Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Malaikat perantara


__ADS_3

"Nahla kamu bersungguh-sungguh ingin pulang ke desa?" Haya menatap Nahla dengan begitu sayu, matanya begitu besar, bahkan pipinya kian tirus, cekungan di mata menambah kesan bahwa Haya kini terlihat lebih kurus dari sebelum nya.


Nahla mengangguk.


Haya mengusap air matanya yang jatuh, kemudian memeluk Nahla begitu erat.


"Aku sayang padamu Nahla, aku menganggap kamu seperti adik ku sendiri. Rasanya aku sedih saat kamu mengatakan akan pulang ke desa, tapi aku juga tak boleh egois. Kamu juga ada kepentingan." lirih Haya masih memeluk Nahla dengan erat.


Deg...


Hati Nahla merasa kasihan, Nahla tidak tega membiarkan Haya sendirian dan berlumur nestapa seperti ini.


Attar akan ada dengan bik Pina setiap Senin sampai Jumat, selepas itu Haya akan tinggal dirumah sendirian. Haya harus bisa hidup mandiri.


Meringkuk sendiri dengan air mata yang tak berkesudahan.


"Apa mba Haya ikut ke desa saja bersama ku? Mba Haya bisa tinggal dirumah ibu, atau mba Haya mau tinggal bersama ku dirumah Abi dan umi. Aku akan sangat senang jika mba Haya mau ikut bersamaku?"


Nahla senang mengusulkan ide.


Haya tersenyum dan melepas pelukan nya, lalu melihat ke bawah.


"Tidak, Nahla. Aku tidak bisa ikut bersama mu."


"Kenapa tidak, mba?" Nahla berharap Haya mau ikut bersamanya.


"Rumah ini, rumah ini saksi cinta antara aku dan mas Faiz. Aku harus segera melunasi biaya kekurangan nya. Aku akan tetap tinggal disini bersama Attar dan bayiku kelak," mata Haya meremang, membayangkan akan banyak kesulitan yang akan di hadapi nanti nya.


"Tapi mba Haya?" Nahla begitu khawatir dengan keadaan Haya.


"Aku akan baik-baik saja, ada Allah bersama ku, Nahla."


Nahla mengusap air mata yang membasahi pipi. Ada rasa tak tega merayap di relung hati Nahla. Bagaimana mungkin Nahla pergi disaat Haya begitu terpuruk dan terjatuh membutuhkan bantuan.


Pasti Haya sangat membutuhkan pertolongan, bahkan perutnya pun semakin hari pasti akan semakin membesar.


Bagaimana jika terjadi sesuatu hal dengan Haya?


"Rasanya aku ingin tetap tinggal, namun keadaan harus memaksa ku pulang ke desa, mba." Nahla berucap dengan penuh kesedihan.


"Iya Nahla, aku paham akan kondisi mu saat ini. Aku mengerti Nahla. Selesaikan lah masalah mu dengan baik-baik ya!"


"Jika Abah tidak jatuh sakit, aku pasti akan menemani mba disini. Tapi, Abah membutuhkan ku saat ini, jadi maafkan aku mba, aku harus segera pulang?"


Haya mengusap air mata Nahla, lalu tersenyum.


"Lihat lah sekarang, aku baik-baik saja kan. aku pasti bisa menjaga diri, dan kamu jangan menghawatirkan ku." Haya mencubut hidung Nahla dengan suara serak.


Nahla pun tersenyum, Nahla bangga melihat semangat hidup Haya yang kian besar. bahkan Nahla tau saat ini Haya berusaha kuat,tegar dan ikhlas dalam menjalani jalan takdir hidup nya.


"Aku pamit, mba." Nahla membawa ransel baju miliknya.


"Hati-hati Nahla, lekas lah kemari lagi, aku akan merindukan mu." Nahla Mengamit tangan Haya, lalu berlalu dan naik kedalam mobil travel yang kemarin mengantar Pak Malik dan Bu Malik.


Dada..


Tangan Haya melambai, mengiringi mobil Nahla yang semakin berlalu menjauh.


"Jaga dirimu, Nahla, sampai jumpa lagi!" teriak Haya masih melambaikan tangan.


Nahla tergugu di dalam mobil, ada sesak yang kian menghimpit hati. Rasa sedih meninggalkan Haya di kota sebesar ini, sendirian.


