
"Peluru yang mengenai perut suami Saudari telah menyebabkan kerusakan disalah satu ginjalnya dan kami para dokter harus mengangkat salah satu ginjalnya tanpa bertanya terlebih dahulu pada pihak keluarga. Bila tidak segera diangkat akan menyebabkan pembusukan sehingga pasien bisa mengalami gangguan kesehatan yang cukup fatal." jelas dokter muda itu.
Tika menutup mulutnya dan menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Itu tidak mungkin, Dok, tapi suami saya akan tetap hidup kan walaupun hanya dengan satu ginjal?" tanya Tika polos, memang dia tak tahu apa-apa dengan masalah anatomi tubuh.
"Anda lucu, tentu saja suami Anda masih bisa tetap hidup hanya dengan satu ginjal." sahut dokter muda itu dengan terkekeh.
"Kok Dokter malah tertawa, saya kan serius bertanya nya. Terus kapan suami saya akan sadar, Dok?"
"Itu tergantung dari kondisi pasien itu sendiri. Jika dia bisa melewati masa kritisnya dia akan cepat sadar. Dan satu lagi."
"Apa Dok?" tanya Tika semakin gusar dengan berita yang didengarnya ini.
"Suami Anda mengalami amnesia permanen. Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkannya."
"Permanen, Dok? Bagaimana bisa?" Tika membulatkan matanya tak percaya, padahal dia sudah sejauh ini mendapatkan suaminya kembali.
"Awalnya pasien mengalami cedera pada kepala, mungkin karena benturan dengan benda keras dan tidak segera diperiksakan ke pihak medis. Oleh karena itu, lukanya di kepala menyebar hingga ke otak besar yang mengakibatkan pasien lupa ingatan permanen."
"Lalu saya harus bagaimana, Dok?" tanya Tika lagi, berharap ada titik terang untuk membuat ingatan suaminya kembali.
"Anda harus sering - sering menstimulasi pasien tentang hal-hal yang disukai pasien."
"Saya akan mencobanya, Dok." Setelah Tika mendapatkan arahan dari dokter Tika keluar dari ruangan dokter muda itu. Pihak keluarga yang menanti berita dari Tika terlihat cemas dan panik.
"Apa kata dokter ?" tanya papanya gusar lantaran melihat wajah pucat putrinya.
Tika menceritakan semua yang dikatakan dokter tadi. Kedua orang tua dan mertuanya begitu shock mendengar kabar kalau Surya amnesia permanen. Kedua orang tuanya memeluk Tika bergantian. Setelah kondisi Surya dinyatakan stabil dan sedikit membaik walaupun sepenuhnya belum sadar dia dipindahkan ke ruangan rawat inap. Tika meminta pada keluarga besarnya untuk diizinkan menunggu suaminya sampai ia sadar. Awalnya bu Desy yang bersikeras ingin menemani Surya tapi pak Andik meminta agar istrinya saja yang menemani dan tidak terlalu banyak orang yang menunggu.
Malam pun tiba, hanya Tika seorang yang menemani Surya di rumah sakit itu. Sesekali dia melihat ke ruangan tempat Surya berbaring lewat kaca, air matanya keluar lagi. Hampir seharian ini dia menangis dan kedua matanya tampak sayu dan lembab. Meski dia belum mandi, tapi wajahnya cantik natural.
Perut nya mulai melilit karena seharian ini ia belum makan, sebisa mungkin dia menahan rasa laparnya. Tika takut jika dia pergi keluar untuk mencari makan nanti, Surya sadar sedangkan dia tak ada di sisinya. Dia tak ingin melewatkan momen yang berharga ini.
"Mas Surya, cepat sadar Mas. Aku tidak tahan melihatmu berbaring terus. Ya Tuhan, sembuhkan suamiku. Biarkan aku yang menggantikan rasa sakitnya. Tolong pulihkan dia, Tuhan, ku Mohon!" ucap Tika lirih sambil kedua tangannya menadah. Saat Tika selesai menyapu kedua tangan ke wajah, terjadi pergerakan kecil pada Surya. Jari kelingkingnya bergerak-gerak. Mata Tika berbinar, bukan main senangnya dia.
Sontak Tika mengambil ponsel dan memberi kabar pada keluarganya. Sesaat dia teringat Rudi, satu-satunya cowok yang bisa diandalkan untuk dimintai tolong lagi.
Di lain sisi, Rudi tengah mengantar Reni pulang dan masih di dalam mobil, mereka berdua sedang asyik ngobrol dan tiba-tiba obrolan mereka terhenti lantaran ponsel Rudi berdering.
"Ya Mbak Tika, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Rudi dengan tetap bersikap hormat meski dia sendiri masih terlalu capek.
"Tolong belikan aku makanan, aku nggak sempat keluar karena aku takut sendirian di luar sana." ucap Tika dari arah seberang.
__ADS_1
"Baik Mbak!" sahut Rudi lekas tanpa bertanya makanan apa yang ingin dipesan.
Rudi mengantar Reni pulang lebih dulu dan kembali berputar menuju rumah sakit.
"Aduh, mbak Tika sukanya makan apa ya? Kok aku lupa nggak tanya tadi. Atau aku tanya dulu sebelum pesan makanan?" Rudi mengambil ponsel lagi dan menghubungi Tika, lama sekali Tika tak menyahut. Akhirnya Rudi memutuskan sendiri untuk membelikan nasi goreng.
Tiga puluh menit kemudian, Rudi sudah sampai di rumah sakit dengan sebungkus nasi goreng.
"Mbak Tika, maaf Mbak. Saya bingung mau belikan Mbak Tika makanan apa. Saya belikan sebungkus nasi goreng, Mbak." ucap Rudi sambil memperlihatkan tas keresek putih dan sebotol air mineral.
