Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Begadang


__ADS_3

Tika membuka pintu setelah mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.


"Mari Dokter, saya antar ke kamarnya." ajak Tika, dokter Mira mengekor di belakang.


"Kapan terakhir dia makan?"tanya dokter seraya mengeluarkan peralatan medis dari dalam tasnya.


"Setelah magrib," sahut Tika, memperhatikan Surya yang tergeletak lemas.


"Apa saja yang dia makan?" Memakai stetoskop dan mendengar suara detak jantung, mendengarkan suara-suara lain dari dalam tubuh, seperti bunyi pernapasan dan bunyi usus (bising usus). Jenis dan intensitas suara-suara ini dapat membantu dokter dalam menentukan diagnosis serta menilai kondisi pasien.


"Hanya gurami bakar ,Dok!"


"Pedas..." Melepaskan stetoskop dan mengalungkan di leher.


"Iya, dia suka dengan makanan pedas."


"Itu yang menyebabkan maagnya kambuh." Mengambil tensimeter, dan mulai mengukur tekanan darah.


"Tekanan darah 100/80, Ini menunjukkan tekanan darah rendah, untuk mengembalikan agar tekanan darah normal kembali usahakan mengkonsumsi sayuran hijau dan untuk penyakit maag itu tidak dapat disembuhkan. Hanya mencegah agar tidak kambuh lagi, jaga pikiran agar terhindar dari kondisi stres, hindari agar tidak telat makan dan hindari makanan tertentu yang dapat memicu peningkatan asam lambung." jelas dokter seraya mengemasi peralatan medisnya.


"Apakah perlu di bawa ke rumah sakit?"


"Tidak perlu, saya beri obat saja."


"Terima kasih dokter, apakah Tika yang memanggil Anda untuk memeriksa saya?" Tanya Surya seraya merapatkan selimutnya.


"Iya, Tika yang menghubungi saya tadi, dia begitu cemas dan khawatir. Beruntung sekali kamu menikah dengan Tika, meskipun dia anak manja dia juga memiliki rasa peduli yang tinggi." jelas dokter Mira.


"Dokter..." ucap Tika malu. Dokter hanya tersenyum lebar. Surya tersenyum tipis, lalu memandang wajah Tika yang tersipu malu.


"Ini obat yang harus kamu minum kan," Menyerahkan ke Tika. " Yang berwarna kuning ini, kamu berikan sekarang juga." perintah dokter Mira."Hindari makan dalam jumlah yang berlebihan atau sekaligus banyak, jangan merokok. Kurangi konsumsi minum kopi atau teh, makanan terlalu pedas dan terlalu asam, minuman beralkohol, makanan yang mengandung pengawet ataupun penyedap rasa. Olahragalah secara teratur minimal 3 kali sepekan selama 30 menit. Olah raga teratur ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari segala jenis virus." terang nya lagi.


"Iya Dok, terima kasih. Mari saya antar ke depan!" Berjalan bersama dokter menuju pintu depan.


"Sejak kapan kamu menikah? Kenapa papamu tidak mengundangku ?" tanya dokter Mira saat di ambang pintu.


"Itu...aku...karena hanya ijab kabul saja Dok, memang belum ada acara resepsi, nanti setelah wisuda rencananya." sahut Tika dengan jawaban spontan terlontar di bibir saja.


"Jangan lupa , nanti aku di undang." canda dokter lalu masuk ke dalam mobil.


"Iya Dokter, kalau saya tidak lupa, hehehe..." gurau Tika. Tika kembali masuk ke dalam kamar Surya, didapatinya Surya tengah terpejam.


"Surya, minum dulu obatmu." ucap Tika lirih dengan lembut dia menepuk pundak Surya.


"Hmmm..."sahutnya dengan mata masih setengah terpejam.


"Ini..." Menyerahkan pil, Surya menerimanya. Tika membantunya minum obat.


Surya kembali terpejam.


"Kasihan kamu, aku tak menyangka akan begini jadinya, menolak ajakanmu makan siang dan membuatmu menungguku di taman tadi benar - benar salahku." gerutu Tika dalam hati.

__ADS_1


"Kalau aku tinggal ke atas nanti, apa kamu baik - baik saja sendirian di sini. Tapi, kalau sampai terjadi apa - apa denganmu aku akan sangat merasa bersalah nantinya." Berdiri hendak keluar kamar.


"Meong...meong..." suara kucing membuat Tika harus ke luar dari kamar Surya.


"Hai, manisku...kamu belum makan ya, maafkan aku manis, ayo, aku kasih makan kamu." Tika berjongkok seraya mengusap dengan lembut kepalanya, menggendong lalu membawanya ke dapur, makanan kucing sengaja dia letakkan di sebuah lemari kecil yang berada di dekat dapur, agar sewaktu - waktu memberi makan tidak lupa dan mudah. Tika menurunkan kucingnya lalu menuang makanan ke wadah kecil.


"Nih, jangan sampai telat makan. Nanti kamu bisa kena maag seperti majikanmu yang cowok." ucap Tika terkekeh sendirian.


Jam menunjukkan pukul 10 malam, mata nya sudah tidak sanggup untuk terjaga.


"Aku ngantuk sekali, aku tidur di mana nih, kalau aku tidur di atas aku tidak tahu kalau dia butuh sesuatu nanti," masuk ke dalam kamar Surya. Tampak wajah dan dahinya penuh dengan keringat, bergegas dia mengambil lap dan menyeka wajah Surya. Tika duduk di kursi kecil dan kedua tangan menopang dagunya.


