
Selepas Ahmad Faiz dan sang Ayah pulang dari Masjid, Haya sama sekali tidak memunculkan diri, Haya masih mengurung di dalam kamar. Haya enggan untuk keluar dari kamar, rasanya Haya ingin sekali pergi dan meninggalkan semua cerita aneh ini.
Dalam diam Haya merenung dan menimbang. Suatu kebahagiaan bisa bersanding dengan lelaki sebaik Ahmad Faiz. Tapi semua tak seindah itu, kembali lagi Haya masih teramat mencintai Niko dan Attar. Bagaimana pun juga, Attar dan Niko lah yang masih menguasai hati, pikiran, dan cinta Haya.
Seandainya kata Talak itu tidak pernah di ucapkan, oleh seorang lelaki bernama Niko. mungkin nasib pernikahan Haya tidak akan se rumit ini. Seandainya Niko tau betapa Haya menderita dengan pernikahan Muhallil ini? Apakah Niko memiliki belas kasih padanya?
Kenapa langkah ekonyolan pernikahan bisa Haya ambil? bukan kah pilihan menikah dengan Muhallil yang Haya pilih, akan menyakiti banyak perasaan. Akan banyak hati yang terluka oleh tindakan yang Haya pilih.
Haya kembali berpikir tindak rencana pernikahan paksa yang di lakukan Niko terlalu membuat Haya kena mental. Dengan kata menikah karena di gerebek, tentu mengindikasikan jika Haya dan Ahmad Faiz bukan lah orang yang baik.
Kenapa tidak secara baik-baik? Kenapa harus ada drama penggerebekan, jadi seolah-olah Haya lah yang paling bersalah. Kenapa Niko bisa melakukan hal seperti ini?
Apa salah Dan dosa Haya, sampai harus menanggung beban serumit menemukan puzzle.
"Kenapa kamu Jahat mas? Kamu menyakiti aku. Aku sakit karena mencintai mu!" Desis Haya pelan menahan sebah di dada.
"Sudah lah, aku enggak boleh menangis lagi. Kasihan air mata ku jika terlalu sering di keluarkan, bahkan orang yang ku tangisi tidak paham kesedihan ku, ini menyedihkan!" Haya mengusap air mata yang masih basah di atas pori- pori pipi bersihnya.
"Jam delapan malam, kenapa terasa lama sekali! Aku berharap waktu kan cepat berlalu, hingga aku tidak harus merasakan kesakitan ini," Haya merebahkan badan di atas kasur. Berharap semua akan segera berakhir.
Tok___tok___
"Haya___, apa kamu sudah tidur nak? ini sudah jam delapan malam dan kamu belum makan malam, bangun dan makan malam lah terlebih dahulu sebelum tidur?" Suara ibu Ahmad Faiz dari balik pintu.
Haya terdiam, duduk dan menghapus air mata yang terus saja membanjiri pipi Haya.
Tok....
Tok...
__ADS_1
Ibu Ahmad Faiz atau biasa di panggil bu Malik, karena Ayah Faiz bernama Ahmad Maliki. Bu Malik adalah seorang ibu yang terkenal baik dan bijaksana, dari rahim nya lah lahir lelaki baik dan tampan, baik dan sholeh seperti Ahmad Faiz.
"Haya___" Seru Bu Malik sekali lagi.
"Iya, Bu. tunggu sebentar," Haya gegas berdiri dan membuka pintu.
Klik
"Maaf Bu___?" Lirih Haya sambil membenarkan jilbab yang acak-acakan. wajah Haya terlihat sendu dibalik jilbab instan berwarna maroon.
"Tidak apa-apa nak. Apa Haya merasa sedih karena ucapan bude Dina sore tadi? Jika iya ibu minta maaf ya? Tolong di maaf kan, memang sifat bude Dina seperti itu. Haya harus membiasakan tidak mengambil dari apa yang bude Dina katakan, jika yang dikatakan bude Dina tidak benar."
"Kok ibu yang minta maaf. Kan ibu enggak bersalah. Lagian Haya sudah tidak memikirkan hal itu lagi,bu."
"Bude Dina kan mba nya Ibu. Tapi syukur lah, jika nak Haya tidak tersinggung oleh ucapan bude Dina, ibu senang dengar nya," Bu Malik tersenyum sambil mengusap pipi Haya yang lembab oleh air mata.
"Tapi tetap Ibu enggak salah. Ibu tidak melakukan kesalahan apapun, tolong jangan katakan maaf lagi, Bu!" Jawab Haya merasa tidak enak hati.
