
"Bu.. pasien telah sadar." seorang perawat menemui Meca. Sudah hampir satu bulan lamanya Meca selalu datang untuk menjenguk lelaki yang ia temukan beberapa hari silam.
Dengan langkah cepat, Meca menemui lelaki tersebut dengan rasa khawatir.
Klik..
Meca terpana, pandangan lelaki itu sejuk dan meneduhkan. Apalagi saat lelaki itu tersenyum, masyaAllah begitu indah ciptaan yang maha kuasa. Meca begitu mengagumi senyuman lelaki di depan matanya.
"Hay____!" Meca pun menyapa dengan begitu ramah.
"Kamu siapa?" Tanya Ahmad Faiz bingung.
"Aku, Meca."
Dokter pun memanggil Meca untuk keluar sebentar. "Mari Bu, ikut saya kedepan sebentar, ada yang mau saya bicarakan."
Dret..
"Bagaimana dok, apa pasien sudah bisa pulang hari ini?" Tanya Meca penasaran.
"Bisa, Bu. hanya pasien perlu selalu check up setiap seminggu sekali, untuk melihat progres tangan nya yang mengalami patah tulang, dengan rajin check up kesehatan pasien akan cepat pulih dan selalu terpantau."
"Satu lagi, kemungkinan besar pasien mengalami Amnesia, karena kepala yang terbentur sangat keras menyebabkan beberapa syaraf di kepalanya rusak. Mungkin pasien mengalami gagal mengingat banyak hal."
Meca melongok.
"Apa dok, amnesia?" panik dong Meca mendengar penuturan dokter.
"Iya, Bu. Saya harap ibu benar-benar menjaga dan pelan-pelan memberinya pengetahuan, karena hampir seluruh ingatan nya hilang."
Meca menutup mulut nya.
"Saya tinggal dulu Bu, permisi."
Meca mondar mandir di depan ruangan Ahmad Faiz. rasanya Meca bimbang, apakah harus Meca membuat pengumuman tentang penemuan orang. Apakah yang harus Meca lakukan sekarang?
Klik..
"Meca___!" Ahmad Faiz menatap Meca bingung.
"Jangan bingung Hizam, aku ada disini bersama mu. Walau kamu melupakan semua kenangan kita, aku perlahan akan membuat mu mengingatnya lagi. Jadi, kamu jangan khawatir ya!"
"Siapa aku?" Ahmad Faiz menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bingung.
"Nama mu Hizam.. kamu adalah tunangan ku, sebentar lagi kita akan segera menikah."
Ahmad Faiz yang di ganti bernama Hizam pun menunduk bingung. Ahmad Faiz tak bisa mengingat apapun, walau hanya sedikit saja.
"Jangan khawatir Hizam, aku akan selalu bersama mu. Aku akan selalu ada di sisi mu. Sekarang mari kita pulang?"
Ahmad Faiz pun menurut apa kata Meca, Ahmad Faiz mengikuti Meca menuju mobil, perlahan mobil Meca melaju kerumah Meca yang besar dan megah.
"Ini rumah ku, kita akan tinggal disini sampai kamu bisa mengingat semuanya. Aku akan mengurus mu sampai keadaan kamu benar-benar pulih."
Ahmad Faiz mengangguk dan mengikuti apa kata Meca.
Ahmad Faiz melihat beberapa foto di dinding, tak ada satupun ada fotonya yang terpajang disana.
"Ini kamar mu Hizam," Meca membuka sebuah ruangan, kamar itu sangat bersih, wangi dan sangat rapi.
"Kamu bisa beristirahat disini, di dalam sudah ada toilet nya. Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa panggil bibik, aku pergi dulu, aku masih banyak pekerjaan."
"Terimakasih Meca." Lirih Ahmad Faiz.
"Iya.. aku pergi dulu, Hizam. Bye..!"
__ADS_1
Meca pergi ke kantor, karena permasalahan jembatan roboh tak kunjung selesai. Meca berusaha menekan biaya tunjangan kepada korban yang meninggal, karena biaya yang harus Meca keluarkan sungguh sangat boombastis.
Drt...
Angel
"Ngapain Angel mengirimi ku pesan," Meca lekas membuka pesan dari Angel.
"Temui aku di cafe tempat biasa kita nongkrong!" pesan Angel.
Meca pun malas membalas chat dari Angel, apalagi yang perlu di bahas.
