Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Aku bukan penipu


__ADS_3

"Hey Haya____, apa yang akan kamu lakukan? kamu akan mengajukan gugatan ke pengadilan, atas hak asuh Attar jangan mimpi kamu,Haya! dalam hukum Negara kita belum berpisah secara resmi, bagaimana mungkin kita akan merebutkan hak asuh Attar?" Niko mendekatkan wajah di cuping Haya.


Hari itu Haya berusaha menemui Niko, secara diam-diam. Tak membiarkan Ahmad Faiz mengetahuinya.


Haya mendorong tubuh kekar tersebut dengan sedikit keras.


"Mantra apa yang telah lelaki itu berikan padamu, hingga kini kamu berubah, ya?" Selidik Niko menelisik wajah ayu Haya, yang kini terbungkus jilbab Instan berwarna pink Muda tersebut.


"Mantra apa sih mas! Enggak ada mantra-mantraan ya. Mas Ahmad Faiz mencintai ku karena Allah, dan kini aku sadar bahwa kamu tidak benar-benar mencintai ku mas, sama sekali tidak."


"What's____ You believe it. cetek sekali cara berpikir mu. Hanya dengan rayuan dan omong kosong si Ahmad Faiz, kamu bisa berubah hanya dalam tempo waktu kurang sebulan. Hebat kamu ya, aku enggak yakin kamu akan betah hidup susah bersama Ahmad Faiz. Bukan kah selama ini kamu sudah terbiasa hidup serba enak?"


"Aku tahu mas. Namun aku akan berusaha belajar hidup sederhana bersama mas Faiz, karena bahagia tidak melulu soal uang dan uang."


"Katakan berapa lama, kamu akan sanggup bertahan?" Niko menyeringai meledek Haya.


"Insyallah aku akan bersama mas Faiz selamanya," Jawab Haya pelan dan penuh keyakinan.


"Hahahaha, aku enggak yakin kamu bisa hidup kekurangan bersama suami Muhallil mu itu, dan lihat lah penampilan mu mulai kamp***an dan sangat memprihatinkan. aku sama sekali tidak yakin dengan mental mu."


"Kenapa tidak. Harta tidak akan di bawa mati, Ilmu dan kaya itu beda tipis ya mas, Kaya jika tidak punya Ilmu Agama ya percuma, tetap enggak ada Akhlak. Selalu merendahkan orang kamu itu."


"Tidak usah bawa-bawa Agama Haya, yang membuat orang sukses dan Kaya itu juga karena punya ilmunya. ngerti kamu!.


Dan satu lagi enggak usah sok suci kamu, kamu ini siapa dan bisa seperti ini karena siapa!" Dengkus Niko mulai marah.


"Terserah mas Niko, mau bicara apa. Aku tak perduli. Pokok nya, aku mau mengambil hak asuh Attar darimu mas, titik!" Pekik Haya agak keras.


"Jangan menantang ku Haya. Awalnya aku pikir kamu akan menepati janji yang kita bangun, ternyata kamu membohongi ku. Apa kamu mikir bagaimana perasaan ku, ya? Sakit dan hancur kamu tahu. Kamu seperti wanita yang mudah tertipu dengan janji Ahmad Faiz."


"Aku lebih sakit dari yang kamu rasakan mas. dan dengarkan bakik-baik mas Niko yang terhormat. Mas Ahmad Faiz sama sekali bukan orang jahat dan picik seperti mu. Mas Ahmad Faiz tidak akan egois seperti mu mas, kamu rela menyakiti ku demi keegoisan mu mas. Kamu egois!"


"Bull ****... kamu pembohong! Kamu mengingkari janji yang kita buat, kamu penipu!"


"Coba mas Niko pikir. Selama ini siapa yang paling banyak mengalah di dalam rumah tangga kita mas? Aku_____. Siapa yang sering menangis karena perlakuan kasar mas Niko, aku. Mas berubah lah, aku mohon?" pinta Haya melemah pilu.


Niko menatap Haya nyalang, guratan amarah jelas tergambar di wajah tegap nan kekar tersebut, dengan emosi Niko mencengkeram dagu Haya dan membentak.


"Jangan kamu pikir kamu mudah lepas dari ku Haya sayang! aku tidak akan pernah rela untuk melepas mu, apalagi demi lelaki yang tidak ada apa-apanya di banding aku. Jangan panggil aku Niko, jika tidak bisa menghancurkan lelaki yang sudah mulai merebut hati mu," Niko menghempaskan cengkeraman dan membuat Haya terhuyung.


