Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Jangan menatap ku


__ADS_3

Klik____


"Loh, dik Haya belum tidur? Ini sudah malam loh!" Ahmad Faiz mendekati Haya yang masih duduk di tepi ranjang.


"Belum ngantuk, mas."


"Enggak baik tidur terlalu larut malam. Ayo gegas tidur? Mas saja sudah sangat mengantuk ini," Ahmad Faiz menaruh sebuah buku di atas meja. merebahkan tubuh dan memejamkan mata.


"Hhhhh____!" Haya mendesis tak jelas.


"Memang dik Haya sedang memikirkan apa? Sampai tidak bisa bobok hem__. Apa mas tidur di luar saja agar dik Haya bisa tidur?" Ahmad Faiz membuka mata dan menatap Haya yang diam.


Ahmad Faiz bangkit dari rebahan, mulai berjalan menuju pintu.


"Enggak____, ih mas apaan sih!" Haya menarik lengan Ahmad Faiz, yang sudah bergegas keluar dengan membawa bantal dan selimut.


Haya seketika menyadari tindakan nya. Haya merasa malu tiada terkira telah menarik lengan Ahmad Faiz sampai sedemikian rupa. "eh sorry___!" Ucap Haya cepat dan memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan rasa malu yang memunculkan rona merah di kedua pipi.


"Hhhh____, apa-apaan aku ini!" Lirih Haya kembali, ini hal konyol yang Haya lakukan.


Ahmad Faiz tersenyum sambil menatap wajah ayu Haya. Wajah yang terlihat sayu oleh kesedihan yang terlalu lama di pendam, tanpa mau di katakan pada siapa pun termasuk pada sang suami Ahmad Faiz.


Sekuat apapun Haya menyimpan, Ahmad Faiz akan selalu menunggu, Ahmad Faiz masih menunggu kejujuran Haya, sampai waktunya Haya siap mengungkap tabir kebenaran.


"Kenapa menatap ku seperti itu, jadi malu tahu!" Ketus Haya, sambil memalingkan wajah kembali ke sebelah samping kiri.


"Ih malu___, Benarkah seorang dik Haya merasa malu? Kan sedang memandang seorang suami nya sendiri, kenapa harus malu? Ciye yang sedang malu," goda Ahmad Faiz.


"Ya sudah mas tidur di luar saja ya? Di dalam hawa nya sangat panas dan gerah, sampai mas pengen buka baju. Nanti ada orang malu tambah malu lagi," Ahmad Faiz berlalu ke luar kamar dan tidur di kursi rotan depan televisi.


sedikit Senyum Ahmad Faiz menghiasai.


"Ya Allah kenapa aku merasa malu, saat mas Faiz menatap ku begitu dalam? Dan mengapa aku enggak rela mas Faiz tidur di luar kamar? Aku takut Ibu tau masalah ini, dan bertanya-tanya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Haya membatin dan berdecak sebal.


Pelan-pelan Haya membuka pintu dan berjalan mendekati ruang televisi, tampak lah disana Ahmad Faiz sedang tidur.


"Secepat itu dia tidur!" Haya menggelengkan kepala tidak yakin.


Haya pelan-pelan dan sangat hati-hati duduk di bawah kursi, sambil menatap wajah Ahmad Faiz yang menghembuskan nafas dengan teratur. Benar saja, Ahmad Faiz sudah benar-benar terlelap dalam tidur.


Haya menatap wajah di depan nya dengan begitu intens dan dalam. Ada sesak yang bertubi-tubi berusaha meluluhlantakkan hati Haya.


"Seandainya waktu dan keadaan tidak memaksa ku, aku pasti bisa jatuh hati pada mu mas. Belajar untuk menerima dan membuka hati," Haya membatin sambil menyunggingkan senyum miris.


"Namun sayang, semua sia-sia oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Tidak ku pungkiri aku nyaman saat bersama mu, mas, aku merasakan ketenangan saat berada di dekat mu," Haya tertunduk, merasa marah pada dirinya sendiri yang di landa ke gamangan.


Kenapa semua bisa begini. Kenapa Haya tidak rela jika harus menyakiti Ahmad Faiz. Kenapa Haya ragu untuk melanjutkan misi gilanya.


"Haya____!"

__ADS_1


Arkh___


Karena terkejut, Haya berteriak walau pelan namun akan terdengar oleh Ahmad Faiz yang sedang tidur pulas di atas kursi. Ahmad Faiz seketika terduduk sambil mengelus dada karena rasa terkejut.


Jantung Ahmad Zein berdegub kencang. rasa kantuk berubah menjadi bingung dan kaget.


"Ibu____" Haya menatap wajah sang Ibu bimbang. Lalu menatap wajah Ahmad Faiz yang terbangun dari tidur dengan gamang, jelas terlihat Ahmad Faiz sangat terkejut oleh suara teriakan Haya.


"Maaf_____?" Lirih Haya. Menatap mata Ahmad Faiz merasa bersalah, karena telah membangunkan Ahmad Faiz dari mimpi malam nya.


"Lagian kalian ini ngapain tidur disini?" tanya sang Ibu.


"Di kamar panas Bu, makanya kami pindah kesini," Jawab Ahmad Faiz.


"Bukan kah di kamar sudah ada kipas, masa iya masih panas sih?" Selidik sang Ibu tajam, dan menatap Haya kemudian menatap Ahmad Faiz seacara bergantian. Bu Malik tidak yakin dengan jawaban Ahamd Faiz.


"Iya, sih, Bu." Ahmad Faiz bingung akan mencari jawaban yang tepat. Ahmad Faiz diam mencoba mencari jawaban yang pas, yang akan di lontarkan pada sang Ibu.


