Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kenapa tak berkata jujur


__ADS_3

"Haya____!" Sapa Meca begitu ramah. Walau Meca mantan bos dari Haya, tapi tetap saja Meca masih berhubungan baik dengan Haya.


Haya diam tak bergeming, hatinya dilema dan kacau, kemana perginya Ahmad Faiz? Kenapa hal sebesar ini harus di sembunyikan, apakah Ahmad Faiz takut menyakiti Hati Haya. Tapi, jika seperti ini, Haya malah merasa sangat tersakiti.


Apa suami yang Haya cintai, mulai pandai berbohong demi kebahagiaan yang semu? Bukan kah kejujuran jauh lebih baik, daripada harus bahagia diatas kebohongan.


Akan kah nasib tragis, menimpa Haya untuk yang kedua kali. Sungguh Haya tidak mau menjadi janda untuk yang kedua kali. Haya benar-benar merasa kacau.


"Aku pamit pergi dulu?" Haya berlalu meninggalkan area perkantoran. Meninggalkan Meca yang bingung dengan sikap Haya. Lain dengan Angel yang tersenyum miring, merasa menang dan puas akan kekalahan Haya.


Haya berhenti sejenak di pos satpam untuk bertanya.


Angel tambah tersenyum sinis, melihat Haya pergi meninggalkan nya dengan wajah yang di tekuk. "dasar perempuan lakna*, berani-beraninya dia bohongin adik ku. Sekarang rasain kamu, makanya jangan main-main dengan keluarga Syah." ketus Angel menatap Haya yang sudah menjauh, tapi masih bisa tedengar ocehan Angel.


Haya tidak menanggapi apapun ocehan Angel, itu percuma dan sia-sia. Angel adalah Angel, dia akan terus memaki sampai dirasa puas.


"Assalamualaikum, pak" sapa Haya ramah.


Security kantor pun menjawab salam Haya dengan ramah juga.


"pak, apa bapak kenal dengan salah satu karyawan kantor disini, yang bernama Ahmad Faiz?" Tanya Haya sopan.


"Oh mas Faiz..., iya mba, aku kenal. Tapi, sudah sekitar dua mingguan, aku tidak pernah melihatnya lagi." Jawab seorang bapak security dengan menabur senyuman.


"Kira-kira bapak tau tidak, kemana perginya, atau tempat kerjanya yang sekarang?" Haya penuh Harap akan jawaban pak satpam.


"Tidak, mba. Pokok nya terakhir aku lihat mas Faiz di kantor ini, pulang sekitar jam sembilan pagi, dengan wajah yang tampak murung dan sedih."


Haya mengerutkan dahi merasa kasihan pada Ahmad Faiz. Haya sudah menduga, pasti ini ulah dari Angel. Tak seharusnya, urusan pribadi bercampur dengan pekerjaan.


"Mas Faiz di pecat kayak nya, mba!" Seru pak security dengan ragu.


Ya Allah...


Kenapa mas Faiz tidak bilang padaku?


Jadi kemana mas Faiz selama dua Minggu ini, kenapa aku selalu menyusahkan nya.


Pantas selama dua Minggu belakangan, mas Faiz selalu mencuci baju, yang aku pikir itu hanya baju ganti. Karena selama berangkat dan pulang kerja mas Faiz selalu tampak rapi, dan aku yang selalu mencuci nya.


"Ya Allah mas, dimana kamu?" Keluh Haya bersedih dan dilema.


"Beberapa barang kantor milik mas Faiz di kasih kepada ku dan bapak satunya lagi," pak security menunjuk bapak satunya lagi yang tengah memantau keadaan aman. Bapak security satunya pun tersenyum menyapa Haya.


"Barang____," Haya galau dong. Barang apa maksud dari bapak security ini?


"Mas Faiz di pecat tanpa pesangon, dan hal itu di ketahui seluruh karyawan kantor, mba. Kami tidak ada yang berani menjawab atau menentang Bu Angel, wah bisa ke pecat juga kami. Padahal selama bekerja mas Faiz sangat rajin dan sopan, baik lagi."


Haya mendengkus, berharap hatinya kembali netral. Haya menatap rantang bawaan nya, dengan berat hati Haya membawa rantang menuju tempatnya bekerja.


Dengan langkah gontai, Haya menuju kedai toko milik nya. Tidak seharusnya kejadian seperti ini menimpa Ahmad Faiz. Haya bisa merasakan betapa kecewanya Ahmad Faiz saat di pecat hari itu.


"kamu dimana, mas?" Gumam Haya.


Haya menoleh ke kanan, kekiri dan duduk di tepi jalan, dibawah pohon rindang nan sejuk.


Pandangan Haya lurus kedepan, menatap nanar sisi jalan yang mulai ramai.


"kamu kerja apa sih mas, kerja dimana, kenapa kamu tidak jujur?" Haya hampir menangis terisak jika tak mengingat tempat umum.


