Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Hizam


__ADS_3

Flash back on last week


"Hujan begitu deras, ah sial_____!" Meca memukul-mukul stir mobil, karena mobil mogok di saat yang tidak tepat. Cuaca tak sedang bagus, malah mogok. Ah dasar tak bisa di ajak kompromi!


Meca segera menghubungi bengkel langganan untuk segera datang menolong nya. ada rasa takut di hati Meca, saat melihat luar kaca mobil, udara di luar dingin dan menyeramkan. Udah gelap, hujan, serem lagi.


Hujan begitu deras, di tambah suara gemuruh Guntur yang mengelengar.


Meca mengamati luar dari mobil, takut ada penjahat, takut ada hal yang menyeramkan seperti hantu misalnya. Meca pun memejamkan mata, mengusir rasa khawatir yang datang menyelinap tiba-tiba.


"Tolong_____!"


Bugh...


Bugh..


Meca memegangi dadanya. matanya menoleh ke arah kanan dan kiri kaca mobil, perasaan takut merayap di hati Meca. Suara apa itu, ah mungkin Mecca salah dengar. Mungkin suara Angin tertiup hujan di ranting pepohonan.


Tolong...


Suara itu kembali hadir. Meca merasa gelisah dan takut, kenapa di malam begini, ada suara orang minta tolong, itu suara manusia atau bukan.


Long____


"Astaga, suara apa itu?" lirih Meca mencoba menetralkan perasaan dari rasa takut.


dengan memberanikan diri, Meca perlahan membuka lebar kaca mobil dan melihat di luar. Karena hujan yang sangat deras, mata Meca tidak bisa melihat luar dengan jelas, apalagi ini sudah malam. Sesekali ada kilat Guntur yang membuat Meca urung untuk keluar dari mobil.


Setelah mengamati beberapa saat, mata meca melihat sesuatu yang membuat jantung nya berdegub hebat.


Tepat di sebelah kiri jalan, ada seseorang sedang mengapung di atas kayu.


Tepat di sungai yang menghubungkan antara proyek pengerjaan jembatan, Meca memegang dadanya dengan perasaan campur aduk.


Meca langsung menutup kaca mobil, memejamkan mata berharap apa yang Meca lihat adalah salah, dan hanya halusinasi. Apakah itu hantu dari salah satu arwah pekerja yang mati? Meca mati-matian menahan rasa takut. Setelah dirasa lebih tenang, Meca membuka mata kembali.


Meca pelan-pelan menoleh ke arah kiri lagi, dan orang itu masih ada disana. Berarti itu bukan hantu, tapi orang. Meca ragu antara menolong atau membiarkan nya saja.


Tapi jika di biarkan, orang itu bisa mati. Tapi, jika ternyata orang itu sudah mati, Meca pasti akan tertuduh membunuh orang.


Meca tau mungkin itu salah satu pekerja di proyek pembangunan yang tengah Meca jalankan, tapi Meca urung membantu. Meca benar-benar bingung, Meca memilih diam didalam mobil.


Sorot lampu mobil, membuat Meca panik.


Mobil bengkel langganan pasti sudah datang, secepat itu.


Meca keluar dengan menggunakan payung, keluar dari mobil dan berkata dusta. "Tolong aku pak, pria itu mencoba menolongku, tapi dia terpeleset dan jatuh kesungai saat akan mengambil air," entah kenapa Meca tiba-tiba berniat membantu lelaki tersebut.


Seorang montir mobil pun menoleh kearah dimana ada seorang yang sedang berada di atas kayu.


Dengan tubuh yang mengayun, sepertinya lelaki itu terlihat tak bergerak, montir langganan Meca merasa ragu untuk menolong lelaki yang ada di sungai tersebut.


"Pak, aku mohon!" pinta Meca memelas memohon.


Montir pun dengan gemetar membantu Meca. "tapi Bu, jika ada sesuatu hal yang terjadi dengan pria ini, kita bisa masuk penjara. karena disini tidak ada bukti yang menyatakan kita tidak bersalah, hanya ada kita disini, Bu. aku tak mau jadi tersangka Bu, lebih baik kita lapor polisi saja Bu!"


"Tolong lah, pak. Jangan lapor polisi, nanti masalahnya malah tambah panjang." Pinta Meca memelas.


Dengan wajah bingung, montir tersebut membantu Meca mengangkat seorang pria yang terluka parah untuk kedaratan.


"Tapi ini sepertinya luka yang serius bukan luka karena terjatuh. Luka yang harus segera di obati, lihat lah wajah nya pucat seperti tak berdarah lagi." pria paruh baya tersebut menatap Meca heran.


Meca menatap wajah pria tersebut, wajah seorang pria yang entah kenapa mampu membuat Meca merasa harus menolongnya.