"Ini semua gara-gara Haya Bu, maafin Haya ya mas? Karena Haya tidur nya ngorok, mas Faiz jadi ke ganggu tidurnya?" Lirih Haya sambil tersenyum pias, Haya tidak mau membuat Ahmad Faiz bingung.


"Apa?" Sang Ibu menautkkan alis, heran dengan jawaban Haya.


"Iya Bu, Haya kalau tidur suka ngorok dan beringsik. Jadi mungkin itu sebab nya mas Faiz memilih tidur di luar," jawab Haya asal.


Bu Malik pun manggut-manggut, setengah percaya setengah merasa rada aneh dengan jawaban yang Haya ucapkan. Padahal yang Bu Malik ketahui Haya tidak lah ngorok saat tidur.


"Ya sudah, Ibu mau masuk ke dalam dulu? kalian lekas lah bobo di kamar, jangan disini!" Bu Malik meninggalkan Haya yang masih terduduk di lantai, memegang erat jemari kaki sangking merasa gugup.


"Iya, mas."


"Ngapain ikut tidur di sini? Lihat karena kita tidur di luar ibu jadi salah paham."


"Kan tadi aku sudah bilang sama mas, enggak usah tidur di luar mas malah ngeyel sih. Dan lihat lah, Ibu pasti akan berpikir apa ada masalah antara kita!"


"Kapan dik Haya melarang mas agar tidak tidur di luar, mas kok lupa ya?" Ahmad Faiz sengaja menggoda Haya.


"Tau lah___!" Haya gegas masuk ke dalam kamar, sambil memonyongkan bibir karena merasa malu dan sebal. Demi menyelamatkan dari pertanyaan ibu, Haya rela berbohong.


"Hah___!" Haya merebahkan tubuh di atas kasur. Pandangan Haya beralih ke atas meja, sebuah handphone yang sudah pecah di bagian layar ponsel.


Haya mengambil ponsel dan mulai menekan nya.


Klik___


Haya memencet tombol on lama, berharap ponselnya baik-baik saja. Tring____, layar handphone menyala.


"Masih bisa, yey hebat nih handphone. Sudah buruk kayak gini masih saja bisa hidup, keren!" gumam Haya, dan memainkan jemari di atas layar.


Tring___

__ADS_1


Tring___


Banyak sekali pesan masuk. dengan cepat Haya membuka notifikasi pesan masuk.


"Mulai besok kamu enggak perlu berangkat bekerja. Karena mulai besok juga saya berhentikan kamu dari kantor saya Haya. maafkan saya, Haya___. Dan terimakasih sudah membantu kantor saya selama ini?" Mecca.


Deg


"Apa-apaan Bu Mecca ini. Kenapa memecat aku tanpa alasan, apa salah aku coba? Aku kan cuma ambil cuti, toh Bu Mecca sendiri yang menawarkan cuti dan belum over juga, cuti nya masih beberapa hari lagi," Haya bergumam dan mencoba membalas pesan Bu Mecca.


"Tapi buk, saya masih butuh pekerjaan di tempat ibu. Kenapa Ibu memecat saya secara sepihak? Ini tidak adil bagi saya Bu, jika ibu memecat saya tolong beri alasan yang bisa membuat saya sadar akan kesalahan saya bu, sehingga saya bisa memperbaiki nya."


Send


Pesan pun sudah terkirim tapi belum di baca oleh sang penerima telepon. Haya memainkan Handphone nya sambil menghentakan kaki di atas kasur.


"Kenapa sih jadi begini? Kenapa Bu Mecca tiba-tiba memecat aku? Apa ada sangkut paut nya sama mas Niko? Aku harus menghubungi mas Niko?" Lirih Haya penasaran.


Call


Tut___


Panggilan pertama tidak di jawab.


Tut_____


Panggilan kedua masih sama tidak di angkat.


"Apa sudah tidur?" Haya melihat jam di ponsel milik nya. Jam menunjukan pukul satu lewat empat puluh menit.


"Pantas saja sudah tidur, sudah tengah malam begini, dasar aneh aku ini!"


Drt..


Haya menoleh karena kembali tersentak kaget. Sebuah ponsel di atas bantal bergetar, ponsel siapa lagi kalau bukan ponsel milik Ahmad Faiz.


"Jangan lupa sholat malam, mas?" Nahla__


"Nahla, ngapain malam-malam mengirim pesan? Apa Nahla ini benar-benar perempuan baik-baik? Masa iya perempuan baik kok mengirim pesan tengah malam. apalagi yang di kirimi pesan suami orang. dasar munafik! Berlagak Alim, namun punya bakat jadi pelakor!" Keluh Haya, dan melempar ponsel ke atas bantal kembali.


"Ya Allah aku membanting nya, kalau ketahuan mas ahmad Faiz bisa gawat!" Gumam Haya, dan mengembalikan handphone ke tempat semula.


Haya tersenyum tipis menyadari ocehan tak guna. Kenapa Haya bisa sewot saat Nahla mengirimi pesan Ahmad Faiz. Bisa saja kan selama ini, diam-diam Ahmad Faiz punya hubungan dengan Nahla.


Lelaki mana sih yang tidak mau dengan Nahla? Gadis cantik, pintar masak, sayang keluarga Ahmad Faiz pula.


Haya menghentakkan kaki berulang kali.


"Stop Haya! stop. Jangan memikirkan Ahmad Faiz lagi. pikirkan mas Niko saja, iya mas Niko saja, jangan yang lain."

__ADS_1


Haya memandang ke arah pintu kamar.


__ADS_2