Pasti Angel akan membahas masalah rumah tangganya dengan Vincent, itu adalah masalah yang tidak ada guna bagi Meca. hanya membuang-buang waktu di tengah kesibukan dan masalah nya sendiri.
Angel selalu saja memaksakan kehendaknya. Selalu begitu, pantas saja jika Vincent selingkuh.
*****
Hari ini adalah hari pertama Haya menikmati gaji dari butik queen.
Haya memang kurus, tapi wajahnya sudah mulai kembali berseri lagi, tidak kusut dan kusam seperti dulu.
Antusias dan semangat Haya membuat pemilik toko, Lin merasa senang. Lin tau kisah pahit yang di alami Haya, jadi Lin berusaha untuk tidak membuat hidup Haya semakin sulit dan menderita.
Bahkan di saat hatinya hancur, Haya mampu mengontrol dan menjaga kewarasan, agar mampu bekerja dengan baik.
bahkan Lin tau, jika Haya sedang mengandung. tapi, itu tidak menyurutkan semangat kerja Haya. Mungkin Haya benar-benar membutuhkan dana untuk biaya hidup.
"Haya, tolong kamu bawa baju ini kepada Bu Amin penjahit baju kita, di lantai dua," titah Lin pada Haya.
"Baik, Lin." Haya gegas ke lantai dua, membawa bakal baju untuk segera di jahit oleh Bu Amin.
"Bu, ini bahan bajunya aku taruh disini ya?" Haya hendak menaruh bakal baju di atas meja.
"Tunggu dulu!" desainer baju, Bu Amin pun mendekati Haya.
Dengan seksama Haya melihat, mengamati dengan takjub.
"masyaAllah, indah sekali gaun ini, bu. Pasti akan indah jika di pakai." Lirih Haya mengangumi gambaran Bu Amin.
"Ini model terbaru di butik queen, dengan menyambungkan gaya modern namun tetap sopan, cocok buat yang pakek hijab."
"Model terbaru yang sangat sempurna." Haya manggut-manggut, mengagumi desain yang Bu Amin buat.
"Bahan nya dari kapas pilihan, lembut di kulit, dan menyerap keringat, pokok nya gaun ini hanya ada tiga pcs, warna putih tulang, warna baby pink, dan warna lavender. No more again."
"Limited edition?" Haya tersenyum, mengakui jika gaun yang akan di jahit oleh Bu Amin, memang sangat bagus.
"Kalau menurut mu, kita kasih banderol berapa?" tanya Bu Amin meminta pendapat pada Haya.
"Tergantung kerumitan dan pengerjaan nya sih Bu, hanya ibu yang tau, itu bukan bidang pengetahuanku. Ibu tau lah selera fashion Haya ini, hanya mampu membeli harga yang merakyat."
"Tapi bukan kah dulu, kamu ini sering belanja di toko ini. Setiap ada kepentingan, ada acara penting, pasti kamu pesan di butik queen. bahkan untuk acara pernikahan kamu dan suami mu, aku yang desain, Haya?"
Haya mengingat masa-masa itu, masa yang pernah memberi warna pada hidup Haya, saat ini rasa bahagia menyelimuti hati Haya.
Keluarga yang utuh, orang tua yang masih lengkap, hidup penuh kebahagiaan dan ketenangan, tidak seperti sekarang ini.
"Aku tau jika fashion yang kamu punya cukup baik, jadi aku akan meminta saran darimu. Jangan ragu dalam memberi inspirasi, karena ibu yakin kamu bisa."
"Apalah aku Bu, yang hanya seorang perempuan nol pengetahuan."
"Aku permisi dulu Bu, takut Lin membutuhkan tenaga ku untuk membantunya di bawah."
"Baiklah, silahkan turun!" Bu Amin kembali menjahit gaun model terbaru.
__ADS_1
"Bu, boleh tidak aku belajar menjahit dengan ibu?" Haya berhenti dan menoleh ke arah Bu Amin, berharap permintaan nya terkabul. Haya berharap bisa menjahit baju, walau tidak bagus dan sekece jahitan Bu Amin, setidaknya Haya bisa membuat baju untuk Attar dan anak yang di kandungnya kelak.
"Kenapa ingin belajar menjahit baju?" tanya Bu Amin.
