Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Terkesiap


__ADS_3

Penghulu sudah datang sejak tadi, beberapa tamu undangan juga sudah hadir. Dewi mengundang seluruh teman kerjanya termasuk Tedi dan ayahnya.


Tedi dan ayahnya terkejut saat melihat sosok pria yang mirip dengan Surya yang tengah duduk santai di area tempat akad.


"Ayah, bukankah itu Surya?" tanya Tedi sambil menunjuk dengan sorotan mata ke arah Surya. Tedi terkesiap, seluruh tubuhnya hampir bergetar.


"Benar, itu Surya!" ucap Tomi juga terkesiap.


"Bagaimana mayat bisa hidup kembali ? Ini tidak mungkin. "


"Ayah juga tidak tahu, coba kamu cari tahu dari Dewi, bagaimana dia bisa menemukan pria yang mirip Surya itu." titah pak Tomi sedikit berbisik.


"Sial, bagaimana Surya bisa lolos dari kobaran maut itu ? Lalu mayat siapa yang ditangisi Tika waktu itu. Jangan sampai Tedi tahu akulah yang menyebabkan kecelakaan maut itu." batin Tomi.


Tedi menyelinap di antara kerumunan banyak orang.


Tedi mencari Dewi dengan mengatakan kalau dia adalah atasan di tempat kerja, jadi boleh dipersilahkan masuk ke kamar oleh bik Sumi.


"Dew, calon suamimu itu Surya?" tanya Tedi saat Dewi berada di kamar sedang menebali riasnya.


"Iya, " sahutnya singkat.


"Kok kamu nggak pernah cerita ke aku. Bukanya Surya sudah meninggal. Bagaimana orang yang sudah mati bisa hidup kembali?" Tedi menyandarkan tubuhnya di meja rias sambil menatap Dewi, mencari kebenaran. Dewi memperhatikan tatapannya, seolah tak senang dengan kabar Surya masih hidup.


"Aku menemukan dia pingsan di jalan. Lalu ku bawa pulang dan merawatnya. Kenapa, Di? Seharusnya kamu senang dengan pernikahanku bukan menunjukkan wajah garangmu itu." jelas Dewi membuat hati Tedi tersambar petir di siang bolong.


"Jadi, Surya masih hidup!" bentaknya sambil memukul meja rias. Membuat Dewi kaget.


"Kok kamu kaget, gitu? Nggak masalah kan buatmu? Sudah, aku mau keluar. Minggir, Di!" Dewi kesulitan berdiri lantaran Tedi masih menghalangi langkahnya.


"Tunggu Dew, aku belum selesai. Surya benar masih hidup. Lalu, bagaimana dengan Tika? Apa dia juga tahu hal ini?"


"Surya tak pernah ke luar rumah, jadi tidak ada yang tahu kalau dia masih hidup. Untuk apa kamu menanyakan gadis manja seperti dia? Toh, bukan urusan dia kan!"


"Dew, Surya itu...kamu kasih apa dia sampai mau menikah denganmu?"


"Jadi, Dewi belum tahu kalau Tika dan Surya itu sudah menikah." batin Tedi


"Cukup cinta dan kasih sayang dariku." balas Dewi dengan jawaban seperti itu Tedi tetap tidak percaya.


"Tidak mungkin, Dew. Kamu hanya kasih itu."


"Di, Surya itu amnesia. Jadi, kesempatan bagus untuk mendapatkan dia sepenuhnya adalah menikahiku. Aku tidak mau dia ngelirik pacarmu yang ganjen itu. Aku hanya ingin Surya menjadi milikmu seumur hidupku."

__ADS_1


"Amnesia. Jadi, kecelakaan itu membuat dia lupa ingatan. Apa kamu sudah memikirkan keputusan ini dengan benar?" Bagaimana suatu saat nanti ingatannya pulih?"


"Itu tidak masalah, sebelum ingatannya pulih dia pasti sudah menjadi milikku."


Tedi tersenyum puas dengan apa yang didengarnya barusan. Peluang merebut hati Tika masih bisa dicoba lagi.


Dewi berdiri dan pergi keluar kamar lantaran Tedi sudah memberikan ruang. Tedi mengekor Dewi.


Dewi duduk di samping Surya, acara ijab qobul segera dimulai.


Tedi menghampiri ayahnya dan menceritakan semua yang ia dengar dari Tika tadi. Tomi mengulum senyum, namun ini tetap saja ancaman baginya. Bagaimana jika ingatannya pulih? Surya harus tetap dilenyapkan meski dia amnesia sekalipun.


***


Rudi membuka pintu untuk Tika dan membantunya turun dari mobil.


"Aku merasa gugup." ucap Tika saat kakinya mulai menginjak lantai.


"Miss tidak usah khawatir, ini semua kan sudah kita rencanakan. Semoga suami kamu berhasil kita bawa pulang." sanggah Reni membantu Tika berjalan. Tika mengangguk dengan secuil senyum.


"Saya akan memantau pergerakan dari luar, kalau ada apa- apa, Mbak Tika tinggal teriak dan panggil saja namaku." ucap Rudi dengan gaya nya yang maco, membuat Reni semakin gemas melihatnya.


