Cinta Satu Hati Sampai Mati

Cinta Satu Hati Sampai Mati
Gagal


__ADS_3

Pagi hari sinar matahari di ujung timur bersinar indah dan cocok untuk menghangatkan badan, suara ayam masih terdengar berkokok. Awan sangat cerah, dan tumbuhan hijau pun tampak segar dan hijau karena terkena cahaya matahari. Masih terlalu pagi, untuk bersiap - siap ke kantor.


Surya dengan nafasnya yang terengah - engah membuka pintu kamar lalu menutup pintunya dan membaringkan Tika perlahan di atas kasur, Tika terbelalak matanya. Jantungnya semakin cepat memompa.


"Apa yang akan kamu lakukan, Surya?" tanya Tika seraya duduk dan menyilangkan kedua tangannya menutupi tubuhnya.


"Aku ingin meminta hak ku ..." sahut Surya seraya melepas kaosnya, tampak tubuhnya yang kekar dan bentuk perut six pack, bahunya yang bidang mengasosiasikan kekuatan dan maskulinitas. Ketika dilihat dari belakang punggungnya seperti meruncing ke bawah. Tika menelan ludahnya, gairahnya hampir muncul saat menikmati pemandangan badan Surya yang dapat menghipnotis para mata wanita, termasuk dirinya.


"Hak apa?" ucap Tika mengernyitkan keningnya, berpura - pura polos dan lugu, sebenarnya dia tahu keinginan suaminya itu.


"Menjadikanmu milikku selamanya."sahut Surya yang sudah siap untuk menerkam duduk sejajar dengannya sambil berbisik di telinga Tika.


"Tapi..." Tika mengernyitkan dahinya, tampak garis diantara kedua alisnya, matanya mengerjap saat wajah Surya semakin mendekat dan hanya berjarak beberapa mili saja.


"Muah..." ciuman mendarat di pipinya yang sejak tadi merona. Tika tidak karuan perasaannya, dia bingung antara marah, menolak dan pasrah.


"Kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipiku." batin Tika seraya menganga mulutnya dan terbelalak matanya. Kini pipinya sudah tidak perawan untuk yang kedua kalinya.


"Geli tahu," Mengusap berulang kali pipi bekas ciuman Surya seraya meringis binggung untuk mengekspresikan perasaan hatinya.


"Kamu menikmatinya kan ..." goda Surya, mulutnya melengkung membentuk senyuman.


"Apa perutmu sudah tidak merasa sakit lagi?" Tika mengalihkan perhatian dan menatap perut Surya yang menggoda itu.


"Alhamdulillah, sudah agak mendingan. Tadi selesai sholat subuh aku ke luar rumah untuk jogging sebentar meregangkan sendi - sendi dan pergelangan kakiku yang agak kaku." Sambil mengelus - elus perutnya yang rata.


"Pantes baumu asem." Hidungnya berkerut mencium aroma di badan Surya. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku tadi, kan aku bisa ikut jogging..."


"Kamu tidurnya pulas, kayak bayi." sindir Surya seraya menjepit hidung mungilnya dengan dua jari.


"Aww...sakit tahu, seperti bayi katamu... biarin, bayi kan lucu dan juga imut kan...kan..." Tika mencibirkan mulutnya. Mendadak pembuluh darahnya tampak menegang di lehernya setelah Surya berhasil menguasai pikirannya.


"Kurasakan lagi sesuatu. Sesuatu yang hangat dan membuatku menundukkan wajahku seraya memejamkan mata tanpa diperintah. Aku merasa malu untuk melihat dia saat memberikan jejak bibirnya di tubuhku." Gumam Tika dalam hati. Wajahnya tampak kosong.

__ADS_1


Surya mulai menyentuhnya dengan lembut, membelai rambutnya yang hitam legam, untuk mengirim sinyal bercinta.


"Baumu asem..." ucap Tika dan dengan segera merapatkan bibirnya, dia tahu kalau Surya pura - pura tuli.


Surya tak menggubris ucapan istrinya, jemarinya membelai rambutnya hingga belakang leher dan punggung sehingga Tika hampir takluk dibuatnya.


Surya mendaratkan beberapa ciuman mesra di tubuhnya, bukan hanya di pipi atau bibir, namun ciuman lembut diberikan di bagian - bagian tertentu tubuhnya.


Dia memberikan gigitan kecil di bagian leher, telinga dan daerah sekitarnya. Tika mulai menikmati, memejamkan matanya dan merasakan sentuhan hangat yang diberikan suaminya.


"Aku belum siap, Surya." spontan kalimat penolakan keluar dari mulutnya. Ekspresi wajahnya mengeras.


"Kenapa, bukankah kamu menikmatinya?"


Surya sedikit kecewa, namun dia menyadari batasannya sebagai suami, dia tidak boleh memaksakan kehendak untuk melakukan hubungan suami istri tanpa persetujuan istrinya.


