
"Bu_____," Pak Malik menatap wajah Bu Malik yang sesungguh nya menenangkan untuk tidak melanjutkan pertanyaan, Dan menghentikan pertanyaan konyol yang di lontarkan, untuk segera menyudahi bicara masalah sepribadi ini.
Pak Malik merasa, Bu Malik terlalu berlebihan. Tidak selayaknya Bu Malik bertanya hal demikian pada Ahmad Faiz.
"Maaf, Ibu hanya mengeluarkan unek-unek yang ibu pendam pak. Lagian Ibu kan sudah pengen gendong cucu dari Faiz dan Haya. Ibu ini sudah tua, pak. Sudah kangen banget sama cucu, harapan ibu Faiz sama Haya tidak menunda-nunda untuk punya anak."
"Maaf kan Ibu, Faiz. Ibu sudah keterlaluan?" Bu Malik meminta maaf atas pertanyaan yang baru saja di berikan pada Ahmad Faiz dan Haya. Bu Malik sadar tak seharus nya ia bertanya demikian.
"Tidak apa-apa Bu. Faiz yang minta maaf sama Ibu, karena sampai detik ini Faiz belum bisa memberikan cucu yang sangat ibu rindukan. Insyallah berkat doa dan restu Ibu, Faiz dan dik Haya akan segera punya momongan," Ahmad Faiz menyakinkan sang Ibu, bahwa berkat doa nya lah Allah akan ridho dalam setiap langkah kaki yang di tempuh.
"Doa ibu selalu menyertai mu nak. Ibu teramat mengasihi mu."
Faiz memeluk sang Ibu dengan penuh haru, pemandangan yang jarang Haya lihat. Bayangkan saja di era modern seperti ini akan langka seorang anak lelaki yang teramat menghormati dan mengasihi sang Ibu.
"Haya berjanji lah pada Ibu. Haya akan belajar memahami dan mengenal lebih dalam lagi dengan anak Ibu, cintai Faiz dengan Ikhlas nak. Ibu yakin Faiz bisa membuat nak Haya bahagia walaupun dengan kesederhanaan?"
"In___insyallah, Bu."
"Jangan tinggalkan anak Ibu, disaat nak Haya sudah tidak mencintai nya lagi. Jangan bosan untuk terus mengingatkan Faiz pada kebaikan. Terima segala kekurangan nya nak, Ibu tidak ingin melihat Faiz bersedih karena berpisah dengan istrinya untuk yang kedua kali nya."
"Kalian harus bisa menjaga satu sama lain. Jika ada masalah yang menerpa segera di selesaikan dengan cara yang baik. Kalian harus saling mengingatkan jika di antara kalian ada yang lalai, saling melengkapi dan mengerti." pesan pak Malik.
Haya dan Ahmad Faiz terlihat mendengar setiap nasehat, yang di ucapkan oleh Bu Malik dan pak Malik. Bagaimana pun hati Haya masih menerima setiap nasehat yang di dengar nya. Keegoisan yang dulu di ciptakan perlahan pudar dengan kelembutan yang di tawarkan.
Selepas kepergian Ahmad Faiz dan Haya dari kampung. Bu Malik terisak dan sedih, tapi mau bagaimana lagi, Bu Malik tidak mungkin menghalangi kedua anak nya untuk kembali ke kota.
Di kota lah Ahmad Faiz dapat bekerja dengan pilihan yang di sukainya, dan di kota pula lah Haya mengejar mimpi untuk sukses bersama Ahmad Faiz.
Harapan Bu Malik, dimana pun keberadaan Ahmad Faiz, yang terpenting Ahmad Faiz tidak melalaikan sholat dan semoga saja Allah selalu melindunginya.
Di sepanjang perjalanan, Haya memikirkan banyak hal tentang nasehat yang di ucapkan kedua mertua nya. Haya tersentuh dan sangat mengkhawatirkan nasib pernikahan nya.
Namun kembali lagi. Secara hukum Negara Haya masih istri sah dari Niko. Kebenaran itu tidak dapat di pungkiri. Tidak sepatut nya Haya berkata dusta pada Ahmad Faiz, Jika sudah begini, seratus persen kesalahan jatuh dalam pelukan Haya.
__ADS_1
Tak terasa air mata membasahi pipi. Turun terjun bebas begitu saja dari kelopak mata indah Haya. Haya mencoba mengusap air mata yang turun tanpa di pinta, hati Haya kian sakit jika membayangkan Ahmad Faiz akan kecewa, marah dan kemungkinan akan membencinya.
"Bagaimana cara aku dapat menjelaskan pada mas Faiz? Apakah aku tidak akan melukai hati dan perasaan nya. Tidak dapat ku pungkiri, aku mulai nyaman hidup bersama nya. Lalu bagaimana dengan Attar?" Haya bermonolong dengan batin yang terus menyiksa.
"Kenapa juga tiba-tiba Bu Mecca memecat ku? Apa ini juga serangkaian taktik yang mas Niko luncurkan atas kemarahan nya? Karena aku tidak kunjung cerai dari mas Faiz" Haya mengusap pucuk kepala Faiz yang bersandar di bahu nya.
