Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Laporan Niko


__ADS_3

Tok____tok____


Ahmad Faiz dan Haya yang sedang menikmati makan malam pun, segera menghentikan aktivitas makan nya dan gegas membuka pintu.


Klek...


"Malam Bu. maaf menganggu aktivitas Ibu, apa benar ini rumah bapak Ahmad Faiz dan ibu Haya?" tanya seorang polisi dengan tegas.


"Iya benar pak. ada apa ya pak?" Tanya Haya tidak mengerti.


"Ini surat panggilan untuk anda dan bapak Faiz," Seorang polisi menyodorkan sebuah kertas di dalam amplop pada Haya. Setelah Haya membuka lembar demi lembar isi surat tersebut Haya termangu, Haya benar-benar tidak menyangka jika Niko akan senekat ini melaporkan nya.


"Pak polisi ada apa, pak?" Ahmad Faiz mendekat ke arah teras rumah. Karena melihat sang istri yang begitu syok.


"Mas____," Haya menyerahkan surat tersebut pada Ahmad Faiz. Ahmad Faiz pun tak kalah terkejut dari Haya.


"Dik, kok jadi begini? Apa sebelum menikah dengan mas, dik Haya belum resmi bercerai secara sah di mata Hukum. Kenapa dik Haya berkata dusta, ya Allah, dik."


"Aku kan sudah pernah bilang, mas. Kenapa rencana awal ku meminta mas menikahi ku. Aku sudah mengatakan nya, bukan. Aku berniat mempermainkan pernikahan kita ini. Namun kini aku menyadari apa yang ku lakukan ini salah. Bahkan, mungkin Allah tidak menyukai kejahatan ku. Namun satu hal yang pasti, aku tidak mau kembali dengan mas Niko," lirih Haya penuh penyesalan.


"Silahkan bapak dan Ibu ikut kami ke kantor, untuk menjelaskan masalah ini di kantor saja. Jangan bertikai disini," titah pak polisi pelan menengahi.


"Baik, pak."


Ahmad Faiz dan Haya pun ikut serta bersama Polisi untuk memberikan keterangan di kantor polisi. Jika tidak ada jalan lain, Haya terpaksa akan jujur terhadap penyidik kepolisian.


Niko telah membuat Haya geram. Apa Niko tidak berpikir panjang, jika berita perceraian antara dirinya dan Niko terkuak ke publik, itu bukan nya membuat nya malu sendiri. Bukan kah reputasi nya sebagai orang penting bisa tercoreng karena kasus ini kegilaan nya ini.


Akan banyak media yang akan menyorot karena kasus yang cukup rumit ini. Dan pada akhirnya, tetap Niko lah yang merugi.

__ADS_1


"Apa mas Niko sedang membuka aib nya sendiri?" Haya membatin sambil menggelengkan kepala. menyadari jika Niko tidak kunjung berubah.


"Sungguh keterlaluan. Apa karena uang, mas Niko tega melakukan ini semua," Haya menghela napas berat.


Di depan penyidik baik Haya maupun Ahmad Faiz di beri beberapa pertanyaan. Haya mengatakan apapun yang sebenarnya, dan berbanding balik dengan laporan yang Niko ajukan.


"Ibu tahu di mata hukum Ibu masih sah sebagai istri dari bapak Niko. Jadi, jika ibu memilih menikah kembali tanpa surat cerai resmi dari pengadilan Agama. Maka ibu dan pak Ahmad Faiz bisa di pidanakan?" tekan seorang polisi.


Haya diam dan tak berniat menjawab lagi. Haya adalah seorang wanita yang cerdas, terbukti dari SD sampai lulus perguruan tinggi nilai nya selalu nomor satu. Jadi, Haya tau jika gugatan yang Niko ajukan sedikit memberatkan, walaupun adanya bantahan dari pihak Haya.


"Jika bisa di selesaikan secara kekeluargaan, lebih baik di selesaikan secara bermusyawarah, Bu. jangan melibatkan polisi. Karena hukum tidak bisa untuk dipermainkan," tegas seorang polisi yang tak lain masih teman dari Niko.


"Aku mau nya begitu, tapi mas Niko masih teguh dengan pendirian nya, dan sekarang apa yang bisa ku lakukan tanpa kuasa hukum? Semua uang, bahkan aset milik ku yang jelas-jelas ada namaku disana, sudah mas Niko ambil alih. Aku bisa apa tanpa uang?" Sesal Haya.


"Apa_____, Kenapa jadi begitu?" Seorang polisi yang juga teman Niko itu pun tak percaya dengan curahan hati Haya.


Yah, setelah melakukan serangkaian pertanyaan dari penyidik dan kini Haya serta Ahmad Faiz mengobrol dengan seorang polisi yang bertag nama Evan. Kebetulan jam kerja Evan telah usai.


"Aku pikir rumah tangga kalian ini baik-baik saja. Karena yang selama ini aku lihat, kalian selalu tampil romantis dan bahagia. Bahkan, aku sama sekali tidak menyangka jika pernikahan kalian bisa serumit ini. Benar-benar mencengangkan!"


