
"mba Haya___," Nahla mengusap pipi Haya yang basah. Bahkan saat Haya terpejam pun, airmata masih lolos dari kedua netra Haya.
Sungguh Nahla juga merasakan sakit, rasa sakit yang lebih sakit dari mengetahui Ahmad Fais telah menikah dengan Haya.
Jika Ahmad Faiz menikah dengan Haya, setidaknya Nahla masih bisa melihat Ahmad Faiz bahagia. Jika sudah begini, hati Nahla pun hancur, sehancur-hancurnya.
"Mba.. sabar ya?" mata Nahla berembun, sembab dan hampir bengkak.
Haya menoleh kesamping, ada Bu Malik yang menangis di pangkuan pak Malik.
"Astagfirullahaladzim... " Lirih Nahla lembut. berharap Haya mendengar dan mengikuti suara Nahla .
"Astagfirullahaladzim.." Nahla kembali berucap berharap Haya bisa menerima setiap garis yang telah Allah tetapkan.
Nahla benar-benar sedih, melihat kondisi Haya yang seperti itu. Apa sehancur itu hati Haya, sehingga lisan nya tertutup rapat tak ada suara. Hanya air mata yang terus mengalir dari kedua mata yang seperti menatap hampa.
"Astagfirullahaladzim" sekali lagi Nahla mencoba, tapi Haya masih diam. Matanya menatap keatas penuh kepedihan.
"Mba Haya harus sabar. Mungkin ini jalan yang harus kita lalui, kita harus banyak berdoa dan berserah diri," Nahla mengusap lengan Haya dengan penuh ketulusan.
Air mata itu lolos lagi.
Nahla mengusap air matanya sendiri, lalu berusaha tegar.
"Mba... " Nahla mencoba mengajak Haya berbicara.
Bu Malik pun bangkit dari pangkuan pak Malik, lalu bersandar pada kursi kayu.
Mata Bu Malik menerawang jauh, ada kesedihan yang teramat dalam.
"Haya, banyak-banyak berdoa nak. Apapun kondisi dan keadaan Faiz sekarang, mudah-mudahan itu yang terbaik," pak Malik mengusap air mata Haya yang terus menganak dan mengalir tanpa terjeda.
"Bapak tau, ini tidak mudah. Ini sangat menyakitkan, tapi ini takdir Allah nak. Kita harus belajar ikhlas dan tabah menerima suratan takdir."
"Bapak pun sangat terpukul, bapak benar-benar sedih, tapi kita harus kuat dan tegar. Menangis terlalu berlebihan juga tidak di sarankan. Karena tak baik."
"Haya... " Pak Malik mengusap pucuk kepala Haya.
Astagfirullahaladzim...
Pak Malik menatap Nahla, jelas mata pak Malik penuh rasa khawatir pada Haya. Haya seperti tidak merespon ucapan pak Malik.
Hanya buliran bening yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Istighfar Haya" seru Bu Malik dengan suara tangis khas seorang ibu.
"Istighfar, ya Allah...." Hiks..hiks..
"Tidak... Tidak... Ini tidak mungkin. Jangan katakan apapun lagi, aku tak mau mendengar apapun lagi." ucap Haya, matanya menatap Nahla, tapi itu tatapan kosong.
__ADS_1
"Mba____!" Nahla begitu panik mendapati Haya teramat bersedih.
"Mas Faiz tidak mungkin pergi, iya kan Nahla?" Pertanyaan penuh penekanan. Haya menginginkan jawaban, iya.
Katakan!
"Tidak, aku tidak jahat, aku belajar baik kok. Aku tak akan berkata keras lagi."
"Tolong katakan padaku Nahla, bahwa mas Faiz tidak pergi," Haya menunduk dan memegang dadanya. Menepuk dada berulang kali.
Hahahah
"Mas Faiz_____!" Haya memukul-mukul ranjang.
"Ya Allah mba, istighfar mba. Bapak ini bagaimama?" Nahla begitu panik melihat Haya yang tidak karuan, Haya tampak begitu pedih dan menyedihkan.
Mata Nahla berharap pak Malik membantunya. Pak Malik pun mengusap pucuk kepala Haya, lalu membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an berharap Haya mendapat ketenangan.
Hati yang penat dan susah, akan di berikan keluasan sehingga sabar menduduki hati Haya. Jangan menyempitkan hati, dengan tidak menerima qoda dan qodar dari Allah.
"Tidak, tidak, tidak" seru Haya dengan tangisan nya.
"Jangan ambil dia dariku, ya Allah!" mata Haya benar-benar sudah bengkak tak bisa menghentikan tangisan.
"Sabar, haya." Bu Malik memeluk Haya dan pak Malik, mereka menangis bersamaan.
Nahla terduduk di kursi membayangkan, kejadian demi kejadian, tidak seharusnya kesedihan ini ada, disaat kebahagiaan merajai.
Berharap keadaan akan jauh lebih baik saat ini.
********
Beberapa hari ini..
Nahla selalu menemani Haya untuk selalu mengunjungi jembatan. Berharap Ahmad Fais segera di temukan, apapun keadaan nya.
"Nahla____" Evan mendekati Nahla, memberikan air botol mineral dari genggaman tangan nya.
