Cinta Sang Muhallil

Cinta Sang Muhallil
Doa yang ku langitkan


__ADS_3

"Haya kenapa kamu masih begitu acuh dengan ku. Sebenci itukah kamu padaku?" tanya Niko merasa di cuek kin.


"Setidaknya dengan kejadian yang telah lalu, mas bisa menyadari titik kesalahan, dan berubah."


"Tidak harus berubah menjadi manusia baik, tapi rubahlah kebiasaan buruk mu, cara bicara dan perkataan mu agar tak menyakiti hati orang lagi. Cukup aku saja yang menderita karena keegoisan mas, jangan ada orang lain lagi."


"Lisan memang tidak bertulang, tapi saat lisan itu salah berucap, akan ada rasa sakit melebihi sakitnya tertancap pedang yang tajam."


"Dan saat lisan itu terlanjur berucap, lihat lah nasib pernikahan kita, kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya menjadi utuh!"


"Itu lah lisan, maka dari itu belajar lah untuk menjaga lisan." Haya berkata panjang kali lebar, berharap Niko bisa intropeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Niko tertunduk dalam.


Niko memang tempramental, tapi saat Haya berkata demikian, napsu untuk marah pun hilang dan mereda, hanya rasa kasihan, rasa bersalah, itulah yang bergelayut di pikiran Niko saat ini. Karena lisan yang tak di jaga, hidup Haya dalam masalah yang rumit.


"Baiklah pak Niko yang terhormat, baju mana yang akan anda beli?" Haya berusaha mengalihkan pembicaraan, rasanya tidak mungkin terus membicarakan masa yang telah usai. Haya malas mengingat masalalu yang terasa menyakitkan jika di ingat.


Niko menunjuk ke sembarang arah, lalu Haya mengambil baju tersebut dan menaruhnya kedalam keranjang baju, untuk dibawa ke kasir.


"Yang mana lagi, pak?" Tanya Haya penuh harap.


"Cukup, Haya! Jangan panggil aku dengan sebutan bapak. Aku mohon jangan seperti ini Haya," tekan Niko merasa tidak pas dengan ucapan Haya.


"Hubungan kita saat ini, hanya sebatas pelanggan dan pelayan. Jadi, aku hanya menjaga sopan santun, antara pelayan dan customer. Aku harus bisa membuat pelanggan merasa di hormati bukan," jawab Haya sambil berjalan.


"Tapi kamu tidak bisa memungkiri Haya, bahwa di antara kita pernah ada cinta, pernah ada hubungan, pernah ada kenangan, bahkan ada bukti dari kisah kita, ada Attar menjadi bukti semua itu, Haya. Jadi, aku mohon stop berlagak seperti tak kenal."


"Mas, masalalu memang menjadi pelajaran dan pengalaman. Bahkan kita bisa belajar dari pengalaman bukan, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Tapi, aku memiliki rasa sakit dari pengalaman."


"Haya, aku mohon..! "


"Apa yang kamu mau, mas?" Tekan Haya.


"Kembali lah pada rumah minimalis pemberian ku, aku sungguh khawatir dengam mu, Haya. Aku mengkhawatirkan hidup mu Haya. aku terus menerus menyesal ketika melihat hidupmu jadi seperti ini."


"Ada Allah di hatiku, jangan pernah meragukan penjagaan yang maha kuasa. Dan satu hal lagi, aku tidak akan menerima bantuan mu, mas. Maaf aku tidak bisa menerima apapun pemberian mu!"


"Jangan keras kepala Haya, mengertilah ini semua aku lakukan demi kamu. Aku perduli dengan hidup mu, Haya."


Haya berjalan mendahulu Niko, lalu keranjag baju berisi baju Niko, Haya taruh di meja kasir. Haya malas berdebat dnegan Niko. Haya belajar menerima kehidupan nya sekarang tanpa bayang-bayang masalalu.


Lin pun segera menjumlah total dua pcs baju, pilihan Niko secara random tersebut.


"Cash or card?" tanya Lin pada Niko.

__ADS_1


Niko mengeluarkan beberapa lembar uang merah.


"Thank you, Will you come back again! Im hope like that." Seru Lin senang.


Niko membalas dengan untaian senyum, lalu gegas pergi meninggalkan butik queen dengan menatap Haya ragu-ragu.


"Jika ada apa-apa, hubungi aku!" Lirih Niko di hadapan Haya, sebelum Niko benar-benar pergi meninggalkan Haya. Haya masih acuh pura-pura tak mendengar.


*****


"Hizam... Ayo kita makan malam. Aku sudah masak untuk makan malam kita," ajak Meca pada Ahmad Faiz yang masih mematung di depan jendela kamar.


View kamar Ahmad Faiz, benar-benar memukau. Jendela yang langsung berhadapan dengan sebuah taman kota, ada sungai dan beberapa hutan buatan jelas terlihat dari jendela kamar Ahmad Faiz yang telah Meca sediakan.


"Kita perlu makan, aku sungguh tidak ingin melihat mu sakit, ayolah Hizam kita makan ya?" Ajak Meca setengah merayu. Karena Ahmad Faiz sama sekali tak menggubris ajakan Meca.


Ahmad Faiz pun menuruti apa mau Meca, setelah Meca merayu dan terus membujuk. dengan singkat bibik yang bekerja di rumah sudah Meca menyiapkan makan malam mereka dengan spesial.


Ahmad Faiz terpaku menatap banyak lauk, sayur dan aneka olahan dari daging.


