
Surya tersedak makanannya, dan segera pak Andik mendekatkan minuman milik Surya.
"Hati - hati Surya, kamu tidak apa - apa kan..."ucap pak Andik seraya mengamati Surya.
"Tidak apa - apa , Pak!" Menyeruput minuman yang disodorkan pak Andik.
" Kamu tidak keberatan kan..." Pak Andik mencoba menegaskan.
"Saya, terserah Pak Andik saja. Namun, bukankah sebaiknya saya dan anak Pak Andik bertemu terlebih dahulu. Selain sebagai ta'aruf, saya juga bisa melihat calon istri secara langsung." ujar Surya mencoba meyakinkan pak Andik agar tidak terburu - buru menikahkan dengan anaknya.
"Baiklah, karena ponsel saya rusak, saya tidak bisa memberikan nomor anak saya. Saya sendiri juga tidak hafal nomornya . Saya minta nomor ponsel kamu saja ."
"Iya...." Surya mengangguk pelan.
"Mbak! boleh minta tolong sebentar." Melambai ke arah pelayan wanita . Pelayan datang mendatangi ke arah Surya.
"Saya pinjam pulpen dan minta secarik kertas." pinta Surya, dan segera pelayan wanita itu menyerahkan apa yang diminta Surya.
"085748085550...ini Pak!" Menyerahkan secarik kertas ke pak Andik.
" Saya simpan dulu, nanti saya hubungi kamu." Melipat lalu memasukkan ke saku celananya.
" Ini mbak...terima kasih!" Mengembalikan pulpen. Pelayan wanita itu terkesima dengan wajah tampan Surya, dan tak sadar jika Surya memanggilnya.
"Oh...iya mas, sama - sama." ucap pelayan rada malu lalu kembali bekerja.
"Saya duluan, Surya." pamit pak Andik dan beranjak dari tempat duduknya melangkahkan kaki menuju kantor.
Surya mengangguk pelan, seraya menyingsingkan lengan baju sampai ke atas siku. Setelah selesai menghabiskan makan siang, Surya pergi ke mushola untuk melakukan kewajibannya. Selesai sholat, Surya berjalan menuju kantor, saat melewati kedai kopi Surya menghentikan langkahnya dan mampir sebentar.
*****
"Bang Soleh, aku mau mampir ke kantor Papa sebentar." pinta Tika seraya menepuk pundak bang Soleh yang tertidur di dalam mobil.
" Baik Non...!" Menghidupkan mesin lalu melaju dengan pelan menuju kantor pak Andik.
Sesampainya di sana, Tika berjalan dengan langkah yang tegap, wajahnya yang imut dan cantik membuat semua lelaki terpana dan tak berkedip memandangnya. Membuat semua wanita iri dengan pesonanya. Rambutnya yang terurai panjang dan hitam legam melengkapi kecantikan Tika. Sebelum ke kantor, Tika menuju ke arah kedai kopi , yang tidak jauh dari kantor pak Andik.
"Silahkan masuk nona..."sapa pelayan wanita dengan ramah seraya membukakan pintu.
"Terima kasih!" sahut Tika tanpa menoleh ke arah suara yang menyapanya, pandangannya tertuju pada handphone yang sejak tadi dia mainkan.
Tika berhenti saat tiba di pemesanan dan pandangannya tetap tidak bergeming, jemarinya sibuk mengetik pesan whatshap.
"Saya pesan 1 coffee vanila dibungkus."
"Baik." pelayan segera menyiapkan apa yang dipesan Tika.
" Ini mbak, 15 ribu."
__ADS_1
"Oh,iya..." Tika sontak mengambil dompetnya dan terperanjat saat melihat isi dompetnya, dia lupa tidak membawa uang sepeser pun.
"Saya lupa tidak membawa uang, Mbak. Dompet yang satunya lagi tertinggal di mobil. Saya pergi ambil dulu ya...." pinta Tika.
"Kalau tidak punya uang itu bilang saja. Tidak usah pakai alasan dompet ketinggalan !" sahut pemilik kedai ketus pas kebetulan lewat.
"Saya tidak berbohong, mobil saya ada di seberang jalan dekat dengan kantor dimana papa saya bekerja.
"Alah... alasan lagi! Kalau kamu tidak bisa bayar, jangan beli. Sebagai ganti rugi ini, kamu cuci gelas yang kotor! Bawa dia ke dapur!"Teriak pemilik kedai pada pelayan pria.
" Tapi, Pak!" Tika didorong oleh pelayan menuju dapur.
" Biar saya saja Pak, yang membayarnya. Berapa Mbak ?" ucap pemuda yang sejak tadi duduk di sudut pojok. Postur tubuhnya tinggi dan kulitnya putih, hidungnya mancung, dan rambutnya tersisir rapi.
"15 ribu Mas..." sahut penjaga kasir.
"Surya..." Tika terkejut saat menoleh ke arah pemuda itu.