"Allah pasti akan selalu menjaga mba Haya." Nahla berkata menyemangati dirinya sendiri.


Selepas Nahla pergi, Haya kembali kedalam rumah.


"Aku tidak bisa terus begini, aku butuh pekerjaan. Tapi, aku akan bekerja dimana, apa masih ada lowongan untuk ibu hamil seperti ku?" Haya mendudukan bokong di kursi kayu dengan perasaan gamang.


Tangan nya menyentuh-dan mengusap kursi kayu, lalu pandangan nya lurus kedepan.


"Bagaimana aku bisa bertahan hidup. Ya Allah kenapa aku meragukan kuasa mu. Maafkan aku ya Allah!" Haya beristigfar sebanyak-banyak yang ia mampu.


Lalu Haya ke dalam kamar.


Klik..


Mukenah pink, pemberian Ahmad Faiz


Haya mengambil dan memeluk nya begitu erat. Haya mencium mukenah tersebut dengan terisak.


"Aku merasakan kesakitan yang luar biasa, bahkan aku tidak menyangka semuanya akan jadi begini. Ya Allah____!"


"Kemana kamu berada mas. Aku mohon kembali lah, aku merindukan mu, aku mencintai mu, mas."


Huhuhu


Pandangan Haya beralih pada baju Koko milik Ahmad Faiz, dengan perlahan Haya mengambil Koko tersebut dan memeluknya.


Huhuhu


Hiks..


Astagfirullahaladzim...

__ADS_1


Haya meringkuk dan memeluk baju Ahmad Faiz. suara sholawat di dalam ponsel menambah kenangan itu semakin menjadi seperti nyata adanya.


Hiks...


Haya lalu mengusap air matanya pelan, lalu mengusap perut datar nya.


"Hay anak ibu, bagaimana keadaan mu nak. maaf ya ibu lemah banget, tapi ibu akan berusaha kuat nak, demi kamu Dan mas Attar."


Perlahan Haya Menganti hijab, mengambil sedikit bedak lalu mengusapnya perlahan. "aku harus kuat untuk menjalani hidup. Aku tak boleh terus menerus seperti ini, aku harus bangkit dari keterpurukan ini!"


Klik


Haya keluar dari rumah dengan berjalan kaki, jangan kan uang, bahkan untuk makan besok saja Haya tidak tau. Semua Haya pasrahkan pada sang maha pemilik rejeki. Tidak ada manusia tanpa rejeki, semua pasti ada rejeki, tinggal bagaimana insan itu mau berusaha menjemputnya?


Toko pakaian yang pernah Haya buka, mengalami kebangkrutan karena lokasi yang di jual oleh pihak pengelola, dan menyebabkan Haya menjual barang dagangan nya dengan harga rendah, demi meminimalisir kerugian.


Semua habis tak bersisa, hanya Iman di dada yang masih kokoh berdiri.


Tin...


Suara klakson mobil menghentikan langkah kaki Haya, seorang perempuan menyembul dari balik kaca mobil.


"Mau kemana?" tanya perempuan tersebut,


Haya tersenyum dan menoleh ke kanan dan ke kiri, sebab Haya tidak punya tujuan, bahkan Haya tidak mengenal perempuan tersebut.


Haya hanya mengikuti kemana kaki melangkah.


"Ayo naik" ajak nya dengan senyum yang mengembang.


Haya terdiam sejenak, lalu perempuan itu membuka pintu mobil.


"ayo... Jangan sungkan!" perintahnya sambil menepuk kursi di samping kemudi.


Haya pun naik, entah lah, Haya ikut saja.


"Aku pernah menolong mu, kamu pernah jatuh pingsan di rumah minimalis blok cccz" ungkap perempuan tersebut, memberi tahu.


Haya menoleh dan terkejut.


"Jadi, mba yang menolong aku. Terimakasih banyak ya mba, maaf aku tidak sempat mengucapkan ucapan terimakasih, sebab aku tidak tau siapa yang menolong ku waktu itu."


"Iya tidak apa-apa. by the way siapa nama kamu?" Tanya dokter Erin membuka pembicaraan.


"Nama ku, Zahrana Haya mba, mba boleh memanggil ku, Haya."


"Baik lah Haya, perkenalkan nama ku Erin. Aku bekerja di klinik yang tidak jauh dari tempat tinggal kita, hari ini aku jenuh tidak ada jadwal kerja, jadi aku berniat healing, bagaimana jika kamu menemani ku healing?"


