Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Pemecatan Ahmad Faiz


__ADS_3

"Jadi, kamu yang bernama, Ahmad Faiz?" Tanya Angel setelah memanggil Ahmad Faiz ke ruangan nya.


"Benar, Bu. Saya Ahmad Faiz." Jawab Ahamd Faiz dengan menundukkan pandangan, karena selain berbeda lawan jenis. Angel adalah istri dari big boss di tempat Ahmad Faiz mengais rejeki.


"Jadi, kamu sekarang telah menikah. Dan kamu menikah dengan seorang perempuan, bernama Zahrana Haya, benar begitu?" Tanya Angel lugas.


Ahmad Faiz sedikit menegakan kepala dan melihat big boss yang tengah menanyai nya tersebut. Benar sang pemilik perusahaan yang sah adalah suaminya, namun terkadang keputusan juga ada di tangan big boss perempuan ini.


bagaimana pun juga, peran big boss Angel tidak bisa di anggap sepele.


"Hello_____! kamu dengar pertanyaan saya?" Seru Angel menyadarkan lamunan Ahmad Faiz. Tanpa sadar Ahmad Faiz sejenak terdiam menerawang perkataan big boss nya. Kenapa big boss nya bisa berkata demikian.


"Maaf, Bu?" Lirih Ahmad Faiz merasa menyesal karena telah melamun.


"Ini foto istri mu?" Angel melempar sebuah foto Haya. Sebuah foto dimana Haya sedang berada di pantai setahun silam bersama seluruh keluarga besar Syah. Terlihat bulan dan tahun kejadian. Ada Niko, ada kedua orang tua Niko, ada Attar dan ada keluarga big boss Angel.


Ahmad Faiz memandang angel yang duduk di kursi kebesaran. Senyum Angel terlihat aneh, dengan menyugingkan senyum di bibir yang terlihat merendahkan kedudukan Ahmad Faiz.


"Tinggalkan istri mu, atau kamu saya pecat!" titah Angel lantang dan penuh dengan penekanan.


"Maaf Bu, itu urusan pribadi antara istri dan suami. Jadi, ibu tidak berhak ikut campur dalam urusan kami. lagipula tidak ada sangkut paut nya, antara pekerjaan saya dan istri saya. beda jalur, Bu." Ahmad Faiz berkata dengan penuh kelembutan.


"Hey_____! Siapa bilang saya tidak berhak atas itu. Kamu tau, Niko itu adalah adik kandung ku, dan aku tidak mau melihat Niko terpuruk dan menjadi pria yang Arogan, hancur dan tersakiti karena istri nya kamu rebut, jangan sok baik kamu!" pekik Angel.


"Saya tidak merebut istri siapapun, Bu. saat saya dan istri saya menikah kami sama-sama sudah sendiri. Bahkan, adik anda sudah menjatuhkan talak sebanyak tiga kali kepada istri saya. Awalnya istri saya hanya memanfaatkan pernikahan kami, tapi saya akan berjuang mempertahankan pernikahan kami, Bu."


"Persetan dengan ucapan mu. intinya tinggalkan Haya dan aku akan menaikan jabatan mu dari karyawan biasa menjadi pegawai tetap dan_____, dengan gaji yang lumayan besar. Satu lagi, akan ada bonus yang sangat high tentu nya." Angel menawari sebuah tawaran yang menggiurkan.


"Maaf Bu, saya tidak bisa meninggalkan istri saya hanya demi uang." jawab Ahmad Faiz tegas dan yakin.

__ADS_1


"Sombong sekali kamu! Apa kamu tidak tau kamu sekarang sedang berhadapan dengan siapa? Apa kamu tau kami dari keluarga Syah tidak sedikit pun akan memberi ruang untuk mu. Kami punya segalanya untuk menghancurkan hidup mu, hahaha lihat lah dirimu, punya apa kamu?" Lagi.. lagi .. senyum merendahkan terbit di wajah ayu Angel.


Wajah yang teramat cantik, tapi bisa membuat siapapun ngeri saat melihatnya marah. Bahkan dengan kekuasaan yang Angel miliki, apapun bisa di lakukan nya.


"Saya memang tidak punya harta dan kekuasaan. Tapi, saya punya Allah yang akan selalu menjaga saya. Walaupun ibu berusaha menghancurkan hidup saya, saya yakin Allah menyelamatkan saya dari kejahatan yang ibu lakukan." Ahmad Faiz mencoba menahan amarah yang memasuki otak dan pikiran sebagai seorang manusia biasa.


"Sok Alim_____! Jangan munafik kamu." Ketus Angel dan melempar surat.


"Kamu saya pecat! pergi dari kantor saya sekarang juga," teriak Angel lantang dan begitu arogan.


"Kemasi seluruh barang mu. Bawa pergi semuanya, jangan sampai ada satupun yang tertinggal. OH iya, satu lagi mungkin setelah kamu keluar dari perusahaan milik suami ku, kamu bakal sulit mendapat pekerjaan," angel menyeringai puas sambil tertawa mengejek.


"Karena aku telah menulis kinerja mu yang buruk di setiap laman, dan akan aku pastikan tidak akan ada satupun perusahaan yang mau menerima mu, selamat menikmati hadiah dariku?"Kini angel kian menunjukan kekuasaan nya sebagai pemilik perusahaan terbesar di kota.


