Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kenyataan dari bik Pina


__ADS_3

Selesai kepergian Ahmad Faiz dan Haya, sungguh hati bik Pina tidak tenang dan gelisah.


Bik Pina mondar mandir ke kanan dan ke kiri, serta memikirkan tempo hari keluarga besar Syah telah meminta nomor telepon Ahmad Faiz. Dan hari ini, bik Pina menemui Ahmad Faiz datang bersama Haya.


"Aku harus melakukan sesuatu hal, iya aku harus menemui Faiz!" Bik Pina memutar ponsel di genggaman nya.


"Tapi bagaimana aku bisa keluar? Baik lah, setelah Attar tidur aku akan menemui Faiz. Ini tidak bisa di tunda lagi! Kasihan Faiz."


Bik Pina kacau bahkan kadang gagal fokus saat melihat jam di dinding. Bik Pina enggak menyangka Haya akan mengorbankan Ahmad Faiz selaku suami Muhallil nya. Kenapa Haya begitu tega?


Tidak, bik Pina tidak akan membiarkan ini terjadi. Jika mereka sudah menikah sudah selayak nya mereka bisa menikmati kebahagiaan dalam jalinan pernikahan.


Tidak semestinya kekecewaan ada dalam sebuah ikatan pernikahan, bik Pina sadar benar bagaimana Ahmad Faiz terpukul atas kepergian Khadijah.


Bik Pina tau bagaimana perangai Niko yang kasar dan mudah terbuai emosi, tamparan juga sering Haya dapatkan. Namun cinta telah membutakan mata hati Haya. Atau memang Haya mencintai posisi dan tahta. Entahlah Bik Pina masih bingung.


Setelah bik Pina memastikan Attar tidur dan di jaga oleh bik Ijah. Bik Pina pamit keluar untuk membeli kebutuhan pribadi nya ke Indo****t pamit bik Pina pada bik Ijah.


"Kan ada waktu besok pin, kok malam-malam harus keluar? Pakai punya ku saja dulu," bik Ijah menawari bik Pina.


"Tidak jah, makasih. Aku enggak mau merepotkan mu, biar aku mau beli sendiri saja. Sekalian ada sesuatu barang yang pengen banget aku beli."


Bik Pina Keukeh dengan pendirian nya. Tepat jam sepuluh malamz bik Pina dengan bantuan taksi online nekat menuju rumah Ahmad Faiz untuk menemui nya.


Mobil taksi melaju lumayan cepat. Karena bik Pina di kejar waktu. Setelah hampir satu jam akhirnya bik Pina sampai di depan rumah Ahmad Faiz.


"Berhenti disitu saja, pak!" Saran bik Pina pada pengemudi taksi online.


"Terimakasih ya pak, tunggu disini dulu? Saya cuma sebentar kok, nanti uang nya sekalian" bik Pina akan memberi lebih saat nanti membayar tagihan biaya taksi sesuai tarif, lalu dengan jalan setengah berlari bik Pina menghampiri rumah Ahmad Faiz.


Tok____tok____


Bik Pina mengetuk pintu dan Tak lama kemudian Ahmad Faiz membuka kan pintu untuk bik Pina. Ahmad Faiz sedikit terkejut melihat bik Pina yang sudah ada di depan pintu rumah mungil nya.


"Assalamualaikum Faiz, keponakan bibik yang bibik sayang?" Sapa bik Pina penuh haru dan raut kekecewaan.


"Walaikum salam bik. Bik ada apa, kenapa malam-malam datang kemari? Ayo masuk bik?" Ahmad Faiz menuntun bik Pina masuk kedalam. Ahmad Faiz khawatir terjadi sesuatu hal dengan bibik nya. Tapi bik Pina menolak untuk masuk kedalam.


Mata bik Pina sudah kembali berembun, tanpa ekspresi senyum atau marah, bik Pina menatap mata Ahmad Faiz begitu dalam.

__ADS_1


"Ada hubungan apa antara kamu dan Bu Haya, Faiz?" Tanya bik Pina cemas.


"Aku dan dik Haya sudah menikah, bik." Jawab Ahamd Faiz dengan seulas senyum bahagia.


"Berapa lama kamu mengenal nya, dan kenapa begitu cepat kamu menikah? Bahkan kamu tidak mengabari bibik, kamu tidak menganggap bibik ada Faiz?" Bik Pina tampak begitu kecewa dan menyayangkan sikap Ahmad Faiz.


"Bik ada apa? Apa ada yang salah sama dik Haya? Aku mohon maafkan aku bik. Aku tidak sempat menghubungi bibik, semua terjadi secara tiba-tiba dan begitu saja."


"Bibik tanya kapan kalian menikah?" Tekan bik Pina.


"Kemarin malam, dua hari yang lalu bik. Bik maafkan Faiz, bik? Sungguh semuanya terjadi begitu saja, karena ada musibah bik, maafkan Faiz ya bik?"


"Musibah____? Musibah apa, memang nya sudah Berapa lama kamu mengenal Haya, Faiz?" Selidik bik Pina merasa kasihan pada Ahmad Faiz.


"Mungkin sekitar satu atau dua minggu, bik." jelas Ahmad Faiz malu.


"Dengan dua Minggu kamu mau menghalalkan seorang wanita, dan menjadikan nya sebagai seorang istri. Apa kamu sudah tau semua tentang Bu Haya, Faiz!" bik Pina menunduk, jelas kesedihan tergambar disana.


"Awal nya kami terpaksa bik. Karena kami di gerebek bik, ini aib bagi kami. Namun aku yakin, pelan-pelan Aku bisa mencintai dik Haya, bik." Ahmad Faiz terlihat begitu malu bukan main.