Seperti ada magnet, yang menarik Meca untuk bisa melakukan lebih.


Meca menatap lelaki tak berdaya tersebut dengan perasaan aneh.


Setelah mobil Meca siap di benarkan apa yang kiranya rusak, dengan cepat Meca membawa lelaki tersebut ke rumah sakit elit untuk mendapat perawatan yang intensive dan lengkap.


"Siapa nama pasien?" Tanya seorang perawat pada Meca, saat akan menulis nama dari pasien tersebut.


"Hey____" jawab Meca Asal karena terkejut dengan pertanyaan Suster.


"Hey astaga, Hey apa, Hey apa____ astaga!" Meca menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Perawat itu pun menatap Meca heran, karena Meca terlihat begitu bingung dan gelisah.


"Maksud saya, Hizam. Saya biasa memanggilnya Hey" Meca memberi penjelasan berharap perawat itu tidak curiga dan paham akan maksud Meca.


"Baiklah ibu, silahkan selesaikan administrasinya. Sebab pasien harus segera di operasi."


"Operasi____!" Meca terkejut.


"Iya, ibu. sebab banyak benturan di kepala pasien Hizam. Ada beberapa luka berat di bagian kaki, luka memar, bahkan bisa saja patah tulang di bagian tangan pasien."


Meca melongok, sebegitu parah kah luka lelaki yang ia temukan. Apa akan hal yang lebih mengerikan dari patah tulang ini.


Akan kah lelaki itu akan mati, bagaimana cara Meca menguburkan nya.


"Saya permisi, Bu." perawat pun pergi meninggalkan Meca, setelah Meca menandatangani surat persetujuan akan tindakan operasi.


Drt...


Ponsel Meca bergetar, Meca terkejut.


Siapakah tengah malam begini menelpon nya.


Papa..


Meca mengusap layar ponselnya, menjawab panggilan telepon tersebut.


"Meca, sedang apa sayang?" suara bapak Meca dari seberang sana.


"Aku sedang, ah biasa pa. ada pekerjaan sedikit yang belum usai. Ada apa pa, kenapa sudah larut malam papa menelpon Meca?"


"Entah kenapa, papa tak bisa tidur. papa kangen kamu nak," jelas papa Meca.


"Maafkan Meca ya pa. Tapi, Meca sungguh masih sibuk. Pekerjaan Meca banyak dan masih menumpuk, tapi Meca janji setelah semua urusan Meca selesai, pasti Meca akan langsung pulang ya."


"Janji.. selalu saja begitu. Janjimu itu palsu, nak."


"Tidak pa, kali ini Meca berkata serius, okay. Papa jangan khawatir, Meca baik-baik saja."


"Papa tunggu, sekarang papa ada di rumah sakit, penyakit asam urat papa kambuh, kaki papa susah untuk berjalan," terang papa Meca memberi tahu.


"Iya." Balas papa Meca malas.


Panggilan terputus.


Meca duduk di kursi khusus tunggu, Meca bimbang apa yang akan di lakukan pada lelaki yang telah di temukan nya itu?


Tring..


Sebuah pesan chat masuk


Klik


Meca membuka pesan dari papanya, seorang lelaki berkemeja navy tengah duduk di atas mobil dengan begitu keren nya.


"Hanafi namanya, papa berniat menjodohkan mu dengan nya. Kamu sudah lama pisah dari suami mu, bahkan suami mu saja sudah punya tiga orang anak, kamu masih setia dengan status divorce mu. Ayolah nak, move on."


"Pa.. lain kali saja lah membahas masalah itu. Aku lagi malas ngomongin masalah calon suami," balas Meca malas.


"Kali ini kamu tidak bisa menolak, papa sudah lama menunggu. Bahkan, sekarang papa sudah tua, sudah sering sakit-sakitan. Papa takut tidak bisa mengendong cucu yang akan kamu berikan nanti nya."


Meca menghembuskan napas kasar.


Masalah demi masalah datang, proyek pengerjaan hancur, akan banyak kerugian, karena proyek kali ini benar-benar fatal.


Banyak nyawa yang melayang karena proyek yang Meca kerjakan, bahkan perusahaan Meca akan mengadakan dana kompensasi atau asuransi bagi setiap nyawa yang hilang.


Meca memijit kening nya, rasa yang bercampur membuat Meca terdiam dan menatap lurus kedepan.


Sret...


Beberapa perawat membawa lelaki yang ia tolong tadi menuju ruang operasi.


Meca menghembuskan napas, berharap operasi berjalan dengan lancar.


"Hizam____!" Meca tersenyum, membayangkan nama konyol yang ia sebut sendiri.

