Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Niko Mendatangi rumah Haya


__ADS_3

Tok____tok___


Ba'da Maghrib pintu di ketuk dari luar. Haya mengerutkan dahi, siapa kiranya yang bertamu di rumah mereka? Haya seketika menghentikan aktivitas menata makanan di meja dan gegas membuka pintu.


Selangkah kemudian Haya menghentikan langkah kaki nya, saat menyadari bahwa Ahmad Faiz sendiri masih mengaji di dalam kamar. Iya, kalau yang mengetuk bukan penjahat. Kalau penjahat, apa yang harus Haya lakukan?


Tok____tok___


Pintu kembali di ketuk dengan rada keras, membuat Haya terkejut. Dengan mengucap bismillah, Haya membuka pintu.


Klik___


Sesosok lelaki tegap, tinggi dan putih tersenyum ke arah Haya. Dengan membuka tangan lebar, hendak memeluk Haya karena merasa rindu yang teramat dalam.


"Mas, jangan!" Haya menolak, karena takut ada yang melihat.


"Kenapa? Apa ada suami sementara mu di dalam rumah ini?" Sarkas Niko tegas. Niko Terlihat cemburu. Niko masih selalu saja begitu, selalu mengedepankan rasa cemburu.


Haya tertegun dan menatap Niko bimbang. Apa yang harus Haya katakan? Kenapa Niko bisa datang ke rumah Ahmad Faiz, tanpa memberi tahu nya terlebih dahulu. Dan darimana Niko tau alamat rumah Ahmad Faiz? Niko benar-benar niat.


"Mas, ngapain datang kesini?" Bisik Haya begitu lirih. Mengenggam tangan Niko menuju teras rumah, agak menjauh dari pintu.


"Aku rindu Kamu, dan semalam aku mendapat notifikasi panggilan dari mu. Namun karena aku tertidur aku tidak menjawab nya. Aku berusaha menelpon mu balik, tapi tidak bisa. Aku khawatir sesuatu hal terjadi padamu, makanya aku datang kesini, Haya."


Haya menoleh dan menatap Niko yang masih berucap.


"Haya cepat lah, jalan kan misi kita! Jangan menundanya lagi. Aku tidak akan kuat untuk menunggu lebih lama lagi. Masa iya sih, sudah menikah dua Minggu lebih, mau jalan tiga Minggu malah, kok belum juga. Apa jangan-jangan suami sementara mu mengalami gangguan pada____" Nampak jelas raut kecewa menghiasi wajah tampan Niko.


"Mas____!" Haya merasa risih dan takut Ahmad Faiz mendengar kalimat yang Niko katakan, semua itu tidak lah benar.


"Haya___, aku rindu, padamu?" Niko tanpa aba-aba memeluk Haya dengan penuh kerinduan, pelukan erat dan penuh cinta.


"Lepas mas, tolong lepaskan!" Rintih Haya, namun Niko tidak menggubris nya.


"Mas, lepaskan!"


"Aku merindukan mu, Haya."


"Mas, tolong lepaskan!" Sekali lagi Haya berusaha melepas pelukan Niko, dengan berusaha meronta.


"Dik Haya____!" Suara Ahmad Faiz membuat Niko melepas pelukan nya. Namun sebuah Bogeman berhasil Ahmad Faiz layangkan pada wajah Niko yang rupawan, hingga wajah itu memar dan mengeluarkan darah dari hidung mancung nya.


"Mas Faiz__! " Haya merasa jantung nya mau loncat dari tempat nya. Mati lah sudah kepergok seperti itu. Haya menatap Niko kasihan, karena mendapat pukulan seperti itu, namun Niko sih ngeyel ngapain peluk-peluk, coba!

__ADS_1


"Kamu ini ngapain? Dan kamu itu siapa, kenapa peluk-peluk istri saya? Apalagi istri saya sudah mengatakan untuk melepas nya. kenapa anda ngotot untuk memeluk nya? Kalian bukan muhrim, dan tidak sepantasnya berpelukan seperti itu!" Sarkas Ahmad Faiz penuh kejelasan.


"Berani kamu memukul dan meremehkan ku! Apa kamu tidak takut berurusan dengan polisi? Kamu tau atas pukulan yang kamu layangkan, aku bisa melaporkan mu ke kantor polisi atas tuduhan penganiayaan."


"Laporkan saja! Saya pun akan melaporkan anda, karena anda memeluk istri saya sembarangan, anda ini siapa? Saudara juga bukan, anda hanyalah mantan bukan begitu?" Terang Ahmad Faiz tegas


Haya terkejut. Kenapa Ahmad Faiz bisa tau, bahwa Niko adalah mantan suami nya.


"Saya ini____," Niko menghentikan ucapan nya, dan melayangkan tinjuan ke sembarang arah. Niko tidak mungkin mengatakan jika dirinya adalah suami Haya yang sah secara Negara dan hukum.


Niko masih bisa berpikir, tidak mungkin pengorbanan dan perjuangan nya sia-sia. dengan sebuah perkataan yang akan di lontarkan nya. Walau sesungguhnya hati Niko merasa muak. Jika saja tidak membutuhkan peran Ahmad Faiz, sudah bisa di pastikan Niko akan menghajar habis Ahmad Faiz tanpa bekas.


"Sombong kamu, Ahmad Faiz!"


"Bersikaplah sopan, dan saya pastikan saya juga akan segan terhadap anda," Balas Ahmad Faiz pelan.


"Cih____" Niko membuang muka ke sebelah kiri. Lalu menunjuk tepat ke wajah Haya.