"Nenek sihir..."Surya juga terkejut saat melihat wajah Tika dari dekat, seraya menyerahkan uang 2 lembar sepuluh ribuan. Menerima kembalian dan bergegas keluar kedai.
"Tunggu!" teriak Tika seraya bergegas mengejar Surya.
Surya menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah menghadap Tika.
"Anggap saja, tadi itu aku berhutang padamu." Tika mendongak ke atas, karena Surya begitu tinggi.
"Tidak usah, aku ikhlas. Anggap saja aku bersedekah padamu." Surya memandang Tika, sejurus mata mereka bertemu.
"Uangmu, kamu bilang!" sedikit tinggi nada bicara Surya. Sorotan matanya yang tajam membuat Tika sedikit takut. Tika mengangguk pelan.
"Apa kamu sudah bekerja... Apa uang yang kamu dapat itu hasil kerja kerasmu...Tidak kan! Uang itu, punya orang tua mu." Surya memaki Tika, bermaksud memberikan tantangan.
"Lalu maumu apa...?" ucap Tika kesal.
"Kamu boleh membayar hutangmu, asal itu uang dari keringatmu sendiri." pinta Surya.
" Apa kamu gila," Tika menggeleng.
" Ya sudah, kalau kamu tidak bisa. Akui saja kalau kamu memang anak manja. Anak yang hanya mengadahkan tangan pada orang tuanya." ledek Surya.
"Aku bisa!" sahut Tika merasa jengkel dengan tantangan Surya.
"Bagus!" seraya mengacungkan jempol ke wajah Tika.
"Lalu, aku kerja apa?" Tika mengernyitkan dahinya.
"Ya...terserah kamu. Mau jadi tukang cuci kek , jualan roti kek, jadi tokek kek, terserah kamulah. Yang penting halal." Surya tersenyum tipis. Usaha mengerjai Tika berhasil.
"Oke, aku terima tantanganmu." Tika melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O, tanda setuju.
__ADS_1
"Aku kerja dulu, jangan sampai membohongiku nenek sihir!" Surya berbalik melangkah pergi.
"Sebentar!" teriak Tika lalu melangkah sedikit lari menghampiri Surya.
"Apa lagi...aku sudah telat, jangan ganggu aku!"
"Bagaimana aku bisa mencarimu untuk melunasi hutangku, sini handphone kamu!" pinta Tika. Surya dengan rasa malas mengeluarkan handphone dari saku celananya, Tika menerima lalu mengetikkan nomor whatshapnya.
"085712345678...nih, nomorku." Tika menyerahkan handphone.
"Nenek sihir..." ucap Surya seraya mengedit nomor kontak yang baru saja masuk.
" Enak saja kamu, panggil aku nenek sihir. Tika tahu, namaku."
"Suka - sukaku kan...!"
"Emangnya kamu bekerja dimana?" tanya Tika penasaran.
" Bukan urusanmu!" jawab Surya sinis.
Surya bergegas melangkahkan kaki menyeberang jalan melewati zebra cross menuju kantornya. Sementara Tika menyeberangi jalan menuju mobilnya.
Saat di pertengahan jalan raya, Tika menyeruput Coffee panas, dan tidak menyadari ada sepeda motor melaju dengan kencang ke arahnya.
"Awas...Nenek Sihir!" Sontak Surya berlari meraih tubuh Tika. Tika terdorong dan jatuh ke tepi. Kopi di tangan Tika yang sudah kosong terlindas pengendara sepeda motor. Akibat terlalu kuat Surya mendorong tadi. Tika menindih tubuh Surya. Tubuh mereka saling menempel, wajah mereka saling bertemu, dan bibir mereka menyatu. Sontak Tika terperanjat dan bergegas berdiri. Surya pun kaget bukan main.
" Kalau menyeberang lihat kanan dan kiri, jangan nyelonong saja. Terus kalau minum itu, jangan sambil berjalan!" Maki Surya setelah berdiri.
"Kamu ya...kurang kerjaan. Tadi, pengendara sudah mengerem mendadak. Kamu yang mengambil kesempatan untuk memelukku." elak Tika seraya membersihkan tubuh yang penuh debu.
"Untung kamu masih bisa ku tolong, coba bayangkan jika pengendara tadi tidak mengerem, sudah jadi rempeyek kamu!" Surya mengomel kesal, dan mengelus sikutnya yang tergores dan sedikit berdarah.
"Kamu terluka," Tika memperhatikan sikut Surya.
"Luka ringan, sebentar juga sembuh." Surya meninggalkan Tika.
Tika terdiam sejenak , bang Soleh berlari menghampiri Tika.
" Nona tidak apa - apa kan..."
"Tidak, hanya saja aku sedikit kaget ."
" Bang Soleh, sejak pagi tadi handphone papa tidak aktif. Bang Soleh tahu tidak?"
"Ya tidak tahulah, Non..."
"Apa mungkin kehabisan pulsa."
" Ya...mungkin saja, Non,"
__ADS_1
" Coba aku tanya langsung ke kantornya."
Tika menuju kantor...