"Baik. Doakan usahaku berhasil." ucap Tika disahut dengan anggukan kepala saja dari Rudi. Rudi mengantar Tika sampai di depan pintu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Indria dengan mas kawin tersebut." ucap Surya dengan lantang, dia menjabat tangan penghulu sedang Dewi duduk disebelahnya.


Dewi mengenakan gaun pengantin yang dibuatkan Tika. Dia tampak imut dan manis mengenakan gaun itu. Rambutnya dia sanggul sedemikian rapi.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu pada semua hadirin yang ada. Beberapa menjawab sah diikuti anggukan kepala.


Dengan cepat Tika melangkahkan kaki, sedikit saja dia pasti terlambat menggagalkan pernikahan itu. Degupan jantung yang begitu hebat, suara darah mengalir semakin kencang dan bunyi langkah kaki yang tegap.


"Saya tidak setuju dengan pernikahan ini!" ucap Tika dengan lantang membuat seluruh mata seisi ruangan tertuju padanya.


"Tika," Dewi menyebut nama Tika dan mendelik matanya lantaran terkejut.


"Wanita itu ," gumam Surya lirih, "Mengapa dia datang, apa dia juga teman Dewi?" Surya berdiri. Dan semua yang duduk pun ikut berdiri.


"Berani-beraninya kamu mengacaukan acara pernikahanku? " teriak Dewi sambil mengangkat gaunnya, ingin mengusir Tika.


"Tika," Tedi langsung mendekati Tika, namum tertahan oleh Reni.


"Kamu sangat cantik dengan gaun itu, semakin tinggi hasratku untuk segera memilikimu." batin Tedi.

__ADS_1


" Batalkan pernikahan ini, atau kamu akan malu sendiri!" ancam Tika sambil merogoh isi tasnya.


"Tidak, susah payah aku menundukkan Surya. Kamu malah datang merusak suasana. Pergi kamu!" usir Dewi.


Bik Sumi yang tengah sibuk menyalami tamunya mendadak berhenti dan menuju ke ruang tamu.


"Mbak Tika," bik Sumi tampak gugup dan bimbang .


"Kamu lupa? Bukankah kamu sendiri yang telah mengundangku. Aku miss Ti, desainer gaun pengantin yang lagi naik daun." Tika dengan bangga memperkenalkan dirinya sendiri.


"Bohong!" sanggah Dewi.


"Dan, mohon perhatian semuanya." ucap Tika lagi sambil menepuk tangan. Para tamu undangan yang hadir pandangannya berpusat pada Tika.


Tika mengeluarkan isi dari tasnya dan membawanya berkeliling, menunjukkan pada semua tamu satu persatu buku nikahnya.


"Jadi calon suaminya ternyata sudah beristri." bisik tamu yang lain, pendengaran Dewi cukup tajam dan tahu apa yang tengah mereka ucapkan.


"Ini hanya akal -akalan kamu saja agar bisa menghancurkan impianku." Dewi merebut buku nikah yang dibaca oleh salah satu tamu undangan, dia membaca sekilas buku merah itu dan merobeknya.


"Ini palsu." Sobekan itu ia injak- injak dengan sepatu kacanya.


"Itu hanya salinannya saja, yang asli masih aku simpan." ucap Tika dengan mengejek lantaran dialah pemenangnya.


Dewi semakin marah, terlebih reporter yang sedari tadi mengintip kini mulai berani menunjukkan hidungnya.


"Apa-apa an ini, kamu bawa wartawan segala. Kamu pikir bisa menang melawanku. Aku tidak perduli dengan buku nikah itu. Penghulu lanjutkan ijab qabulnya." Dewi menatap tajam ke penghulu yang masih terdiam itu.


"Tunggu, Wi. Apa yang sedang dia katakan itu, apakah benar aku ini suaminya?" Surya mulai unjuk gigi.


"Bukan, dia hanya wanita gila." Dewi mengelabuhi Surya agar tak percaya dengan ucapannya.


"Benar Mas Surya, aku ini istri sah Mu. Ini, buktinya." menunjukkan foto saat akad nikah dulu.


Semua orang yang ada di acara itu menjadi hiruk pikuk.


"Dewi, jadi kamu membohongiku. Kamu bilang aku tak punya saudara dan keluarga. Aku hanya sebatang kara. Nyatanya, aku malah sudah beristrikan dia. Kamu tega Wi, melakukan ini padaku. Padahal, dulunya aku begitu mempercayaimu. Sekarang kepercayaan itu hilang sampai saat ini juga." jelas Surya.


"Jangan, jangan lakukan itu padaku! Aku sangat mencintaimu Surya. Ayo, kita lanjutan prosesinya." Dewi menangis sambil menarik tangan Surya. Surya menggeleng dengan raut muka yang marah.


"Kamu sudah melihat sendiri Dewi. Perubahan kamu yang baru ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang aku miliki. Mas Surya, kemarilah! Ayo, kita pulang ke rumah. Kamu ingatkan sekarang siapa aku?" Tika mencoba mengingatkan Surya. Surya memegangi kepalanya yang mendadak sakit.


"Aw...kepalaku, sakit!!" Surya meraung kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2