Bik Pina semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada tas yang di pegang nya.


"Di gerebek, bagaimana bisa?" Bik Pina penasaran.


"Entah lah bik, semuanya terjadi begitu cepat. Aku hanya mampir untuk sholat Maghrib setelah mengantar dik Haya pulang dari rumah sakit. Kejadian pada saat itu dik Haya sedang sakit. Tapi ada bik Ijah juga kok bik, namun tiba-tiba pada saat penggerebekan, bik Ijah tiba-tiba menghilang, entah malah pergi kemana, enggak balik lagi sampai sekarang."


Bik Pina semakin yakin ini semua siasat Haya dan Niko. Bik Pina tidak bisa membiarkan keponakan nya akan di sakiti dengan pernikahan Muhallil yang tidak di ketahui ahmad Faiz dari awal. Ini semua penipuan dan kejahatan yang harus di balas oleh kelembutan.


Betapa jahat mereka pada keponakan tersayang Ahmad Faiz . Seorang anak manis yang sesungguh nya bukan lah orang jahat, mengapa Haya dan Niko bisa mendholimi Ahmad Faiz, sejauh ini.


Sungguh kejam mereka! Mereka tega mengorbankan hidup dan harga diri Ahmad Faiz demi ambisi mereka berdua.


"Faiz___, boleh kah bibik minta tolong dengan mu?"


"Ada apa bik, selagi aku bisa insyaallah apapun itu pasti di bantu," Ahmad Faiz bicara tegas penuh keyakinan.


"Boleh tidak bibik pinta padamu, untuk tidak menyentuh istri mu terlebih dahulu." Bik Pina sedikit ragu mengatakan itu. Tapi bik Pina harus mengatakan nya, tidak mungkin seorang lelaki tidak timbul hasrat, saat ada wanita cantik di depan nya, sekamar pula.


"Maksud bibik apa?"

__ADS_1


Ahmad Faiz berpikir, hati nya menduga, batin nya meronta, apa maksud dari kata yang bibik sampaikan padanya, itu semua tidak layak di katakan.


"Bik____, bagaimana aku tidak menyentuh istri ku, dia kan halal bagi ku?" goda Ahmad Faiz pada sang bibik.


"Faiz dengar, bibik mohon sekali. Tolong turuti kata bibik, jika kamu tidak ingin menyesal nanti nya."


"Bik, apakah Haya punya penyakit menular, hingga aku tidak boleh menyentuh nya?" Ahmad Faiz tampak kecewa.


"Tidak!" Sergah bik Pinam


"Lalu apa bik? Aku enggak mungkin dong tidak memberikan nafkah batin pada istri sendiri selamanya. Bik___, Ayolah katakan, ada apa bik?"


"Faiz dengarkan bibik. Istrimu itu hanya akan memanfaat kan mu, beberapa waktu yang lalu, bibik mendengar percakapan, pak Niko dan Bu Astri, mereka berniat menjadikan mu suami Muhallil nya saja."


Teng... Teng...


Suara gemuruh di langit menyambar hati yang baru saja akan di buka, kabar itu membawa luka yang menoreh begitu dalam tanpa terkira.


Wanita yang di pikir baik dan tulus ternyata penuh kepalsuan dan dusta, bagaimana bisa seorang Ahmad Faiz terlena dan tergoda oleh pesona Haya.


Sekuat mungkin Ahmad Faiz terlihat tegar dan kuat, siapa mengira hatinya sakit tiada terkira? Hancur dan berdarah.


"Baik lah bibik hanya ingin mengatakan itu, sekarang Bibik akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, bibik sayang Faiz. Lakukan apapun yang ingin Faiz lakukan, bibik percaya Faiz adalah lelaki yang bijaksana."


Ahmad Faiz memeluk sang bibik. "Terimakasih bik, terimakasih, sudah memberi tahu kebenaran nya."


"Ya___. Satu hal lagi Faiz, Bu Haya orang baik, hanya sedang tertekan oleh perasaan egois dan rasa kecintaan yang berlebihan, Bu Haya terlalu mengenggam cinta terlalu kuat, hingga tanpa sadar cinta yang menyerupai duri membuatnya luka teramat parah."


Ahmad Faiz terdiam, Ahmad Faiz belum tau langkah apa yang harus di perbuatnya.


"Bibik pamit, Faiz. Assalamualaikum?" Pamit bik Pina dengan cepat.


"Walaikum salam, hati-hati di jalan bik?" Bik Pina tersenyum dan segera masuk kedalam taksi online, yang sudah stand bye di halaman rumah Ahmad Faiz.


Selepas kepergian bik Pina Ahmad Faiz terus berpikir, mungkin kah Haya menyimpan keinginan nya begitu rapi dan tidak terlihat seperti itu?


Ahmad Faiz pun membenahi diri, dan berusaha untuk menahan nafsu yang di bangun Haya, jika suatu hari nanti Haya sudah merancang itu semua, maka Ahmad Faiz harus sedia payung sebelum hujan turun.


"Aku harus bisa menekan rencana dik Haya. Aku akan membuatnya mencintai ku, aku enggak ingin gagal menikah. Aku pernah di tinggal Khadijah pergi untuk selamanya, jadi aku enggak mungkin harus berpisah dengan Haya, aku enggak mau bolak balik menikah."

__ADS_1


Aku akan mempertahankan, apapun itu aku akan berusaha memperbaiki dan membuat Haya tidak jadi melakukan hal itu.


__ADS_2