
Pukul 22.00
Malam ini langit bersih, beribu bintang bertaburan mengiringi bulan sabit yang tersenyum malu. Cahayanya yang temaram itu sampai ke sudut ruang tempat Tika berbaring berselimutkan kain bulu yang tebal. Angin lembut membawa udara sejuk.
Surya yang beru datang segera memarkir mobil merahnya di garasi, membuka pintu rumah dengan kunci cadangan. Dia menaiki tangga dan menuju kamar Tika.
"Assalamualaikum...!" Dia mencoba mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sahutan.
"Mungkinkah dia sudah tidur?" terkanya, lalu mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh pemilik kamar.
"Tika," panggilnya seraya mendekati ranjang.
Tika mengigau. Macam - macam yang diigaukan. Sesekali dia merintih memanggil nama Surya. Ada kalanya dia berteriak - teriak meminta tolong dan yang paling akhir ini dia merintih lapar.
"Kamu kenapa?" Surya duduk di tepi ranjang, telapak tangannya dia tempelkan ke dahi istrinya. Tika membuka matanya dengan berat.
"Masya Allah. Kamu demam..." Surya mendekati tubuh Tika.
"Ha...ciuu" Tika bersin - bersin. Keluar sedikit ingus pada lubang hidungnya. Segera Surya mengambil tisu yang ada di atas meja rias, dan mengusapnya pelan.
"Ini akibat kita kehujanan sore tadi, kamu sudah makan?" tanya Surya seraya membelai rambut istrinya.
Tika tanpa kata, hanya menggelengkan kepala pelan.
"Ini aku bawakan bakso, sebentar aku ambilkan mangkuk dan ku buatkan teh hangat ya!" Surya ke luar kamar menuruni tangga dan menuju dapur. Diambilnya mangkuk dan menyalakan kompor untuk memanaskan air. Diseduhnya teh rasa melati itu.
Dia menuju kamar Tika.
"Tika, bangun! Makan dulu." Membantu Tika menyandarkan tubuhnya.
"Pahit..." suara Tika terdengar parau, seraya menelan lidah dan mengelus lehernya.
"Aku tahu, itu gejala flu awal memang begitu." Surya menyiapkan suapan untuk Tika.
"Buka mulutmu, Tika!" perintah Surya.
Berulang kali Surya membujuk tapi Tika belum juga membuka mulutnya. Surya meletakkan semangkuk bakso di atas meja.
"Kamu mau makan apa? Mau aku pesankan sesuatu yang mungkin bisa membuat perutmu terisi." ucap Surya, lantaran merasa bersalah mengajak Tika pergi sore tadi.
"Ini sudah malam, apa ada warung yang masih buka? Aku ingin nasi goreng!" ucapnya dengan suara masih parau.
"Aku belikan." Surya hendak mengangkat tubuhnya.
"Tidak usah, aku ingin nasi goreng buatanmu!" ucap Tika, pantat Surya tertahan lagi duduk di ranjang.
__ADS_1
"Akan aku buatkan." Surya berdiri dan hendak melangkah, tapi tangannya ditahan Tika.
"Tidak usah, aku lihat kamu baru datang dan pasti terlalu capek. Aku makan seadanya saja."
"Tidak apa, sayang..." Surya mengusap lembut ubun - ubun Tika.
"Sa...sayang!" Tika mengulangi perkataan suaminya. Surya terduduk. Meskipun terlihat pucat, namun tetap saja pipi imutnya terlihat merona.
"Secapek apapun aku, aku rela kok hanya membuatkanmu nasi goreng saja, itu soal kecil..." menyentil jari kelingkingnya.
Tika mengangguk seraya berani menggenggam erat tangan Surya untuk pertama kalinya, tubuhnya tampak lemas dan hangat. Surya tersenyum, dibalasnya usapan lembut dengan tangan sebelahnya. Dia beranjak dari duduknya dan kembali berjalan menuju ke dapur. Dengan keahlian memasaknya nasi gorengpun sudah siap dalam hitungan menit saja. Dia kembali menuju kamar Tika.
Dengan sedikit paksaan Tika membuka mulutnya. Ditelannya perlahan. Dengan sabar Surya menyuapi istrinya yang terlanjur manja itu.
"Sudah, cukup!" tolak Tika, saat sudah 4 sendok masuk ke mulutnya.
"Lagi," Surya sedikit memaksa. " Kalau kamu tidak makan, aku akan mengumumkan tentang pernikahan kita pada semua orang!" ancam Surya, senjata yang ampuh untuk mengancamnya.
"Jangan!" sahut Tika spontan, meskipun dia sudah menyukai Surya tapi belum siap untuk menerima pernikahan ini.
"Makanya...dihabiskan kalau makan!" Paksa Surya seraya menyodorkan sendok.
"Tapi, pahit di sini!" Menunjuk ujung lehernya.
"Harus dipaksa!" ucap Surya dengan nada tinggi.
