
Tujuh bulan berlalu semenjak hilang nya Ahmad Faiz di pembangunan jembatan roboh..
"Kita akan datang ke sebuah butik, kita akan fitting baju disana. Aku ingin baju yang kita pakai saat resepsi pernikahan kita nanti, harus baju yang bagus, mahal dan spesial." ujar Meca dalam perjalanan bersama Ahmad Faiz.
Ahmad Faiz hanya membalas ucapan Meca, dengan sebuah senyuman yang hambar. karena sampai detik ini, Ahmad Faiz masih meragukan siapa jati dirinya, kenapa Ahmad Faiz tak mendapat ketenangan selama ini. Hatinya selalu gelisah dan bingung.
Hari ini Meca dan Ahmad Faiz di antar oleh seorang sopir menuju butik queen untuk Feeting baju, tapi wajah Ahmad Faiz sama sekali tak tampak kebahagiaan.
Ckit...
Mobil berhenti di depan parkiran butik queen.
"Sorry lama ya?" Tekan Meca pada Angel yang sudah terlebih lama menunggu.
"Waste my time," balas Angel lalu mengandeng tangan Meca untuk masuk kedalam.
"Halah, big boss mah tidak perlu khawatir masalah waktu, harus selalu berbahagia dalam setiap waktu. Jika orang lain berkata waktu adalah uang, maka big boss berkata aku menghabiskan uang karena adanya waktu."
Angel tersenyum kecut, menoleh dan menatap orang di sebelah Meca, Angel begitu terkejut. mata Angel membulat tak percaya, apakah lelaki yang Meca ceritakan adalah Ahmad Faiz, lelaki yang gagal Niko jadikan sebagai Muhallil.
"Dia..!" Angel menghentikan kalimat, saat Ahmad Faiz menoleh dan memperhatikan Angel yang sulit berkata-kata.
"Ini calon suami aku Angel, namanya Hizam. Bagaimana keren kan, aku mencintai Hizam apa adanya, Angel." balas Meca begitu jelas.
Angel terperangah donk, kenapa hampir sama, sangat mirip, apakah memang pria di hadapan nya adalah Ahmad Faiz, apakah Mereka kembar atau mereka ber reinkarnasi.
"Apa dia punya saudara kembar?" Lirih Angel di sebelah telinga Meca karena merasa penasaran.
Meca pun tersenyum, dan menepuk pundak Angel. "ayolah segera masuk, don't waste your time." Meca berusaha menjauhi pertanyaan Angel. Sebab Meca benar-benar tidak tau latar belakang Ahmad Faiz. Meca tak mau tau, apapun tentang masalalu Ahmad Faiz. yang Meca mau hanya, Meca bisa hidup bahagia bersama Ahmad Faiz selamanya.
Mereka bertiga pun masuk kedalam.
"Hello...!" Sapa Lin begitu ramah menyambut kedatangan Angel dan Meca.
Meca dan Angel adalah pelanggan di butik queen, tapi akhir-akhir ini Meca jarang mengunjungi butik queen, Meca sering memesan baju via online ketimbang datang ke tempat nya langsung.
"Silahkan di pilih, banyak model terbaru yang tentunya kece badai, apalagi di pakai sama orang yang sudah kece, Wuih pasti tambah keren abiz," jelas Lin begitu antusias menjelaskan.
"Ah tidak, Sis. Aku datang kesini mau fitting baju sama desainer disini, orang nya ada atau tidak?" tanya Meca langsung pada inti.
"Wah-wah serius nih?" tanya Lin merasa senang.
"Iya dong, udah lama nganggur juga, pasti udah pengen di ...." Haha Angel tertawa meledek Meca yang tampak sedikit sebal dengan candaan yang Angel lontarkan.
Hais
Meca merasa malu atas ucapan Angel, yang tidak tau aturan dan tidak tau tempat. Walau sebenarnya Meca merasa apa yang Angel ucapkan tak sepenuhnya salah, tapi lihat tempat dong. Meca masih punya malu soal membahas masalah seperti itu.
"I'm know, okay naik ke lantai dua saja, Bu Amin ada disana?" Lin menjelaskan.
