Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kenyataan pahit


__ADS_3

"Mba serius mau masak udang pedas saos merah?" Nahla membantu Haya mengupas udang.


"Tentu Nahla. Aku akan belajar masak, agar mas Faiz senang dan betah di rumah. Karena mas Faiz menyukai apapun makanan yang terbuat dari masakan rumahan. maka dari itu akan belajar memasak," jawab Haya penuh semangat.


"Tapi, mas Faiz kan sudah berangkat kerja, mba."


"Nanti aku akan mengantarkan nya ke kantor langsung." Jawab Haya masih dengan begitu antusias tinggi.


"Idih mba Haya so sweet. Memang nya mba Haya tidak buka toko hari ini?" tanya Nahla.


"Buka dong, tapi agak siangan." jawab Haya dan masih mengulek bumbu untuk udang saos merah.


Bu Malik pun tersenyum melihat menantunya, begitu antusias belajar masak. setidaknya ada niat yang begitu baik, yakni menyenangkan hati suami. Semoga menjadi pahala buat para istri yang berusaha menyenangkan hati para suami.


Bu Malik juga senang, karena Nahla begitu baik pada Haya.


Padahal Bu Malik tau, ada cinta di hati Nahla, cinta yang tersimpan untuk suami Haya.


Sreng...


Bumbu sudah masuk semua, udang juga sudah masuk, saos sambal juga sudah masuk. Harum menguar sempurna.


"Aku cicipi ya, mba?" Nahla mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah, Nahla langsung melek.


Huh..


Nahla meniupi kuah udang, yang begitu melimpah oleh bumbu, ada rasa pedas yang membuncah di lidah.


Asap yang masih mengepul.


Huh


Haya penasaran akan pendapat Nahla. matanya menatap Nahla tnpa berkedip, berharap Nahla mengatakan enak.


Eum


"Enak sih, tapi pedas..." Nahla meneguk air minum, karena merasa pedas yang sangat mantap.


Haya merasa kecewa, tapi Bu Malik dan Nahla menasehati, bahwa Ahmad Faiz termasuk pecinta pedas, dan itu membuat Haya kembali semangat.


"Kalau begitu, pasti mas Ahmad Faiz bakal menyukai masakan ku," Haya begitu antusias kegirangan.


"Tentu." jawab Nahla semakin menyakinkan Haya. Nahla tak mau Haya kecewa dan redup semangat masak nya.


"Nahla, di depan ada nak Evan. Katanya ingin bertemu kamu," pak Malik datang, lalu mengambil air putih kedalam gelas, lalu pergi lagi.


"Mas Evan, mau ngapain?" Lirih Nahla bergumam.


"Sudah temui sana!" Haya tampak menggoda dan sedikit mendorong Nahla agar cepat keluar dari dapur.


"Males banget," keluh Nahla, malas.


Haya pun keluar dengan membawa rantang, hendak mengirim Ahmad Faiz sarapan. Tentu ini belum terlambat, jam masih menunjukan pukul tujuh pagi. Jika tak sempat untuk sarapan, setidaknya bisa lah untuk makan siang Ahmad Faiz.

__ADS_1


"Tunggu, mba!" Nahla berjalan di belakang Haya pelan dengan tatapan malas.


Haya menatap Nahla aneh, lalu berjalan lagi.


"Mba_____!" Panggil Nahla lagi.


Haya pun berhenti, dan menoleh ke arah Nahla bingung.


Haya pun perlahan mengerti, jika Nahla males menemui Evan sendirian.


"Baiklah, aku akan menemani mu. tapi, aku tidak bisa lama-lama. Sebab aku harus mengantar makanan ini untuk mas Faiz, hanya lima menit saja, habis tuh aku langsung go out," Haya langsung berkata.


"Sip.." Nahla mengacungkan dua jempol.


Nahla dengan cepat mengiringi langkah kaki Haya, sampai di teras. Haya diam pura-pura mengambil daun bunga yang menguning di pekarangan depan.


"Mau kemana, Haya?" Tanya Evan, karena ada rantang di tangan Haya.


"Antar makanan, untuk mas Faiz. tapi, buangin daun kering dulu," jawab Haya seperti orang kurang kerjaan.


Evan mengangguk paham, entahlah paham atau tidak, yang jelas ia mengangguk saja.


"Aku kesini ingin menyampaikan sesuatu hal, tentang Bella," Evan langsung tho the point.


"Bella____?" Nahla bertanya-tanya.


"Iya, Bella di ketahui meninggal karena berusaha mengugurkan janin. Setelah di telusuri, ternyata Bella hamil dengan seorang pria kaya yang sudah beristri. Bahkan dalam genggaman gelas di tangan Bella, ada sidik jari seseorang."


"Apa?" Nahla tidak percaya jika sahabatnya bisa jadi korban pembunuhan.


Nahla menarik napas dalam, lalu menghembuska cepat.


"Dan lelaki itu tak lain adalah, Vincent. Apakah kamu mengenalnya?" Tanya Evan pada Nahla yang diam membisu.


Haya pun menghentikan aktivitas menyiangi rumput. matanya terbelalak kaget, sedang Nahla tidak menampakkan ekpresi, karena Nahla tidak mengenal siapa itu Vincent.


"Apa benar yang mas Evan katakan?" Haya menghampiri Evan dan Nahla yang duduk di kursi kayu tersebut dengan sedikit terburu-buru.