"Kamu tahu apa yang aku suka darimu?" Surya mencoba metode lain untuk membujuk Tika.
"Apa?"
"Akk...dulu!" akhirnya dia membuka mulutnya.
"Karena kamu cewek!" Surya terkekeh membuat bibir Tika manyun. Dia memukul lengan Surya pertanda kecewa lantaran jawabannya hanya gurauan.
"Aku benci kamu!" Memalingkan wajahnya.
"Hedeh, begitu saja ngambek!" Surya mencubit pipi kenyalnya. Lantaran dia semakin gemas saat melihat istrinya marah.
"Iya benarkan jawabanku, kalau kamu cowok mana mungkin aku bisa menyukaimu. Lesbi dong aku." ucapnya membuat Tika tersenyum lebar.
"Aakk...sekali lagi!" pinta Surya dengan sedikit mengiba. Tika yang melihat suaminya pun akhirnya luluh juga. Dia membuka mulutnya. Dan alhasil Surya sukses membuat istrinya kenyang sudah.
Sepiring nasi goreng itu telah membangkitkan kekuatannya, telah mampu mengusir rasa lapar.
"Kenyang?" tanya Surya.
__ADS_1
Tika menganggukkan kepala.
"Terima kasih."
Surya tersenyum
Tika berbaring mencoba memejamkan mata. Tetapi bibirnya mengeluarkan rintihan dan tubuhnya gemetar. Surya menghampirinya dan duduk di dekat kepala Tika.
"Tika..." tegurnya, dia teringat tablet yang diambilnya dari kotak obat yang berada di lantai bawah tadi. Di rogohnya saku celana.
Istrinya itu tak menyahut. Dia hanya melontarkan rintihan yang menghibakan. Surya mengangkat kepala Tika, lalu menyodorkan bibir gelas ke mulutnya. Tika tidak menolak. Kemudian Surya menyodorkan pil parasetamol ke mulut Tika. Tika diam saja, membiarkan ujung jari Surya meletakkan pil ke bibirnya. Dia pun meneguk sisa teh yang disodorkan ke mulutnya. Sebutir pil itu tertelan melalui tenggorokan. Lalu meletakkan gelas di nakas dan perlahan - lahan Surya merebahkan kembali tubuh istrinya.
"Semoga cepat sembuh, sayang...!" Surya mencium kening istrinya lalu hendak melangkahkan kaki ke luar kamar.
"Mas Surya!"
Terhenyak jiwa Surya mendengarnya. Langkahnya terhenti. Ia terasa sedang melayang padahal kakinya berdiri di atas lantai. Surya menyembunyikan senyum.
"Aku ingin tidur bersamamu!" ucap Tika lirih. Surya membalikkan badannya.
"Aku bau asem." Mengendus ketiaknya, dan mengernyitkan hidungnya.
"Biarin," sahut Tika sedikit rikuh.
"Baiklah, aku mandi dulu." Surya menuju kamar mandi milik Tika, tak butuh waktu lama dia keluar.
"Jantungku mau copot saja. Dia hanya memakai celana boxer saja ." batin Tika.
"Mas Surya..." panggil Tika. Surya tidak salah dengar. Kepalanya bak diguyur air es segunung saat Tika memanggilnya dengan sebutan sederhana itu.
"Segenap hatiku mantap. Baru kali ini aku menyebut namanya dengan gelar 'mas' sejak peristiwa di kamar mandi kampus itu." batin Tika.
Tanpa kikuk Surya berbaring di samping istrinya. Tangannya meraih kepala Tika , berusaha merebahkan di atas dadanya yang telanjang. Kepala Tika kini melekat di dadanya.
"Baru kali ini ku rasakan gesekan otot dadanya yang keras dan kuat." batin Tika.
"Betapa manis sebutan itu. Kalimat yang baru pertama kali dia ucapkan selama menikah. Aku mungkin gila dengan sebutan sederhana itu, namun kenapa rasanya berbeda saat keluar dari bibir Tika." batin Surya.
"Boleh aku memanggilmu seperti itu?" Tika mendongak melihat senyum bahagianya. Aneh, kini dia ketagihan dengan senyum suaminya.
"Boleh, sayang!" Telapak tangan Surya kini memainkan jari - jemarinya. Meremas lembut dan mengecup di semua sisi.
Dia menarik lengan Tika agar jatuh ke pelukannya lalu mencium pucuk kepalanya .
Akhirnya Tika tertidur pulas dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
Sepanjang malam Surya menungguinya. Nafas Tika turun naik teratur. Tubuhnya tidak lagi menggigil. Surya menjelang dini hari tak kuat menahan kantuk, sebelum memejamkan mata dia memandang ke arah Tika. Istrinya tertidur pulas. Wajahnya pucat dan bibirnya agak kebiruan, tapi nafasnya teratur. Dari bibirnya itu tersungging senyum tipis, barangkali dia sedang bermimpi. Hati Surya agak lega. Perlahan - lahan dia memejamkan matanya.