Meca dan Angel pun naik ke atas, di susul oleh Ahmad Faiz di belakang nya. Ahmad Faiz sengaja agak lambat menyusul keduanya, sebab ada keraguan yang tiba-tiba menyelinap di qalbu nya.
Srek..
Stek..
Suara kaki melangkah menemui Bu Amin..
Lantai dua, lantai yang luas dan langsung terhampar oleh banyak nya pilihan kain, ada Bu Amin disana sedang duduk dan memakan buah anggur sambil melihat beberapa pola yang sudah selesai Bu Amin desain.
"Hellow..." Sapa Angel dan Meca menyapa Bu Amin.
Bu Amin pun senang dengan kedatangan Meraka berdua. "mari silahkan...?"
Angel menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat beberapa baju yang telah usai Bu Amin jahit.
"Jadi bagaimana nih, ada perlu apa, baju apa kiranya yang perlu di desain?" tanya Bu Amin sumringah menyambut pelanggan istimewa. Karena hanya tamu yang istimewa yang naik kelantai atas.
"Aku pengen di buatkan gaun oleh ibu, sebuah baju resepsi yang begitu indah dan mewah tentunya."
Bu Amin menoleh ke arah samping Meca, seorang lelaki yang berdiam diri tak berbicara sepatah kata pun. Bahkan wajahnya tak menampakkan kebahagiaan atas rencana pernikahan nya, dasar aneh!
"Calon nya?" Tunjuk Bu Amin ragu, Bu Amin takut salah orang.
__ADS_1
"Iya, Bu." Meca merasa bangga dan bahagia saat melihat wajah Ahmad Faiz yang begitu meneduhkan.
"Wajah yang meneduhkan lagi berseri-seri." lirih Bu Amin, dan Meca pun tertawa menaggapi kalimat yang di ucapkan Bu Amin, karena pendapat Bu Amin tentang Ahmad Faiz sangat tepat.
"Ini contoh sketsa gaun resepsi pernikahan, yang saya tandai garis berwarna merah itu adalah bahwa baju itu new edition, belum pernah di buat sebelum nya. Dan ini adalah bahan apa yang di ingin kan, warna manik, Payet dan aksesoris lain nya. Kamu bisa memilih model seperti apa dengan nuansa yang seperti kamu ingin kan?"
Meca mengaguk mengerti.
"Yang mana yang bagus guys?" Meca menunjukkan sketsa gambar pada Angel.
Angel pun melihat banyak nya sketsa, lalu Meca menarik Ahmad Faiz untuk mendekat.
"ayo pilihlah yang mana, menurut mu aku akan terlihat sangat serasi, dengan baju yang model mana, dan warna apa?" Tanya Meca begitu antusias.
Ahmad Faiz mendekat, mengamati setiap detail baju.
Ahmad Faiz terus membuka sketsa demi sketsa dan belum menentukan pilihan dari banyak nya pilihan. mata melihat apa, pikiran entah dimana.
"Ibu, aku sudah selesai, gantian ibu yang sholat...," Haya memegang mukenah di tangan nya karena baru selesai dari sholat Dzuhur, tak menyadari keberadaan tiga orang di hadapan Bu Amin. Karena memang mereka tak banyak suara.
Brugh..
Tidak hanya mukenah yang jatuh, bahkan jantung haya terasa jatuh kebawah lantai terinjak-terinjak tak bersisa lagi.
Siang hari, panas dengan terik matahari, bahkan ber AC untuk mengganti cuaca ruang.
Tapi Haya merasa panas melanda, petir mengelengar keseluruh penjuru membuat semua titik hati Haya remuk redam.
Ada rindu, ada asa, ada keterkejutan, semua tercampur menjadi satu.
"Mas Ahmad Faiz, kamu ada disini?" Lirih Haya dengan mata yang sudah berlinang air mata, bahkan mata indah Haya sudah penuh dengan buliran bening yang akan jatuh dan berurai. Tak berselang lama benar saja air mata itu membanjiri kedua pipi Haya.
Bu Amin menoleh ke arah lelaki yang ada di dekat Meca, lelaki yang sedang melihat sketsa baju resepsi pernikahan, beralih menatap Haya begitu dalam.
Meca menoleh ke arah Ahmad Faiz yang kebingungan dengan mata yang terus menatap Haya.
