Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Kemarahan ayah Niko


__ADS_3

Pukul satu dini hari Niko dan Haya baru kembali dari party.


Sudah tentu Attar juga sudah terlelap dalam mimpi bersama bik Pina.


Niko tidak langsung tidur, Niko duduk di sofa kamar sambil memainkan handphone. Haya sendiri langsung membersihkan diri di kamar mandi.


Bau Alkohol dan rokok tercium di dress yang ia kenakan, membuat Haya merasa risih.


Ya Niko tidak merokok, itu jika di depan Ayah nya. Jika di luar jangkauan Ayah nya, Niko adalah orang yang hobby merokok dan meneguk minuman beralkohol. Dasar!


Selesai membersihkan diri, Haya keluar dari dalam kamar mandi sudah menggunakan baju tidur berbahan satin.


Haya sengaja tidak memakai baju tidur yang panjang, karena lelah yang mendera jadi Haya berpikir ingin membuat pori-pori di tubuh nya bisa bernapas dengan santai.


Tak di sangka, Niko yang tadi hanya bermain ponsel, langsung mengajak Haya untuk bermain-main di atas kasur. Namun Kali ini Haya menolak dengan alasan lelah dan capek.


"Maaf mas, aku capek. Besok saja ya?" Pinta Haya sambil mengusap lembut wajah Niko yang sudah me....merah menahan amarah.


Niko tampak kecewa, namun Haya tak ambil pusing. Haya ingin tau arti mimpi nya kemarin malam dan Haya hanya tidak ingin kembali bermimpi bertemu dengan orang tua nya yang berwajah sedih.


Haya harus menemui seseorang untuk menceritakan masalah yang tengah di hadapinya, harus!


Niko terlelap dengan memebelakangi tubuh Haya. entah benar-benar tertidur atau sedang menahan amarah. Haya tau jika Niko sedang jengkel terhadap nya. Haya tau menolak keinginan suami itu tidak baik, tapi bukan kah kini Niko bukan suami sah Haya lagi.


Haya beralih ke samping sang suami. Haya memandangi wajah sang suami begitu dalam tak terasa mata Haya berembun dan meneteskan air mata kesedihan.


"Maafkan aku mas?" lirih Haya.


Sepanjang malam Haya tidak tidur, Haya terus berpikir dan berpikir langkah apa yang harus di ambil nya?


Jam terus bergulir hingga menyentuh angka enam pagi. Haya masih mematung di atas ranjang tidur begitu pun dengan Niko.


"Mas, bangun?" Haya membangunkan Niko dengan suara teramat pelan.


"Untuk apa bangun, untuk apa kerja, kalau istrinya enggak mau di sentuh?" ketus Niko.


"Maaf mas semalam aku kecapekan?" Sesal Haya membuat Niko marah.


"Terserah!" Niko membuang selimut yang di pakai nya dan membuang nya sembarangan.


Brak.....


Suara pintu kamar mandi, yang di tutup dengan setengah membanting begitu keras, membuat Attar terbangun dari tidur nya.


"Ibu....!" Lirih Attar dari dalam box bayi.


"Iya sayang ibu ada disini nak," Haya mendekati box bayi Attar dan mengendong nya keluar.


"Ibu?" Attar memeluk Haya begitu erat.


Haya keluar kamar dengan mengendong Attar yang belum di mandikan, biasanya Attar keluar kamar sudah bersih dan wangi. Tapi tidak dengan pagi ini.


"Attar....?" Bik Pina yang masih membuat sarapan untuk Attar memanggil Attar yang masih dalam gendongan Haya. Bik Pina mengusap pipi gembul Attar karena gemas.


"Selamat pagi Bu?" Suara bik Mila yang baru datang.


"Pagi bik," sahut Haya ramah.


"Menu Masakan apa pagi ini untuk Attar, bik?"


"Pagi masih biasa Bu, kue khusus untuk Attar yang di belikan Ayah nya Attar, Bu."


Haya tersenyum miring, bahkan untuk masalah makanan saja, Niko membatasi agar Attar selalu di pastikan memakan makanan yang sehat dan higenis pilihan nya sendiri. sungguh egois. Niko tidak akan mendengar saran Haya, selalu saja begitu.


"Untuk siang nanti biar aku saja yang masak buat Attar, bik!" titah Haya dan berlalu sambil mengendong Attar masuk ke kamar.