Lelaki tampan dengan wajah bersih berseri-seri, hidung mancung dan kepala yang tertutup oleh kopyah menambah kesan mengagumkan bagi Haya. Ada segelintir asa yang diam-diam Haya ciptakan disana.
"Seandainya jatuh cinta lagi itu di perbolehkan, seandainya mencintaimu itu bukan kesalahan," Haya masih mengusap pucuk kepala Ahmad Faiz lembut. Mata Haya terpejam membayangkan luka yang semakin parah saja.
"Bu, ini sudah sampai?" Seorang supir travel menghentikan mobil di depan rumah kecil dan mungil yang kini di tempati Ahmad Faiz dan Haya.
"Iya pak, tunggu sebentar saya mau membangunkan suami saya dulu pak," Haya menggoyangkan tubuh Ahmad Faiz.
"Mas, bangun kita sudah sampai," lirih Haya.
Perlahan Ahamd Faiz membuka mata dan tersenyum.
"Sudah sampai ya?" Ahamd Faiz memandang wajah ayu Haya dan Haya membalas dengan sebuah senyuman lagi.
Karena Bu Malik gemar menjahit, maka Bu Malik menjahit beberapa pakaian untuk Ahmad Faiz dan Haya.
Setelah membayar sopir travel, Ahmad Faiz membuka pintu rumah yang sudah dua minggu di tinggalkan nya.
"Lumayan kotor dan berdebu," Ahmad Faiz mengambil sapu dan mulai menyapu nya. Takut Haya tidak terbiasa terkena debu, dan akan menyebabkan flu.
Haya masih terdiam memegangi tas yang di pegang nya, sambil memandang Ahmad Faiz yang sibuk menyapu.
"Enggak mau bantuin mas, nih?" Lirih Ahmad Faiz sambil menjawail dagu Haya.
Haya hanya tersenyum dan mencoba mengambil pel, dari belakang Haya langsung mengepel bagian yang sudah Ahamd Faiz sapu.
Ini pertama kalinya Haya mengepel rumah. Pekerjaan yang jarang atau bahkan tidak pernah Haya kerjakan, selama masih tinggal bersama Niko dulu.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam lebih Ahmad Faiz dan Haya bersih-bersih, jam sudah menunjukan jam lima sore.
Beberapa kali, Haya meregangkan badan dan otot yang terasa lelah. Rasanya seperti encok.
"Capek ya?" Lirih Ahmad Faiz dan Haya pun mengeleng tidak mengakui.
"Mandi dan sholat dulu. Baru istirahat, nanti mas pijitin deh," Ahmad Faiz menyerahkan sebuah handuk untuk Haya.
"Tidak perlu mas, terimakasih!"
Haya mengambil handuk tersebut dan gegas ke kamar mandi, Ahmad Faiz mengikuti di belakang Haya sampai ke pintu kamar mandi.
"Ngapain ngikutin? aku mau mandi mas!" Sergah Haya membalikan badan merasa marah.
"Memang enggak boleh mandi berdua. Mas ini kan suami dik Haya, jadi sesekali boleh lah mas mandi bareng dengan mu, dik!" Goda Ahmad Faiz membuat Haya ngeri.
"Mas please, jika ngeyel aku akan teriak nih!" Ancam Haya merasa tertekan.
"Hehe teriak____, memang enggak malu jadi tontonan orang, kita kan sudah menikah. Bilang apa coba kalau teriak?" Ahmad Faiz masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Mas____! Haya berucap pelan dengan wajah sebal.
"Mandi lah, mas hanya memastikan dik Haya sampai di kamar mandi dengan baik. Padahal di dalam hati mas yang paling dalam, mas pengen mandi bareng sama dik Haya" Goda Ahmad Faiz lagi.
"Ih mesum__" Haya membelalakan mata lebar dengan kalimat yang baru saja Haya dengar. Bisa ya, orang rajin ngaji bicaranya kayak gitu.
"Sama istri kok mesum ya enggak lah. Berarti mas normal dong kalau mas ada nafs* sama perempuan. Apalagi perempuan itu istri sendiri hehehe," Ahmad Faiz pergi meninggalkan Haya yang sudah mengeluarkan tanduk ingin marah-marah.
Hehehe
Terdengar suara Ahmad Faiz yang begitu bahagia. Haya menutup pintu kamar mandi dan mengusap dada.
Sambil menunggu Haya selesai mandi, Ahmad Faiz menyiapkan tempat sholat dan mengambil mukena Haya dan di taruh nya di atas kasur. Agar Haya tidak kesulitan mengambil, karena mukena Haya kan tersimpan di dalam tas.
__ADS_1
"Baju banyak, mukena cuma satu. Kalau basah mau pakai apa? Ya sudah nanti kalau aku gajian, akan aku belikan satu mukenah lagi?" Batin Ahmad Faiz sambil menunggu Haya selesai mandi. Karena dirinya pun sudah teramat gerah dan ingin membersihkan diri.