Haya kembali menatap tajam Niko dengan perasaan penuh kecewa, dan menyayangkan sikap Niko yang tak kunjung berubah. sungguh Niko adalah seorang suami yang mudah emosi dan meledak-ledak saat amarah menyergap perasaaan nya.


"Sampai kapan mas akan terus begini, selalu mementingkan emosi di banding akal sehat, berubah lah mas, berubah!" pekik Haya geram dan tidak tahan.


"Aku sedang tidak ingin debat dengan mu, sayang," Niko mencoba memenggam tangan Haya. namun dengan kecepatan penuh Haya menangkis tangan Niko yang mencoba memegang nya.


"Ingat Haya, lepaskan lelaki itu atau aku akan menghancurkan nya, dan membuat mu tidak bisa melihat nya lagi," bisik Niko penuh penekanan dan amarah.

__ADS_1


"Kamu jahat, mas!" Haya mendorong tubuh Niko kasar.


"aku benci kamu, mas!"


"Terserah___, Ini semua salah mu, Haya." sinis Niko dan berlalu meninggalkan Haya


"Kamu egois mas, kamu jahat!" Haya berteriak mengungkapkan kekesalan nya yang kian bertambah parah.


"Aku jahat karena kamu ingkar janji, Haya."


"Tapi kamulah mas yang memasukan mas Ahmad Faiz dalam rumah tangga kita yang rusak. Lihat lah, betapa egois nya kamu. bahkan kamu tidak berpikir bagaimana perasaan mas Ahmad Faiz. kamu hanya mementingkan perasaan mu sendiri mas, kamu egois."


"Persetan dengan omong kosong mu!" Sarkas Niko.


Kini Haya hanya bisa berharap akan ada keajaiban di balik masalah yang sedang ia hadapi. Awal nya Haya pikir dengan mendapat suami Muhallil, dirinya akan bisa lepas dan kembali bahagia.


nyatanya kini Haya malah sadar jika selama ini, hidup nya seperti di kubangan emas yang di panaskan, indah namun menyakitkan dan panas.


"Bagaimana pun juga, aku harus bisa mendapatkan hak asuh Attar. Aku akan mengajukan gugatan cerai pada mas Niko, setelah itu aku akan mengugat hak asuh Attar, iya benar aku akan lakukan itu!" Haya bermonolog sendiri.


"Tapi, aku punya apa sekarang? Rumah beserta mobil sudah di ambil alih oleh mas Niko. aku tidak punya kuasa dan uang untuk mengambil Attar, karena semua itu butuh pengacara yang hebat dan pasti memerlukan uang yang tidak sedikit!" Haya tampak kecewa.


Haya menatap sebuah kartu ATM yang ada di dalam dompet, Haya berinisiatif mengecek saldo dari ATM tersebut melalui ponsel.


Haya nampak kecewa, setelah tau isi dari saldo di kartu ATM milik nya, hanya ada seratus ribu. Mas Niko benar-benar kejam Haya merutuki diri kenapa bisa menikah dengan lelaki kejam seperti Niko.


Haya tidak habis pikir, jika Niko bisa berbuat sejauh ini. Padahal Niko bukan lah orang pelit, Niko selalu bersikap royal dan tidak perhitungan tapi sekarang sifat Niko bisa berubah mengerikan. Niko mulai menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya jika sedang marah dan berambisi.


"Apa dengan melakukan ini semua aku akan kembali padamu mas? Kamu salah besar, yang ada aku semakin membenci mu sepanjang hidup ku. kamu mulai menunjukan sifat mu, yang penuh egois dan ambisi semu," Haya meremas ATM yang tak bersalah tersebut.


"Hanya karena kesalahan yang telah di perbuat nya, aku harus rela menikah dengan pria yang tidak ku kenal sebelum nya. Lalu dengan mudah, mas Niko meminta aku bercerai dari mas Faiz. dan memintaku kembali lagi kepadanya, egois sekali!" Lirih Haya sambil melihat uang pemberian Ahmad Faiz.


"Kamu jahat mas, Niko!"


Lagi-lagi Haya mendengkus sebal, bagaimana pun caranya Haya akan mencari pekerjaan, dengan bekerja Haya akan punya uang untuk menyewa pengacara, dan bisa segera mengambil hak asuh Attar.


"Lebih baik aku pulang dulu. Ini sudah sore, pasti mas Faiz sudah pulang dari bekerja." Haya gegas berjalan menuju rumah mungil mereka.