"Ibu___!" Haya langsung berhambur memeluk Bu Malik. Bu Malik pun terkejut karena di peluk secara tiba-tiba oleh Haya.
Bu Malik mengusap punggung Haya dengan lembut. "Sudah jangan sedih lagi? kan ada Ibu, tenang dan perbanyak membaca istighfar, ada Allah bersama mu, Haya," Lirih bu Malik sambil mengusap pucuk kepala Haya.
"Terima kasih ya Bu? Dengan memeluk Ibu aku merasa jauh lebih tenang. Tetaplah seperti ini Bu, tetaplah menjadi tempat dimana Haya membutuhkan ketenangan,"
Bu Malik terus mengusap punggung haya.
Bu Malik pun tersenyum dan mengandeng tangan Haya menuju ruang Makan.
"Kita pergi makan dulu? Walau seperti apa perasaan kita saat ini, harus di perhatikan makan nya. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga kesehatan, lantas siapa lagi?"
__ADS_1
Haya mengangguk, mengusap air mata yang mulai mereda. Sungguh perlakuan Bu Malik membawa ketenangan tersendiri buat Haya.
"Duduk lah!" Titah sang Ibu.
"Siapa yang masak saos merah sambal udang Bu?" Tanya Ahmad Faiz sambil melempar senyum ke arah Haya. Setelah Haya keluar, Ahmad Faiz dan pak Malik sudah datang dari Masjid. Karena malam itu pak Malik mengajak Ahmad Faiz mengunjungi kediaman pak Burhan selepas pulang dari jamaah isya.
"Haya tapi bohong___!" Ucap sang Ibu cepat. Haya langsung menoleh ke arah sang Ibu, dan sang Ibu hanya mengedipkan mata sebagai pertanda semua akan baik-baik saja.
"Oh benar kah, pasti rasanya sangat enak, tapi bohong juga!" Balas Ahmad Faiz menjawab ucapan sang ibu.
"Tentu enak, jangan diragukan masakan menantu ibu ini, pasti enak!" Bu Malik menjawab dengan antusias.
Mereka berempat pun makan dengan sayur dan lauk pauk yang tersedia, sejak tadi sore semenjak Haya merasa sedih oleh ucapan bude Dina. Haya hanya berdiam diri di kamar lalu siapa yang masak, apakah ibu?
Haya memakan suapan demi suapan dengan rasa takjub, rasa masakan tersebut sangat lah lezat dan nikmat. Bagaimana mungkin jika suatu hari nanti Ahmad Faiz minta di masakin saos merah sambal udang? Tamat lah riwayat mu Haya, kenapa Bu Malik harus berkata berbohong?
"Ibu, kenapa ibu berkata bohong pada mas Faiz?" Haya menaruh piring kotor di dalam wadah, setelah beres makan.
"Maafkan Ibu nak, ibu hanya ingin anak Ibu senang. Tolong belajar lah memasak untuk anak Ibu, bahagia Faiz bahagia Ibu. Selama ini Faiz sudah banyak bersedih karena kepergian Khadijah, jadi ibu harap kamu dan Faiz bisa hidup selalu bahagia."
"Tapi Bu___!"
"Dengarkan Ibu. Ibu percaya kalau kamu adalah wanita baik. Ibu tidak akan mendengar apapun komentar tentang pendapat bude Dina, dan orang-orang di luar sana tentang mu. Karena Ibu yakin lelaki baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, jodoh itu cerminan diri, nak. Dan ibu percaya dengan pilihan anak ibu."
"Terima kasih, Bu!" Haya merasa terharu. Bu Malik tidak seperti kisah dalam novel ataupun sinetron yang menggambarkan seorang mertua yang jahat. Bahkan Bu Malik terkesan sangat baik dan penyayang. semoga selalu seperti ini, harapan Haya.
"Iya sayang," Sang Ibu pun mengelus bahu Haya dan berlalu. Haya masih merasakan ketenangan dalam setiap untaian kata yang Bu Malik lontarkan, perkataan yang teduh lagi menenangkan. Tidak ada paksaan, tekanan dan keharusan.
Terasa seperti air yang mengalir mengikuti arus yang telah di takdir kan.
__ADS_1
"Terimakasih Bu, terimakasih sudah memberikan kehangatan kasih seorang ibu yang memang aku rindukan selama ini. Aku rindu di marahi ibu ku saat aku salah, aku rindu di belai kasih saat aku sakit, aku rindu semua tentang cinta kasih ibu," Haya tersenyum bahagia.