"Sebelum nya makasih sudah mengajak ku. Tapi, maaf mba Erin, aku tidak bisa."


"Aku harus mencari lowongan pekerjaan, aku butuh banget kerja, apa mba Erin ada lowongan untuk ku?" Haya mencoba mencari peruntungan lewat Erin.


"Kamu sekolah lulusan apa, Haya? "


Haya terdiam bingung akan menjawab apa.


"Bagaimana jika kerja di butik. Aku punya saudara yang lagi membutuhkan karyawan. Aku bisa merekomendasikan kamu untuk bekerja disana, tanpa ijazah, tanpa syarat. Karena aku yang merekomendasikan kamu!"


Haya menoleh dan tersenyum. "terimakasih banyak, mba. Aku mau!"


"Kita akan melihat dimana toko tersebut berada, okay!" dokter Erin melajukan mobil menuju butik queen.


Haya tertegun sebentar sesaat mobil terparkir, matanya hampir meremang, tapi Haya tahan agar tidak jatuh membasahi pipi tirus nya.


Butik queen, adalah butik langganan Haya dan Niko, tapi itu dulu.


Semenjak memilih hidup dengan Ahmad Faiz, Haya tidak pernah lagi mengunjungi butik queen.


Karena di butik queen, harga bajunya sangat expensive, dan hanya golongan krang-orang tertentu yang berminat membeli baju di butik queen.


"Ayo Haya, aku akan mengenalkan mu dengan pemilik butik?" Ajak Dokter Erin.


"Baik, mba." Haya mengikuti dokter Erin, mata Haya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu sampailah mereka pada pemilik butik queen.


"Hey Erin, ayo di pilih aku punya banyak koleksi baju baru, yang tentunya limited edition. Hanya ada dua puluh warna berbeda dengan model yang sama, ada diskon juga tentunya."


Erin tersenyum dan menepuk pundak pemilik butik queen.


"Nanti saja lah, gampang."


Sang pemilik butik queen yang tak lain adalah saudara Erin pun, melihat Haya dari atas sampai bawah. Matanya menelisik.


"Kayak kenal, tapi dimana ya?" seru saudara Erin berusaha mengingat dengan keras.


"Istrinya pak Niko, bukan sih?" tanya pemilik butik Queen dengan penasaran.


Haya tertegun, kemudian menatap Erin.


"Mantan istri, Bu." jawab Haya kalem.


"Jadi benar, ini ibu Haya." pemilik butik antara yakin dan tidak mempercayai kenyataan di depan matanya.


Haya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Tatapan pemilik butik tersirat kemirisan, ada rasa kasihan saat melihat penampilan Haya. dengan wajah kusut dan kurus, apalagi setelah Haya mengatakan mantan, begitu menyedihkan penampilan dari pelanggan nya, yang dulu selalu tampil modis, kini seperti ah sudahlah.


"Jadi kamu kenal, Lin?" tanya dokter Erin.


"Iya Rin, Bu Haya ini dulu pelanggan di butik queen. Hampir setiap Minggu Bu Haya belanja baju di butik queen. Tapi, setelah beberapa waktu lamanya aku jarang melihat Bu Haya, hanya pak Niko yang sering belanja kesini."


Erin mengangguk. "katanya kamu lagi butuh karyawan ya, Linm"


"Iya sih, rin, gimana?"


"Kalau Haya yang daftar jadi karyawan disini bagaimana?" tanya dokter Erin.


"Boleh sih... tapi emang Bu Haya mau?" Lin selaku pemilik butik queen pun terkejut dengan saran Dokter Erin.


Erin melirik ke arah Haya, Haya pun mengangguk mengiyakan.


"Aku mau, Bu."


Lalu Lin pemilik butik queen pun setuju.


"Jangan panggil aku bu, kayak sudah tua banget. Panggil nama saja, Haya." tegasnya.


"Tapi kayak tidak sopan" jawab Haya sungkan.


"Tidak apa-apa, kita kan seumuran."


"Iya, panggil aku juga jangan pakai mba, aku dokter loh... Hahaha!" goda Erin dan Haya pun ikut tertawa.


"Baiklah Haya, mulai besok kamu sudah boleh masuk kerja, dengan salary empat juta dalam satu bulan. No off days, hanya libur nasional baru ada off days, lalu ada uang transport dan meal senilai lima puluh ribu dalam sehari."


