
"Mba, mulai besok aku akan bekerja di toko bunga. Boleh kan, mba?" ucap Nahla, saat Haya dan Nahla masuk kedalam rumah setelah kepergian Evan.
"Kerja____, kamu yakin!" Haya terkejut mendengar penuturan Nahla tentang rencana kerja di toko bunga.
"Iya mba. Aku enggak mau merepotkan mba Haya dan mas Faiz. jadi, nanti setelah aku bekerja, rencananya aku akan cari kontrakan yang Deket dengan tempat kerja. Biar memudahkan akses ke tempat kerja gitu, mba."
"Kamu yakin, Nahla? apa tidak sebaiknya kamu pikirkan terlebih dahulu. Kamu boleh tinggal disini, dan tidak harus segera mencari kerja juga, pelan-pelan saja." Haya mencoba menetralisir hatinya yang bergejolak, masalah Attar belum usai. Eh ini Nahla malah mau nyari kerja.
"Iya aku yakin, mba. Aku pengen nyari pengalaman. Di kampung kan, aku hanya terbiasa membantu Abah dan Umi, terkadang membantu keluarga bude Dina dan juga Bu Malik. Namun di kota, aku ingin mengais rejeki mba, aku pengen punya pengalaman yang baru."
"Kerja itu butuh mental yang kuat Nahla, saat pekerjaan kita salah kita harus siap kena teguran bahkan makian."
"Iya mba enggak apa-apa. Nahla pasti bisa!" Nahla antusias begitu yakin bahwa dirinya pasti bisa bekerja dengan baik.
"Apa mas Evan yang ngasih kamu lowongan kerja?" Selidik Haya ingin tahu. Baru beberapa hari Nahla tinggal dirumah Faiz dan Haya, tentu belum banyak kenalan Nahla. kok Nahla sudah dapat lowongan pekerjaan. Pasti Evan yang memberi, batin Haya berkata demikian.
"Iya, mba." Nahla tersipu malu.
"Boleh saja sih. Tapi, pesan ku jangan terlalu percaya seratus persen sama mas Evan. bukan seudzon, tapi dari cara mas Evan memandang mu, aku yakin mas Evan menaruh hati padamu," tutur Haya lembut. walau Haya cemburu saat tau mengetahui Nahla menyukai Ahmad Faiz, namun Haya tidak rela jika Nahla di dekati oleh Evan.
Bagaimana pun, Evan dan Niko itu satu geng, pasti sifatnya pun tidak lah jauh berbeda. Haya khawatir Nahla akan membalas perasaan Evan.
"Iya mba, aku paham. Kita baru saja berkenalan, jadi enggak mungkin aku langsung sok akrab dan haha hihi. Mba Haya tenang saja ya, aku tau batasan-batasan nya kok mba, mana yang boleh dan mana yang tidak," lirih Nahla.
"Mba percaya sama kamu," Haya menepuk pundak Nahla mempercayai Nahla bisa menjaga diri dengan baik.
Nahla pun menampilkan senyum. Nahla tau di balik nasihat yang Haya berikan ada pesan bahwa Haya perduli pada keselamatan nya, Nahla tau jika Haya adalah orang yang baik, terbukti dengan ke khawatiran nya.
"Assalamualaikum_____" Ahmad Faiz pulang dengan membawa tiga bungkus sate di tangan nya.
"Walaikumsalam," jawab Nahla dan haya serempak.
__ADS_1
"Ini mas bawa sate untuk kita makan dik. pasti dik Haya belum makan kan?" seru Ahmad Faiz menyodorkan sekantong plastik pada Haya setelah Haya mencium takdzim tangan Ahamd Faiz.
"Wah terimakasih, mas." jawab Haya senang.
Nahla yang melihat pun sedikit nyeri di ulu hati, goresan sembilu lagi-lagi menggores relung hati yang Nahla tutupi oleh senyum dan tawa kepalsuan.
"Itu mas beli tiga bungkus, jadi satu orang satu bungkus" Ahmad Faiz membuka kaos kaki dan menaruh ke ranjang baju kotor.