"Surya, Surya, aneh , selama kita menikah baru pertama ini aku menyentuh wajahmu, hidung yang mancung, kulit yang bersih dan putih, padahal kamu cowok kampungan tapi bagaimana bisa kamu memiliki karisma yang luar biasa. Pantas saja Tiwi dan Tesa lengket banget sama kamu. Kamu aku akui, tampan juga sih, tapi menyebalkan." Tika senyum - senyum sendiri memandangi wajah suaminya itu.


Tampak sesaat Surya merintih, kemudian tertidur lagi. Beberapa kali mengigau lalu tertidur lagi, sampai pada akhirnya Tika terpejam matanya hampir tidak kuat untuk bertahan.


Dia tidur dengan posisi duduk, kepala nya dia sandarkan di atas kasur dekat dengan tubuh Surya.


Surya terbangun lantaran mendengar azan subuh.


"Nenek sihir, semalam kamu menjagaku, terima kasih. Pasti kamu sangat lelah atau mungkinkah kamu begadang semalaman untuk menjagaku?" Bangkit dari kasur dengan perlahan. Menggendong dan merebahkan tubuh Tika di atas kasur.


"Cantik," ucap Surya dengan reflek mencium kening istrinya yang tertidur pulas itu.


Surya bergegas ke kamar mandi takut ketahuan kalau dia baru saja menciumnya. Tika masih terlelap.


Selesai sholat Surya mengenakan kaos oblong dan celana kolor panjang, keluar rumah untuk jogging.


"Alhamdulillah, baik Mas ." Memilih dan memilah sayuran yang berjejer di atas papan.


"Bi Sumi setiap hari belanja di sini?"


"Iya, selain murah juga dekat dari rumah."


"Oh ya, Bi Sumi setiap harinya bekerja apa?"


"Bibi hanya berkebun saja di rumah, sudah pensiun."


"Pensiun, sebelumnya bekerja di mana?"


"Baru beberapa bulan yang lalu, buruh di pabrik rokok ." jelas bi Sumi.


"Mas ganteng, belanja nggak? Ayo di borong terungnya!" ucap penjual sayur rada genit.


"Maaf mbak, saya tidak bawa uang." Surya jadi salah tingkah karena malu dilihat banyak orang yang berkerumun di tempat itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bi Sumi mau bekerja di tempat saya." Surya menawarkan.


"Kerja apa ya...kalau yang berat - berat bibi tidak sanggup, Mas."


"Mudah kok Bi, pekerjaan rumah seperti masak, mencuci dan bersih - bersih rumah, nanti bisa pulang saat pekerjaan Bibi selesai."

__ADS_1


"Wah, kebetulan sekali. Bibi mau Mas!" ucap bi Sumi senang.


"Bibi minta izin dulu sama suami Bibi, nanti kabari saya secepatnya."


"Bibi janda Mas," ucap bi Sumi seraya menenteng tas keresek belanjaan.


" Maaf Bi, saya tidak tahu." Surya merendahkan suaranya.


"Tidak apa - apa Mas, bagaimana kalau pagi ini Bibi langsung bekerja saja. Ya buat ngisi waktu senggang, di rumah Bibi badannya pegal - pegal kalau tidak dibuat gerak."


"Benarkah, pasti istri saya sangat senang, dia meskipun terlihat jutek sebenarnya hatinya baik kok Bi Sumi." jelas Surya supaya bi Sumi tidak merasa canggung saat bertemu dengan Tika.


"Bibi tahu kok, memang anak muda zaman sekarang, belum bisa mengontrol emosi."


"Baiklah, Bi Sumi saya pulang dulu."


"Iya, Mas...siapa kemarin namanya lupa Bibi."


"Surya, dan istri saya Tika namanya."


Mereka berpisah dan menuju rumah masing - masing.


Sesampai di rumah.


Tika sudah terbangun 1 jam yang lalu, selesai sholat dia mencari Surya di setiap sudut rumah, khawatir bila terjadi sesuatu dengannya.


"Surya, dari mana saja kamu? Apa kamu baik - baik saja? Masih sakitkah perutmu? " Tika tak berhenti bertanya.


"Satu - satu dong kalau tanya jadi binggungkan jawabnya ." ujar Surya seraya melepas sepatu dan meletakkan di rak sepatu yang berada di samping pintu teras rumah.


"Iya, soalnya aku..."


"Cemas..."


"Tidak, maksudku tadi aku..." Tika terlihat binggung .


"Sudah, akui saja kamu mencemaskan aku kan..." Mendekati Tika dengan tatapan mata yang mendalam.


"Aku tidak berbohong." elak Tika.


"Mulutmu bisa berbohong, tetapi tidak dengan matamu. Aku mengetahui kebenaran darimu, hanya dengan menatap matamu saat berbicara." ucap Surya sembari mencondongkan badannya ke arah Tika.


Jantung Tika berdetak tidak karuan dan sesaat saja terasa akan meledak.


"A...aku..." Tika menggigit bibir kecilnya membuat dia tampak menggemaskan.


Surya meletakkan satu lengan mengelilingi punggung Tika dan lengan lainnya di belakang lututnya. Surya menarik tubuh dan mendekatkan serta merangkulnya. Dia juga meremas kaki dan punggungnya saat membawa tubuhnya agak lebih dekat.


Dengan refleks Surya menggendong Tika menuju kamarnya.


"Surya, turun kan aku, aku bilang lepaskan aku." Tika histeris, memukul kecil berulang - ulangan lengan Surya yang kekar. Namun, dia tak bergeming dan tetap menggendongnya.

__ADS_1


__ADS_2