Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Pov. Surya


__ADS_3

Pagi ini Dewi terus saja mengusikku, meski aku menolak akhirnya aku luluh juga. Sebelum berangkat kerja dia sudah berpesan padaku agar aku tak pergi ke mana - mana, lantaran dia pernah memergokiku sedang keluar rumah, alasanku hanya mencari udara segar padahal aku bekerja sebagai kuli panggul di sebuah toko. Untuk apa malu, bekerja apapun itu yang penting halal.


"Surya, jika kamu keluar rumah lagi, aku akan bunuh diri!" ancam Dewi waktu itu, saat aku pulang dengan bau keringat yang asem di sekujur tubuhku. Kaosku juga basah, jika diperas mungkin penuh seember. Aku tunduk saja dengan ancaman Dewi, entah mengapa aku sulit untuk bergerak, apa -apa dilarang.


Siang ini dia mengajakku pergi ke sebuah butik. Meski aku sering keluar rumah tanpa sepengetahuan dia dan bik Sumi, aku tetap bersikap seolah senang diajaknya keluar. Dia menyuruhku mengenakan topi, alasannya agar wajah tampanku tak dilirik wanita lain.


Aku merasa berhutang budi dengan keluarga Dewi, sejak aku tak mengingat masa lalu ku aku menurut semua permintaan dan perkataannya. Aku menyanggupi untuk menikahi Dewi bulan depan. Terkadang memikirkan sendiri nasibku membuat kepalaku terasa sakit saat di malam hari, terlebih jika bermimpi tentang kecelakaan dan seorang wanita yang entah mengapa aku merasa wanita itu dekat denganku. Aku berniat mencari jatidiri siapa aku?


"Surya, sepulang dari butik aku ingin kamu membelikanku es cendol." pintanya, dengan senang aku menyanggupinya.


Ternyata gaun yang diinginkan Dewi tidak ada di butik, akhirnya dia memesan terlebih dahulu.


Selesai dari butik, ku tinggalkan dia dalam mobil di sebuah parkiran taman dekat stasion. Untuk membeli es cendol yang diinginkan Dewi aku harus berjalan menyeberangi jalan.


Aku mencari penjual cendol yang katanya terkenal didaerah itu, ternyata tutup dan kondisi sekitar tampak sepi. Saat aku hendak kembali ke tempat parkiran aku mendengar teriakan seorang wanita.


"Tolong...! Tolong...! Ada copet!" aku segera berlari ke arah sumber suara dan benar, pria bertubuh kekar dan sangar mendekat ke arahku sambil mendekap sebuah tas berwarna hitam yang jelas dari bentuknya terlihat bukan milik pria sangar itu. Dengan keahlian bela diriku, ku hadang dia dan kami pun saling baku hantam. Untuk pergerakan yang terakhir ku tendang dia dan alhasil tas wanita itu berhasil ku rebut. Pencopet lari tunggang langgang.


Wanita yang ku tolong tadi memanggilku dengan sebutan Surya, mengapa dia bisa tahu namaku. Dia juga mengaku istriku. Benarkah aku sudah menikah, tapi aku tak mengingat apapun. Wajah wanita ini begitu mirip dengan wanita yang selalu datang di setiap mimpiku. Apa dia juga bagian dari masa lalu ku? Tapi Dewi bilang aku hanya korban dari kecelakaan dan tak memiliki keluarga sama sekali. Mungkinkah Dewi berbohong? Untuk apa dia melakukan semua ini?

__ADS_1


Ini gila! Wanita yang baru saja ku tolong menciumku dengan begitu intim dan brutal. Membuat juniorku menegang seolah ingin segera masuk ke sarangnya. Tapi, apa dayaku. Aku tak menolak. Aku justru menikmati ciuman itu, ciuman yang belum pernah aku lakukan, sekalipun pada Dewi. Saat aku tersadar ku tinggalkan wanita itu yang sedang menangis seolah tak merelakan aku pergi.


Dewi tidak boleh tahu kejadian ini, dia bisa marah dan bisa bunuh diri beneran sesuai ancamannya. Tapi, aku tak boleh tinggal diam. Aku akan menyelidiki wanita itu, mungkin dia tahu masa lalu ku.


