
"Wi, aku butuh bantuanmu, sekarang!" ucap Tedi seraya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Dewi yang sedang menyantap makan siangnya di kantin perusahaan.
Kantin atau kafetaria di perusahaan ini punya makanan enak. Selain itu karyawan dan tamu bisa menikmati dengan nyaman.
Desain interiornya kekinian, tidak seperti kantor biasanya yang sangat formal. Dan bagian lobinya juga terlihat. Lantainya geometrik dan furniturnya berbentuk bulat.
Interiornya sekilas terlihat seperti konsep industrial. Tapi sebenarnya tidak meninggalkan kesan artistik. Bisa dibilang konsepnya lebih free dan fun.
"Bantuan apa?" hampir tidak jelas suaranya karena penuh dengan makanan.
"Kamu harus mengajak si sopir itu keluar dari rumah Tika sepulang dari kantor nanti!"
"Keluar, kenapa harus aku?" masih mengunyah makanan.
"Kamu kan suka dengan sopir itu!"
"Jangan panggil dia dengan sebutan sopir!"
"Iya... ya.... Kamu ajak Surya kemana kamu suka!"
"Apa dia mau?"
"Atau kamu cari alasan yang membuat dia tidak bisa berkata tidak."
"Seperti apa?"
"Ayolah Dew, kamu pasti punya seribu cara untuk bisa dekat dengan si sopir itu!"
Dewi melotot.
"Eh, maksudku Surya. Pokoknya, entah bagaimana caranya kamu harus berhasil membuat Surya mau keluar bersamamu."
"Emang ada apa sih sebenarnya?" tanya Dewi penasaran seraya memasukkan sesendok lagi makanannya.
"Aku ingin pergi menemui Tika tanpa sepengetahuan Surya."
"Lalu, apa hubungannya dengan aku untuk mengajak Surya pergi?"
"Aku pernah membuntuti mobil Tika, mereka tinggal berdua!"
"Tinggal serumah maksudmu!" ucap Dewi dengan meninggikan suaranya dan sedikit kaget.
"Benar. Oleh karena itu aku sangat membutuhkan bantuanmu! Please...!!!"
Wajah Tedi memelas.
"Baiklah. Nanti aku pikirkan cara untuk mengajak Surya keluar.
"Nah, begitu dong! Kamu memang teman baikku." mencubit kedua pipi Dewi dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.
"Di, sakit tahu!" menyentil salah satu tangan Tedi.
"Aduh!" sontak melepas kedua tangannya dan mengusap tangan sebelahnya yang disentil Dewi.
"Dilihat karyawan lain, jaga etika! Kamu bos di sini." bisik Dewi dan matanya sedikit melotot.
"Iya, ya, maaf. Ini ada sedikit rejeki untuk kamu." mengeluarkan uang dari dompet tebalnya sebanyak 5 lembar seratus ribuan dan menjejernya di atas meja.
"Wow...apa aku gajian hari ini." matanya sedikit melotot dan mulutnya menganga.
"Belum. Baru 2 hari kerja masa sudah gajian. Itu sengaja aku beri padamu, mumpung lagi happy . "
"Happy! Baru ditinggal satu hari saja kangennya minta ampun." tangannya meraih uang yang di jejer Tedi dan memasukkan ke dalam dompetnya.
"Iya nih Wi , aku tidak bisa jauh - jauh darinya. Eh, kamu sudah membuka grup whatshap kampus belum?"
"Belum. Ada apa?"
"Satu minggu lagi akan digelar wisuda."
"Benarkah." Bergegas mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. "Yah...handphone aku mati. He...he...he... maklumlah waktunya minta ganti." mengernyitkan hidungnya dan menampilkan senyum tipis.
"Wi, Dewi, melas banget hidupmu! " Tedi menggelengkan kepalanya. Dewi cengengesan.
"Tapi, masa iya mereka hidup berdua?"
"Aku juga kurang yakin, yang ku tahu Surya tinggal bersama keluarga Tika."
"Kasihan Surya," ucap Dewi sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Nah, justru karena itu kamu bisa menghibur dia. Siapa tahu dengan bertemu denganmu dia menjadi lebih bersemangat. Kan kamu tahu sendiri sikap Tika seperti apa, Surya mungkin sering diomeli." Tedi mencoba mengompori Dewi.
"Ya sudahlah Ted, akan aku urus sisanya. Kamu urus saja rencanamu!" berjalan meninggalkan Tedi.
"Ok Dew, semoga berhasil !" Tedi melemparkan senyum tipisnya.
Sepulang kerja.
__ADS_1
Tedi sudah siap dengan kostum badut Doraemonnya. Salah satu kartun kesukaan Tika. Tedi mendatangi tempat pelayanan sewa badut animasi, dan sengaja memilih kostum badut Doraemon. Tedi nekat untuk menemui pujaan hatinya dengan berpenampilan badut.
Tedi memarkir mobilnya di tepi jalan dan memantau dari jauh tempat tinggal Tika yang baru.
"Nah, di sini ku rasa sudah aman." ucap Tedi seraya mematikan mesin mobil. "Sopir kampungan itu tidak bakal curiga kalau aku parkir di sini." lanjutnya.
***
"Hallo, Surya!" sapa Dewi saat sambungan telepon terhubung.
"Iya, Wi. Ada apa?" sahut Surya.
"Kamu sedang sibuk tidak?" mencoba mencari sela untuk berakting.
"Tidak, aku sedang santai nih!"
"Aku perlu bantuanmu, Surya!" pura - pura panik.
"Bantuan apa?" Surya masih dengan nada datar.
"Ban sepeda motor aku bocor, dan dompetku tertinggal di kantor. Aku sudah mencoba menghubungi Tedi tadi, namun handphonenya tidak aktif."