"Kenapa aku merasa sakit dan sedih, saat aku tau kamu di pecat. Pasti itu karena aku, ya kan, mas. Itu karena aku," Haya menunduk dalam, berusaha menetralkan rasa yang beraduk-aduk.


"Aku yang membawa mu masuk, mas. Aku yang merusak hidup mu, maafkan aku, tak seharusnya kamu ikut menderita bersama ku, mas. Ini bukan salah mu, tapi kamu harus merasakan pahitnya dari buah kejahatan ku," Haya benar-benar merasa bersalah.


Sangking merasa galau, Haya sampai lupa, bahwa dirinya punya ponsel, dan dengan ponsel dirinya bisa saja menelpon Ahmad Faiz.


Itulah panik.


Saat panik, kita akan lupa hal kecil di sekitar kita.

__ADS_1


"Mba____!" Seorang bocah kecil, yang tempo hari berjualan siomay, Noval.


Haya mendongakkan wajah, dan tersenyum pias. "Noval, kamu tidak sekolah?" Haya berusaha bersikap tenang.


"Aku sekolah mba, apa mba tidak tau, ini sudah jam satu siang" jawab Noval sumringah menyadari keunikan Haya.


"Benar kah, Noval?" Haya melihat jam di pergelangan tangan, yang melingkar di tangan nya.


"Astagfirullahaladzim, aku sampai lupa waktu." Haya tersenyum malu.


"Ayo mba, mampir kerumah ku, rumah ku dekat darisini?" tawar Noval dengan penuh kesungguhan.


"Terimakasih Noval, tapi untuk kali ini kayaknya aku gak bisa deh, gimana kalau lain waktu saja,"Haya menolak dengan halus.


"Bener ya, mba?" seru Noval mengisyaratkan sebuah janji.


"Insyallah ya Noval," Haya pun berpisah dengan Noval, dengan tujuan masing-masing.


"Ya Allah, pasti bapak dan Ibu sudah sampai di toko dari tadi," Haya bergumam sendiri.


Napas yang masih ngos-ngosan, di tambah udara yang panas, membuat Haya berkeringat dan kepanasan.


Haya melihat pak Malik dan Bu Malik, melayani pembeli pakaian secara offline. tentu mereka tidak bisa menjual secara online, mereka sudah sepuh, dan kurang paham masalah internet.


"Assalamualaikum..." Sapa Haya sambil nyengir karena sudah sangat telat.


Pak Malik dan Bu Malik menjawab salam secara serempak.


"kok lama banget nak, apa ada urusan lain sehingga memerlukan waktu lama, ibu khawatir loh," seru Bu Malik.


Bu Malik tentu tidak tau, hal yang sebenarnya, bahkan Bu Malik tidak tau awal mula kisah rumit Haya dan Faiz.


Haya hampir meneteskan air mata, sekuat tenaga Haya menahan nya agar tidak jatuh.


"Sholat lah dulu, nak. Sudah masuk waktu sholat Dzuhur?" pak Malik mengusap pundak Haya dan menyuruh Haya menunaikan kewajiban empat rakaat.


Haya mengagguk dan gegas pergi ke belakang, untuk melaksanakan empat rakaat, di tengah kegundahan yang Haya rasakan.


"Ya Allah ampunilah hamba mu ini, hamba yang penuh dengan dosa dan nista. ya Allah jangan lah engkau membuat luka untuk orang yang ku sayangi, sungguh ini membuatku terluka. Ampuni hamba, maafkan hamba, tolong lah hamba ya Allah.. "


Hiks...


"Ya Allah___ hamba sudah sangat bersalah pada suami hamba. Dia lelaki yang sangat baik, rasanya hamba lebih tersakiti saat melihatnya berusaha membuat hati hamba senang padahal dia yang kucintai menahan luka."


"Ya Allah .. berikanlah yang terbaik untuk hidup hamba. Lindungi dan sayangi suami hamba dimana pun dia berada," Haya mengusap pipi yang basah.


Rasa takut tiba-tiba menyelinap.


Sret...


Selesai sholat, Haya membantu pak Malik dan Bu Malik. Haya membuka aplikasi marketplace via online miliknya, banyak sekali orderan masuk.


"Banyak sekali," keluh Haya tak suka.


"Ada apa, nak?" Pak Malik mendengar gumaman kecil Haya.


"Hah, orderan yang masuk kali ini banyak banget, pak." Haya terlihat tidak senang.


"Alhamdulillah dong, berarti rejeki nak Haya bagus, di lancarkan sama Gusti Allah. bersyukur dong," pak Malik mencoba membuat Haya tersenyum.


Dengan setengah di paksakan, Haya mencoba tersenyum.


Krek


Haya membungkus pesanan via online, sungguh pikiran nya kacau balau. ingin rasanya Haya segera bertemu dengan Ahmad Faiz. Banyak hal yang ingin Haya sampaikan. Haya ingin bersujud dan meminta maaf, karena sudah menyusahkan nya selama ini.


