
Tika menuju kantor milik papanya yang terletak 100 meter dari kedai kopi. Setelah tiba di depan resepsionis Tika bertanya pada penjaganya.
" Mbak, saya mau mencari papa saya. Apakah beliau ada?"tanya Tika seraya merapikan pakaiannya yang sedikit lusuh.
"Ada, Non. Silakan langsung masuk ke ruangannya." sahut karyawan wanita bagian resepsionis itu dengan ramah, jarang -jarang anak pemimpin perusahaan datang ke mari.
"Terima kasih, Mbak." sahut Tika seraya berjalan menuju ruangan papanya.
"Siapa cewek cantik itu..." tanya karyawan cowok yang berdiri di sebelahnya dengan memandang Tika sampai sosoknya tak terlihat.
"Non Tika, anak pemilik perusahaan ini." sahut resepsionis cewek.
"Cantiknya sungguh kebangetan." ucap si resepsionis cowok.
"Hus...sudah punya calon suami dia." tukas si wanita.
"Kok kamu sok tahu, dan beruntung sekali cowok yang bisa menikahi dia. Siapa calon suaminya?" tanya nya sedikit penasaran.
"Katanya sih, anak sahabat pak Andik."
"Andai cowok itu aku..." si cowok mulai berkhayal.
"Ngaca dulu kamu, bukan levelnya. Pantesnya tuh, kamu sama aku..." si cewek menyenggol sikut si cowok.
"Idih ,,aku yang ogah!" memegangi sikutnya yang di senggol karyawan wanita.
Tika menuju lift untuk sampai ke lantai 3, tak butuh waktu lama dia sudah sampai dan menuju ruang papanya.
"Selamat si...ang, Pa!" ucap Tika terbata saat membuka pintu, matanya melotot seakan mau keluar saja bola matanya. Dia kaget bukan main dengan apa yang dilihatnya, cowok kampung bernama Surya ada di ruangan pak Andik dan sedang duduk di hadapannya yang tengah asyik bercengkrama.
"Nenek Sihir...!" Surya terkejut dan sontak berdiri kaku lantaran mendengar Tika memanggil pak Andik dengan sebutan papa.
"Siang Sayang, masuklah. Nah...ini adalah Tika anak saya yang akan menjadi istri kamu."
melambaikan tangan, mengajak Tika mendekati pak Andik.
"Papa menjodohkanku dengan dia, orang yang selama ini aku paling benci, apakah ini yang dinamakan karma. Aku tidak sanggup membayangkan bila hidup dengan dia. Kenapa harus dengan Surya. Kalau bukan karena harta warisan yang papa janjikan padaku, sudah aku tolak perjodohan ini. " batin Tika kecewa dan kesal. Sambil mengerutkan dahi dan memanyunkan mulutnya dia duduk di samping papanya.
"Apakah dia anak Anda?" Surya menegaskan, seakan dia juga tidak percaya yang bakal menjadi istrinya adalah Tika, wanita yang telah menjatuhkan harga dirinya. Berdiri dengan tatapan masih tidak percaya.
"Benar, Tika, kenalkan dia Surya. Calon suami kamu." pak Andik memberikan kode untuk saling bersalaman.
"Kami sudah saling kenal, Pa. Dia salah satu mahasiswa terkenal di kampusku." sindir Tika, seraya memalingkan wajah menolak untuk bersalaman.
"Bagus kalau begitu. Kalau kalian sudah saling kenal, langsung saja besok segera menikah!"
" Apa, besok!!" Surya dan Tika saling memandang dan dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
"Karena sesuai perjanjian, acara ijab kabul kita adakan di vila milik paman kamu, om Sigit yang ada di Jakarta. Besok setelah subuh kita akan berangkat." jelas pak Andik tanpa memberikan kesempatan mereka berdua untuk berbicara.
"Aku tidak mau, Pa. Kalau aku tahu anak sahabat Papa itu dia, tentu sudah aku tolak perjodohan ini." ucap Tika cemberut seraya menarik tangan papanya. Meminta agar membatalkan perjodohan dengannya.
"Tidak bisa, Tika...ingat kesepakatan kita diawal, papa dengar ada istilah lebih cepat menikah lebih bagus. " pak Andik ersenyum lebar puas dengan keadaan yang kebetulan ini, tenyata Tika dan Surya sudah saling kenal, kemudian terdengar ponsel milik pak Andik dan dia menerima panggilan itu. Tika melepaskan tangannya.
" Iya, saya segera ke sana . Tolong siapkan berkasnya." ucap pak Andik dan segera menutup teleponnya.
"Tapi, Pa. Tika belum siap! Kenapa harus terburu - buru..." rengek Tika dan mengiba agar perjodohan ini bisa batal.
" Iya, Pak. Saya juga belum siap. Saya juga harus mengurus masalah pengiriman barang besok. Saya..."belum selesai bicara.
"Tika ingat janjimu....Janji adalah hutang." menujukkan jarinya ke arah Tika. Tika tak bergeming, bingung untuk mencari alasan.
"Dan kamu Surya, bukankah kamu juga telah bersedia menerima perjodohan ini. Untuk acara pernikahan kalian sudah saya siapkan. Jadi, kalian hanya perlu menyiapkan diri kalian. Saya ada pertemuan mendadak sekarang. Ingat kalian berdua sudah berjanji padaku untuk menerima perjodohan ini dan jangan pernah bermain -main dengan janji. " ucap pak Andik tegas seraya mengenakan jasnya dan berdiri.