Haya berlari, mendekat dan menatap lelaki di depan nya dengan seksama.
"Iya.. kamu mas Faiz ku, benar, kamu mas Faiz ku," Haya masih memandang wajah meneduhkan milik Ahmad Fais, sesekali Haya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
Ahmad Faiz terdiam, bingung harus melakukan apa. Ahmad Faiz sama sekali tidak mengingat apapun juga, wajah Ahmad Faiz berubah menjadi tampak dilema. Jujur Ahamd Faiz merasa kasihan pada perempuan di hadapan nya.
"Mas....!" Lirih Haya dengan suara sendu, tertahan oleh isakan yang tak juga mereda.
"Dia itu calon suami Meca, bukan suami Muhallil mu yang bodoh itu. Mereka hanya mirip, tapi mereka berbeda, Haya. Jangan menganggap calon suami Meca ini adalah suami mu." sarkas Angel begitu sinis menatap Haya dengan rasa senang.
"Bohong, apakah di dunia ini ada orang yang mempunyai kemiripan wajah hampir seratus persen, aku sangat yakin dia mas Faiz. Mas Fais tidak lah terlahir kembar, jadi rasanya dia adalah mas Faiz, iya kan dia mas Faiz, kamu menemukan mas Faiz dimana Meca?" tanya Haya dengan tatapan tajam.
"Mas kenapa kamu diam saja!" Haya menarik tangan Ahmad Faiz, berharap Ahmad Faiz berbicara dan mengatakan kebenaranya, namun semua nihil yang tak bertepi, Ahmad Faiz masih berdiam tak bersuara.
"Namanya Hizam, bukan Faiz." jawab Meca gamang. Ada rasa khawatir merayap kedalam hati Meca, Meca takut apa yang Haya katakan adalah benar, benar jika lelaki yang ia temukan adalah suami Haya.
Meca takut patah hati, Meca takut Ahmad Faiz akan kembali pada Haya, Meca tidak mau itu terjadi, apapun yang sudah menjadi miliknya, akan tetap Meca genggam. Meca tak terima jika Hizam adalah suami Haya, Meca tidak akan membiarkan nya.
Haya menggelengkan kepala tidak percaya.
"Mas, apa kamu lupa padaku, apa kamu benar-benar tidak mengenali ku, mas...?" Haya masih dengan gaya memelas berharap Ahmad Faiz menjawab iya.
Bahkan kakinya rasanya sudah tidak sanggup menahan bobot tubuh nya.
"Sudah di katakan, bahwa dia bukan Ahmad Faiz, dia adalah Hizam, calon suami Meca. Apa kamu tuli, Haya. sudah di jelaskan berulang kali, tetap saja ngeyel." tegas Angel begitu senang melihat ekspresi Haya yang syok berat, tampak menyedihkan.
"Tidak.. tidak... Tidak..., Jangan lakukan ini mas, aku mohon.. jangan! Ingatlah aku mas," pinta Haya dengan buliran bening yang terus saja jatuh tanpa ampun.
"Dasar perempuan tidak tau malu, sudah di katakan dia bukan suami mu, dia Hizam. jangan merendahkan harga dirimu hanya demi sebuah pengakuan yang belum pasti, Haya. Memang ya dari dulu sampai sekarang, kamu tetap seperti perempuan yang tak mempunyai harga diri," tegas Angel sekali lagi.
Haya luruh kelantai, menangis tergugu dengan perih bak di sayat sejuta sembilu.
Huhuhu
Bu Amin mendekati Haya, mengusap punggung Haya, berharap Haya berhenti menangisi apa yang terjadi di depan matanya. Bahkan Bu Amin menyayangkan sikap Meca dan Angel yang begitu kasar dalam berucap.
"Aku tidak suka pelayanan di butik yang terkenal brand, dan pelayanan yang be okay. nyatanya butik macam apa ini, ada seorang pelanggan yang di anggap suami nya, padahal suaminya sudah jelas-jelas sudah mati." tekan Angel merendahkan.
__ADS_1
"Bahkan pelayan tersebut memaksa agar pelanggan mengakui, bahwa benar lelaki yang di anggap suaminya itu benar-benar suaminya. dasar perempuan gat**" Angel masih dengan angkuh mengungkapkan pikiran nya yang belum puas mencaci maki Haya.