Bahkan ada buah lengkap, yang tertata rapi di atas wadah.


Ahmad Faiz menoleh pada Meca yang sibuk memotong ikan.


Meca memandang Ahmad Faiz dengan tatapan suka. Ada rasa kagum dan like saat melihat dan menatap Ahmad Faiz yang begitu penuh perhatian.


Bahkan disaat ingatan nya hilang, lelaki di hadapan nya bisa berlaku sangat baik serta penuh kasih.


Sungguh Meca menyukai hal itu, sesederhana itu jatuh cinta.


"Ini sudah, makan lah!" Ahmad Faiz meletakkan piring berisi ikan pada tempatnya semula.


"Kamu tidak makan, Hizam?"


"Aku bingung, Meca. Makanan ini terlalu banyak menu pilihan nya. aku bingung mau makan yang mana, sepertinya semuanya enak."


"Kenapa harus bingung, makan lah yang mana saja. makanan yang paling kamu suka, aku akan senang jika kamu mencicipi atau menghabiskan semua masakan ini." terang Meca.


Ahmad Faiz pun segera melahap ikan dan sayur. Tiba-tiba ada rasa nyeri yang Ahmad Faiz sendiri tidak tau, mengapa hatinya sakit dan gelisah saat makanan itu masuk kedalam lambung nya.


"Pelan-pelan" ucap Meca begitu khawatir melihat Ahmad Faiz makan dengan begitu lahap.


"Ini enak sekali, aku suka masakan ini Meca."


"Terimakasih, aku senang kalau masakan ku, sama dengan selera mu, Hizam."

__ADS_1


Ahmad Faiz pun menoleh dan membalas senyuman Meca dengan sumringah.


Setelah makan malam usai, Ahmad Faiz dan Meca membaca tentang buku holydays.


Ahmad Faiz begitu kagum dengan dunia luar, dunia yang Meca ceritakan


Banyak keunikan dan beraneka ragam budaya, keindahan alam bertabur ciptaan Tuhan semesata alam.


Bahkan mereka tinggal di bumi yang sama, tapi mereka mempunyai ras yang berbeda, memiliki warna kulit yang berbeda, warna rambut yang berbeda-befa,tinggi badan yang berbeda, dan masih banyak lain sebagainya.


Keindahan alam yang berbeda, sungguh menakjubkan ciptaan Allah.


Perlahan Meca merasa nyaman dan aman, saat berada di sisi Ahmad Faiz. sikap dan karakter Ahmad Faiz begitu mampu membius aura cinta Meca yang telah lama lenyap.


Meca dan Ahmad Faiz bercengkrama, bermodal buku cerita, membuat kedua insan itu tertawa dan begitu riang, sampai tidak menyadari malam yang kian larut.


Dari tawa mereka ada doa yang di langitkan.


"Ya Allah, aku ikhlas akan takdir ini, tapi aku mohon temukan aku dan anak ku. Walau dalam kondisi apapun, aku percaya kau menyayangi nya ya Allah." Bu Malik menengadahkan tangan nya.


"Ya Allah, aku tidak menyangka takdir cinta ku akan sependek ini. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa orang yang ku kagumi akan cepat kau ambil, karena dia adalah lelaki terhebat yang pernah aku kenal sebelum nya." Nahla memunajatkan doa nya.


"Ya Allah, kau telah mengambil separuh jiwaku, Ahmad Faiz anakku, kau telah mengambilnya. Maka luaskan hatiku agar bisa menerima takdir ini, aku rapuh tapi aku berusaha tegar untuk tetap bisa menghadapi jalan cerita hidup," pak Malik menangis sesegukan.


"Ya Allah aku menyayangi Ahmad Faiz layaknya seperti anak ku. Tapi engkau mengambilnya terlalu cepat, bahkan aku masih merasa dia masih hidup, aku merindukan lantunan sholawat yang Ahmad Faiz selalu senandung kan." bik Pina terduduk di antara butiran tasbih yang baru bik Pina dzikirkan.


"Ya Allah aku hancur sehancurnya, hatiku patah saat mengetahui kepergian Ahmad Faiz. kembalikan dia padaku, pertemukan aku dengan nya, aku ingin mengusap rambut nya, aku ingin mendengar lantunan merdu suara adzan yang Ahmad Faiz kumandangkan", bude Dina menengadahkan doa di shalat malam nya.


"Ya Allah, terlalu berat cobaan yang harus aku jalani. Tapi, aku berusaha ikhlas menerima garis takdir hidupku. Aku mencintainya karena mu ya Allah, dan aku ikhlas kan semua ini jua karena mu. Aku percaya engkau akan memberikan yang terbaik dalam hidupku," Haya menangis dalam sujud malam nya.


Banyak doa yang terpanjatkan, hati yang kian merindu dan meggebu.


Ketika rasa ikhlas harus di utamakan, sabar adalah prioritas penting dalam kehidupan.


Ahmad Faiz pun bisa merasakan ada angin semilir yang menyapu tubuhnya.


Perlahan mata Ahmad Faiz terbuka, ada sesak yang terasa menghimpit hatinya.


"Ada apa dengan ku, kenapa hatiku terasa sebah!" Ahmad Faiz memegang dada dan berusaha mencari air minum karena rasanya begitu khawatir.


Selamat menyambut hari kemenangan, 1444 H


Minal Aidzin wal Faidzin


mohon maaf lahir dan batin

__ADS_1


__ADS_2