"Dan kamu Haya, ingat janji mu!" Niko berlalu dari hadapan Haya dan Ahmad Faiz dengan wajah memerah menahan amarah yang membuncah.


Haya masih mematung menyaksikan kepergian Niko. Haya semakin hancur dan perih, kehancuran segera datang dan kini tengah menanti nya.


"Ayo masuk, dik?" Ajak Ahmad Faiz dan mengenggam tangan Haya, menuju masuk kedalam rumah.


"Sudah lah jangan di bahas dulu. Kita makan malam dulu saja, mas sudah lapar," Ahmad Faiz mengalihkan perhatian. Namun tidak dapat di pungkiri wajah nya menunjukan bahwa hati sedang tidak baik-baik saja.


Ahmad Faiz merasa sangat terluka akan ambisi Haya. Namun mati-matian, Ahmad Faiz meredam gejolak amarah dalam hati.


"Mas, aku harus bicara sesuatu hal?" Lirih Haya.


"Dik, boleh kan bicara nya nanti saja. Mas sedang lapar dan ingin makan malam."


"Apa mas tidak marah ketika melihat ku di peluk lelaki lain?" Haya menunduk menahan sebah di dada.


"Kenapa harus marah. Kan, dik Haya tidak mau. Mas yakin dik Haya setia dan mas tau jika tadi dik Haya berusaha menolak untuk di peluk. Lelaki nya saja yang terlalu memaksakan kehendak, jika suatu hari bertemu lelaki itu lagi kasih tau mas ya, biar mas hajar kayak tadi."


"Apa mas tau jika lelaki yang memeluk ku tadi adalah mantan suami ku?" Haya menatap mata Ahmad Faiz dengan nata yang sendu.


"Jelas, mas tau," jawab Ahmad Faiz, dan mengusap lengan Haya yang bergetar. Tanpa Haya sadari jika Ahmad Faiz sudah tau siapa mantan suami nya.


Mungkin kah semua akan berkahir sampai disini. Haya semakin menahan getaran di dada dengan berusaha terlihat tegar dan tenang. Setiap nafas nya pun Haya hanya merasakan kekhawatiran akan masa depan rumah tangga apa yang ia ciptakan.


"Mas tau darimana?"

__ADS_1


"Bukan kah tempo hari kita pernah berkunjung menemui Attar."


Haya kian menunduk menahan sesak. Beribu pertanyaan ingin Haya lontarkan. Namun Haya menahan agar tidak salah bicara, dari caranya berbicara jelas Ahmad Faiz adalah lelaki tenang dalam setiap mengambil keputusan.


Hati Haya kian bergetar saat menyadari keteledoran nya. Karena rasa sakit, Haya sampai lupa bahwa bik Pina adalah bibik Ahmad Faiz. Ya Tuhan, apa jangan-jangan bik Pina sudah mengatakan pada Ahmad Faiz? tapi jika Ahmad Faiz sudah tau kebenaran nya, kenapa sikapnya masih biasa-biasa saja?


Haya menatap wajah Ahmad Faiz begitu dalam.


"Aku melihat ada foto dimana kalian bertiga, dan mertua mu dik. Darisana aku mengingat wajah mantan suami mu, dik. Ternyata dia lebih tampan dari mas," Ahmad Faiz terkekeh.


Haya semakin merasa bersalah dan ingin mengakhiri semuanya, sebah dan sesak di dada terus menerus menghimpit hati dan pikiran.


Ingin menyerah di tengah perjalanan dalam misi perjuangan. Namun bagaimana dengan nasib Attar putra kesayangan nya?


"Sudahlah, ayo makan?"


Haya menerima nasi berisi lauk yang Ahmad Faiz sodorkan.


"Makan lah. Menghadapi kenyataan itu perlu energi. Menangis juga perlu nutrisi agar stok air mata tidak mudah habis, walau di musim kemarau sekalipun," goda Ahmad Faiz.


Haya memberengut sebal di tengah kecemasan yang di rasa oleh Haya. bisa-bisanya Ahmad Faiz bercanda seperti itu, seolah-olah semua baik-baik saja.


"Makan lah, sayang kalau tidak di makan. Bukan kah tadi kita memasaknya memaakai cinta, pasti enak rasanya," Ahmad Faiz memberikan satu suapan kedalam mulut Haya.


Ak


"Mas, apaan sih!"


"Sudah lah, buka mulut nya____,Ak" Haya pun menurut dan membuka mulut nya, di kunyah dengan pelan nasi dan lauk yang mereka masak sore tadi.


Ahmad Faiz pun mengambil nasi dan lauk dari piring dan sendok yang sama, yang barusan ia gunakan untuk menyuapi Haya.


"masyaAllah enak sekali, istri mas sudah pintar masak sekarang" puji Ahmad Faiz dengan senyum manis.


Haya menerima suapan kedua dan kali ini baru terasa rasa masakan yang masuk kedalam mulut nya, dengan susah payah Haya menelan.


Yang ketiga kalinya Haya meringis dan menampilkan gigi yang setengah nyegir. "Asin_____, uwek," Lirih Haya dan Ahmad Faiz pun tertawa.


"Enggak apa-apa, kan masih tahap belajar. Nanti lama-lama bakalan lebih baik dari hari ini," pucapan Ahmad Faiz, benar-benar menggambarkan lelaki idaman.


"Sudah ya jangan di makan? Rasanya sungguh aneh," Haya menyingkirkan nasi dan lauk dari hadapan Ahmad Faiz.


"Loh sayang banget dik, ini kan masakan yang di racik dengan penuh cinta. Lagian mas juga masih laper," Ahmad Faiz terus saja memakan masakan Haya yang jelas-jelas keasinan.

__ADS_1


__ADS_2