__ADS_1


Perlahan Meca mengikuti sampai depan ruang operasi. Meca akan menunggu sampai operasi selesai, harapan Meca semoga lelaki yang ia temukan bisa selamat.


******


"Ibu mengalami stroke ringan, ya Allah kasihan ibu," Nahla mengusap lengan Bu Malik.


Bu Malik masih diam dan menatap pak Malik.


"Sudahlah Bu, kami semua ada untuk ibu, ibu jangan berpikir yang macam-macam. Ibu harus kuat, kami akan berusaha untuk bisa membuat ibu sembuh lagi, dan dengan berdoa, insyallah ibu akan segera pulih dan sehat." terang pak Malik memberi semangat.


Bu Malik memejamkan mata, air mata itu jatuh membasahi pipi.


"Haya, kita akan pulang ke kampung. Bapak akan mencari jalan untuk pengobatan ibu secara tradisional, mudah-mudahan ibu segera sembuh lewat perantara penyembuh herbal. Karena di tempat akupuntur tersebut, sudah banyak yang sembuh dari penyakitnya."


Haya tertunduk pilu, Attar yang ada di dalam gendongan nya pun menatap Haya yang memejamkan mata. Rasa sebah dan sakit tak urung berkurang, masih sama menyakitkan.


"Haya, dengar nak. Kami pergi hanya sementara, setelah ibu bisa berjalan lagi kita akan segera mengunjungi mu, jangan khawatir nak," pesan pak Malik, melihat Haya tertunduk terisak pilu.


Huhuhu


Haya tak bisa menahan sakit di dalam sanubari yang terus berkibar, Haya memeluk Bu Malik begitu penuh kasih.


Huhu


Hiks..


Haya menggeleng lemah.


Haya ingin mengatakan jangan, namun ini demi kesembuhan bu Malik, meski berat namun Haya harus merelakan kepulangan kedua orang tuanya ke desa.


"Jaga dirimu baik-baik nak.. kalau ada apa-apa segera hubungi bapak dan Ibu, kami akan selalu ada untuk mu. Kamu harus kuat dan semangat, jangan menyerah!"


Haya semakin tergugu pilu.


"Apapun yang terjadi, tetaplah semangat demi anak-anak mu. Jangan patah semangat, jangan putus asa, jangan bersedih, ada Allah yang selalu membersamai mu dalam setiap langkah kaki mu."


Hiks..


Hiks..


Pak Malik memeluk Haya.


"jangan tinggalkan sholat, dan ibadah yang lain nya. Selalu doakan anak bapak," pak Malik tak kuasa menahan pilu, air matanya jatuh.


Dengan cepat pak Malik mengusap buliran bening tersebut.


"bapak dan ibu pamit?"


Pak Malik mendorong kursi roda yang membawa Bu Malik menuju mobil travel, yang sudah stand bye di depan pelataran klinik.


"Bapak pamit Nahla, jaga dirimu baik-baik. jangan berlama-lama marah dengan Abi dan umi, jika sudah lebih baik perasaan mu, segeralah pulang, temui orang tuamu, mereka pasti merindukan mu. Jangan lupa bawa Jak Evan bersama mu," nasehat pak Malik untuk Nahla.


"Iya, pak." jawab Nahla sambil mencium takzim tangan pak Malik.


Lalu beralih memeluk Bu Malik.


"Semoga ibu segera di beri kesembuhan," Nahla mengusap air mata Bu Malik. Nahla tau jika Bu Malik sangat terluka kali ini, Nahla tidak ingin membuat Bu Malik semakin sedih dengan tangisan nya.


Dengan sekuat mungkin, Nahla berekpresi tegar dan telihat baik-baik saja.


Pak Malik mencium Attar yang ada dalam gendongan Haya. "kakek pulang dulu ya, besok kita main lagi, jangan nakal sama Ibu, jaga ibu ya?" pak Malik mengusap pucuk kepala Attar.


Attar yang masih kecil hanya bisa memandang dan melihat orang di sekelilingnya bersedih dan berair mata.


Perlahan mobil yang di tumpangi pak Malik dan Bu Malik berjalan menjauh, perlahan merayap pergi, hilang dan tak terlihat lagi.


Nahla memeluk Haya yang tergugu..


Huhu


Hiks..


"Ya Allah___!" Haya bergetar menahan rasa yang kian menusuk hati. Rasa pedih yang teramat dalam, mampukah Haya melangkah tanpa kehadiran Ahmad Faiz, lelaki yang mampu membuat Haya berubah menjadi wanita yang lebih baik.


Akan kah Haya bisa menatap dunia luar dengan kegigihan nya sebagai seorang orang tua tunggal untuk Attar dan jabang bayi yang tengah ada di dalam kandungan nya?

__ADS_1


Apakah Haya mampu menjalani itu semua?


__ADS_2