Haya menghela napas kasar. Berharap ada kebaikan yang menemui Haya, disaat butuh sandaran untuk mengistirahatkan hati yang lelah, penat dan menguras pikiran.


"Jadi disini kalian terancam masuk kedalam penjara, jika kalian tidak bisa mendapatkan bukti dan saksi dengan tuduhan perselingkuhan. Yah, walaupun kalian sudah menikah sirih, tapi hukum negara itu pasti. Aku hanya memberi jaminan, itu pun bisa di ajukan banding oleh pihak Niko sewaktu-waktu," terang Evan.


"Aku punya bukti chat antara aku dan mas Niko tentang rencana bo**h ini. Dan aku punya saksi, tidak hanya satu tapi banyak, tapi kemungkinana saksi itu tidak akan mau membantu ku," Haya tampak insecure oleh pendapat nya sendiri.


Ahmad Faiz yang mengerti jika Haya sedang tidak baik-baik saja. Ahmad Faiz pun mengenggam tangan Haya dan menampilkan sebuah senyuman, senyuman semnagat.


"Sabar dan tenang, dik. Insyallah akan ada jalan," nasehat Ahmad Faiz sedikit menenangkan Haya yang terlihat kalut dan berantakan. Haya terlihat begitu kacau balau.

__ADS_1


"Mas Evan, jika aku mampu menunjukan bukti dan saksi. Apakah aku bisa lolos dari tuduhan yang mas Niko laporkan?" Haya bertanya dengan harap-harap cemas.


"Tentu Haya. Bahkan kamu bisa mengajukan gugatan balik pada Niko..."


"Dan apakah aku bisa, mengugat mas Niko atas semua kesalahan nya, dan meminta hak asuh Attar anak ku?" Tanya Haya lagi.


"Tentu bisa. Apalagi Attar masih kecil dan pasti kasih sayang dari seorang Ibu yang lebih di perlukan, kamu pasti akan menang Haya. itu pasti!"


"Alhamdulillah____," Haya merasa lega dan senang. Haya bertekad akan berjuang lebih keras lagi, untuk bisa keluar dari kubangan bara api yang ia ciptakan sendiri.


"Tapi bisa jadi hak asuh Attar akan jatuh ke tangan Niko lagi, jika Niko mengajukan banding. Sebab Niko kan bukan dari keluarga kaleng-kaleng, dan aku tau bagaimana sifat Niko. Aku ini teman nya dari semasa sekolah dulu, jadi aku paham jika Niko akan melawan gugatan mu, Haya. Niko itu lelaki sangat berambisi."


"Jadi aku tetap membutuhkan bantuan seorang pengacara?" Haya merasa sedih bukan main. Harapan yang awalnya mekar kini sudah layu oleh kekuasaan dan harta, ternyata harta sangat berpengaruh bagi kehidupan.


"Iya begitulah kira-kira," jawab Evan sang polisi yang merasa kasihan pada nasib yang Haya jalani. Walau Evan sahabat Niko, tapi Evan tau jika saat ini, Niko salah.


Haya merasa lemas, Haya sudah tau dari awal, jika mencoba mengambil hak asuh Attar tidak lah mudah.


Haya mencoba berpikir, langkah apa kiranya yang akan di ambil dalam situasi rumit seperti ini, semuanya perlu uang, dan dirinya punya apa?


"Kamu juga boleh melaporkan Niko atas kasus harta Gono gini. Apalagi menurut cerita mu, semua fasilitas dan rekening mu sudah di ambil alih oleh Niko. padahal jelas, disana ada hak mu."


"Iya betul. Tapi, aku tidak bernafsu untuk mengambil uang atau apapun itu yang berjenis materi, apalagi dari tangan mas Niko, aku malas."


"Tapi Haya, jika kamu bisa mendapatkan hak kamu yang bernamakan uang. Maka dengan mudah kamu dapat menyewa pengacara, dan kamu bisa mengambil hak asuh Attar," usul Evan memberi solusi.


"Itu perlu di pikirkan lagi mas. Saya rasa istri saya perlu mempertimbangkan setiap keputusan dengan selalu membawa Allah. hal apapun jika selalu melibatkan Allah mudah-mudahan selalu mendapat yang terbaik," Ahmad Faiz tau jika mata Haya sudah mengatakan jika dirinya lelah, dan ingin menyerah. Namun Haya akan tetap lebih kuat dan terus berjuang.


"Terimakasih banyak mas Evan. mas Evan sudah mau membantu saya, dan istri saya?" Ungkap Ahmad Faiz tulus, dan mengulurkan tangan sebagai ucapan rasa terimakasih.

__ADS_1


"Iya mas Faiz sama-sama. Semoga mas dan Haya dapat segera menyelesaikan masalah yang kian rumit ini ya? Seharusnya kalau bisa masalah keluarga jangan sampai melibatkan kepolisian," nasehat Evan yang merasa miris, oleh kisah rumah tangga Haya dan Niko.


"Aku ingin nya begitu mas. Namun entah lah, terkadang cara berpikir setiap orang kan berbeda mas."


__ADS_2