"Kenapa masih diam disitu. Apa kamu menyesal menolak tawaran ku? tenang saja, aku akan menerima mu kembali, jika kamu berubah pikiran. Benar, kamu sudah berubah pikiran? kamu takut menderita karena tak kunjung mendapat pekerjaan."


"Maaf, Bu. Sampai mati pun saya tidak akan pernah meninggalkan istri saya. Kecuali ajal yang memisahkan kami, masalah rejeki masih ada Allah. Karena Allah lah sang maha pemberi rejeki. Jangan khawatir, selagai nyawa masih di kandung badan, selama masih sehat dan kita mau berusaha, rejeki akan datang. Saya permisi Assalamualaikum," tolak Ahmad Faiz sekali lagi begitu tegas.


"Aku tidak boleh dendam dan marah. Aku harus ikhlas dan aku harus ridho jika harus keluar dari perusahaan besar ini. Aku tidak akan pernah menukar istri ku demi pekerjaan ku," sekali lagi Ahmad Faiz benar-benar meninggalkan kantor tersebut dengan kesedihan hati.


"Ini memang sulit, masih tergiang saat aku berusaha lebih keras agar dapat di terima di perusahaan bergengsi ini. Dan kini semuanya sudah berakhir, aku yakin akan ada pekerjaan lebih baik setelah ini. Aku tidak boleh berlarut dalam kekecewaan!"


"Lalu kemana aku harus mencari kerja sekarang? Dik Haya sendiri masih merintis usaha pakaian secara online dan offline. Nahla pun mulai bekerja di toko bunga, lalu apa aku akan menganggur, tentu tidak!"


Ahmad Faiz melirik jam di pergelangan tangan. Hari masih terlalu pagi untuk pulang kerumah. masih sekitar jam sembilan pagi, tidak ada salahnya mencoba mencari pekerjaan di dekat daerah sekitar. Mungkin akan ada rejeki disana.


"Jika aku sudah black list di setiap perusahaan, pasti aku akan tetap bersih jika hanya bekerja yang bukan perusahaan besar," Ahmad Faiz menyemangati diri sendiri.


"Benar perasaan ku hancur, sedih menjadi satu, tapi aku harus tetap semangat!" Ahmad Faiz terus menerus menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Ahmad Faiz berputar-putar, keliling menaiki motor jadul nya untuk mencari dan melamar beberapa pekerjaan. Banyak kedai dan kios yang Ahmad Faiz masuki namun nihil, semua sedang tidak membutuhkan karyawan.


"Dimana-mana karyawan sudah Full. tidak ada loker, ya Allah____! aku harus bisa," Ahmad Faiz terus berjalan tanpa merasa lelah.


Baju yang awalnya rapi, perlahan menjadi kusut dan berdebu, karena terus berkeliling.


Terik matahari menyengat kepala tak bertudung. Sedikit keringat membasahi dahi dan badan. Ahmad Faiz melihat sebuah pembangunan, dan tidak ada salah nya Ahmad Faiz menanyakan lowongan pekerjaan disana.


Bahkan ada tulisan menerima lowongan, yah Ahmad Faiz akan mencoba peruntungan disana. ada sedikit senyum di wajah Ahmad Faiz.


"Bukan hanya bisa kerja di kantor, di lapangan pun pasti aku bisa!" Ahmad Faiz menyemangati diri sendiri, walau pun ada sedikit ke khawatiran di dalam hatinya.


Ahamd Faiz mendekat kearah seseorang yang sedang bekerja. "permisi mas.., mau numpang tanya, hem bos nya yang mana ya?"


"Oh bos... Yang itu, mas," seorang kuli menunjuk seorang mandor yang tengah santai dengan melihat para tukang pembangunan.


"Terimakasih, mas?" Ahmad Faiz pun menemui seorang mandor di pembangunan, untuk menanyakan lowongan pekerjaan yang tersedia.


"Jadi kamu serius mau bekerja di pembangunan? ini pekerjaan berat loh," Tanya sang Mandor saat Ahmad Faiz mengutarakan niatan nya.


"Saya serius, pak."


"Tapi, dilihat dari postur tubuh mu. kamu belum pernah kerja di pembangunan sebelum nya ya?" prediksi mandor bangunan meragukan kemampuan Ahmad Faiz.


"Iya pak, saya memang belum pernah, tapi saya akan belajar dan berusaha bekerja semaksimal mungkin."


"Baiklah, mulai besok kamu boleh bekerja disini sebagai kuli. Karena memang saya lagi butuh satu karyawan lagi, dan karena sekarang sudah siang, jadi sekalian besok saja mulai kerjanya. Mungkin pembangunan ini tinggal seminggu lagi, setelah itu akan pindah membangun jembatan dan itu jangka nya lumayan panjang, semoga kamu amanah dan betah bekerja dengan saya."


"Terimakasih banyak, pak?" Ahmad Faiz begitu bersyukur mendapat pekerjaan sebagai buruh kuli, di era jaman seperti saat ini akan sulit mendapat pekerjaan, dari pada menganggur kan lumayan.

__ADS_1


Jika menunggu pekerjaan yang lebih baik dengan duduk tanpa menghasilkan, sementara ada istri yang perlu di beri nafkah, tidak ada salahnya sambil menunggu pekerjaan sambil kita berjuang, karena ada perut yang perlu di isi dan ada masa depan yang perlu di perjuangkan, semangat untuk bekerja


__ADS_2