter Erin. mungkin penasaran kenapa dokter Erin mendekati keluarga mereka.


seorang Dokter yang memeriksa keadaan Haya pun keluar dengan wajah agak sayup.


"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" Bu Malik langsung bertanya, wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang mendalam. Faiz tak kunjung di temukan, masa iya Haya harus merasakan sakit yang seperti ini rupanya.


"Tidak apa-apa, Bu. saya melihat kondisi fisik pasien begitu lemah, usahakan agar pasien selalu menjaga asupan makanan, dan menjaga pola pikir agar tidak begitu stres. Kasihan mereka, Bu."


Bu Malik mengangguk, lalu mulai menyadari kata mereka.


"Karena bukan hanya dirinya saja yang perlu di jaga, ada janin yang perlu di perhatikan kesehatan nya." Imbuh sang dokter mengerti keterkejutan Bu Malik.


Bu Malik begitu terkejut, ada rasa bahagia yang menyelusup kedalam hati bu Malik. Tapi, sesak itu menghimpit hati Bu Malik dari segala posisi arah bilik hati yang lain.


"Terimakasih, dok." Ucap pak Malik. Karena Bu Malik matanya meremang berembun air mata, bibir yang terkunci. Menahan sebah di dada. Antara bahagia bercampur nestapa.


"Baiklah saya permisi, Bu, pak. mari dokter Erin saya pamit dulu," sapa dokter umum tersebut sebelum pergi.


Dokter Erin membalas senyum dokter umum yang menyapanya, kemudian dokter Erin di kejutkan dengan pemandangan di depan matanya.


"Ya Allah Faiz. kenapa kamu harus pergi secepat ini, astagfirullahaladzim____, Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Isak Bu Malik terdengar menyedihkan.


"Sabar, Bu. Ini ujian dari Allah. kita harus ikhlas dan lapang dada menerimanya," Nahla memeluk Bu Malik begitu erat, Nahla pun merasakan hal yang sama.


Kepedihan itu nyata, kenapa harus ada kebahagiaan berselimut duka.


"Pak Malik mengambil Bu Malik, agar berdiri dan duduk di kursi." Hati pak Malik berdesir sakit melihat Bu Malik terpukul seperti itu.


"Ya Allah ini terasa begitu berat. Aku berharap Haya kuat menjalani cobaan ini semua," pak Malik masih mengusap punggung Bu Malik. berharap Bu Malik tidak jatuh sakit, karena memikirkan ujian yang begitu rumit seperti ini.


Dokter Erin pun masih mematung di tempat.


"Apa dokter, kenal dengan anak saya?" Tanya pak Malik menyadari keberadaan dokter Erin yang terus memandangnya.


"Tidak, saya hanya pernah bertemu anak bapak beberapa bulan yang lalu. Anak bapak pingsan di jalan, dan saya membawanya ke klinik, hanya itu saja tak lebih!"


"Terimakasih banyak dok, sudah membantu anak saya. Saya tidak tau jika anak saya begitu stres akan hidup yang di alaminya. Sekali lagi terimakasih banyak dok atas bantuannya pada saat itu."


"Iya sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu," dokter Erin mengundurkan diri, karena masih banyak tugas menantinya.


"Keluarga pasien, pasien sudah sadar." terang seorang perawat yang baru keluar dari ruangan Haya.


Bu Malik dengan tertatih berjalan menghampiri Haya.


Ho...

__ADS_1


Hiks... hu______


Bu Malik langsung mendekap tubuh ringkih Haya. Suara tangisan Bu Malik menyayat hati, Nahla dan pak Malik mencoba menenangkan Bu Malik, agar tidak terbawa arus. Bukan tanpa sebab pak Malik khawatir akan keadaan Bu Malik, Bu Malik memiliki riwayat darah tinggi. pak Malik takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


Perlahan pak Malik mengusap punggung istrinya, istri yang sudah bertshun-tahun menemaninya dalam suka dan duka tersebut.


Ho..


Hiks.. hu_____


Haya pun ikut bersedih, Haya tau pasti Bu Malik saat ini sedang hancur hatinya. mengingat kondisi Ahmad Faiz yang belum jua di temukan.


"Sudah, Bu. ingat kata dokter tadi, Haya tidak boleh terlalu stres, Haya harus bahagia agar janin nya juga bahagia."


"Apa____!" Haya membuka mata lebih lebar, Karana mata yang bengkak menyulitkan nya menatap dengan jelas. Mata Haya kembali berembun.


"Iya, mba. mba Haya hamil, mba Haya hamil." terang Nahla dengan tersenyum, tapi kenapa air mata Nahla jatuh, jika bibir itu mampu untuk tersenyum. Nahla benar-benar kasihan pada nasib yang harus Haya alami. Kenapa cobaan begitu berat menerpa hidup Haya?


Haya memejamkan mata, berharap semua akan baik-baik saja. Menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Kamu harus kuat Haya. Demi anak yang ada di dalam kandungan mu, nak." terang pak Malik memberi kekuatan pada Haya.


"Ya Allah, Alhamdulillah atas rejeki ya engkau berikan. walau pun, kau menghadiahkan kado indah terbungkus oleh derita dan duka, aku akan mencoba ikhlas ya Allah! aku akan belajar ikhlas menerima takdir hidupku ini."


Hi...


Ho..


Bu Malik semakin kencang menangis, mendengar kalimat yyang Haya ucapkan. Bu Malik tau persis, Haya saat ini tidak lah sedang baik-baik saja. pasti hatinya hancur lebur.


Pak Malik masih setia mengusap punggung istri tercinta.


Blug..


Bu Malik jatuh di pelukan pak Malik, Nahla begitu panik, pun dengan pak malik


Haya mencoba untuk duduk.


"Ibu___!" Lirih Haya menahan sesak yang kian parah saja.


"Panggil dokter, Nahla. Tolong nak panggilkan dokter." seru pak Malik.


"Iya, pak." Nahla berlari dan menemui dokter, berharap melalui tangan dokter, ada perantara jika keadaan Bu Malik akan baik-baik saja.


"Tolong ibu saya, dok." pinta Nahla dengan begitu panik.


Dokter pun mengikuti langkah Nahla, dokter segera mengecek kondisi tubuh Bu Malik.


"Ibu terlalu banyak pikiran, mengakibatkan darah tinggi nya naik. Tolong di jaga ibu nya, biar tidak drop, kondisinya pun perlu pantauan, takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Mengingat tensi nya begitu tinggi."


Pak Malik menatap wajah Bu Malik dengan tatapan penuh cinta dan kasihan. "sadar lah Bu, jangan begini, bapak bingung Bu!"


"Saya akan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah nya. Tapi, tetap tolong di jaga ibu nya agar tak berpikir yang berat-berar dulu," jelas sang dokter memberi pengertian.


"Baik dok, terimakasih." ucap pak Malik.

__ADS_1


__ADS_2