"Kamu di mana?"
"Di sini sepi, tidak ada orang yang aku kenal. Aku takut. Di depan pasar."
"Ok, Dew. Jangan panik!"
"Kepada siapa lagi aku harus minta tolong kalau bukan padamu." sedikit menangis.
"Kamu share lokasi nya, aku segera ke sana!"
"Iya, Surya, terima kasih."
"Iya, Dew."
Tut. Sambungan dimatikan.
"Yes, berhasil! Surya menuju ke sini." Mengepalkan tangan dan menarik ke bawah.
Dewi mengabari Tedi, bahwa misinya telah berhasil.
"Pintar Dewi, tidak salah aku berteman dengan dia." Gumam Tedi, seraya mengamati garasi, tampak Surya keluar rumah dan
mengendarai mobil merahnya.
Tedi segera keluar dari mobil dan memakai kostum badut Doraemon. Berjalan menuju rumah Tika sambil membawa kencrengan.
Saat di depan pintu.
"Permisi..."
🎶 🎶
Tedi bersiul - siul, tak lama kemudian Tika keluar dari dalam rumah.
"Badut Doraemon!" Tika terkejut hampir tidak percaya, matanya berbinar.
"Iya, Mbak..., Mbak nya yang cantik mau di nyanyikan lagu apa?"
"Apa saja terserah, bagaimana bisa kamu tahu aku suka dengan Doraemon?" berjalan mengitari badut sambil memeganginya bak anak kecil.
"Kebetulan saja mbak!" sahut badut sambil menahan tawa dan tentu saja Tedi senangnya bukan main.
"Sebelum mas badut, nyanyi kita foto dulu yuk!"
"Ok, Mbak cantik."
"Sebentar, aku ambil handphone dulu." Tika bergegas masuk ke dalam rumah.
"Syukurlah, wanita pujaan hati ku ternyata tidak apa-apa. Sudah lega aku, walau hanya sebentar melihatnya. Dia tampak bahagia." Gumam Tedi yang mulai kepanasan dengan buliran keringat bercucuran.
"Panas banget!"
Tika kembali.
"Ayo, mas badut kita selfie!" Tika mengarahkan handphonenya dan ceklek, ceklek, ceklek.
Beberapa gambar dan aneka gaya sudah diabadikan di galeri handphonenya.
"Mbak nya kok terlihat pucat?"
"Iya, mas badut. Baru sembuh, semalam aku menggigil kedinginan. " sahut Tika tanpa curiga.
"O...kalau begitu saya langsung nyanyi saja!" Tika mengangguk dan duduk di kursi rotan.
Sementara Surya dan Dewi
__ADS_1
"Wi!" panggil Surya.
"Surya...terima kasih kamu sudah datang."
"Ayo, aku antar ke bengkel terdekat sini." menuntun motor Dewi, mereka berjalan beriringan.
"Iya, maaf telah merepotkanmu lagi."
"Tidak apa - apa, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Tadi, mendadak ada kucing nyebrang tidak toleh kanan dan kiri, ya akhirnya aku menghindarinya. Ban ku terkena paku lagi."
"Wi, Dewi, mana ada kucing nyebrang yang bisa nengok kanan kiri."
Dewi terkekeh begitupula dengan Surya.
Selama menunggu tambal ban selesai mereka berada di kedai kopi yang berada di seberang jalan.
"Surya, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu, tentang apa?"
"Ini tentang Tika."
"Ya, ada apa dengan majikanku?"
"Berhenti berkata majikan, telingaku terasa pedas mendengarnya."
"Baiklah, Tika maksudku."
"Apa kalian tinggal serumah?"
"Bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Aku tidak tahu, aku hanya menerka saja."
"Iya, kami tinggal bersama."
Pernyataan Surya membuat Dewi marah.
"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain, selain menjadi sopir pribadinya!" sedikit emosi.
"Tenang Wi, minum kopimu!" Dewi jadi salah tingkah dan beberapa menit terdiam.
"Pekerjaan apa pun itu, yang penting halal kan..." pernyatan yang mematikan semua argumen.
"Kamu benar Surya, maafkan aku sudah terlibat terlalu jauh dengan urusan pribadi mu."
"Iya Dew, sepertinya ban sepeda motormu sudah kelar. Ayo ke sana!" ajak Surya, selesai membayar uang kopi mereka berdua keluar dari kedai.
"Bagaimana pak?" tanya Surya pada pemilik bengkel.
"Sudah beres mas!" sahutnya.
"Berapa biaya tambal bannya?"
"Tiga puluh lima ribu mas."
Surya mengeluarkan uang lima puluh ribuan.
"Ini Pak!"
"Uang recehan tidak ada to mas?"
"Kembalinya buat bapak saja."
"Terima kasih mas!" Bapak tukang tambal ban itu senangnya tidak karuan.
"Kamu baik Surya, tidak salah jika hatiku memilihmu." batin Dewi.
"Ok, Dew, semuanya sudah beres. Aku pulang dulu."
"Iya, Surya sekali lagi terima kasih atas bantuanmu."
"Tidak usah dipikirkan!"
Surya mengendarai mobil meninggalkan Dewi sendirian.
Mengambil handphone dan memberikan kabar pada Tedi.
Drtt...drtt... ponsel di saku celana Tedi bergetar.
"Mbak, saya permisi dulu...sudah mau gelap." pamit si badut.
"Oh iya, tidak terasa ternyata langit sudah mau gelap. Ok, bye...bye...bye mas badut.
Tika beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tedi segera bergegas meninggalkan rumah Tika karena sudah tidak kuat menahan panas.