"Iya, Haya. kami mengetahui itu semua melalui pelacakan dalam isi ponsel Bella dan beberapa bukti yang lain."


"Astagfirullahaladzim_____" Haya begitu terpukul, mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin suami dari mantan kakak iparnya, bisa berlaku kriminal seperti itu.


"Tapi apalah daya sebuah bukti. Aku sendiri tidak begitu yakin, jika Vincent akan di penjara?" Terang Evan menyadari siapa keluarga Syah. dan siapa lelaki bernama Vincent tersebut.


"Loh kok bisa begitu. Siapapun mereka yang bersalah, mereka wajib di hukum," tegas Nahla merasa tak terima.


"Seharusnya begitu, mudah-mudahan Vincent mendapat hukuman yang setimpal ya, Nahla." balas Evan menyadari kekecewaan dari raut wajah Nahla.


Nahla terdiam, Nahla tidak tau siapa Vincent. tapi kemungkinan besar, Vincent adalah orang yang begitu kaya raya dan berpengaruh, sehingga sulit memenjarakan nya.


"Di rekening Bella, ada dana masuk sekitar seminggu yang lalu, dan itu tidak sedikit, ada sekitar seratus jutaan." ungkap Evan begitu hati-hati.


"Seratus juta!" Nahla kaget dong, mendengar uang sebanyak itu. Bahkan Nahla akan butuh bertahun-tahun untuk bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, dari hasilnya bekerja di toko bunga.

__ADS_1


"Kemungkinan uang itu, Vincent kirim untuk biaya abor**, tapi Bella tidak mau melakukan nya. Makanya uang itu masih utuh di dalam saldo rekening Bella. Seperti apa yang telah biro ITE temukan," Evan masih berkata penuh kehati-hatian.


"Lalu kenapa Bella meninggal, dengan cara demikian?" tanya Nahla tak percaya Bella bunuh diri.


"Sepertinya, Bella meminum obat, atau jamu yang sangat tidak di anjurkan, hingga menyebabkan komplikasi, karena tubuhnya tidak bisa menerima obat tersebut. obat yang sudah dimasukkan kedalam minuman Bella,"


Haya termangu, kenapa bisa seorang Vincent, pria kaya raya berselingkuh dengan Bella, sampai menyebabkan kematian pada Bella.


"Apa kurang nya kak Angel?" Batin Haya penasaran dan penuh rasa heran.


Istri mantan kakak iparnya itu, begitu cantik, modis dan sedap di pandang, lalu kenapa bisa selingkuh?


"Aku pamit dulu ya, kalian teruskan saja ngobrol nya. Ini sudah sangat telat, aku harus mengantar makanan ini untuk mas Faiz," dengan terpaksa Haya pergi, Nahla terlihat sebal karena Haya meninggalkan nya berdua dengan Evan.


Di sepanjang perjalanan Haya berpikir, apakah Angel sudah mengetahui skandal suaminya.


Apakah Angel akan bersikap baik-baik saja, ataukah Angel akan sangat terpuruk karena berita perselingkuhan suaminya.


Itu urusan mereka, tapi sekali lagi Haya ragu, iya Haya ragu akan keadilan. Vincent akan melakukan apapun agar tidak di beri sanksi berupa hukuman kurungan penjara.


"Mba, sudah sampai." sopir taksi online, memberikan Haya informasi, bahwa mereka sudah sampai di depan perusahaan milik Vincent, suami Angel.


"Ini uang nya pak, terimakasih?" Haya gegas keluar dari taksi.


Jilbab berwarna mint, dengan gamis berwarna tosca menjuntai, membuat penampilan Haya semakin cantik dan anggun.


Ckit..


Sebuah mobil berhenti di depan Haya, padahal itu bukan area parkir. melainkan halaman kantor.


Seorang wanita muda, cantik dan modis keluar dari mobil, dengan angkuh menatap Haya miris dan meremehkan.


"Untuk apa kamu datang kesini, apa kamu mau mengemis agar suami bo**h mu itu bisa kembali bekerja?" sarkas Angel langsung.


Deg..


Hati Haya sungguh terkejut.


Kembali bekerja, apa maksud nya.


"Apa____, Suami mu menyusahkan mu Haya? sehingga kamu tidak tahan, dan kembali kemari untuk mengemis agar aku mau menemukan mu dengan Niko?" Cerca angel dengan pandangan merendahkan.


"Ah.. aku tidak Sudi membantu mu lagi. Bahkan aku merasa jiji* melihat wajah mu, enyah lah kamu dari kantor ku, aku tidak mau melihat mu lagi!" Teriak Angel begitu lantang melakukan pengusiran.


"Hey.. apa kamu tuli. Kenapa kamu tidak mendengar ucapakan ku, apa hatimu sudah mati, sehingga kamu sudah tidak punya rasa malu lagi." Angel semakin meradang, karena Haya hanya terdiam mematung tak segera beranjak pergi.


Bagaimana tidak mematung, Haya sungguh terkejut dengan sambutan angel, Haya bertanya-tanya, kemana suaminya pergi?


Hatinya terasa teriris dan perih.


Rasanya, harga diri seperti di injak-injak.


Ckit..

__ADS_1


Sebuah mobil pun ikut berhenti, di belakang mobil Angel. Namun Haya tak berniat menoleh, mobil siapa yang barusan datang, bagi Haya itu tidak penting


__ADS_2