"Apa ibu libur kerjanya?" lirih bik Pina. Haya hanya tersenyum kecil.


Haya masuk kedalam kamar, melihat Niko memasang dasi, Haya berinisiatif untuk membantu Niko merapikan dasi setalah nya Haya memandikan Attar.


Niko ikut masuk ke dalam kamar mandi "loh mas ngapain, enggak kerja tah?" tanya Haya.

__ADS_1


"Kerja, tapi agak siangan mungkin. pagi ini Ayah dan Ibu mau datang kesini."


"Loh iya kah. Ayah sama Ibu mau datang kesini? kok mendadak sekali," Haya begitu terkejut.


"Iya, tuh dah sampai. Sekarang lagi nunggu Attar di ruang tengah."


Haya pun dengan cepat memandikan Attar dan memakai kan baju kesayangan Attar.


"Sudah selesai, sekarang kita temui nenek dan kakek, mereka sudah menunggu Attar di depan," Haya mengajak Attar untuk berjalan. Wajah Attar begitu gembira.


Attar pun berjalan di depan Haya, setengah berlari.


"Attar...." Seru sang kakek, Ayah dari Niko.


Ayah Niko pun langsung mengendong dan menciumi cucu kesayangan nya tersebut.


"Udah ganteng, udah wangi, udah makan belum nih?"


"Yum kek," sahut Attar menggelengkan kepala.


"Belum ya? Ya sudah nanti makan sama kakek sama nenek ya?" Attar pun mengangguk setuju dengan kegirangan. Bagaimana tidak senang, apapun yang Attar mau, pasti di turuti oleh sang kakek dan nenek.


Haya pun bersaliman pada Ayah dan Ibu mertuanya, lalu perlahan Haya duduk di samping Niko.


"Mari sarapan bersama Bu, yah? Coba tadi ngabarin dulu, pasti Haya buatin sarapan kesukaan Ayah dan Ibu, roti panggang tawar berselai pedas," terang Haya pada kedua orang tua nya.


"Kami sudah sarapan tadi. Sepulang dari exercise kami langsung makan. tiba-tiba ibu kangen sekali dengan Attar, jadi mampir kesini sekalian, lagian kan tempat exercise dekat dari rumah kalian."


Pak Firman adalah nama Ayah Niko, sedang ibu Niko sendiri bernama Astri.


Dulu nya Bu Astri ini seorang pegawai yang bekerja di salah satu perusahaan pak Firman, sebagai karyawan.


Jadi mereka bertemu di situ, awal kisah cinta yang di warnai konflik ketidak setujuan orang tua dari pak Firman menambah rumit hubungan mereka pada saat itu.


Dengan sekuat jiwa mereka menyakinkan kedua belah pihak bahwa mereka akan hidup bahagia, karena mereka memiliki Cinta yang luas dan tekat yang kuat. Dan pada akhirnya Bu Astri dan pak Firman menikah dengan restu kedua belah pihak.


"Makan mu terlalu sedikit ya. Pantas kamu kurus tidak gemuk seperti ibu?" Goda Bu Astri pada menantu nya tersebut, sambil melirik porsi makan Haya.


Haya tersipu malu dan mengelengkan kepala , sedikit pun Haya tidak merasa ucapan Bu Astri adalah cemohan, melainkan candaan semata.


"Baik dong, yah."


"Bagus good job my son, ayah bangga padamu," pak Firman begitu kagum pada Niko. Semakin hari pekerjaan Niko semakin bagus.


"Bagaimana kabar pernikahan kalian, apa baik-baik saja?" tiba-tiba pak Firman bertanya demikian. Tanpa hujan atau mendung.


Uhuk____ uhuk ____


"Minum lah ya?" Bu Astri memberikan segelas air putih pada Haya sambil mengusap bahu Haya.


"Pelan-pelan dong!" Seru Niko.


"Terima kasih Bu. Uhuk___ uhuk." Haya menutup mulut nya.


Pak Firman menatap mata Haya dan beralih menatap Niko. Pak Firman yakin ada apa-apa nya di dalam rumah tangga keluarga anak nya tersebut.


"Bik, tolong ajak Attar untuk bermain!" panggil Bu Astri pada bik Pina.