Haya mengangguk setuju dan paham.


"Satu lagi, jika penjualan kita pada hari itu melebihi omzet minimum. Maka kamu akan mendapat persenan, dan akan di akumulasi pada saat pembayaran gajian."


"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya, Lin?" Haya ragu akan memanggil nama.


Lin Dan Erin tertawa ..


"Aku pamit dulu, Lin?" seru dokter Erin.


"Loh, kok cepat banget, kan belum milih baju." Lin begitu kecewa dengan Dokter Erin yang akan pergi itu.


"Lain kali saja, Lin. aku mau mengajak Haya makan siang, aku duluan ya, bye...?" Dokter Erin mengajak Haya ikut bersamanya.


Dokter Erin mengajak Haya makan di pinggir jalan, tepatnya di warung bakso Iga.


"Ayo makan, jangan cemas, nanti aku yang bayar." Erin seperti mengerti kecemasan Haya.


Haya tersenyum bahagia.


"Ya Allah terimakasih telah mengirimkan seseorang berhati malaikat untuk ku, aku tidak tau lagi jika engkau tidak mengirim nya untuk ku. Sungguh engkau maha Baik ya Allah." Haya membatin.


"Kok malah di aduk-aduk terus, ayo di makan, mumpung masih panas, mantap!" Seru dokter Erin menyadari Haya yang melamun.


"Iya, dokter Erin.. ..,dok Rin.. terimakasih banyak ya?"


"Please, panggil nama saja, jangan ada title di antara kita, mulai sekarang kita BESTie." seru Erin dengan nada sumringah


"Sekali lagi, terimakasih ya Er...in" seru Haya dengan penuh rasa haru.


"Iya sama-sama Haya, aku pun turut prihatin atas musibah yang menimpa mu." Erin memandang Haya miris.


Pandangan Erin pun Haya balas dengan tatapan penuh tanda tanya. sebab kenapa tiba-tiba Erin bicara seperti itu.


"Kamu kaget ya! Aku pernah melihat kamu dan mertua mu pingsan dan histeris saat di klinik. Kamu yang sabar ya!" jelas Erin memberi jawaban atas kegusaran Haya.


"Terimakasih banyak rin, meskipun kita belum terlalu kenal. Tapi, kamu perduli dengan keadaan ku. Mungkin ini cara Allah menolongku, yah melalui perantara kamu, tentunya."


"Jangan khawatir, aku akan menjadi sahabat mu. Aku hanya miris melihat nasib mu, aku dan Angel adalah teman dan kami sering ngumpul bareng. Pernah dia menceritakan masalah antara Niko dan kamu kepadaku, aku begitu kasihan mendengar kisah mu."


Haya tertegun, jadi Erin adalah teman dari Angel, kakak Niko. Kenapa bisa berkaitan seperti itu?


"Kini rumah tangga Angel pun goyah, karena issu perselingkuham Vincent. Sehingga beredar kabar, bahwa selingkuhan Vincent meninggal karena berusaha mengugurkan kandungan nya, padahal kamu tau, cewe itu cantik banget Loh, bodoh memang! ngapain mau selingkuh sama lelaki seperti Vincent tuh!" seru Erin.


Haya pun memilih diam, rasanya Haya penat mendengar berita itu.


"Apa di dalam hati mu, tidak ada kemauan untuk kembali lagi pada Niko?" tanya Erin hati-hati, takut menyinggung perasaan Haya.


Haya menoleh dan memandang Erin.


"maaf..." Lirih Erin merasa tidak enak.


"Mungkin seumur hidup ku, aku akan hanya mencintai dan setia pada suami ku, mas Ahmad Faiz. beliau cinta terakhir ku, tidak akan ada lagi cinta selanjutnya. Dalam keluarga inti, hanya ada aku, Attar dan janin yang aku kandung. Tak ada nama mas Niko lagi."


"Kamu hamil?" Erin antusias antara senang dan kasihan melihat wajah Haya.


"Iya, Rin."


Oh my God...


"Aku baru tau kalau aku hamil, saat aku down karena kepergian mas Faiz. aku merasa semakin terpuruk saat itu, tapi aku harus kuat, yah aku harus kuat! aku tak boleh menyerah."


"Sabar ya, Haya." Erin berusaha memberi support pada Haya.

__ADS_1


"Iya, terimakasih Erin?"


__ADS_2