"Oh...iya, Surya. Tugas kamu sudah saya serahkan pada karyawan lain, jadi besok kamu cuti saja. Segera beri kabar pada ibumu. untuk cincin kawinnya menyusul saja." pak Andik lalu pergi dari ruangannya sebelum meninggalkan ruangan dia menatap ke arah Surya dengan tatapan tajam.
Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Sejenak mereka mematung dan tak berbicara sepatah katapun. Beberapa menit kemudian diantara mereka bersuara.
"Ternyata kamu bekerja di perusahaan papaku." Tika memulai pembicaraan yang sejak tadi hening dengan sedikit rikuh dia berdiri menuju koridor di ruangan itu.
"Kamu sudah melihatnya sendiri kan, "
"Enak banget hidupmu, belum lulus kuliah saja sudah bisa bekerja di perusahaan gede. Kamu menyuap papaku ?"
"What, di mana - mana kalau ngomong tuh pakai mulut. Dasar cowok kampung!" umpat Tika.
"Bila aku tahu di awal bahwa calon istriku itu nenek sihir, sudah aku tolak perjodohan ini." sahut Surya ketus seraya melipat tangannya.
"Aku pun sama, jika aku tahu yang dijodohkan itu cowok kampungan seperti kamu, aku tidak mau menerima perjodohan ini. Amit, amit, mimpi apa aku semalam?" menepuk jidatnya lalu berpindah mengetuk meja. Surya meledek dengan menirukan gaya bicara Tika sehingga membuat Tika semakin kesal dengan ulah Surya.
" Jangan - jangan, kamu yang terpesona dengan kecantikanku." ucap Tika seraya mengibaskan rambutnya yang terurai panjang.
"Dasar nenek sihir, siapa juga yang terpesona. Malah ingin muntah aku, uwek...uwek " Surya menjulurkan lidahnya meledek lagi.
"Siapa yang nenek sihir, dasar cowok kampungan, aku pukul wajah kamu!" Tika mengepalkan tangannya dan serasa ingin meninju muka Surya.
"Pukul saja, nih..." Surya memajukan pipinya.
Tika mengejar Surya, Surya berlari mengitari meja. Ibarat kucing mengejar tikus. Keduanya saling kejar - kejaran di ruangan itu.
Beberapa saat kemudian.
"Stop!" ucap Tika seraya tersenggal - senggal nafasnya.
"Kamu menyerah..." Surya mengatur nafasnya yang juga naik turun dan menghentikan langkahnya. Tika mengangguk dan membungkuk memegangi pinggangnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu janjikan dengan papamu untuk menerima perjodohan ini?" tanya Surya penasaran setelah nafasnya mulai teratur.
"Aku..." Tika bingung untuk menjawabnya.
"Katakanlah, toh...kita juga sudah terlanjur menyetujui perjodohan yang sudah tidak bisa kita hindari ini." ucap Surya memastikan kejujuran Tika.
"Jadi, kamu menyerah untuk menolak perjodohan ini, meskipun kamu sudah tahu bahwa calon istrimu adalah aku." Tika merebahkan tubuhnya yang lemas karena terlalu capek mengejar Surya tadi di sofa yang berada di samping koridor. Sambil mengatur nafasnya yang masih ngos -ngosan.
"Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa menjilat air ludahku sendiri. Aku adalah laki - laki yang menepati janji. Apa alasanmu menerima semua ini?" tanyanya lagi.
" Kepo, mau tahu saja." sahut Tika.
"Siapa yang kepo....Kamu ingat dengan ulahmu saat di kamar mandi kampus. Ini balasannya untukmu. Kamu terkena senjata makan tuan." ledek Surya.
"Aku benci kamu." Tika berdiri meraih tas kecilnya, lalu keluar dengan perasaan yang kalut. Wajahnya memerah karena teringat akan ulahnya di kampus .
Surya mematung, beberapa saat kemudian dia keluar dari ruangan pak Andik.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku." batin Surya.
***
Hari yang dinantikan pak Andik pun terwujud. Tika dengan memakai kebaya pengantin mewah dengan full payet jepang ekor pnjang super mewah bernuansa putih. Wajahnya semakin cantik dengan polesan yang elegan. Tika duduk disebelah pak Andik, Pak Andik sebagai pemisah antara Tika dan Surya. Surya mengenakan setelan jas hitam. Acara ijab kabul ini diadakan di sebuah vila yang berada di Jakarta. Karena sesuai janji pak Andik untuk tidak memberi tahukan kabar pernikahan, jadi yang hadir di sana, hanya kerabat dekat keluarga pak Andik dan ibu serta adik Surya .
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq. ( Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.)" Surya mengucapkan akad nikah dengan menggunakan bahasa arab.
"Sah, bagaimana para saksi?" ucap penghulu.
"Sah..." sahut semua orang yang hadir.
Tika dan Surya menandatangani buku nikah. Mereka berdua resmi menjadi suami istri.
Tika mencium tangan Surya, yang sekarang menjadi suaminya.
Surya mencium kepala Tika seraya berdoa di dalam hatinya.
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada -Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya."
Selesai akad nikah, mereka berdua berfoto dengan gaya yang diarahkan fotografer. Tika pasrah menurut.
"Jangan macam - macam denganku," bisik Tika.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu nanti malam." bisik Surya.
"Kejutan, apa!!"tanya Tika lirih.
"Kepo..." balas Surya menirukan gaya yang biasa Tika ucapkan padanya.
__ADS_1
"Dasar tukang fotokopi!" sahut Tika jengkel.