"Baik nyonya," bik Pina mengambil Attar dan mengajak nya bermain ke taman depan rumah.


"Haya, ada apa, katakan!" Todong pak Firman.


Haya menunduk, matanya berembun. Hati nya menolak untuk tidak mengatakan tapi Nurani nya memaksa untuk segera mengatakan. Untuk apa merahasiakan kebohongan itu, tak bermanfaat sama sekali.


"Haya___" Bu Astri mendekati menantu nya tersebut dan mendongak kan wajah Haya.


Wajah Haya sudah berembun dan air mata sudah memenuhi pelupuk mata.


"Haya ada apa, nak?" Bu Astri mengusap bahu Haya untuk sekedar memberikan kekuatan.


"Niko, apa yang kamu lakukan pada Haya?"

__ADS_1


"Tidak ada Bu. Aku tidak melakukan apapun pada Haya."


"Jangan bohong!" Teriak Bu Astri.


"Mengapa aku harus bohong, Bu?"


"Lalu ini apa?" Bu Astri menunjukan sebuah screen shoot dari story' yang di buat Haya tiga hari yang lalu.


Mata Niko membelalak tak percaya dan menunduk.


"Ada apa, masalah apa yang kira nya tengah kalian hadapi?" Pak Firman kini bersuara.


"Maaf kan aku Bu, Ayah?" lirih Haya. Jelas takut dan bimbang.


"Maaf untuk apa sayang?" Seru Bu Astri tidak mengerti.


"Aku belum menjadi istri dan menantu yang baik buat kalian" Haya menyeka air mata.


"Kamu ini ngomong apa Haya?" Pak Firman menimpali dan menatap tajam ke arah Niko.


"Katakan Niko, ada apa?" Teriak pak Firman lantang dan marah.


"Maaf kan aku ayah___" Suara Niko tercekat. pak Firman menggelengkan kepala tidak percaya.


"Jangan katakan kamu mengucap kata Talak lagi pada Haya, Niko!" Suara pak Firman kian meninggi.


Hiks__hiks____


Haya menangis dan masih menunduk. Bu Astri mengusap punggung menantu nya itu dengan lembut.


"Niko___" Bentak pak Firman. Namun Niko masih bergeming tak bersuara. raut menyesal benar-benar jelas terlihat.


"Jawab Niko!" Kini Bu Astri yang meninggi.


"Iya yah___, Maafkan aku."


Plak___


Sebuah tamparan pak Firman hadiahkan untuk putra kandung nya tersebut. Hati Pak Firman benar-benar kecewa. pak Firman benar-benar tidak menyangka Niko akan berbuat hal ini.


Pak Firman terduduk, setelah menampar dengan begitu keras anak kebanggan nya tersebut. Sungguh pak Firman kecewa pada Niko.


"Memalukan kamu Niko, dimana ota* mu hah!" seru pak Firman berapi-api.


"Maaf pak, maafkan aku?" Jawab Niko memelas.


"Apa dengan maaf, kalian bisa kembali rujuk lagi. Kamu tau Niko, kamu sudah menjatuhkan talak untuk ketiga kalinya pada Haya, lelaki macam apa kamu ini?"


Niko menangis pilu dan memeluk kaki Ayahnya. "maafkan aku ayah, maaf?"


Pak Firman diam dan tak bergeming, lalu menatap Haya yang menunduk pilu.


"Ikut pulang kerumah kami Haya, ajak Attar dan bik Pina sekalian."


"Ayah, jangan! aku mohon Ayah?" pinta Niko memelas.


"Lepaskan!" pak Firman menghempas lengan Niko.


Pak Firman berlalu dan Bu Astri membawa Haya ikut serta pergi bersama Mereka, Niko mengikuti Ayah nya dari belakang.


"Ayah aku mohon jangan Ayah?"


Pak Firman tidak perduli lagi. Setelah Attar dan bik Pina ikut serta masuk kedalam mobil,


Haya masih mematung di pintu mobil sambil menatap Niko yang menangis memegang erat tangan nya.


"Aku mohon jangan pergi Haya. Aku mencintai mu, sungguh aku masih sangat mencintaimu."


"Haya cepat masuk kedalam mobil!" titah pak Firman. Haya pun melepas genggaman tangan Niko.


Maaf mas."

__ADS_1


tes___


tes___


__ADS_2