Nahla menerima. "terimakasih ya, mas?"
Evan mengangguk, dan memberikan sebotol minuman lagi, untuk Haya.
"Tidak mas, biarkan saja. Jangan di ganggu!" terang Nahla menolak pemberian minuman dari Evan untuk Haya. Karena Haya sama sekali tak merespon, pandangan nya nanar ke depan. Matanya menerawang jauh entah kemana.
Evan mengkerutkan kening, lalu menatap Nahla penuh tanya.
"kenapa dengan Haya, kenapa sampai seperti ini. Besok sidang kedua untuk pengambilan hak asuh Attar. Jangan lupa datang, Haya harus datang." terang Evan merasa kasihan pada Haya .
Sungguh miris dan terlihat menyedihkan!
__ADS_1
"Entah lah mas, semenjak mas Faiz di kabarkan hilang dan belum di temukan. Mba Haya sulit di ajak komunikasi, mungkin mba Haya masih syok karena kejadian ini," Nahla mengusap punggung Haya.
Haya hanya menatap lurus kedepan, menatap sungai yang yang berarus pelan namun mampu menyimpan Ahmad Faiz selama ini.
"Lalu bagaimana dengan sidang nya besok?" Evan merasa dilema. Evan tidak mau hak asuh Attar jatuh ke tangan Niko, sebab Evan sudah membantu Haya berjuang mendapatkan hak nya selama ini. Kenapa jalan hidup Haya begitu rumit dan penuh rintangan?
"Tidak bisa di tunda dulu ya, mas," tanya Nahla memohon meminta pengertian Evan.
"Tidak semudah itu, Nahla. Kita tidak bisa berlaku semau kita," Evan menarik napas dalam-dalam.
"Haya sudah banyak mengeluarkan uang, dan aku lah yang meminjamnya dari bank. Haya harus memenangkan kasus ini, dan Haya harus mendapat hak materi dari Niko. jika sampai Haya gagal mendapat hak nya, aku khawatir bagaimana hidup Haya kedepan nya." Evan begitu mencemaskan masalah yang Haya hadapi secara bertubi-tubi.
"Ya Allah_____" Nahla pun ikut bingung.
"Jika bisa, aku mohon Nahla. Besok datang lah, ajak Haya datang bersama mu. Haya harus memenangkan kasus ini. Haya harus menang, karena Haya berhak mendapatkan hak asuh Attar, Haya berhak mendapatkan materi yang ia miliki selama hidup bersama dengan Niko," terang Evan menjelaskan pada Nahla.
"Akan aku usahakan, mas."
"Aku tau ini tidak mudah buat Haya. Tapi, ini juga sudah setengah perjalanan, tinggal selangkah lagi kita sampai pada tujuan kita." Evan mengambil ponsel dan memberikan pada Nahla.
"Ada apa mas?" Nahla bingung karena tiba-tiba Evan menyodorkan ponsel miliknya.
Nahla melihat kedalam ponsel Evan, Nahla melihat tanpa tau apa maksud itu semua.
"Pengacara kita H********** sudah mendapatkan banyak bukti. Akan banyak yang akan di debatkan besok, jadi usahakan agar Haya bisa datang. Aku yakin Haya akan memenangkan masalah ini."
Nahla menunduk dan menganggukan kepala pertanda Nahla mengerti maksud Evan.
"Mari aku antar pulang, senja akan segera tiba." Tawar Evan memberi bantuan.
"Tapi, mas." Nahla mencoba menolak ajakan Evan.
"Jangan menolak Nahla, ini bukan saat nya menolak setiap bantuan dariku. Mencobalah mengerti, dan belajar menerima kehadiran ku."
Nahla tersenyum dan mengandeng Haya menuju mobil.
"Tapi mas Faiz belum datang, apa kita harus meninggalkan nya lagi. Dia akan sendirian disini, kasihan mas Faiz." Lirih Haya keberatan saat Nahla mengandeng tangan nya.
"Mas Fais tidak sendirian mba. Ada Allah bersamanya, Allah pasti akan selalu menjaga mas Faiz. mba Haya harus percaya sama aku, sebab aku yakin mas Faiz akan selalu di jaga oleh Allah. Kan mas Faiz orang baik," nasehat Nahla menahan sebah di dada.
Haya kembali merintih____
Ada rasa sakit yang luar biasa, bahkan kepalanya teramat pusing dan sakit.
Evan segera melajukan mobil menuju kediaman Haya. sesekali Evan melirik Nahla yang duduk di jok belakang bersama Haya dengan perasaan bahagia.
"Nahla, bagaimana keadaan kedua orang tua Faiz?" Tanya Evan tampak perduli.
"Aku tau mereka sangat terpukul atas tragedi ini, tapi aku melihat kekuatan di dalam sana. Walau ibu kemarin dari klinik karena darah tinggi nya kambuh, tapi sekarang sudah jauh lebih baik."
__ADS_1
"Alhamdulillah... " Jawab Evan bersyukur keadaan ibu Faiz sudah membaik. Memang cobaan ini tidak mudah, hilang nya seorang anggota keluarga tanpa ada jejak. Mereka pasti teramat sedih akan kejadian ini.