Haya masih tergugu..
"Ayo kita pindah butik saja!" Ucap Angel, menarik tangan Ahmad Faiz, lalu Meca menyusul di belakang Ahmad Faiz.
Haya mendogakkan kepala melihat Ahmad Faiz pergi untuk yang kedua kalinya.
"Jangan tinggalkan aku?" Haya bergumam begitu pilu.
Ahmad Faiz menoleh dan menatap Haya, jelas itu adalah tatapan Ahmad Faiz, kenapa Haya bisa lupa dan salah orang.
Itu benar Ahmad Faiz.
"Mas...." Haya berteriak begitu menyayat hati. Berharap Ahmad Faiz kembali.
"Sabar Haya, sabar... Mungkin benar lelaki itu bukan suami mu, mereka hanya mirip saja." Ucap Bu Amin berusaha menenangkan Haya.
"Tidak, Bu. itu jelas suami ku, aku tidak mungkin salah mengenali suami ku sendiri. Masa iya aku salah orang, lelaki itu benar-benar suami ku, Bu."
"Mas..."
"Mas..."
Arkh...
Teriak Haya benar-benar hancur untuk yang kesekian kali.
"Haya...!" Panggil Bu Amin, karena Haya berlari menuju lantai satu mengejar Ahmad Faiz.
Haya.
Bu Amin masih memanggil Haya.
Dug...
Dug..
"Haya, ada apa?" Teriak Lin karena Haya berlalu dari hadapan nya, setelah Angel marah-marah pada pelayanan butik queen.
Haya kembali merobohkan tubuh pada lantai parkiran, ada sesak yang kian menghimpit hati, rasa sakit yang baru saja akan hilang, kenapa kini kembali lagi.
Mobil yang mereka tumpangi, sudah berlalu pergi terlalu jauh.
"Ini tidak adil Tuhan...!" teriak Haya sambil memukul lantai dengan kencang bertubi-tubi.
"Kenapa engkau hadirkan dia kembali, jika hanya untuk mengores hati untuk yang kesekian kali. Dimana letak syurga yang engkau janjikan, aku sudah bersabar selama ini. Tapi, kenapa engkau masih mengujiku. ini terlalu menyakitkan Tuhan. Aku tidak sanggup jika harus melihatnya bersama perempuan lain, aku tak sanggup!"
Lin pun datang.
"Haya, ada apa?" Lin mendekati Haya yang masih terisak begitu menyedihkan.
"Apa kamu juga akan mengatakan bahwa dia bukan suami ku Lin, padahal aku sangat yakin dan itu jelas sekali. Dia suami ku, Lin."
Lin memilih diam, Lin tidak tau harus menjawab apa, Lin pun ragu akan ucapan yang Haya katakan, mungkin mereka hanya mirip.
"Haya kamu harus sabar?" Lin mengusap pundak Haya.
"Aku pulang Lin, mulai besok mungkin aku tidak akan bekerja di butik mu lagi. Aku pamit Lin, terimakasih sudah memberiku pekerjaan."
"Kenapa begitu Haya, kamu tidak boleh meninggalkan pekerjaan ini, bukan kah kamu masih butuh uang untuk biaya hidup, kamu mau kerja apa Haya?" Lin begitu khawatir dnegan keputusan Haya yang sedang tersulut api emosi.
Huhu
Haya meremas ujung jilbab, dengan tangis yang membuat wajah nya bergetar.
Kenapa bisa sesakit ini.
Rasakan jika orang yang kamu cintai, tak ubahnya seorang suami mu, berjalan dengan wanita lain, suami mu bahkan tidak mengenali mu, itu menyakitkan...
Sungguh menyakitkan!
Haya benar-benar tak ingin mengingat saat Ahmad Faiz hanya menatap nya sendu, tanpa sepatah kata pun. Rasanya Haya kehilangan semangat untuk hidup, rasanya hidup Haya semakin tak berasa, semakin tanpa warna.
__ADS_1
Ingin Haya menyerah untuk menjalani hidup, tapi itu tak boleh. Suatu dosa jika di lakukan dengan rasa keputus asaan. Haya harus semangat dan bersyukur akan takdir, sekuat apapun hati Haya terasa perih dan terluka.