
"Surya!" panggil Dewi ketika dia baru pulang dari kantor. Dia menghempaskan pantatnya di atas kursi sambil melepas kaos kakinya. Menyandarkan kepalanya.
"Ya sayang." sahut Surya saat keluar kamar memenuhi panggilan Dewi. "Kamu baru pulang? Jam berapa ini, kok kamu pulang cepat." Dia duduk disebelah Dewi sambil merapikan rambut Dewi yang berantakan. Perhatiannya begitu lebih, lantaran Surya hilang ingatan dan Dewi mengambil kesempatan emas untuk mengklaim Surya sebagai kekasihnya.
Sudah 3 bulan ini Dewi menyembunyikan keberadaan Surya dari siapapun. Dewi melarang Surya untuk keluar rumah, bahkan saat Surya berniat untuk bekerja pun Dewi melarangnya. Dia tak pernah keluar rumah sekalipun tanpa seizin Dewi. Pernah sekali Surya pergi sekedar menghirup udara segar. Dewi memergokinya dan marah besar. Dia mengancam Surya kalau keluar lagi tanpa seizinnya dia akan bunuh diri. Hal ini membuat Surya takut kehilangan Dewi. Bik Sumi juga telah meminta Surya untuk segera menikah dengan Dewi. Surya pun menyanggupinya.
"Baru pukul 11.00. Aku ingin mengajakmu jalan - jalan keliling kota." Dewi menggenggam lembut tangan Surya. "Aku ingin mencari gaun pengantin untuk kita nanti."
"Boleh, ayo! " Surya membantu Dewi berdiri. Pikirnya ini kesempatan bagus untuk menghirup udara segar. Jujur dia merasa bosan di rumah terus tanpa kegiatan. Tanpa sepengetahuan Dewi, Surya sering bermimpi di tengah tidurnya. Seorang wanita yang selalu menghiasi mimpinya, bergaun putih nan cantik. Saat terbangun dari mimpinya dia berharap bisa bertemu dengan wanita itu karena penasaran mengapa selalu hadir dalam mimpi. Dalam setiap malam Surya selalu bermimpi yang sama tentang kecelakaan dan wanita bergaun putih itu. Terkadang kepalanya terasa sakit yang sangat . Namun sampai sejauh ini, ia tetap merahasiakan dari Dewi.
"Aku senang sekali hari ini." Dewi merangkul erat tangan Surya sambil berjalan ke luar.
"Benarkah, kalau kamu senang aku ikut senang juga." Surya menimpali.
"Tunggu!" Dewi menghentikan langkahnya diiringi Surya.
"Kenapa sayang?"
Dewi kembali masuk ke dalam kamar lalu keluar dengan membawa sebuah topi merah marun.
"Di luar panas, kenakan ini!" pinta Dewi sembari memakai kan topi di atas kepala Surya.
Padahal dia tidak ingin orang lain mengenali Surya.
"Kamu juga dong!"
"Aku sudah terbiasa terkena paparan sinar matahari. Jadi jangan khawatirkan aku." Dewi mengelak.
"Hmmm...kan aku juga sudah terbiasa, ngak perlu juga aku pakai topi." Surya melepas topinya.
"Jangan dilepas. Aku tidak ingin ada wanita lain yang melihat ketampanan wajahmu. Jadi, tolong kenakan kembali topimu."
__ADS_1
"Jangan khawatir, kamu calon istriku. Mana mungkin aku bisa tertarik dengan wanita lain." mengusap ubun-ubun Dewi.
"Tetap saja aku tak rela." Dewi merengek.
"Baiklah aku kenakan lagi. Nah , sudah." Surya memakai topinya kembali dan merapikan rambutnya yang keluar di pelipisnya. Dewi tersenyum sambil memeluk Surya. Surya membalas pelukan Dewi.
"Ayo kita pergi!" ajak Dewi menggandeng tangan Surya.
"Ayo, kamu pamitan dulu sama ibumu!"
"Bu...Ibu, Dewi keluar sebentar." pamitnya dari kejauhan.
"Iya, hati - hati di jalan." Sahut Bik Sumi dari arah dapur.