"Hem... Mengisi waktu disaat luang, mengekpresikan apa gambaran yang ada di dalam pikiran, dan menyenangkan keluarga dengan memberikan sepotong baju yang indah, Made in my own hand."
Bu Amin terkekeh..
"Bu, sebentar lagi kan aku akan melahirkan, pelan-pelan aku akan menggunakan kain sisa ini, untuk ku jadikan baju baby, pasti lucu."
"Itu pun kalau boleh sama Lin, sama Bu Amin juga." ujar Haya.
"Kalau untuk kain, boleh Haya, boleh sekali. aku pribadi malah senang kalau kamu ada keinginan seperti itu, aku juga butuh generasi, tidak selamanya aku menjadi penjahit, akan ada masanya aku menua dan perlu istirahat dengan menikmati sisa usia ku."
Bu..
Haya merasa sedih, saat Bu Amin bicara seperti itu.
"Kain perca ini bisa di gunakan, di buat baju kecil, hijab kecil, di buat lap imut, taplak meja atau bahkan keset kaki modern. Pokoknya miltifungsi." Bu Amin mengalihkan suasana, dengan berusaha bersikap ceria.
Haya tersenyum, kenapa sekarang Haya bisa meminta sisa kain, apakah serumit itu hidup Haya. Benar-benar mengsedih hidup Haya kini.
"Aku sakit, Haya." terang Bu Amin memberi tau keadaan nya pada Haya.
"Sakit...?"
Haya begitu terkejut.
"Iya, hanya aku Dan Tuhan yang tau. Aku tidak ingin suami dan anak cucu ku tau, biarlah aku merasakan sakit ini sendirian. Aku tak ingin mereka mengkhawatirkan ku Haya."
"Ibu, ibu sakit apa, ibu.. ibu harus berjuang, agar ibu segera sehat dan sembuh dari penyakit yang ibu derita."
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan pada Lin, Lin akan sangat marah jika tau aku sakit." tekan Bu Amin.
"Tapi ibu tidak boleh menyembunyikan kebenaran ini."
"Haya.., sakit ini masih bisa ibu tahan. Jangan khawatir!"
"Ayo, lekas lah turun, takut Lin membutuhkan bantuan mu, semangat bekerja ya!" Bu Amin berkata dengan begitu ceria.
Haya pun turun kelantai bawah.
Di bawah ada Niko yang sedang ngobrol dengan Lin, mata Niko menatap Haya, entah kenapa ada rasa sedih di hati Niko, ada rasa kasihan pada nasib tragis Haya.
Bagaimanapun juga, Niko tidak menampik bahwa dirinya masih teramat mencintai Haya.
"Haya, tolong antarkan pak Niko pada baju merk Candida, yang ada di lorong sebelah ujung," titah Lin pada Haya dengan sangat terpaksa. Karena Lin sedang sibuk menerima telepon dari saudaranya.
Haya pun mengangguk dan mendekati Niko.
"Mari____!" Haya berjalam mendahului Niko menuju pakaian yang Niko mau.
"Ini baju terbaru keluaran butik queen, ada warna navy, grey, teracota, moca, dan redwosh." Haya berhenti berbicara dan menoleh ke belakang, karena tidak ada suara apapun, Haya berpikir dirinya sudah panjang kali lebar bicara, orang di belakang nya no hear. Sia-sia sudah!
Niko mengamati Haya dengan wajah yang pias.
"Seandainya aku tau, setelah menikah dengan nya hidupmu akan jauh lebih menderita, maka aku tidak akan memilih jalan itu, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku minta maaf, Haya?"
Haya tertunduk, tangan nya meremas ujung baju.
Ingin marah pun percuma, ingin kecewa itu pun sia-sia, semua telah terjadi, tidak ada yang perlu di sesali dan di ingat-ingat.
"Haya, tinggallah di rumah minimalis yang pernah aku hadiah kan dulu?" pinta Niko memohon.
"Setidaknya aku bisa menjaga dan melihat keadaan mu setiap saat, aku khawatri melihat kondisi mu yang seperti ini, Haya." Niko memberi penjelasan.
__ADS_1
Haya tersenyum, lalu dengan bergetar membuka lisan berujar pelan.
"aku baik-baik saja mas, jangan khawatir, ada Allah bersama ku. Jangan terlalu memikirkan hidup ku, jangan!" terang Haya penuh keyakinan.