Ini pertama kalinya Haya berjalan di bawah sinar matahari langsung. biasanya Haya akan mengeluh jika kulit nya terkena sinar matahari, namun tidak untuk sekarang. Haya yakin panas di dunia tidak sepadan dengan panas nya api neraka.


Perlahan Haya berjalan dan melewati beberapa orang, yang sedang berjalan juga. hati Haya semakin malu jika selama ini Haya malas berjalan, bukan kah berjalan itu sehat karena kita berkeringat.


Haya menoleh kepada seorang bocah kecil, yang kemungkinan sekitar berumur delapan tahunan. Bocah kecil itu sedang berjalan sambil membawa sepeda yang bermuatan jajanan dan beberapa aksesoris.


Tak terasa air mata Haya ingin merembes jatuh. Bukan kah selama ini Haya tidak pernah merasa kesulitan dalam hal ekonomi.


lalu lihat lah saat Haya berada dalam kesusahan, Haya begitu mengeluh dan bersedih. Lantas lihat lah bocah kecil itu, jauh lebih susah hidup nya jika di bandingkan hidup Haya. Namun bocah kecil itu begitu semangat dan bahagia menjalani kehidupan ini.

__ADS_1


"Mba mau beli siomay, ini buatan bibik ku. Ini enak banget loh mba, pasti mba akan ketagihan setelah mencobanya," bocah itu bertanya pada Haya yang termangu.


"Berapa satu porsi, dek?"


"Sepuluh ribu saja," bocah itu berkata dengan sebuah senyuman. ada rasa senang disana. Mungkin rasa senang karena jualan nya laku, karena akan ada yang membelinya.


"Kalau gitu mba beli dua," Haya mengeluarkan uang dua puluh ribuan pada bocah kecil tersebut.


"Ini, mba," dengan sopan bocah kecil itu memberikan dagangan siomay.


"Terimakasih ya?" Haya menerima dan membalas senyum sumringah bocah kecil tersebut.


"Oh iya mba, ini masih ada satu lagi dan hari juga sudah sore, aku harus mengaji ke sekolah TPQ, jadi ini buat mba saja," bocah kecil itu memasukan sebungkus siomay lagi, kedalam kantong plastik genggaman Haya.


"Jangan, dek!" Haya merasa sungkan menerima pemberian bocah kecil itu.


"Enggak apa-apa mba. Aku berniat memberi pada mba atau siapapun pembeli lain jika masih sisa satu atau dua, karena waktu sudah sore. Aku boleh memberi siomay ini kepada orang lain sebab sayang jika di buang mubazir."


"Tapi kamu masih bisa menjual nya lagi kan, dek?"


"Iya sih, tapi ini sudah sore mba. Jadi enggak apa-apa. Anggap saja saya bersedekah mba, lagian modal utama sudah balik, dan sudah ada untung di dalam nya," Haya begitu terharu, tutur kata bocah kecil, tapi begitu sopan dan bersikap dewasa.


"Siapa nama mu, dek?"


"Noval, mba."


"Kamu tinggal dimana, dek?"


"Di seberang sana mba, tidak jauh kok kan ini arah pulang," bocah kecil yang mengaku bernama Noval, menunjuk sebuah rumah kecil yang jauh dari kata layak.


"Noval tinggal sama siapa di rumah itu?" Haya merasa penasaran.


"Sama bapak ku mba. Ibu ku sudah lama meninggal, kata bapak ibu meninggal saat melahirkan ku kedunia ini."


Haya sungguh terkesiap mendengar penuturan Noval. Jauh di lubuk hati Haya merasa sangat kasihan, bukan kah hidup nya jauh lebih beruntung jika di bandingkan seorang anak kecil yang bernama Noval ini.


"Aku pulang dulu ya mba, terimakasih sudah membeli siomay buatan bibik ku. Semoga mba suka dan beli lagi besok?"


Dada mba....


Assamualaikum...


Nouval mengayuh sepeda butut milik nya. Sebelum Noval benar-benar pergi, Haya sudah terlebih dahulu memberi uang sebesar seratus ribu untuk Nouval, Haya ingin Noval membeli buku dan pensil baru untuk perlengkapan mengaji.


Haya ambil uang belanja, dari pemberian Ahmad Faiz.


Kini Haya semakin sadar jika hidup itu harus selalu maju dan bersyukur, jangan mengeluh apalagi kita mempunyai fisik yang sempurna. Maka gunakan lah untuk bekerja!

__ADS_1


Sejatinya bahagia ada karena rasa syukur. Seberapa nikmat hidup, jika kita mengeluh dan tidak bersyukur, maka hidup ini tidak akan terasa menyenangkan.


__ADS_2