Mereka mengendarai mobil baru milik Dewi, namun dia belum mahir menyetir jadi Surya lah yang mengemudikan mobil Dewi. Mereka menuju ke butik gaun pengantin yang lagi ngetren di sosmed. Mendengar ada desain gaun model baru dan lagi viral Dewi bergegas ingin segera memilikinya. Uang gajinya yang semakin besar, ditambah karirnya yang semakin bagus membuat yakin dia untuk segera bersanding dengan Surya. Tedi sahabatnya lah yang membuat kehidupan Dewi berubah, menjadi wanita dewasa yang berada. Dengan uangnya sendiri dia bisa membeli rumah baru, mobil baru dan satu keinginan lagi yang hampir Dewi miliki, cinta Surya.
***
Desain Tika terlihat modern dan anggun, dengan bakat terpendam dia sudah bisa merancang 70 gaun, tentu dengan bantuan tante Lina. Beberapa toko telah membelinya dengan harga yang sepadan dengan jerih payahnya.
"Tante Lina, terimakasih sudah menemaniku selama 3 bulan ini." ucap Tika yang terlihat riang sambil memeluk Lina. Tubuhnya sudah mulai segar, wajah cantiknya pun bertambah dan penampilannya pun terlihat lebih modern dibandingkan sebelumnya. Maski janda tak masalah baginya untuk berkreasi.
"Iya, cantik. Jangan sedih lagi. Semangat baru untuk masa depan baru." Lina melepas pelukan Tika dan memegang kedua pundaknya.
"Tika cantik....Kehidupan tidaklah sepenuhnya suram tinggal orang tersebut mau berbuat apa dengan hidupnya. Jangan putus asa!" imbuh Lina .
"Iya Tante, Tika sudah bisa bangkit kok dari keterpurukan. Semoga saja dengan ketrampilan mendesain gaun pengantin yang Tante ajarkan ini bisa membawa perubahan dalam hidupku."
"Baiklah, tante pulang ke Jakarta dulu. Baik-baik di rumah."
"Om Sigit ngak jemput Tante?"
__ADS_1
"Om Sigit lagi ada rapat dan sibuk, jadi tante pulang sendiri."
"Pantes saja om dan Tante sibuk melulu, kapan bikinnya? " gurau Tika sambil terkekeh.
"Tika, doakan saja. Tante sudah berobat untuk kesekian kali. Semoga yang ini berhasil. Tante sudah telat 1 bulan."
"Aamiin, Alhamdulillah Tante, semoga saja Tante segera diberi momongan. Tika sudah tidak sabar lagi nih mau gendong si kecil."
"Ya sudah, tuh taksi pesanan Tante sudah datang, Tante berangkat dulu. Muah...." Lina mencium pipi Tika kanan kiri. Begitu pula sebaliknya.
Lina sudah menghilang dari pandangan Tika. Sejenak dia terdiam seorang diri di teras depan. Sudah lama Tika hidup seorang diri karena keinginannya, dia menyendiri agar lebih fokus merajut karir barunya. Bunyi ponsel membuyarkan Lamunannya. Dia bergegas mengangkat ponsel, terdengar suara perempuan dari arah seberang.
"Hallo, dengan miss Ti? Saya Reni Miss." tanyanya memulai percakapan. Dia adalah pengelola butik gaun pengantin milik Tika. Satu bulan yang lalu Tika membeli butik dengan uang hasil mendesain.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Mbak?" sahut Tika sopan.
"Begini Miss, ada seorang calon pengantin wanita yang ingin memesan gaun pengantin."
"Di butik ada, tinggal pilih saja."
"Iya, miss Ti. Tapi, orangnya ngak mau ingin yang model baru yang belum pernah ada di butik."
"Semua yang ada di butik keluaran terbaru. Apa kamu yakin sudah memperlihatkan semuanya?" Tika sedikit heran dengan calon pembeli itu.
"Sudah Miss, dan dia tetap ngotot ingin keluaran terbaru." terdengar nada suara yang mengeluh.
Dengan sabar Tika mendengarkan keluhan dari Reni.
"Baiklah, katakan pada dia aku akan mendesainkan yang baru. " ucap Tika lalu mematikan ponselnya. Dia pergi ke luar rumah menuju butik.
"Sudah lama aku tidak keluar rumah. Ini untuk pertama kali." Dia menggeser layar ponselnya lalu memesan taksi online. " Aku sudah bangkit dari tidur panjangku, selamat datang dunia baruku."
__ADS_1
Dia berjalan melewati garasi, mengenang kebersamaan bersama Surya yang sesaat. Teringat saat Surya membelikan mobil merah yang kini sudah jadi barang rongsokan karena hangus terbakar.