Kutemui Dewi dan ku katakan padanya kalau penjual es cendol sedang tutup.


"Apa tutup? Ya sudah, ayo pulang. Besok aku tak mau tahu, kamu harus membelikan es cendol untukku!" perintahnya sambil merengek, ku sanggupi dengan asal saja. Rasanya males sekali meladeni dia, apa- apa harus segera. Tapi, terlanjur aku sayang padanya.


Seperti biasa setelah Dewi berangkat kerja dan Bik Sumi sedang sibuk di belakang, ku letakkan guling di bawah selimut seolah - olah aku berada di sana. Ku berjalan pelan sambil menutup pintu kamar. Ku toleh sekitar ruang tampak sepi dan serasa aman, aku mengendap pergi bekerja.


Tinggal di rumah Dewi bagaikan rasa penjara, badanku pegal semua karena tak melakukan aktifitas apapun. Meski penghasilan ku sedikit, namun pekerjaan ini sangat berguna bagiku, selain aku bisa bergerak dan mencari uang sendiri tubuhku secara langsung terbentuk otot - otot yang kekar.


Alangkah terkejutnya aku, mendapati sosok wanita yang tergeletak di tengah jalan, suasana begitu sepi. Seharusnya taman ini banyak orang, mungkin karena hari masih siang jadi banyak orang yang enggan datang ke tempat ini.


Dia sudah meninggal atau hanya pingsan saja? Saat ku balik badannya, wanita itu ternyata wanita yang mengaku istriku. Segera ku lari kan dia ke klinik terdekat dan tentu saja biayanya sesuai dengan gaji ku hari ini.


Sesampai di klinik, dia segera mendapatkan perawatan. Kata Mantri dia kelelahan dan kurang tidur. Syukurlah, aku pikir dia mengalami luka serius.


"Mas Surya..." panggil wanita itu sambil memejamkan mata, ku dekati dia. Dia terlihat sedang menggigau. Mungkin pemilik nama yang sama denganku adalah pria yang sangat dia cintai. Saat aku akan pergi, spontan dia menarik tanganku. Aku bergidik.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, Mas!" Dia masih dalam kondisi tidur. Hedeh, bagaimana ini? Kalau aku tak segera pulang, Dewi bisa memergokiku.


"Miss....Ya Allah, apa yang terjadi padamu?" seorang wanita yang sebaya dengan wanita yang aku tolong ini datang dengan muka khawatir. Mungkin dia wanita yang aku hubungi setengah jam yang lalu, aku mengambil ponsel wanita yang sedang tertidur itu lalu ku cari kontak terakhir yang dia hubungi.


"Kenapa Mas, apa yang terjadi? mengapa Miss Ti bisa ada di sini?" tanyanya beruntun sambil menatap tajam ke arahku seolah aku penyebab wanita itu pingsan. Ku jelaskan dengan detail kejadian itu. Setelah lega dia duduk di sampingku, mengucapkan terimakasih dan memberikan ku lima lembar seratus ribuan. Aku menolaknya, namun dia tetap memaksa. Aku pun juga bersikeras menolak.


" Ya sudah kalau Mas tidak mau diganti rugi. Nama Mas siapa? Sepertinya wajah Mas tidak asing, pernah ketemu dimana ya?" tanyanya sedikit cerewet. Aku ingat, dia adalah kasir di butik waktu itu. Dia mungkin lupa.


"Surya," sahutku singkat.


"Mas, aku ke toilet dulu. Titip Miss Ti sebentar ya!" pintanya lalu bergegas menuju toilet pasien.


Ku pandangi wajah wanita yang masih terbaring ini, kasihan, itulah salah satu kata yang muncul dari mulutku. Bagaimana bisa wanita secantik ini kurang tidur? Apa saja yang dia pikirkan? Dan apa saja yang dia lakukan sampai - sampai kelelahan?


"Akhhh..." ku acak - acak rambutku, mengapa aku jadi memikirkan wanita yang sama sekali tidak ku kenal. Seharusnya Dewi yang ada di pikiranku saat ini, bukan wanita lain.


Hari semakin sore, sebelum wanita ini sadar aku harus segera pergi.


Bersambung.....

__ADS_1


Teman - teman, kalian suka tidak dengan karakter Surya???


__ADS_2