Haya pun membuka bungkusan sate dan menaruh ke dalam tiga piring.
"Mba, mau di bantu enggak?" tawar Nahla.
"Boleh, tolong bawain teko air sama gelas ke meja makan ya?"
Nahla pun menuruti perintah Haya untuk membawa teko dan gelas ke depan.
"Ayo sini kita makan bareng?" seru Haya pada Nahla.
"Makan lah, ini enak sekali, mas sering beli sate di kedai sate soponyono, rasanya mantul," seru Ahmad Faiz yang melihat Nahla nampak malu-malu meong.
"Iya makasih, mas."
Nahla terus menerus mencoba menahan kecewa dan sakit, saat menyaksikan dengan romantis nya Ahmad Faiz mengusap bibir Haya dengan tisu saat saos kecap celemotan di pipi Haya.
"Ya Allah aku enggak kuat jika harus menyaksikan keromantisan mereka. Hatiku sakit ya Allah, tapi apa boleh buat, menaruh perasaaan ini saja salah. Aku salah mencintai suami orang," Nahla membatin nyeri.
"Mba, mas, aku sudah selesai makan. Aku permisi ke belakang dulu?" pamit Nahla dan di jawab anggukan oleh Haya dan Ahmad Faiz.
"Mas____!" Lirih Haya menatap wajah ceria sang suami.
"Iya ada apa, dik." Jawab Ahmad Faiz sambil menerima teh buatan Haya yang begitu nikmat.
__ADS_1
"Attar, mas!" Keluh Haya disamping Ahmad Faiz.
"Kenapa dengan Attar, apa Attar sakit?" Tanya Ahmad Faiz.
"Tidak!"
"Lalu??"
"Attar dan bik Pina ke Singapura mas. Mereka bukan hanya berkunjung, tapi bisa saja pindah menetap ke Australia, ke tempat kak Angel."
"Menetap dimana, di Singapura atau di Australia?" Ahmad Faiz bimbang dong, ucapan yang mana, yang Haya katakan benar.
"Maksud ku, untuk masa percobaan Attar akan tinggal di Singapura kurang lebih satu bulan. Namun jika aku tetap pada pendirian ku, maka Attar akan di bawa ke Australia di rumah kak Angel."
"Astagfirullahaladzim, kenapa bisa serumit ini sih, dik?" Sesal Ahmad Faiz menyadari kegelisahan Haya.
"Aku bingung, mas. Apa yang harus aku perbuat untuk saat ini."
"Sabar ya, akan ada kemudahan di setiap kesulitan. insyallah semuanya akan membaik seiring berjalan nya waktu," Ahmad Faiz mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mata Haya.
Haya pun mengangguk paham, Haya pun yakin Allah Tidak lah tidur. Kebenaran pasti akan terungkap dan kebenaran akan menang saat waktunya tiba nanti, tinggal menunggu waktu. Waktu yang tidak pasti kapan.
Nahla yang mendengar pembicaraan antara Haya dan Ahmad Fais pun bingung. sebenarnya masalah apa yang tengah pasangan pengantin baru itu hadapi?
Yang Nahla tau mereka menikah karena di gerebek. Namun satu hal yang Nahla ketahui, bahwa ahmad Faiz bukan lah orang yang suka bermaksiat. Jadi, sepertinya penggrebekan itu hanya akal-akalan Haya semata.
Terkadang Nahla berhati baik namun terkadang Nahla menyimpan benci pada Haya. Nahla rela jika memang cinta ada diantara keduanya, namun Nahla tidak akan pernah rela jika ternyata semua ini hanya sandiwara Haya.
"Cinta memang tak bisa di paksakan, namun cinta ada karena terbiasa," batin Nahla dengan sebuah senyuman.
"Astagfirullah aku berpikir apa?" Nahla berucap sambil terus beristigfar karena menyadari pikiran nya yang salah. Nahla mencoba menetralkan perasaan jahat yang mulai hinggap di dalam otak nya.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim," Nahla terus menerus beristigfar, karena sisi manusia itu banyak. tergantung orang mau membawa kemana pikiran itu, mau berbuat baik, atau berbuat sebaliknya.