"Aku belum sepenuhnya mencintaimu, dan aku juga belum tahu sebesar apa cintamu padaku, namun yang kurasa kamu hanya menjalankan kewajibanmu sebagai suami bukan memberikan ketulusan cinta padaku."Berbicara sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Aku mengerti sekarang , apakah kamu masih menyukai Tedi?" Surya mengurungkan niatnya untuk menyalurkan syahwatnya dan melampiaskan kekecewaannya dia menjambak rambutnya hingga tidak karuan.


"Aku sudah tidak ada rasa lagi dengannya, kami hanya berteman saja . Apakah kamu merasa cemburu?" tanya Tika berharap Surya tidak berpikiran yang bukan - bukan.


"Cemburu, meskipun kamu tahu jawabannya kamu masih belum mau dan bisa menerimaku kan sebagai bagian dari hidupmu. Baiklah, aku sadar siapalah aku ini, aku hanya sebatas pesuruhmu saja di sisimu." Rahangnya menegang.


"Bukan, bukan itu maksudku, aku hanya ingin kita melakukannya di saat kita benar - benar saling mencintai. Namun, aku belum merasakan itu." ucap Tika, matanya berbinar dan bulir air matanya tanpa disadari membasahi pipi.


Surya bangkit lalu melangkah membukakan pintu.


" Kamu bisa keluar sekarang dari kamarku." usir Surya dengan tatapan mata yang tajam.


"Apa kamu marah?" Tika bangkit seraya menyeka air matanya, dan sesekali dia menatap mata Surya yang begitu tajam dan terasa menakutkan.


"Tidak hanya marah, akupun kecewa Tika! Aku ini laki - laki normal yang butuh kenikmatan rohani, cepat keluarlah sebelum amarahku mulai melunjak!" ucap Surya dengan nada tinggi, Tika keluar dengan perasaan yang kalut seraya merapikan rambutnya yang berantakan dengan langkah yang cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Surya sejenak berdiri memandangi dirinya di depan cermin. Bahagianya kini memudar, pikirannya tidak karuan.


"Aku pikir kamu sudah bisa menerimaku dengan sepenuh hatimu. Namun, apa lagi yang kamu minta dariku?" gerutu Surya menatap tajam pantulan dirinya di cermin.


"Kurang apa aku, apa semua yang telah aku lakukan kurang meyakinkannya. Aku tak sanggup untuk mengungkapkan cinta padanya, lidahku terasa kaku. Apakah cinta harus diungkapkan?" Gumam Surya , matanya melirik jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi, lantas dia bergegas mandi untuk bersiap ke kantor.


Sementara Tika terduduk di depan cermin riasnya.


"Kecuali kamu ingin aku mencintaimu, aku ingin tahu kamu mencintaiku atau tidak, kamu harus mengatakannya. Karena aku bukan mentalist yang bisa membaca pikiran orang lain jadi, jangan berharap keajaiban tiba - tiba aku bisa tahu tanpa kamu beri tahu secara langsung." gerutu Tika, menatap tajam wajahnya di dalam cermin.


"Apa aku salah menolak ajakan dia, lantaran belum ada ikatan cinta diantara kami. Aku hanya merasa pernikahan ini hanya sebuah perjanjian saja." ucapnya lagi, segera dia mengambil secarik kertas dan menulis lamaran pekerjaan yang akan dia tujukan ke alamat yang baru saja dia baca dari pesan singkat Tedi.


Selesai menulis Tika keluar menuruni tangga bermaksud meminta Surya untuk mengantarnya ke alamat kantor ayahnya Tedi.


"Surya!" panggil Tika, namun tak ada sahutan dari balik pintu kamarnya.


Tika mengetok pintu berulang kali, tetap tidak ada sahutan.


"Apa yang sedang kamu lakukan di depan kamarku." ucap Surya.


Tika membalikkan badannya.


"Tolong antar aku ke alamat ini!" Menunjukkan alamat yang tertera di map warna coklat.


"Kamu mau melamar kerja?" tanya Surya, matanya melirik Tika setelah melihat alamat sebuah instansi.


"Iya, dari pada di rumah terus aku bosan." sahut Tika manja.


"Apa uang bulanan yang aku berikan kurang?"


"Aku hanya bosan saja terus - terusan sendirian di rumah segede ini."


"Hmmm..." sejenak berpikir."Baiklah, selesai sarapan aku antar kamu."

__ADS_1


"Yes!" ucap Tika kegirangan."Terima kasih," Melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk bersiap.


"Sepertinya alamat instansi tadi tidak asing bagiku, aku akan menyuruh mata - mata untuk mencari tahu pemilik instansi tersebut." Gumam Surya seraya melangkahkan kaki menuju dapur.


__ADS_2