"Mas____!" Lirih Haya tak kuasa meneteskan air mata. Sedari tadi di tahan, akhirnya jatuh juga.


"Haya." Bu Malik mengusap pundak Haya, karena Bu Malik mendengar rintihan Haya.

__ADS_1


"ada apa, nak?" Tanya Bu Malik Tidka mengerti.


Haya menoleh, dan pura-pura baik-baik saja. lalu kembali membungkus orderan hari itu.


Jam pun telah berganti, dan kini jam menunjukan pukul lima sore.


Haya meregangkan otot, sungguh lelah mendera. Ingin rasanya Haya merebahkan diri untuk mengurangi rasa lelah.


"Bu, kita pulang saja yuk, ini di lanjut besok lagi. Aku sudah lelah," ajak Haya merasa sangat lelah dan letih.


"Mari___," Bu Malik pun menyetujui usulan Haya. biasanya Haya akan lembur, sampai oderan hari ini, selesai hari ini, tidak menumpuk dan menggunung.


Tapi tidak dengan hari ini, Haya merasa lain dari hari kemarin.


Mereka bertiga pulang menggunakan jasa taksi online, di dalam mobil Haya benar-benar gelisah.


Bahkan pak Malik yang membayar biaya transportasi. Haya langsung pergi begitu saja, Haya hari ini terlihat tidak seperti biasanya. Haya banyak diam.


Bu Malik mengikuti langkah kaki Haya, rupanya Haya menuju ke jemuran baju yang masih mengantung.


Haya hapal betul, mana baju yang Ahmad Faiz cuci sendiri.


Srek..


Haya memilah baju yang tergantung di jemuran tersebut.


Haya terkejut melihat baju yang ada beberapa bekas semen, pun dengan celana kolor Ahmad Faiz yang hampir sobek karena di sikat terlalu keras kemungkinan.


Baju apa ini, kenapa aku tak pernah melihatnya? Mas Faiz terlalu rapi, mencuci malam saat aku terlelap. Mengangkat sore hari sebelum aku pulang dari butik.


Haya berlari, menuju teras menunggu Ahmad Faiz pulang, dengan baju yang ada di genggaman nya. Banyak Hal yang ingin Haya katakan.


Bahkan Haya tidak memikirkan apapun lagi, kecuali kepulangan Ahmad Faiz. Haya setia menunggu diteras rumah dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan lagi.


Detik berganti menit, menit berganti jam.


Sudah hampir tiga jam, Haya berdiri di depan teras. Saat lelah berdiri Haya duduk di bangku kayu, lalu berdiri lagi, begitu seterusnya. Tapi, Ahmad Faiz tak kunjung pulang. Padahal hari sudah mulai kelam.


Tut..


Panggilan tidak aktif. Sedari siang, Haya mencoba menghubungi Ahmad Faiz tapi nihil. Tidak aktif.


"Kamu dimana, mas?" Haya benar-benar khawatir. Tangan nya *******-***** ujung baju.


"Mba, masuk yok? Kayaknya mau hujan deh. gelap banget, mana angin nya kencang," Nahla mengandeng tangan Haya mengajak Haya masuk kedalam.


"Tapi, Nahla____, Mas Faiz belum pulang," jawab Haya enggan beranjak dari tempatnya duduk.


"Kita tunggu di dalam saja ya, mba. Mba juga belum makan loh, makan dulu yuk?" Ajak Nahla penuh perhatian. Karena sedari pulang dari toko bunga, Nahla melihat Haya duduk di teras dengan gelisah.


Haya menggeleng tidak mau. Tapi, Nahla terus membujuk karena angin sudah bertiup kencang.


Nahla membawa Haya duduk di tepi ranjang sudut. Tempat dimana mereka biasa mereka beristirahat.


"aku ambilkan makan ya, mba?" Tawar Nahla


Haya menggeleng tak mau.


Nahla pun terdiam dan menatap raut cemas di wajah Haya begitu besar. Nahla pun tidak dapat memungkiri, bahwa dirinya pun begitu cemas. Kenapa sudah malam begini Ahmad Faiz tak kunjung pulang.


Bu Malik pun, bolak balik mengintip dari balik jendela.


"Kenapa belum pulang juga ya, ini sudah malam, mana di telpon tidak bisa lagi, di luar pun hujan," Bu Malik begitu khawatir akan keadaan Ahamd Faiz. Wajah tuanya terlihat begitu cemas.


Haya menunduk dalam. Menahan sebah didada, berusaha berpikir yang baik-baik. Mudah-mudahan Ahmad Faiz tidak kenapa-napa.


Note:


Mohon maaf untuk para reader cinta sang Muhallil karena saya jarang up. bukan tak mau up, sebab di desa saya nih sering mati lampu. Alhasil sinyal hilang entah kemana?

__ADS_1


Jangan bosan untuk menunggu setiap bab. Terimakasih sudah membaca karya saya, tetap semangat menjalani ibadah puasa...


__ADS_2