"Hmmm...terima kasih, Rudi." Sontak Tika memeluk Rudi, dia tercengang bukan main. Hal langka bin ajaib yang dilakukan Tika. Rudi bengong.
"Hey," Tika menepuk pundak Rudi setelah melepaskan pelukannya.
"I...iya, Mbak. Sama - sama. Rudi pamit dulu. Badan saya lengket dan bau, mau mandi." sahutnya sedikit kikuk.
"Idih, siapa juga yang nanya kamu udah mandi atau belum." sahut Tika jutek. Rudi cengengesan dan segera pergi. Tika duduk di salah satu kursi yang berjejer. Dibuka nya bungkusan itu dan mulailah dia memakannya.
"Huhah, huhah , pedas!" Tika memonyongkan bibirnya lantaran kepedasan. Dia tak jadi memakan nasi goreng dan membuang bungkusan itu ke tong sampah yang dekat dengan washtafel. Meminum sebanyak mungkin air mungkin dapat menghilangkan rasa pedasnya.
"Rudi, percuma aku kasih peluk kamu. Aku tidak suka pedas." gerutu Tika sambil mengepalkan tangan.
Saat dokter jaga lewat hendak memeriksa keadaan pasien Tika dengan cepat menghampirinya.
Selesai dokter memeriksa pasien mulai dari detak jantung dan tekanan darah, dokter dan perawat meninggalkan ruangan dimana Surya dirawat, dan tinggal Tika seorang yang berada di ruangan itu. Tika menggenggam erat tangan Surya dan mengecupnya bebarapa kali. Suasana hati yang tadinya panik kini telah mereda dengan mulai sadar nya Surya. Sangking lelahnya seharian tak istirahat, kurang tidur dan kurang makan, Tika terkantuk dan akhirnya tertidur dengan posisi terduduk di samping Surya dengan tangan masih menggenggam.
Pukul 03.00 dini hari.
Perlahan Surya membuka matanya.
"Aw...sakit." ucap Surya lirih sambil meraba perutnya yang tertutup selimut.
Tika tersadar dari tidurnya dan sambil menahan kantuk dia mulai membuka matanya perlahan.
"Tahan Mas, kamu baru saja menjalani operasi." ucap Tika dengan mengelus bahu Surya.
"Operasi?" sahut Surya dengan masih lemah. Tika mengangguk sambil tersungging senyuman di bibirnya yang imut. Sesekali dia mengucek kedua matanya, meyakinkan diri sendiri kalau suaminya itu sudah sepenuhnya sadar.
"Kamu jangan banyak bergerak dan jangan berkata terlalu banyak dulu. Jadilah pendengar yang baik saja. Aku sangat senang kamu sekarang baik - baik saja, Mas." ucap Tika sambil mencium lagi tangan Surya yang masih berada dalam genggamannya.
"Mana Dewi?" tanya Surya membuat hati Tika panas mendengar nama itu disebut.
"Kenapa Mas malah menanyakan Dewi, bukannya menanyakan kabarku? " gerutu Tika.
__ADS_1
"Dalam kondisi masih sakit begini kamu masih saja ingat Dewi, sebegitu spesial kah dia di hatimu?" batin Tika, dadanya terasa sesak jika Surya menyebut nama Dewi.
"Maaf, hanya nama itu yang teringat di kepalaku."
"Dia masuk penjara sekarang. Biar tahu rasa dia!"
"Masuk penjara?" Surya begitu kaget mendengar keterangan dari Tika, seingat dia tengah melakukan ijab kabul dengan Dewi.
"Dia mau menembakku, tapi Mas menghalanginya dan akhirnya kamu yang tertembak."
"Kepalaku terasa sakit," keluh Surya dengan tangan masih terinfus dia memegang kepalanya.
"Ia Mas, kamu amnesia. Jadi, lebih sering terasa sakit jika kamu memaksa untuk mengingat sesuatu."
"Amnesia?" Surya semakin tak mengerti dengan keadaannya yang sekarang, akhirnya Tika menceritakan semua yang dilalui Surya sebelum dinyatakan meninggal dulu.
"Jadi, kamu..."
"Iya, Mas. Aku Tika, istrimu." Tika penuh penekanan.
"Ternyata itu kamu yang selalu muncul dalam mimpiku,"
"Benarkah, Mas selalu memimpikanku?" Tika terlihat semakin sumringah setelah mengetahui kalau Surya selalu memimpikannya.
"Tapi, mengapa Dewi di penjara?"
"Aku yang menjebloskan dia ke penjara."
"Mengapa?"
"Pertama, karena dia telah menyembunyikan keberadaanmu dariku." jelas Tika.
"Tapi, aku berhutang budi padanya. Bisakah kau mengeluarkannya dari penjara?"
"Apa ?" Tika terhenyak tak percaya dengan permintaan Surya. Tika melepaskan genggaman tangannya dan berdiri memunggungi Surya sambil melipat kedua tangannya. "Aku tidak mau, sudah jelas - jelas dia yang salah. Tempat itu memang cocok untuk dia."
Surya memaksakan dirinya bangun sambil menahan sakit di perut. Membuka selimut yang menutupi badannya.
"Kalau kamu tak mau membebaskan dia, biar aku sendiri yang akan membebaskan Dewi." ucap Surya sambil merintih. Mendengar desahan Surya, Tika membalikkan badan dan menahan Surya bangkit.
"Jangan , Mas! Ku mohon istirahatlah dan jangan bergerak ," pinta Tika lalu membantu Surya berbaring lagi. Tika membenahi posisi bantal Surya dan memakai kan lagi selimutnya.
"Aku sudah berjanji akan menikahinya."
__ADS_1
"What...!!" Tika membulatkan matanya tak percaya.